As-Sudais dan Antiterorisme

[Dimuat di Opini Harian Republika, 3/11/2014]

Beberapa hari ini, Imam besar Mesjid al-Haram di Makkah Mukarrahmah dan Mesjid an-Nabawy, yaitu DR. Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais berada di Indonesia. Beliau resmi membuka Indonesia International Book Fair (IIBF) yang ke-34 di Gelora Bung Karno di Jakarta pada hari Sabtu (1/11). Sebelumnya, beliau juga berkunjung ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta seraya memberikan ceramah umum di hadapan para mahasiswa. Kemudian juga meresmikan mesjid di Cilodong dan bertemu dengan beberapa organisasi Islam yang ada di Indonesia. Dan sebelum menunaikan shalat Jumat di Mesjid Istiqlal untuk menjadi Imam dan Khatibnya, beliau juga bertemu dengan orang nomor satu di Indonesia ini, yaitu presiden Joko Widodo.

Salah satu seruan yang sering disampaikan oleh DR. Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais dalam berbagai ceramahnya adalah pentingnya menuntut ilmu dan mendalaminya, yang merupakan salah satu jalan untuk mencegah terjadinya aksi terorisme dan sikap ekstrim dalam beragama. Apalagi, penyakit yang satu ini banyak menimpa anak-anak muda yang memiliki semangat beragama, namun minim ilmu. Masalah ini ini sering beliau sampaikan dalam berbagai kesempatan. Bukan ketika berada di Indonesia ini saja.

#As-Sudais dan Antiterorisme

Minimnya Ilmu Pangkal Sikap Ekstrim


Jikalau direnungkan, apa yang disampaikan oleh Imam besar Mesjid al-Haram ini, sangat benar sekali. Sebagai Doktor Ushul Fiqih, tentu beliau sudah melakukan kajian tersendiri mengenai masalah ini. Tidak usah jauh-jauh, lihatlah salah satu kasus yang terjadi di dunia Islam, yaitu di Yaman. Untuk kawasan Jazirah Arab, al-Qaidah menjadikan pusatnya di daerah ini. Dilihat dari sisi Geografi, Yaman ini memiliki luas wilayah 527. 970 Kilometer Persegi, memiliki 200 pulau di Laut Merah dan Laut Arab, kemudian juga memiliki jumlah penduduk sekitar 19,7 juta jiwa pada tahun 2004. Dan pada tahun 2014, ada beberapa media yang melansir bahwa jumlah penduduknya mencapai 29 juta jiwa.

Masalahnya adalah, begitu menyebarnya kemiskinan dan kejahilan disana. Berdasarkan sebuah artikel yang ditulis oleh DR. Manshur al-Syamry, seorang kolumnis Timur Tengah dijelaskan bahwa tingkat ketidakmampuan baca-tulis di kalangan laki-laki adalah 27,3%, dan di kalangan perempuan 69,1%.

Dalam Islam, menuntut ilmu adalah bagian dari kewajiban yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang muslim. Bukan hanya ketika kecil, namun ia berlaku dari ayunan sampai kematian menghampiri. Tidak ada alasan untuk malas-malasan dan berpangku tangan.

Radikalisme itu memang tidak dapat dipisahkan dari kejahilan. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang. Coba saja dibayangkan, ketika seseorang memiliki semangat beragama yang tinggi, kemudian ia berguru dan berpanut kepada seseorang yang memiliki semangat serupa namun dengan keilmuan yang tanggung, maka yang terjadi keduanya sama masuk-masuk ke dalam lubang keradikalan.

Tidak sedikit kita temui beberapa anak muda yang berada di kampus terkenal, namun terkena penyakit ini. Sampai-sampai mereka rela harus bertentangan dengan teman-temannya, bahkan keluarganya sendiri demi membela apa yang diyakininya. Tidak ada jalan lain untuk mengatasi ini, kecuali dengan kembali menggiatkan kegiatan keilmuan yang benar-benar berdasarkan manhaj Islam yang lurus.

Kemiskinan?


Kemiskinan adalah konklusi dari kejahilan, dan kejahilan adalah penyebab radikalisme. Jadi, kemiskinan adalah pangkal dari radikalisme. Bayangkan saja, seseorang yang membutuhkan sesuap nasi, kemudian ada orang yang menawarkannya segala bentuk kemewahan hidup asalkan ia mau melakukan apapun yang disuruhnya. Semakin ditolaknya, maka tawaran yang akan diberikan akan semakin besar.

Wilayah-wilayah kumuh dan miskin, acapkali menjadi lokasi berbagai bentuk kejahatan, seperti pencurian, pemerkosaan, pembunuhan, dan sebagainya. Dan dalam Islam, menjadi orang miskin bukanlah sesuatu yang direkomendasikan.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu sendiri, yang di kalangan para sufi terkenal sebagai Taj al-Arifin (mahkota orang-orang yang bijaksana) pernah mengatakan, “Jikalau kemiskinan itu berwujud manusia, maka saya akan mencekiknya.” Dan walaupun banyak para sahabat dan para salaf yang hidup sederhana, namun itu bukan berarti mereka miskin. Mereka adalah orang-orang yang kaya, namun kekayaan itu mereka belanjakan di jalan Allah SWT.

Begitulah tabiat wilayah yang akan menjadi sarang radikalisme. Sebagai warga Indonesia, yang mencintai negeri ini dengan segala kelebihannya dan kekurangannya, tentu tidak ada seorang pun yang menginginkannya menjadi sarang radikalisme dan mengalami goncangan politik sebagaimana dialami oleh negera-negera di Timur Tengah.
Obatnya jelas. Kembalilah bangkitlah ilmu. Singkirkanlah segala bentuk kejahilan. Dan jangan lupa, obatilah luka-luka kemiskinan yang sudah lama menukak di kalangan orang-orang termarginalkan.[]