Krisis Karya Tulis/ Kepenulisan di Dunia Islam Menurut Ibn ‘Asyùr

Ketika kita berjalan menelusuri Toko Buku sejenis Gramedia atau Emperan Buku Kaki Lima, lihatlah buku-buku Islam yang ada disana! Apa yang Anda saksikan? Yah, buku-buku dengan judul yang mirip, hampir sama. Bahkan, kadangkala, ada yang kavernya saja berbeda, namun isinya sama.

Fenomena inilah yang dinamakan dengan Krisis Buku, Krisis Kepenulisan. Sebenarnya, bukan saja terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di Dunia Islam secara keseluruhan. Ada satu tulisan menarik yang ditulis oleh DR. Abdul Karim al-Muslih, dengan judul Taškís Ibn al-Ašyùr li Mažâhir Fasâd al-Ta’líf Inda al-Mutaakkhirín. Dalam tulisan ini, dengan baik dijelaskan Diagnosis Ibn Ibn al-‘Asyùr tentang penyebab rusaknya Kepenulisan dan Karya Buku di Dunia Islam. Ada beberapa kondisi yang layak diperhatikan dalam catatannya ini:

________________

 Kepenulisan Dunia Islam yang Masih saja Rigid, Kaku, dan Jumud

________________


Dalam Kitabnya “Alaisa al-Subh bi al-Qaríb”, Ibn al-‘Asyùr menyayangkan kondisi kepenulisan Dunia Islam yang masih berada dalam kondisi rigid/ jumud/ kaku. Dalam diagnosisnya, itu terjadi semenjak 600 tahun yang lalu. Ia menyamakan kondisi ini dengan tawanan yang menunggu masa kebebasannya, dengan orang terzalimi yang menunggu orang yang akan membantunya. Ia menganggap kejumudan tersebut merupakan salah sebab terbelakangnya pendidikan Dunia Islam.

Dan mereformasi Kepenulisan Dunia Islam merupakan langkah awal untuk mereformasi Dunia Pendidikan. Ia mengatakan, “Ilmu-Ilmu berharap agar kita mereformasinya. Ia melihat kita layaknya pandangan tawanan terhadap orang yang akan menebusnya, layaknya pandangan orang yang terzalimi terhadap orang yang akan menolongnya. Memperbaiki Dunia Kepenulisan adalah langkah pertama. Bahkan, ia merupakan setengah dari jarak perjalanan yang harus ditempuh untuk melakukan reformasi ilmu. Ilmu itu tidak lain adalah makna-makna kepenulisan. Kemajuannya tidak akan pernah bisa diharapkan selama ia masih terpenjara dalam penulisan-penulisan masa lalu, semenjak 600 tahun yang lalu.”

Krisis Karya Tulis di Dunia Islam

 ___________________

Kita Masih Saja Hidup Di Masa Lalu, Padahal Masa Sudah Maju, Zaman Sudah Berbeda

___________________


Ibn ‘Asyùr juga menjelaskan kesenjangan yang semakin lebar antara karya kepenulisan dengan pergantian masa dan peradaban, “Perjalanan sudah terhenti, kepenulisan sudah menyempit, dan ilmu-ilmu sudah bercampur-baur. Sehingga, kita mengikuti apa yang kita dapati tanpa sensitifitas apakah ada kebaikan dalam apa yang kita ikuti atau keburukan dari apa yang kita jalankan. Masa sudah berganti, ilmu sudah semakin maju, umat lainya sudah terbang ke angkasa, sedangkan kita masih saja duduk dengan ilmu-ilmu kita dan kitab-kitab kita. Setiap kali kita merasakan cerita kejayaan masa lalu, kemajuannya, dan perubahan hebat yang diciptakannya, kita semakin berpegang kuat dengan masa lalu dan kita menutup semua pintu. Padahal hakikatnya, Anda sedang melihat sosok generasi abad ke-14, namun Anda merasa bahwa pengetahuanya, ilmunya, dan pemikirannya adalah generasi abad ke-9 atau ke-10, yang tidak mampu lagi untuk maju dan terhenti di batas yang pijakinya.

________________________

Tirani Kwanititas; Banyak Karya, Namun Tidak Bermutu

_______________________


Ibn al-Asyur mengidentifikasi bahwa awal mula ketidakseimbangan dalam Penulisan ini karena Tirani Kwantitas. Ia menjelaskan, "Karya-karya kepenulisan meningkat dan berkembang dalam lima ratus tahunan ini. Kelompok-kelompok aliran pun semakin bertambah banyak. Hanya saja, di hadapan gelombang besar ini, kaum muslimin tidak mendapatkan jalan terang untuk menentukan ulama yang kitab mereka dijadikan sebagai rujukan. Saking banyaknya, susah menentukan jumlah yang akan dibawa, namun di sisi lain kebutuhan menuntut untuk mengambil semuanya. Kemudian, masing-masing pihak sibuk meringkas, menambah, dan mengurangi bagian yang rasanya perlu.”

Tirani kwantitas non filterisasi ini melahirkan pengaruh-pengaruh negatif general dalam kepenulisan. Ia mengatakan, "Munculnnya kerancuan lisan dan upaya menyembunyikan banyak masalah di balik tabir lafadz, ditambahkan dengan sikap para penulis yang Anti Kritik, sibuk dengan editan satu huruf atau kekurangan satu kata, sampai-sampai para penulis mengkritik para penulis kitab-kitab al-Mukhtashar (ringkasan) dalam al-Tarkib (Uslub) yang digunakannya, dengan mengatakan bahwa jikalau al-Tarkib yang digunakannya seperti ini, maka akan lebih ringkas. Akibatnya, pemahaman yang ada semakin lemah, yang hanya siap menjelaskan hal-hal tersembunyi tersebut, menyia-nyiakan waktu yang ada, berdebat tentang makna kata; apakah ini yang dimaksudkan oleh penulis atau tidak? Orang ini mengatakan "ya", dan lawan bicaranya mengatakan "tidak". Kemudian ada kritikus lainnya yang mengkritik pengkritik dan pendukung sebelumnya.”

Ibn al-‘Asyùr lebih lanjut menjelaskan kondisi Kepenulisan di Abad Terakhir yang dikuasi oleh Tirani Taklid, dengan mengatakan, “Ruang Kepenulisan hanya berkisar dalam penukilan ucapan kaum terdahulu. Anda menyaksikan karya yang muncul antara yang satu dengan yang lainnya, namun Anda tidak mendapatkan sesuatu yang baru atau pandangan atau saripati.” Bahkan, fenomena yang satu ini di kalangan kontemporer sampai pada tingkat al-Tasâbuq (berpacu) untuk menampakkan hal-hal tidak berguna/ hal-hal sepele dalam Kepenulisan, sekadar menampakkan pencapaiannya dalam bacaan dan pendidikan.”

Kemudian Ibn al-‘Asyùr menjelaskan konsekwensi efek-efek negative dalam Dunia Kepenulisan dalam jangka waktu yang lama setelahnya berlalunya abad ke-8, berupa konklusi-konklusi Negatif yang sangat disayangkan terhadap logika dan pemahaman, bahkan terhadap etipa Generasi selanjutnya. Ia menjelaskan, “Setelah berlalu jangka waktu yang panjang, logika akan menjauh dari feadah ilmu, para penulis akan lupa dengan rancangan mereka, sehingga Anda tidak akan mendapati karya-karya tulis tersebut kecuali dialektika dan khusumat seputar lafadz dan ungkapan semata. Dan hal itu menyebabkan umur penuntut ilmu yang sia-sia dan pemikirannya yang merugi, ia akan menjadi laki-laki yang mampu membanggakan diri dan berdebat, namun tanpa hujjah. Tidak diragui, setelah abad ke-8, ia melahirkan manusia-manusia yang berbangga-bangga, tunduk dan taklid, namun mereka sama sekali tidak paham. Dan ini merupakan faktor utama semakin membesarnya taklid, semakin jauhnya dari hakikat dan sikap kritis.”

______________

 Hanya Sekadar Nukil-Menukil

________________

Dalam pandangan Ibn al-‘Asyùr, para penulis kontemporer yang memenuhi karya-karya mereka dengan nukilan dasri para ulama, hakikatnya sedang tertipu. Ia mengatakan, “Mereka tertipu ketika menyaksikan karya para pendahulu yang menukil kalam para ulama senior. Mereka menyangka bahwa itulah sebenarnya Hiasan Ilmu.” Padahal, kata Ibn al-‘Asyùr, ada perbedaan antara nukilan ulama terdahulu dengan ulama kontemporer. “Jikalau al-Sikâky menukil dari al-Zamakhsary dan Abd al-Qahhâr di bagian-bagian yang ingin dijelaskan kebenaran makna atau kejelasan tastenya, maka yang kita dapati hari ini berbeda, kita tidak mendengar kecuali Fulan berkata dan Fulan berkata.”
Ibn al-‘Asyùr menjelaskan keistimewaan metode kalangan terdahulu dengan metode yang ditempuh kalangan kontemporer yang tertipu oleh meteode kalangan terdahulu tanpa mengenal keistimewaan-keistimewaan manhaj mereka dan kelebihannya, "Karya-karya kaum terdahulu dipenuhi dengan pandangan baru dan percikan-percikan Ijtihad dalam setiap bidang ilmu. Di antara efeknya yang masih bisa disaksikan dalam karya mereka, yang karya tersebut masih ada di tengah Generasi Islam, adalah paparan pendapat-pendapat yang termaktub dalam kitab-kitab, bahkan Anda juga mendapati pendapat-pendapat yang di zaman sekarang mungkin tidak akan ditolerir karena saking lemahnya. Namun, demi Ihtirâm al-Fikr (memuliakan pikiran) mendorong para penulis untuk tetap menuliskannya dan memaparkannya agar dikritik para peneliti. Bahkan, manusia sekarang menyakini bahwa semua yang tertulis adalah benar dan tidak layak dikritik dan tidak masalah diambil saja."

Ibn al-‘Asyùr menyimpulkan konklusi-konklusi Negatif menyedihkan untuk karya-karya kalangan kontemporere ini, dengan mengatakan, "Efeknya, keterbelakangan ilmiah seperti sekarang ini."

____________________

Meneror Pikiran dan Ide Baru

___________________


Tidak sekadar banyak menukil, banyak mengulang-ngulang, taklid, dan Nepotisme terhadap pendapat kaum terdahulu, tidak ada kreatifitas, tidak ada penambahan dan sesuatu yang baru dalam karya, akal, dan pemahaman di kalangan kontemporer, banhkan Ibn al-‘Asyùr juga mendapatkan adanya beberapa kelompok menguatkan hubungannya dengan para pejabat dan para petinggi. Tujuannya, menghalangi orang-orang untuk melangkahi apa yang sudah dihasilkan oleh kaum terdahulu. Banyak faktor pendorongnya, seperti mencukupkan diri dengan derajat ulama tahqiq, atau iri kepada teman-teman sebayanya dan mematikan bakat kalangan kontemporer, atau Nepotisme terhadap kaum terdahulu. Ia menjelaskan, “Mereka membekukan sudut pandang, dan menakuti orang lain dengan hukuman yang akan didapatkan jikalau menyampaikan pendapat. Mereka membisikan kepada para pejabat dan para penguasa bahwa keluar dari pendapat kaum terdahulu, walaupun sejengkal, sama dengan Atheis, ingkar terhadap para ulama terdahulu. Serta dengan berbagai kata-kata lainnya mereka buat dan mereka palsukan. Mereka membuat bidah, dengan menyucikan kaum terdahulu.”

***


Kondisi keilmuan Dunia Islam memang menyedihkan. Gambaran yang disampaikan oleh Ibn al-‘Asyùr memang menukik dan lansung menghunjam ke hati Generasi Umat Islam. Kita berpikir jumud, kaku, rigid. Metode berpikir kita tidak kritis. Bisanya hanya menukil, tanpa mencerna. Kita menyucikan karya masa lalu, seolah-olah semua yang tertulis itu benar. Padahal yang mutlak benar itu hanyalah al-Quran dan Sunnah.

Jikalau ada yang memiliki pemikiran brilian, akal yang hebat, kita anggap sesat, liberal, pengekor barat dan sejenisnya. Akibatnya, akal kita mentok, tidak berkembang. Ungkapan “Menjaga Warisan Masa Lalu yang Baik, dan Mengambil Terbaik dari yang Baru” layak digunakan. []

Catatan:
1-Silahkan Tinggalkan Komentar Anda, Tapi Sopan Beretika
2-Kalau Anda Menggunakan Handphone atau Tablet, Silahkan Klik "View Web Version" Untuk Melihat Tampilan Aslinya