Hukum Jual Beli Lelang (Bai’ al-Muzāyadah) Menurut Islam

No Comments
Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H
***

Lelang barang, sering dilakukan sejumlah Instansi. Paling sering banget adalah pegadaian. Biasanya, orang yang menggadai barangnya dalam batas waktu yang sudah ditentukan, kemudian tidak mampu menunaikan kewajibannya, maka barangnya akan dilelang.

Banyak barang yang biasanya digadai. Mulai dari Laptop, Handphone, Motor, Rumah, Mobil, dan Emas. Jikalau dibandingkan dengan harga yang ada di pasaran, harga yang ada di lelang memang jauh lebih murah. Apalagi jikalau tidak ada yang minat dengan barang tersebut. Otomatis harganya lebih murah.

Teman saya bercerita, ia membeli Laptop yang dilelang di pegadaian, dengan harga yang sangat murah sekali. Padahal, laptopnya masih bagus dan bermerk lagi. Jikalau harganya normalnya sekitar 5 juta di pasaran, dengan jenis yang  baru baru, dilelang ia bisa mendapatkannya dengan harga 2-3 juta dengan kwalitas barang yang masih gress, walaupun mungkin berstatus second.

Hukum Jual Beli Lelang (Bai’ al-Muzāyadah) Menurut Islam

Tapi kan ga masalah. Selama kinerja barangnya bagus, mau baru atau second, tidak masalah.

Kalau di Pegadaian sih, biasanya barangnya sudah dipatok harganya, tanpa berebutan dengan yang lainnya. Siapa duluan, itu yang dapat. Normalnya, kalau kita lihat, lelang itu seringkali ada prosesi saling menaikkan harga.

Misalnya, jual mobil.

“Saya beli 100 juta.” Kata Bapak A
Kemudian Bapak B menimpali, “Saya beli 150 juta.”
Kemudian ada lagi yang berteriak, “Saya beli 200 juta.”
Begitulah seterusnya. Sampai didapatkan harga yang paling tinggi. Dan tidak ada lagi yang menawar setelahnya.

Oke.. kita balik ke topic pembahasan kita; bagaimana hokum lelang dalam Islam?

Sebagaimana seorang Muslim, kita tentu harus memahami masalah ini dengan baik, agar kita tidak bermuamalah dengan keraguan, apalagi dengan kajahilan. Jangan sampai. Kita harus tegak di atas ilmu.

***

Hukum Lelang Dalam Islam


Dalam kajian Hukum Islam, Jual Beli Lelang itu dikenal dengan Istilah Bai’ al-Muzāyadah. Hukum asalnya dibolehkan (Mubāh), berdasarkan firman Allah SWT:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (Surat al-Baqarah: 275)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, ucapan Atha’ bin Abi Rabah:
أدركت الناس لا يرون بأساً في بيع المغانم فيمن يزيد
“Saya mendapati orang-orang yang menganggap tidak masalah jual beli karapan bagi yang menambah (al-Muzayadah).”

Kemudian diseburkan sanadnya dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu bahwa ada seseorang yang memerdekakan budaknya dengan cara Idbar, yaitu merdeka setelah kematiannya. Kemudian laki-laki tadi ada kebutuhan, Nabi Muhammad Saw memegangnya dan berkata:
من يشتريه مني ؟
“Siapa yang akan membelinya dariku?”
Kemudian Nuaim bin Abdullah membelinya dengan harga segini dan segini, kemudian membayarkanya. (Hr al-Bukhari)

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Saw menjual al-Halas (perangkat rumah) dan Gelas, kemudian bersabda:
“Siapa yang akan membeli al-Halas (perangkat rumah) dan Gelas?”
Ada yang berkata:
“Saya akan membeli keduanya seharga sedirham.”
Kemudian beliau berkata:
من يزيد على درهم ؟ من يزيد على درهم ؟
“Siapa yang mau melebihkan dari sedirham? Siapa yang mau melebihkan dari sedirham?”
Kemudian seorang laki-laki memberinya dua dirham, dan beliau menjual keduanya kepadanya.” (Hr al-Turmudzi)

***

Catatan Penting Seputar Jual Beli Lelang/ Bai’ al-Muzayadah


Ada dua catatan penting yang perlu menjadi perhatikan dalam masalah ini, agar orang yang terlibat dalam lelang tidak ragu atau tidak salah menjalaninya.

  • Jual Beli Lelang bukanlah Bai’ ala Bai’ Akhihi (Jual beli atas Jual Beli Orang Lain)
Ada yang beranggap bahwa jual beli lelang ini masuk dalam kategori Bai ala Bai akhihi (Jual Beli atas Jual Beli Orang Lain), yang dilarang oleh sabda Rasulullah Saw:
لا يبع بعضكم على بيع أخيه
“Janganlah salah seorang di antara kalian berjual beli atas jual beli saudaranya.” (Hr al-Bukhari dan Muslim)

Ini tidaklah benar. Sebab, jenis ini berbeda dengan lelang. Misalnya untuk jenis yang dilarang ini: Si A membeli motor kepada si B. Mereka sudah sepakat dengan harganya, namun belum ada pembayaran. Tapi sudah sepakat, tinggal eksekusi. Kemudian tiba-tiba datang si C, yang juga tertarik dengan motor tersebut, seraya berkata:
“Batalkan jual belianya. Biar saya yang beli. Saya akan beli dengan harga yang lebih mahal.”
Ini yang dimaksudkan oleh hadits di atas. Ini haram. Dan ini tidak masuk dalam kategori akad lelang.

  • Lelang bisa berubah menjadi jual beli al-Najasy yang diharamkan dalam Islam.
Jual beli Najasy adalah seseorang menaikkan harga barang padahal ia sama sekali tidak ingin membelinya. Ia hanya ingin membuat orang lain tertarik membeli dan menawarnya dengan harga yang lebih mahal. Biasanya, pelaku al-Najasy ini ada kesepakatan dengan penjual barang.

Hukumnya haram dalam Islam, karena mengandung unsur penipuan atau al-Gharar, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah saw melarang dari al-Najasy. (Hr al-Bukhari)
Dalam lelang, ini seringkali kita dapati. Bukan begitu?!

Ada beberapa kejanggalan lainnya yang biasanya dilakukan, dan hukumnya haram:
  • Mempromosikan barang yang dilelang dengan cara dusta, lebay, menambah-nambahkan yang tidak seharusnya, baik dilakukan pemilik barang atau orang yang sama sekali tidak ingin  membelinya
  • Barang tidak dilihat secara lansung, hanya diberikan deskripsi saja, atau gambaran aja, yang tidak sesuai dengan faktanya, yang mengandung unsure penipuan.

***

Hukum Lelang Tender Proyek Dalam Islam


Pada dasarnya, setiap lelang itu hukumnya boleh, halal, Mubah. Hanya saja, jikalau sudah terjadi hal-hal yang bertentangan dengan syariat, bertentang dengan hokum Islam, maka hukumnya beruba menjadi haram. Dalam kajian hokum Islam dikenal dengan nama al-Haram bi Ghairihi (haram karena sebab yang lainnya).

Sama kayak minum air putih. Hukumnya halal. Namun jikalau minum terus sampai kembung dan membahayakan keselamatan nyawanya, maka hukumnya berubah menjadi haram. Haramnya Haram bi Ghairi (haram karena selainnya).

Tender Proyek juga sama. Jikalau sudah dilakukan dengan cara al-Najsy, sebagaimana yang kita jelaskan di atas. Ada permainan. Ada penipuan. Maka, hukumnya haram.

Apalagi jikalau sampai ada suap-menyuap untuk mendapatkan lelang tender, itu sudah haram banget. Sekali lagi, haramnya pakai banget.

Rasulullah Saw bersabda:
الراشي والمرتشي في النار
“Penyuap dan yang disuap di Neraka.” (Hr al-Thabrani)

Pointnya, Jual Beli lelang atau Bai al-Muzayadah itu tidak masalah. Asalkan jangan sampai mengandung sesuatu yang diharamkan dalam syariat, seperti yang kita jelaskan di atas.

Oke… Demikian catatan kita kali. Semoga bermanfaat. []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment