Haji Perlu Ditunda

No Comments
(Dimuat di Opini Republika, Edisi 28/4/2015)
***

Wacana  yang  dihembuskan beberapa pengamat untuk menunda pelaksaan ibadah haji tahun 2015 ini, seperti yang disampai oleh pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Dr Ansari Yamamah di Medan (Republika, 23/4) perlu untuk dikaji dan dilihat, terutama jikalau kondisi di Yaman terus memanas.  Keselamatan jiwa tentu lebih penting dan lebih diutamakan. Sebab, keberadaan syariat sendiri salah satunya untuk menjaga eksistensi jiwa (hifzd al-nafs).

Keadaan di Yaman sampai saat ini belum begitu stabil, masih penuh dengan gonjang-ganjing. Pada hari Rabu (22/4), pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi resmi mengumumkan berakhirnya operasi “Badai Pasir”, sebagaimana disampaikan oleh juru bicara koalisi, Brigadir Jenderal Ahmed al-Asiri,  kemudian menggantinya dengan operasi baru yang bernama “Harapan Baru”, yang merupakan gabungan dari upaya militer, politik, dan diplomatic untuk mengembalikan kondisi stabil di Yaman.

Haji Perlu Ditunda

Beberapa bulan ke depan, pemberangkatan jamaah haji asal Indonesia akan mulai dilakukan. Dan ini tentu harus menjadi perhatian pemerintah, terutama kondisi keamanan yang ada disana.Pemerintah harus bisa memberikan jaminan keamanan bagi orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji. Jangan sampai ada yang berada dalam kondisi bahaya. Sebab, dalam kondisi tidak normal (perang), kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Dan menolak kemudharatan itu harus lebih didahulukan dari mendatangkan kemaslahatan (dar-u al-mafasidawla min jalb al-mashalih).

Satu pertanyaan yang perlu direnungkan, jikalau kondisi tidak kondusif juga, apakah ibadah haji harus ditunda, sebagaimana disampaikan oleh sebagian pengamat?

Syeikh Ali Jumah, yang sekarang menjadi Syeikh al-Azhar,  pernah menulis dalam harian al-Ahram (3/10/2009)tentang beberapa sebab yang bisa dijadikan landasan untuk menunda haji.

Pertama, cuaca yang sangat ekstrim, yang menyebabkan para jamaah haji tidak mampu bertahan dalam kondisi seperti itu. Dalam artian, jikalau tetap dilakukan, maka dikhawatirkan akan membahayakan jiwanya. Ekstrim disini bisa saja dingin yang sangat luar biasa atau panas yang sangat menyiksa, yang tidak mampu lagi ditanggung oleh tubuh.

Kedua, Tersebarnya wabah penyakit yang berbahaya. Jikalau dalam suatu waktu, ada wabah yang tidak mampu dicegah, yang dikhawatirkan akan menjangkiti dan membunuh orang-orang yang menunaikan ibadah haji, maka dalam kondisi ini pemerintah atau lembaga yang berwenang bisa saja mengambil kebijakan untuk mencegah penyebaran penyakit yang membahayakan demi menjaga jiwa.

Ketiga, Bencana kekeringan. Jikalau di wilayah haram atau dalam safar menuju wilayah itu, tidak ada air untuk memenuhi dahaga sehingga dikhawatirkan akan menyebabkan kehausan yang berujung kematian, maka kebijaksaan harus diambil dalam kondisi seperti ini.

Keempat, Gejolak politik. Kondisi politik wilayah yang akan membahayakan orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji, juga bisa dijadikan landasan bolehnya menunda pelaksaan ibadah haji sampai kondisi politik tersebut stabil.

Kelima, Gejolak keamanan. Jikalau di wilayah terjadi sesuatu yang mengguncang keamanan, misalnya terjadi pemberontakan dan sejenisnya, maka kebijakan untuk menunda pelaksaan ibadah haji sampai keamanan itu kembali kepada kondisi yang tenang adalah ijtihad yang bisa terima akal.

Keenam, Gejolak ekonomi. Kondisi ekonomi yang tidak baik dan harga yang meroket adalah salah satu point yang bisa menyebabkan tertunda pelaksanaan ibadah haji. Dalam kondisi seperti itu, tentu ada prioritas lain yang bisa didahulukan.

Ketujuh, Kondisi udara yang menyebabkan tidak amannya penerbangan, yang bisa berpangkal dari adanya pemberontakan atau ancaman alami seperti angin dan badai yang bisa membahayakan jiwa.

Kedelapan, perompak. Jikalau dalam perjalanan menuju wilayah haram ada ancaman perompak, yang menghadang orang-orang yang menunaikan haji di dalam perjalanan, dan pihak terkait tidak mampu mencegahnya dan menjamin keamanan, maka kondisi ini bisa dipertimbangan untuk menunda haji.

Itulah beberapa alasan yang disampaikan oleh Syeikh Ali Jumah yang bisa menyebabkan penundaan pelaksaan ibadah haji. Sebenarnya, itu hanyalah beberapa point saja dari sekian banyak point yang bisa dijadikan pertimbangan. Dan jikalau diperhatikan, semua itu kembali kepada satu point utama, yaitu menjaga jiwa.

Jikalau jiwa terancam oleh keadaan yang menyertai pelaksaannya, maka penundaan pelaksanaanya adalah kebijakan yang layak diambil. Dan muara utama dari semua ini adalah Istitha’ah (kemampuan). Kemampuan yang dimaksud dalam Islam bukan saja kemampuan Maali (harta) semata, namun juga kemampuan dari segi jaminan keamanan.

Dalam sejarahnya, tertundanya pelaksaan ibadah haji memang pernah terjadi, yang merupakan efek dari keamanan wilayah yang tidak kondusif dan membahayakan. Al-Zahaby (Tarikh al-Islami, 23/374) pernah menjelaskan kejadian tahun 316 H. Pada waktu itu tidak ada seorang pun yang menunaikan haji karena takut dengan Qaramithah, yaitu salah satu sekte syiah yang ekstrim dan radikal. Hal yang sama juga disampaikan oleh Ibn Tagharry Bardy (al-Nujum al-Zhahirah, 3/227). Bahkan ini berlansung sampai tahun 326 H. Ibn Katsir (al-Bidayah wa al-Nihayah, 11/265) menjelaskan tentang kejadian berbeda yang terjadi pada tahun 357 H. Pada waktu itu, ada penyakit menular berbahaya yang menewaskan banyak manusia, kemudian banyak unta orang-orang yang menunaikan haji meninggal dalam perjalanan karena kehausan dan tidak mendapatkan air. Tidak ada yang berhasil sampai ke Mekkah pada waktu kecuali sedikit. Dan yang sedikit itu, sebagian besarnya meninggal setelah menunaikan ibadah haji.

Keamanan dan keselamatan memang factor penting dalam pelaksaan ibadah haji. Tidak ada seorang pun yang menginginkan ibadahnya tertunda, apalagi ibadah haji yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin. Di beberapa wilayah, ada yang antri sampai dua puluh tahun. Namun, satu factor ini harus diperhatikan dengan baik. Sebab, menjaga jiwa adalah salah satu tujuan utama pensyariatan (hifdz al-nafs). Wallahua’lam. []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment