Duka Gempa Lama dan Persiapan Selanjutnya

No Comments
(Dimuat di Opini Harian Haluan, Edisi Kamis 2 Oktober 2014)
***

Sudah lima tahun berlalu. Tepatnya 30 September 2009, terjadilah gempa dahsyat yang meluluhkanlantakkan Padang dan wilayah sekitarnya. Gempa yang berkekuatan 7,6 Skala Richter (SR) itu membuat 1.128 jiwa melayang di tiga kota dan empat kabupaten di Sumatera Barat. Posisi gempanya pada waktu itu adalah 50 Km Barat Laut kota Padang, dan terjadi pukul 17.16 WIB.

Banyak duka yang menyayat hati anak minang. Ada anak yang kehilangan ibu atau bapaknya atau semua keluarganya. Ada saudara yang kehilangan saudara kandungnya. Ada orangtua yang kehilangan anaknya. Semua ini adalah kepiluan, yang tidak akan mungkin bisa diredam oleh pergantian zaman.

Duka Gempa Lama dan Persiapan Selanjutnya

Untuk mengenang peristiwa dahsyat ini, tidak salah jikalau Pemerintah Kota (pemkot) Padang membangun sebuah tugu dan museum gempa pada tanggal 30 September 2010 yang lalu di jalan Bundo Kanduang. Dan nama-nama kurban yang gugur pada peristiwa itu, semuanya ditulis disana. Paling tidak, usaha ini sedikit banyaknya bisa mengobati luka keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.

***

Persiapan Agar Semakin Dimatangkan


Kejadian tahun 2009 itu bukanlah puncak gempa yang akan menimpa Minang. Ada kejadian besar lainnya, yang tentu membutuhkan persiapan lebih hebat lagi. Tentunya, persiapan ini bertujuan agar korban yang nantinya jatuh lebih sedikit. Bahkan, jikalau bisa (dan memang harus berusaha untuk bisa), tidak ada kurban lagi yang berjatuhan.

Menarik untuk melihat kembali pendapat Jamie Mc Lengley dari Easth Observatoring of Singapura dalam suatu acara yang diadakan oleh BPBD Padang di Rocky Hotel, yang beritanya dimuat salah satu media Sumatera Barat. Ia menjelaskan bahwa gempa dan tsunami yang akan menimpa Padang selanjutnya, jauh lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Dan potensi tsunaminya juga tidak kalah hebatnya dari tsunami yang menimpa Aceh.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena benturan lempeng Indo-Australia, yang terus bergerak di bawah lempeng sunda. Kedua lempeng ini saling menekan dengan rata-rata kecepatannya 5.7 cm pertahun. Dan akibatnya, muncullah lengkungan yang menyimpan energi sangat besar dan dapat meledak kapan saja. Jikalau ini terjadi, maka akan terjadilah kejadian luar biasa sebab ia akan memuntahkan kekuatannya.

Itu hanyalah prediksi ahli, yang tentunya berdasarkan penelitian dan kajian ilmiah. Terlepas benar atau tidaknya, ia harus dijadikan cermin untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Tidak perlu terlalau galau, namun rasa waspada harus tetap ada. Untuk menghadapi hal ini, ada dua elemen penting yang harus berperan besar:

Pertama, Pemerintah
Pangkal dari segala kejadian buruk adalah kejahilan dan kurangnya pengetahuan. Jikalau diperhatikan, warga yang tinggal di zona merah di kota padang dan sekitarnya, sangat banyak sekali. Dan di antaranya jumlahnya yang segitu banyaknya, berapa persen sajakah di antara mereka yang melek dan paham dengan gempa dan tsunami? Seberapakah besarkah di antara mereka yang paham bagaimana menghadapi kondisi tersebut? Ini perlu diperhatikan pemerintah. Sosialisasi harus terus dilakukan dan digiatkan. Dengan adanya beberapa kali simulasi gempa, itu merupakan hal positif dan sangat baik sekali.

Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah jalur evakuasi. Jikalau tiba-tiba terjadi gempa besar, jalan mana yang harus ditempuh juga harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Semua tanda dan arah jalan harus disediakan dan dipastikan dalam kondisi baik dan terjaga. Begitupun dengan alat-alat pemberitaan dini terjadinya gempa dan tsunami, harus juga dipastikan keberadaannya. 

Dan yang juga penting untuk diperhatikan adalah persiapan tenda dan shelter jikalau bencana itu menimpa. Sejauh hari, harus dipersiapkan dengan sebaiknya. Sebab, yang namanya bencana alam, tidak ada yang bisa memastikan datangnya.

Kedua, warga atau rakyat
Warga harus lebih mandiri. Jangan hanya bergantung dengan pemerintah. Harus ada upaya bahu-membahu. Jikalau ada penyuluhan dari pemerintahan atau simulasi, maka ikutilah. Jangan malas-malasan. Bagaimana pun, apa yang dilakukan oleh pemerintah itu adalah untuk kebaikan rakyatnya juga. Kenali gempa dan tanda-tanda tsunami dengan sebaik-baiknya. Jikalau tanda-tanda itu sudah terlihat, maka segeralah bergerak. Tidak udah menunggu aba-aba terlebih dahulu.

Kemudian juga, yang tidak kalah pentingnya, jikalau ada yang berada di jalur/zona merah, maka kenalilah jalur evakuasi dengan sebaik-baiknya. Agar ketika gempa atau tsunami terjadi, jalan itu bisa ditempuh dengan lancar tanpa hambatan. Kemudian jikalau ada alat-alat peringatan dini yang dipasang oleh pemerintah, jangan ada yang merusaknya atau mencuri. Bagi saya, ini merupakan tindakan criminal yang bukan saja melukai pemerintah namun juga membahayakan rakyat lainnya.

Pada akhirnya, semuanya harus mempersiapkan diri. Bukan saja fisik dan mental, namun lebih dari itu adalah keimanan. Ini adalah ujian dari Allah SWT, agar warga Minang selalu waspada dan semakin memperbanyak ibadahnya kepada-Nya. Dalam setiap peristiwa, pasti ada hikmahnya. Tetaplah berbaik sangka kepada-Nya. Jangan pernah menganggap diri hina, sebab Dia sudah memuliakan para hamba-Nya. []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment