Jin Undercover

Negara kembali dihebohkan sebuah fenomena massal. Bukan masalah politik, ekonomi maupun pertahanan keamanan. Tetapi, masalah kesurupan jin. Fenomena ini sempat menghebohkan media massa, sehingga hampir sebagian besar media cetak dan elektronik menyajikan berita ini selama beberapa hari berturut–turut.

Kesurupan menjangkiti hampir seluruh wilayah nusantara, mulai dari Jawa, Sumatera, Bali, Sulawesi, Kalimantan dan Irian. Korbannya bukan hanya wanita dan anak kecil, tapi juga orang dewasa. Efek yang ditimbulkannya pun berbeda. Ada yang menari–nari, ada yang berteriak–teriak, ada yang kejang–kejang, ada yang berkata–kata tidak jelas, dan ada yang memberontak dan meronta-ronta. Bahkan ada yang bahasanya berubah seketika itu jua. Orang yang biasanya tidak paham bahasa Mandarin, menjadi bisa. Orang yang tidak bisa bahasa India, menjadi bisa. Orang yang biasanya lemah, mendadak memiliki kekuatan luar biasa.

Anehnya lagi, kejadian yang terjadi di sebuah sekolah di Malang. Upacara yang sebelumnya bertujuan untuk mengusir roh–roh jahat yang ada di sekolah, malah berbalik merasuki para siswa.

Kejadian–kejadian seperti ini bukan hanya membuat kita tersentak, terkejut, dan kebingungan. Bahkan, mengganggu kegiatan sehari–hari. Anak–anak sekolah yang biasanya belajar, akan terhenti proses input ilmunya. Orang–orang yang bekerja sehari–hari untuk menghidupi anak keluarga, akan terhenti juga. Semua ini tentu akan memberikan efek besar dalam kehidupan masyarakat.

# Jin Undercover
Judul: Jin Undercover
Penulis: D.A. Pakih Sati
Penerbit: Gazzamedia, Surakarta
Tahun Terbit: Februari 2009

Dalam sejarah sosial budaya masyarakat Indonesia, kejadian kesurupan bukanlah hal aneh. Bagi ras Malayu, seakan–akan sudah akrab dengan dunia Jin. Sebelum Islam datang, di Asia Tenggara berkembang ajaran pemujaan dewa, pemakaian jampi–jampi, dan kegiatan–kegiatan lainnya yang melibatkan Jin dan Syetan. Di sebagian daerah, kesurupan adalah bagian dari budayanya; terutama ketika melakukan suatu upacara. Biasanya Jin dipanggil oleh seorang dukun dan atau seorang dato’.

Tradisi silat rakyat biasanya (dalam tingkatan tertentu) menggunakan Jin. Ketika Jin merasuk ke dalam dirinya, maka ia akan kebal, tidak mempan di tembak maupun di tusuk. Ini terjadi setelah dibaca jampi–jampi atau mantra–mantra khusus. Dan ini adalah bagian permainan menyertakan Jin. Bahkan, ketika pertama kali masuk perguruan saja, kadang–kadang disyaratkan ayam dengan warna tertentu yang patut dipertanyakan sebabnya. Apalagi sebagian besarnya menuntut warna hitam; warna yang akrab dengan mistis.

Permainan Jailangkung misal lainnya, ini adalah permainan mistis yang sudah dikenal oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Bahkan filmnya menjadi favorit penonton. Film – film mistis memang begitu laris manis bagi masyarakat Indonesia. Di masyarakat Indonesia, Jin memiliki banyak nama, seperti hantu, gondorowo, kuntilanak, tuyul. Walaupun kadang–kadang mereka membedakannya dengan Jin, namun pada hakikatnya adalah sama.

Ketika masalah ini sedang heboh–hebohnya diliput media massa, muncul berbagai acara televisi yang membahas tentang dunia ghaib. Ada acara yang khusus menshoot hantu, ada yang sengaja memburu hantu. Entah apa tujuan sebuah media televisi mencari tempat yang di anggap “angker“ untuk dibersihkan jin–jin penunggunya; apalagi diliput secara live. Bahkan, ada juga orang yang mau dibayar untuk menunggu datangnya Jin pengganggu, seolah–olah mereka menanti datangnya musuh. Padahal Rasulullah Saw bersabda, "Janganlah kalian berharap bertemu musuh."

Mungkin ketika acara–acara seperti ini lagi trending, banyak para pawang Jin yang kebanjiran order. Mereka yang biasanya bergerak di kelas bawah (masyarakat umum), mulai go public, tampil di layar televisi layaknya seorang selebritis, berbicara tentang Jin. Mereka yang biasanya hanya mendapatkan order dengan profit kecil, sekarang justru sebaliknya.

Pihak penyiar-pun tidak peduli, apakah acara – acara seperti ini sesuai dengan tuntutan syariah atau tidak, atau malah jutsru akan merusak akidah umat. Prioritas utama mereka hanyalah laris manisnya acara, uang yang melimpah dan kesenangan pemirsa. Orang–orang biasanya menggambarkan Jin dengan gambaran yang kadang–kadang sangat menyeramkan, seperti rambut acak–acakan, berbaju putih, terbang dan berwajah menyeramkan. Image ini muncul dari film–film yang sering ditayangkan di televisi.

Syetan memang memiliki rupa yang buruk. Dalam al-Quran, Allah Swt menggambarkannya dengan pohon Zaqqum yang tumbuh di dasar Neraka Jahim, “Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.“ (Surat al-Shaffat: 64-65)

Diceritakan,  kaum Nashrany di abad pertengahan menggambarkan Jin dengan rupa seorang lak – laki berjenggot hitam lebat dengan topi terangkat. Mulutnya menyemburkan api. Memiliki pedang. Wajahnya jelek dan sombong. Imam Syafi’I membantah keras orang yang mengaku melihat Jin dalam bentuk aslinya seraya berkata, “Barangsiapa mengaku melihat Jin, maka batallah syahadanya, kecuali Nabi Saw.” []

Koreksi:
  • Buku ini kurang mantap pengeditan bahasanya. Saya baca kembali, rasanya geli sendiri. hehe...
  • Buku ini sudah tidak terbit lagi. Kalau seandainya dicetak ulang, ingin saya edit lagi agar lebih mantap berisi.
  • Buku ini sudah menjadi kenangan dalam sejarah perjalanan hidup saya.