Masalah al-Nâsikh dan al-Mansùkh dalam al-Qurân al-Karím

Semua agama langit (al-Dín al-Samâwi ) turun untuk menegaskan akidah al-Tauhíd, mengesakan Allah SWT dalam peribadahan dan tidak menyembah selain-Nya. Semua Nabi dan Rasul membawa risalah ini kepada kaum mereka:
فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)." (Surat al-Mukminun: 32)

Hanya saja, untuk hokum syariat, antara satu Rasul dengan Rasul lainnya, ada perbedaannya, sebagaimana firman-Nya:
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ ۖ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ ۚ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُسْتَقِيمٍ
Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus." (Surat al-Hajj: 67)

Masalah al-Nâsikh dan al-Mansùkh dalam al-Qurân al-Karím

Para Ulama mengkaji masalah al-Nâsikh dan al-Mansùkh ini di bawah kajian Ilmu al-Qurân al-Karím. Bahkan ada yang menulisnya secara khusus. Al-Naskh adalah mengangkat hokum syariat dengan al-Khitâb (risalah) syariat. Artinya, al-Naskh itu tidak bisa dilakukan dengan akal dan al-Ijtihâd.

Ruang terjadinya al-Naskh itu adalah perintah (al-Awâmir) dan larangan (al-Nawâhi) semata. Sedangkan untuk masalah akidah, akhlak, Ushùl al-Ibâdah, dan al-Akhbâr al-Sharíhah (berita-berita yang jelas) yang tidak ada kandungan perintah dan larangannya, maka tidak tersentuh oleh al-Naskh.

Mengetahui al-Nâsikh dan al-Mansùkh, sangat penting sekali bagi para ulama. Sebab, dengan mengetahuinya, hokum-hukum syariat bisa diketahui, bisa juga diketahui hokum apa yang masih berlaku dan hokum apa yang sudah disentuh al-Naskh.

Para ulama sudah menentukan metode-metode untuk mengetahui al-Nâsikh dan al-Mansùkh, di antaranya al-Naql al-Sharíh (penukilan yang jelas) dari Nabi Muhammad Saw, atau sahabat. Di antara contoh al-Nâsikh dan al-Mansùkh yang dinukil dari Nabi Saw:
كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزروها
“Dahulu saya melarang kalian untuk ziarah kubur. Maka, ziarahilah.” (Hr Muslim)

Di antara contoh al-Nâsikh dan al-Mansùkh yang dinukil dari sahabat adalah ucapan Anas bin Malik radhiyallahu anhu tentang kisah sumur Ma’ùnah. Ada al-Qurân yang turun tentang mereka, kemudian di-Naskh:
بلِّغوا عنا قومنا أن قد لقينا ربنا فرضيَ عنا ورضينا عنه
“Sampaikan tentang kami kepada kaum kami, kami sudah bertemu Rabb kami, kemudian Dia ridha dengan kita, dan kita ridha dengan-Nya.” (Hr al-Bukhari)

Di antara Metode al-Naskh lainnya adalah dengan Ijma’ umat, mengetahui sejarah hokum yang terdahulu dari yang kemudian. Namun perlu diingat dengan  baik bahwa al-Naskh tidak ditetapkan dengan al-Ijtihâd, tidak sekadar dengan kontradiksi antara al-Zhâhir dengan dalil. Semua hal ini dan semisalnya, tidak bisa menetapkan al-Naskh.

________________

Jenis-Jenis  al-Nâsikh dan al-Mansùkh

________________


Al-Nâsikh dan al-Mansùkh ada beberapa jenis.

Pertama, Naskh al-Qurân bi al-Qurân (Menaskh al-Qurân dengan al-Qurân)

Misalnya adalah firman Allah SWT:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir." (Surat al-Baqarah: 219)

Kemudian dinaskh oleh ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (Surat al-Maidah: 90)

Jenis yang pertama ini adalah jenis yang disepakati oleh para ulama. Tidak ada perbedaan di antara mereka dalam masalah ini.

Kedua, Naskh al-Sunnah bi al-Qurân (Menaskh sunnah dengan al-Qurân)

Contohnya, Naskah menghadap shalat ke arah Baitul Maqdis yang ditetapkan dengan sunah, kemudian dinaskh dengan firman Allah SWT:
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (Surat al-Baqarah: 144)

Ada juga kewajiban puasa hari ‘asyurâ yang ditetapkan denan sunnah, yang dinaskh dengan puasa Ramadhan dalam firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (Surat al-Baqarah: 185)

Ketiga, Naskh al-Sunnah bi al-Sunnah

Contohnya, Naskh bolehnya menikah al-Mut’ah yang awalnya boleh, kemudian di-Naskh. Diriwayatkan oleh Iyâs bin Salamah, dari bapaknya berkata:
رخص رسول الله صلى الله عليه وسلم عام أوطاس في المتعة ثم نهى عنها
“Rasulullah Saw memberikan keringnan di Tahun Awthâs untuk melakukan al-Mut’ah, kemudian dilarang.” (Hr Muslim)

Imâm al-Bukhâri membuat Bab masalah ini, dengan judul “Bâb Nahâ Rasùlullah Shallâhu alaihi wa Sallam ‘an Nikâh al-Mut’ah”.

____________

Bentuk-Bentuk al-Nâsikh dan al-Mansùkh dalam al-Qurân al-Karím

____________


Dalam al-Qurân al-Karím, ada beberapa bentuk.

Pertama, Naskh al-Tilâwah dan al-Hukm Bersamaan

Contohnya adalah hadits Aisyâh radhiyallahu anha yang mengatakan:
كان فيما أنزل عشر رضعات معلومات يحُرمن، ثم نُسخن بخمس معلومات
“Dahulu diturunkan sepuluh susuan tertentu yang menyebabkan mahram, kemudian dinaskh menjadi lima susuan.” (Hr Muslim)

Kedua, Naskh al-Hukum dan tetapnya al-Tilâwah

Contohnya, firman Allah SWT:
الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا ۚ فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Surat al-Anfal: 66)

Ayat berikut ini menghapus hokum ayat sebelumnya, namun al-TilâwaH atau bacaannya tetap ada, yaitu:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti." (Surat al-Anfa;: 65)

Ketiga, Naskh al-Tilâwah dan tetapnya al-Hukm

Contohnya adalah hadits Asyah radhiyallahu anha “Kemudian dinaskh dengan lima susuan”. Ditentukannya al-Radhâ’ah dengan lima kali susuan sebagai penyebab Mahram, hukumnya tetap namun tidak al-Tilâwah.


_________________

Hikmah dan Tujuan al-Nâsikh dan al-Mansùkh dalam al-Qurân al-Karím

_________________


Adanya al-Naskh dalam Syariah, memiliki sejumlah hikmah. Di antaranya menjaga kemaslahatan para hamba Allah SWT. Tidak diragui, sejumlah maskah dakwah Islam di awal kemunculannya, berbeda setelah konsis dan tegaknya. Hal itu menuntut diubahnya sejumlah hokum, demi menjaga kemaslahatan tersebut. Ini jelas termaktub dalam sejumlah hokum-hukum yang terdapat di masalah Makkah )al-Marhalah al-Makkiyah) dan masa Madinah (al-Marhalah al-Madaniyah), begitu juga ketika awal masa di Madinah dan ketika wafatnya Nabi Muhammad Saw.

Hikmah atau tujuanlainnya adalah untuk ujian untuk para Mukallaf, apakah akan menjalankannya atau tidak? Juga untuk kebaikan umat ini dan memudahkanmereka. Sebab, walaupun al-Naskh itu dialihkan ke sesuatu yang lebih sulit, namun ada tambahan pahalanya. Jikalau dialihkan ke yang lebih ringan, maka ada kemudahannya. []

Catatan:
1-Silahkan Tinggalkan Komentar Anda, Tapi Sopan Beretika
2-Kalau Anda Menggunakan Handphone atau Tablet, Silahkan Klik "View Web Version" Untuk Melihat Tampilan Aslinya