Benteng Moral di Ujung Tanduk

No Comments
(Dimuat di Opini Harian Haluan, Edisi 22 November 2014)
 ***

Menyedihkan memang, seseorang yang berada di ranah intelektual melakukan tindakan asusila. Yah, itulah seks bebas sebelum nikah yang oleh ZR (22) dan kekasihnya RF (21), yang merupakan mantan mahasiswa (fresh graduate) dan mahasiswa di salah satu pergurruan tinggi di Sumatera Barat. Mereka kemudian membuang bayi hasil hubungan gelapnya yang tidak berdosa itu dengan niat untuk berlepas diri dari tanggungjawab. Apesnya, mereka ketahuan oleh masyarakat sekitar dan lansung di giring untuk  berurusan dengan polisi.

Dan belum lama ini, kampus sebagai ranah para intelektual juga dinodai oleh kelakuan tidak bermoral yang dilakukan oleh Prof Musakkir SH, MH yang menjabat sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Hasanudin. Ia tertangkap basah bersama dua rekannya mengkomsumsi sabu-sabu di kamar 312 Hotel Grand Malibu, Jalan Pelita Raya, Makassar. Dan itu disertai dua orang perempuan yang berstatus mahasiswi.

Kedua kejadian ini memberikan tanda tanya besar di kepala kita; ada apa di balik semua ini? Apakah pendidikan Indonesia tidak mampu lagi menjalankan tugasnya membentuk manusia yang berilmu dan beretika?

Benteng Moral di Ujung Tanduk

Dalam dunia akademi, etika itu penting. Sebab, jikalau ilmu saja yang diperbanyak, dengan segudang ijazah, semuanya tidak akan bernilai jikalau etika (moral) tidak ada. Profesor yang sudah mencapai tingkatan akademis tertinggi, yang mungkin didapatkannya dengan susah payah dalam jangka waktu yang lama, semua itu rusak dalam jangka waktu singkat saja. Siapa yang akan mempercayainya lagi dan mempercayai keilmuannya?!

Dan lihat juga mahasiswa dan mahasiswi tadi. Laki-lakinya baru berstatus fresh graduate, yang artinya baru tamat “kemaren sore”, sedangkan perempuannya masih berstatus mahasiswa, berapa besar rasa malu yang harus mereka tanggung akibat perbuatan mereka sendiri. Bukan saja kepada teman-temannya, namun juga kepada orang-orang yang tahu kasusnya. Masa depan keduanya berada di tepi jurang kehancuran.

Kemudian coba bayangkan juga, siapa yang akan menanggung malu, apakah pelakunya saja? Tidak, tentu saja bukan mereka. Rasa malu itu juga akan menjangkiti keluarga. Alangkah malunya keluarga yang menyekolahkan anaknya susah payah, dengan harapan kelak menjadi orang yang berhasil. Namun, yang terjadi padi itu patah sebelum tumbuh dan berbuah.

***

Ilmu dan Moral


Kampus itu adalah banteng moral, yang menjadi tempat masyakat menaroh anak-anaknya untuk menjadi manusia sukses, yaitu manusia hakiki yang berperadaban dan beretika. Jikalau sampai kasus ini membuat masyarakat kehilangan kepercayaan mereka kepada institusi, maka siapa lagi yang layak dipercaya?

Dalam tulisan saya sebelumnya, saya pernah mengutip kata-kata Muhammad Abduh bahwa manusia itu tidak akan manusia manusia, kecuali dengan pendidikan. Dan pendidikan yang dimaksud disini adalah pendidikan berkeimanan dan beretika. Dalam artian, semakin seseorang berilmu, maka semakin besar rasa taatnya kepada hokum dan semakin besar rasa takutnya jikalau melakukan sebuah pelanggaran.

Ilmu dan moral adalah dua hal yang tidak akan mungkin dipisahkan selama-lamanya. Sebab, tujuan ilmu itu diajarkan adalah untuk membentuk manusia (tasykil al-Insan), kata Muhammad Quthb. JIkalau sebuah ilmu tidak dilandasi oleh etika, maka ia akan menjadi hampa. Tidak ada yang akan menghargainya. Akibatnya, ilmu yang sudah dipelajarinya tadi tinggalkan teori tanpa aplikasi.

Saya teringat dengan kata-kata Th. Sumartana ketika memberikan kata pengantar untuk buku kumpulan catatan pinggirnya, Goenawan Mohammad. Ia mengatakan bahwa jikalau idealism tanpa dilandasi realism, maka ia hanya akan membuat pelakunya menjadi pemimpi. Dan jikalau realism tanpa dilandasi nilai-nilai idealism, maka ia akan membuat pelakunya hidup tanpa martabat.

Nah, bagaimana seseorang akan menerapkan ilmunya tentang moral, jikalau keilmuan itu hanya adalah dalam kepala, yang realita perbuatanya jauh dari apa yang diketahuinya?

Ibn Badis, seorang pemikir muslim Aljazair menjelaskan bahwa pendidikan itu konklusinya harus ada muthabaqah baina az-zhahir wa al-bathin (kesesuaian antara zhahir dan bathin). Artinya, ilmu yang didapatkannya itu harus disatukan dengan dirinya agar hasilnya itu tampak nyata. Jadi, apa yang diketahuinya diterapkannya dalam kehidupan.

Dan saya yakin, seorang intelektual yang pernah bersentuhan dengan kampus pasti mengenal nilai-nilai moral. Hanya saja, adakah ia menyatukan dirinya dengan nilai-nilai itu atau tidak. Sebuah teori jikalau tidak membumi dalam diri, maka ia hanya akan menjadi omong kosong.

Dan yang saya khawatirkan jikalau sampai pepatah Belanda ini menjadi nyata dalam diri anak negeri, terutama yang terpelajar. Yah, ada pepatah Belanda yang menjelaskan bahwa jikalau ilmu seseorang semakin tinggi, maka keinginannya untuk melanggar hukum juga semakin tinggi. Dan kita semuanya berharap jangan sampai ada yang seperti itu. Wallahu a’lam. []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment