Pelajaran Antikorupsi dalam Ibadah Haji

[Dimuat di Opini Kedaulatan Rakyat, Edisi 18/10/2014]

Ibadah haji sudah tertunaikan. Sebanyak 156.800 jamaah haji Indonesia sudah ada yang sampai dan mendarat di tanah air. Kebahagiaan bercampur kesedihan tampak jelas di wajah mereka. Bahkan, banyak di antara mereka yang sujud syukur ketika pertama kali menginjakkan kakinya di tanah air.

DI balik ibadah suci ini, yang juga merupakan rukun Islam kelima, ada banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik. Salah satu di antaranya adalah pelajaran anti korupsi., pelajaran untuk tidak mengambil harta yang haram. Uang yang dikorupsi itu adalah uang rakyat, yang dibaliknya tentu mengandung unsur kezhaliman kepada mereka.

#Pelajaran Antikorupsi di Balik Ibadah Haji

Ketika seseorang ingin menunaikan ibadah haji, maka ia harus menggunakan harta yang halal untuk berangkat kesana. Pakaian yang dipakai, haruslah dari yang halal. Makanan yang dimakan, haruslah berasal dari yang halal. Begitu pun dengan yang lainnya. Bahkan, seorang koruptor dan penjahat besar sekali pun, jikalau ia akan berangkat haji, maka ia akan berusaha keras untuk hanya membawa harta yang halal. Tentunya, ia berharap agar hajinya bisa diterima, kemudian dosa-dosanya bisa diampunkan. Haji adalah ibadah yang butuh banyak harta dan banyak, sehingga sangat kecil kemungkinannya seseorang akan menyia-nyiakannya. 

Mekkah dan Madinah adalah negeri haram. Jikalau orang non muslim saja tidak boleh masuk kesana, maka bagaimanakah dengan seseorang yang datang dengan membawa yang haram? Jikalau fisik tentu boleh, sebab zhahirnya memang muslim. Namun, itu akan menjadi sinyal kehati-hatian bagi yang suka bertindak kriminal.

Itulah yang terjadi ketika seseorang akan berhaji. Ketika kembali ke tanah air, prinsip baik ini harus ditanamkan dalam diri sebaik-baiknya. Jangan sampai dihilangkan. Ingatlah, kesempatan untuk berhaji itu, susah untuk didapatkan. Berapa banyak orang yang berharap mendapatkannya. Namun, kesempatan itu tidak pernah menghampiri.

Jikalau setelah kembali dari sana, perbuatan tercela tetap saja dilakukan, maka itu adalah tanda ketidakmabruran haji yang ditunaikan. Ibadah yang sia-sia. Waktu sudah habis. Uang sudah ludes. Hasilnya nihil. Jangan sampai itu terjadi. Jagalah terus harta yang dikarunia oleh Sang Pencipta agar senantiasa bersih semenjak kembali melangkahkan kaki di tanah air. 

Pelajaran Lainnya


Selain mendapatkan pelajaran untuk tidak korupsi dan tidak mengambil harta yang haram, ada beberapa pelajaran penting lainnya yang bisa didapatkan dari ibadah haji, di antaranya:

Pertama, tawakkal kepada Allah SWT. Ketika seseorang berangkat haji, maka ia meninggalkan keluarganya. Adakalanya suami meninggalkan istrinya dan anak-anaknya. Dan adakalanya, yang  berangkat itu adalah pasangan suami istri, kemudian keduanya harus rela berpisah dengan buah hatinya. Dalam keadaan seperti itu, rasa tawakkal akan muncul. Segala urusan akan diserahkan sepenuhnya kepada-Nya, dengan harapan semua yang ditinggalkan berada dalam penjagaan-Nya. Dan ketika kembali ke tanah air, pelajaran harus tetap dipertahankan di dalam diri. Jangan sampai gara-gara ingin mendapatkan kemewahan hidup, ingin membahagiaka orang sekitar, maka korupsi dilakukan, norma-norma kehidupan dilabrak. 

Kedua, permusuhan terhadap kebatilan. Haji memberikan pengajaran untuk selalu menentang kebatilan dan konsisten dengan kebenaran, apapun yang terjadi. Ketika Ibrahim akan menjalankan perintah Allah SWT untuk menyembelih anaknya Ismail, maka yang paling sibuk adalah iblis (setan). Setelah kembali dari haji, rasa untuk memusuhi kebatilan harus dipertahankan dan dijaga sebaik-baiknya. Apapun bentuk kebatilan itu, baik korupsi, kezhaliman, nepotismme, dan sebagainya, harus diberantas sampai ke akar-akarnya.

Ketiga, persamaan antara manusia. Ketika melaksanaakan ibadah haji, semua manusia akan memiliki kedudukan yang sama. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada lagi sekat-sekat social dan materi. Orang kaya berdampingan dengan orang miskin. Pejabat berdampingan dengan rakyat biasa. Ini memberikan pelajaran agar tidak pernah berbangga diri, sebab pada hakikatnya tidak ada yang membedakan manusia, kecuali kedudukannya di hadapan Tuhannya dengan ketakwaan. Maka, ketika kembali ke tanah air, jangan lagi membuat sekat dengan orang lain. Jangan merasa hebat dan merasa kaya. Low Profile saja. 

Keempat, persatuan. Berbagai ras berkumpul di Makkah untuk menunaikan ibadah yang sama, yaitu ibadah haji. Ada yang kulit hitam, ada yang sawo matang, dan ada yang berkulit putih. Ada yang dari afrika, ada yang dari Asia, dan ada yang dari Eropa. Semua sama, dan disatukan dalam satu ikatan, yaitu ikatan tauhid dan ikatan ibadah kepada-Nya.

Kelima, menjaga dan menghormati wanita. Cobalah lihat pakaian ihram yang dipakai oleh laki-laki dan perempuan. Beda. Ini menunjukkan bahwa perempuan itu harus dilindungi hak-haknya, sebagaimana pakaiannya juga melindungi badannya ketika haji. Dan ini juga menegaskan bahwa setara (adil) bukan berarti sama.

Keenam, belajar sejarah. Pelajaran terakhir yang bisa diambil dari haji adalah keharusan umat Islam untuk belajar sejarah. Jikalau ingin maju, belajarlah sejarah. Barangsiapa yang tidak mengenal sejarahnya, maka ia tidak akan memiliki masa depan, itulah kata Fakhruddin ar-Razi, seorang ulama besar pengarang tafsir Mafatih al-Ghaib.

Itulah beberapa pelajaran yang bisa diambil dari haji dan harus tetap dipertahankan, walaupuan rukun Islam yang kelima ini sudah tuntas dikerjakan. Ritualnya memang sudah selesai, namun makna dan esesnsi di baliknya harus terus dijaga dan dipertahankan. []