Dialektika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni Menurut Islam

Entah bahasa apa yang cocok untuk mengartikan al-Takyíf ini dalam bahasa Indonesia. Ada yang mengartikannya dengan “Adaptasi”. Ada juga yang mengartikannya dengan “Dialektika”. Ada juga yang saya dapati mengartikannya dengan “Rekayasa”.  Untuk yang terakhir, maknanya terlalu peyoratif. Saya tidak setuju. Sebab, makna al-Takyíf al-Fiqhí  itu positif.

Entah mana yang cocoh. Tapi nanti kita bisa menentukan artinya yang cocoknya atau mendati makna aslinya setelah membaca Artikel berikut.

Al-Takyíf merupakan istilah undang-undang, kemudian dipinjam dan digunakan dalam kajian fikih. Inilah awal mula digunakannya istilah al-Takyíf al-Fiqhí di kalangan ulama kontemporer, yang sepadan dengan makna yang digunakan ketika menyebut al-Takyíf al-Qanùni (al-Takyíf atas Undang-Undang).

Maksud al-Takyíf al-Fiqhí atau al-Takyíf al-Qanùni adalah menentukan pengertian al-Tasharruf (tindakan) atau masalah atau kejadian yang dilihat dengan pandangan fikih atau undang-undang atau peradilan, kemudian membaginya dan menempatkannya di bab yang sesuai, agar bisa diolah dan ditetapkan hukumnya sesuai dialektikanya dan susunannya.

Bagian (I) - al-Takyíf al-Fiqhí Terhadap Seni Menurut Islam

Misalnya, apakah tindakan ini masuk dalam bab Ibadah atau Muamalah atau Adat Kebiasaan?  Apakah ini wajib atau Haram, dianggap salah satu hak Allah SWT atau hak para hamba? Apakah ini criminal yang masuk ke dalam bab al-Hudùd atau bab al-Qishâs atau bab al-Ta’zír? Apakah pembunuh ini jenisnya al-‘Amd atau Khata’ atau Syibh ‘Amd? Apakah menguasai harta orang lain dalam kondisi ini dengan deskripsi seperti ini dianggap pencurian, atau diangggap pengkhiatan terhadap amanah atau Perampokan?



Jawaban terpilih dari setiap pertanyaan dan pemisalanya ini, dianggap sebagai Dialektika dan Pembagian awal masalah , yang akan menjadi pondasi hokum-hukum fikih atau undang-undang atau peradilan.

Al-Takyíf al-Fiqhí sama kedudukannya dengan Dokter yang memeriksa dan melakukan diagnosis awal kondisi pasiennya, sebelum mengobati atau melakukan diagnose lebih lanjut. 

Dari sisi ilmiah, al-Takyíf al-Fiqhí masuk dalam ruang yang dikenal ulama dengan nama Tahrír Mahall al-Nizâ’. Sebagaimana diketahui, jikalau tidak ada Tahrír Mahall al-Nizâ’, maka akan terjadi berbagai diskursus dan perdebatan di antara kalangan yang berbeda. Padahal, perbedaan itu bisa dilebur atau dipersempit dengan Tahrír Mahall al-Nizâ’, yaitu dengan Dialektika yang benar atas malah.

Ia juga bisa dinamalan dengan al-Munâthaqah bi al-Tashawwur (berbicara dengan deskripsi), didahulu oleh al-Tashdiq (pembenaran), sesuai dengan kaedah al-Hukm ‘ala Syai-in Far’un ‘an Tashawwurihi (hokum atas sesuatu, cabang dari deskripsinya). Hanya saja, al-Takyíf lebih khusus dari al-Tashawwur.

______________

Al-Takyíf al-Fiqhí Terhadap Seni

______________


Perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang masalah seni, kedudukannya, dan hokum-hukumnya dalam Islam, khususnya seni yang lebih terkenal dan lebih menyebar luas, seperti nyanyian, music, dan patung, sebagian pangkal masalahnya adalah shahih atau tidaknya dalil-dalil yang ada seputar masalah tersebut dari sisi riwayatnya, kemudian pangkal masaah lainnya adalah penggunaan dalil-dalil yang bisa dijadikan sandaran dari sisi al-Dilâlah dan al-Muqtadhâ.

Padahal, ada sebab lainnya yang memyebabkan perbedaan ini, yang jarang diperhatikan dan dikajinya, yaitu dialektika masalah dan penyusunannya.

Ketika kita membaca berbagai kitab dan fatwa yang terkait seni, baik lama maupun baru, maka kita biasanya akan menghadapi masalah ini tidak begitu diperhatikan, atau disebutkan sbagiannya saja (al-Juz-i), atau kita mendapatinya ada al-Takyíf namun tidak jelas dan samar.

Masalah al-Takyíf Seni ini memiliki efek besar dalam pengkajiannya dan penting untuk didudukkan hukumnya. Atas dasar itulah perlu dijelaskan dan diperinci unsur-unsur penting yang terkandung di dalamnya dan pandangan-pandangan yang membentuknya, kemudian juga perlu ditunjukkan adanya titik temu di antara semua jenisnya.

1# Seni Sebagai al-Lahw (Permainan, Senda Gurau)

Deskripsi ini dikenal luas di kalangan ulama, khususnya nyanyian, dendang, dan tarian. Dan inilah yang dijelaskan oleh banyak sekali hadits Nabi Muhammad Saw, baik dalam bentuk al-Ibâhah (boleh) maupun dalam bentuk al-Taqyíd (dibatasi) dan al-Tawjíh (diarahkan).

Dalam Shahíh al-Bukhâri, ada Bâb al-Lahwi bi al-Hirâb wa Nahwiha. Dalam Sunan al-Turmudzí, ada Bâb al-Lahwi wa al-Ghinâi ‘inda al-‘Ars. Dan Bab sejenisnya, banyak didapati dalam Kitab-Kitab Sunnah. Dan maksud al-Lahwi disini adalah hiburan ketika pesta.

Tidak ada seorang pun yang berpandangan bahwa semua seni adalah al-Lahwi, atau berpandangan bahwa semua al-Lahwi adalah seni. Artiya, sebagian seni itu ada yang masuk dalam kategori al-Lahwi, dan sebagian lainnya adalah  kenikmatan atau Imta' al-Nafs.

Dengan al-Takyíf ini, masalah kebolehan seni atau keharamannya, membutuhkan diskusi lebih lanjut mengenai hokum al-Lahwi secara umum; apakah ia al-Ibâhah (boleh) kecuali yang dinafikan dalil, atau al-Hazhr (haram) kecuali yang dinafikan dalil?

Jikalau melihat banyaknya jenis al-Lahwi dan hiburan, kemudian sebarannya yang begitu luas di masa sekarang ini, di seluruh lapisan masyarakat, bahkan sudah ada semenjak zaman Nabi, maka tidak mungkin dan tidak layak berpendapat kecuali memastikan bahwa al-Lahwi itu boleh. Itu hokum asalnya dan berdasarkan nash-nash yang ada.

Artinya, yang perlu dikaji lebih lanjut adalah kondisi ketika al-Lahwi ini melampui batas, ketika ia memberikan pengaruh buruk atau tidak baik terhadap kewajiban.

Jikalau al-Lahwi itu mengandung atau melazimkan perbuatan-perbuatan yang haram, maka tidak diragui hukumnya haram. Tapi, jikalau dikatakan bahwa ia diharamkan sebagai hokum asalnya karena bercampur hal-hal yang diharamkan di beberapa kondisinya atau di sebagian besar kondisinya, maka ini tidak benar dan tidak layak. Kaedah Fikih yang menjadi pegangan Jumhur ulama menegaskan al-Harâm lâ Yuharrim al-Halâl, yang haram tidak mengharamkan yang halal. Atau lafadz lainnya: al-Hâlal lâ Yahrum bi Mulâqat al-Harâm, yang halal tidak akan haram dengan masuknya yang haram.

Jadi, al-Takyíf untuk Seni sebagai al-Lahwi, hokum asalnya adalah al-Ibâhah (boleh), sama dengan ucapan, perbuatan, dan hiburan lainnya. Kemudian, yang keluar dari makna ini atau pengertian, maka dilihat dengan dalil. Jikalau sekadar al-Lahwi atau permainan atau mendengarkan keduanya, maka hukumnya al-Ibâhah.

Hal yang mempengaruhi hokum adalah berlebih-lebihan dalam al-Lahwi ini dan terus menerus melakukannya, sampai lalai menjalankan hak dan kewajiban, atau kecanduan, atau menghabiskan waktu dan usia dengan kesia-siaan. Dalam kondisi seperti ini, maka hokum al-Lahwi beralih dari al-Ibâhah (boleh) ke al-Karâhah (Makruh), atau ke al-Tahrím (haram), sesuai tingkat berlebih-lebihannya dan efeknya.

Imam al-Ghazali mengatakan dalam Kitab Ihyâ Ulùm al-Dín (2/ 282):
“Tidak semua kebaikan, akan menjadi kebaikan jikalau sering dilakukan. Dan tidak setiap Mubah, akan Mubah jikalau sering dilakujab. Rotu itu Mubah, namun jikalau mengkomsumsinya kebaikan, hukumnya menjadi haram.”

Inilah yang dinamakan oleh al-Syâthibí dengan al-Mubâh bi al-Juz, al-Mathlùb al-Tark bi al-Kull (boleh sebagian, diminta untuk meninggalkan secara total). Ia memisalkannya dengan berjalan-jalan di taman, mendengarkan kicauan burung, nyanyian yang Mubah, permaianan yang Mubah dengan Merpati. Semua ini hukumnya al-Mubâh bi al-Juz. Jikalau suatu hari dilakukan, atau dalam kondisi tertentu, maka hukumnya tidak masalah. Jikalau terus-menerus dilakukan,  maka hukumnya Makruh,  pelakunya disebut kurang akal, bertentangan dengan tradisi baik, dan berlebihan melakukan kemubahan.” (Lihat Kitab al-Muwâfaqât: 1/ 209)

Inilah yang dimaksudkannya dengan al-Mubâh bi al-Juz, al-Mathlùb al-Tark bi al-Kull (boleh sebagian, diminta untuk meninggalkan secara total). Maksudnya, dilarang melakukannya terus-menerus.

2# Seni Sebagai Industri dan Pekerjaan

Ada sisi lainnya yang perlu dilihat dan dikaji ketika membahas masalah seni dan menetapkan hukumnya, yaitu sebagian besarnya tumbuh dan berkembang sebagai pekerjaan dan industri jasa, yang dijadikan sebagai mata pencaharian oleh pelakunya. Seni itu bisa jadi adalah layanan yang diminta oleh para penggemarnya dan para penikmatnya, kemudian juga merupakan layanan dari orang yang menguasainya dan memproduksinya.

Seni Arsitektur masuk ke dalam bahasan ini, yang ditunjukkan oleh firman Allah SWT:
قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ ۖ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ ۗ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dikatakan kepadanya: "Masuklah ke dalam istana". Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: "Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca". Berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." (Surat al-Nam: 44)

Dan firman-Nya:
يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (Surat Saba': 13)

Intinya, semua seni, jikalau tidak menjadi pekerjaan atau sumber rezeki, dan pemasukan buat pelakunya, maka ia akan terlindas dan hilang.

Ibn Khaldùn berpandangan dalam kitabnya Târikh Ibn Khaldun (1/ 401), karya seni dan karya Tersier hanya akan tampak, banyak memintanya dan banyak yang ingin mempelajarinya, di tengah masyarakat yang berperadaban sejahtera dan berarsitektur kemajuan:
“Jikalau lautan infrastruktur sudah berkembang dan hal-hal tersier sudah dipinta, maka secara umum sudah baguslah dunia industry dan sudah baik. Ia sudah sempurna dengan semua hal-hal yang menyempurnakannya, kemudian industry-industri lainnya akan bertambah banyak bersamanya. Semua itulah yang akan menjadi pondasi kesejahteraan dan derivasinya, seperti tukang jagal, tukang semak, tukang kikir, dan sejenisnya.

Semua jenis ini akan berujung jikalau pembangunan menyebabkan munculnya banyak tersier dan benar-benar bergantung dengannya, menjadi mata pencaharian bagi pelakunya di perkotaan, bahkan keuntunganya menjadi keuntungan paling besar yang mengantarkan kepada kesejahteraan di perkotaan, seperti tukang minyak rambut, tukang kepang rambut, tukang kamar mandi, tukang lilin, pengajar nyanyi, pengajar menari, pengajar pemukul gendang, kemudian juga seperti para pembuat kertas yang mengeluhkan mencetak buku, menjilidnya, dan membenarkannya. Industriini menyebabkan kesejahteraan di Kota, yang menyebabkab terlalaikannya masalah-masalah pemikiran dan semisalnya.

Bisa jadi keluar dari pengertian di atas jikalau pembangunannya tidak seperti yang dijelaskan di atas. Sebagaimana kami sampaikan tentang penduduk perkotaan, bahwa ada di antara mereka yang mengajarkan burung, mengajarkan orang-orang non Arab dan Afrika, kemudian membayangkan banyak hal-hal aneh dengan mengilhamkan pikiran, mengajarkan pengukuran, menari, berjalan di atas benang di udara, kemudian mengajarkan hewan memikul beban, batu, dan berbagai industry lainnya, yang tidak didapatkan di Maghrib, sebab pembangunan di perkotaan tidak mencapai pembangunan Mesir dan Kairo. Semoga Allah SWT mengekalkan keduanya bagi kaum muslimin.”

Industri dan kerja seni seperti ini, tidak ada seorang pun yang menyatakan keharamannya. Hal yang sama dengan seni lainnya, ketika ia dijadikan sebagai pekerjaan dan profesi.

3# Seni Sebagai Hiasan dan Barang Perhiasaan

Hubungan antara seni dan keindahan, banyak sekali. Khususnya bagi  kalangan pecinta seni, dari kalangan para intelektual dan ahli fikih kontemporer. Mereka berpandangan bahwa seni itu pada dasarnya dan idealnya adalah ungkapan keindahan tentang fenomena keindahan di alam semesta dan kehidupan. Seni itu akan sukses dan menarik, sesuai dengan kadar keindahan dan keelokan yang ada padanya.

Seni yang hakiki adalah seni yang menampilkan keindahan, fokusnya, dan unsurnya, dalam bentuk-bentuk yang indah lagi elok. Dengan begitu, ia menunjukkan pendidikan keindahan, merasakan taste keindahan untuk berbagai jenis ilmu dan indera manusia, baik yang tergores maupun tidak tergores.

Al-Ustâdz Muhammad Quthb mengatakan dalam Kitabnya Manhaj al-Fan al-Islâmi (halaman 6), “Seni Islam adalah seni yang menggariskan gambaran alam dari sudut pandang Islam. Ia adalah ungkapan yang indah tentang alam, kehidupan dan manusia, melalui pandangan Islam terhadap alam, kehidupan, dan manusia. Ia adalah seni yang mempersiapkan pertemuan antara keindahan dan kebenaran. Maka, keindahan adalah hakikat alam semesta. Dan kebenaran adalah puncak keindahan. Di puncak, akan bertemu keduanya. Dan ketika itu juga bertemu semua hakikat wujud.”

Berdasarkan hal ini, seni merupakan salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, dan dibolehkan kepada para hamba-Nya.



4# Seni Sebagai Degradrasi dan Hedonisme

Jenis atau al-Takyíf inilah yang menjadi patokan orang-orang yang mengharamkan seni dengan segala jenisnya. Tentu saja, ia berbeda dengan deskripsi yang sudah kita paparkan sebelumnya. Ia hanya bersandarkan kepada realita yang disaksikan dan fakta yang belum diurai.

Nyanyian, Musik, Tarian, Patung, Drama, Sinema atau Film, dan lain sebagainya, dipenuhi dengan berbagai fenomena kekotoran, hedonism, mengikui nafsu syahwat, mengandung berbagai kemungkaran, terjerumus ke dalam berbagai hal hina lagi menghancurkan. Bahkan sebagian orang mendeskripsikan seni sebagai kegilaan. Berdasarkan realita ini, tidak ada hokum yang layak disematkan kecuali haram.

Syeikh Abu Zaid dalam Kitab al-Tamtsíl, halaman 45 menjelaskan, “Kemudian ketahuilah bahwa kaedah Syariah menjelaskan bahwa sesuatu jikalau asalnya Mubah, kemudian mengandung hal haram atau menyebabkan keharaman, maka ia menjadi haram. Begitu juga dengan film/ drama. Jikalau dikatakan bahwa hokum asalnya digolongkan ke dalam jenis al-Lahwi yang dibolehkan (al-Mubâh), kemudian dicampuri oleh sesuatu yang haram atau menyebabkan yang haram, maka ia menjadi haram; baik pelaksaannya, pendapatannya, dan menontonnya, berdasarkan kaedah di atas.”

Dalam kitab yang sama, di halaman 57, ia berkata lebih lanjut, “Nasehat dan keutamaan yang diklaim ada di dalamnya, tertutupi oleh tirai al-Lahwi yang membangunkan nafsu tertidur dan syahwat yang tenang, sebagaimana realita yang terjadi,  mengulang-ngulang perbuatan fahisy, kefasikan, dan kemaksiatan, menghancurkan rumah dari dalam. Semuanya merupakan hal yang berbahaya bagi akidah, akhlak, keutamaan, dan etika.”

DR. Ibrâhim Hilâl menulis sebuah artikel berjudul Ta’tsír al-Fann ‘ala a-Usrah, yang memaparkan sejumlah pengaruh negative seni kontemporer terhadap keluarga dan para anggotanya, seperti perceraian, degradasi moral, dan kerusakan keluarga, khususnya yang ditampilkan di stasiun-stasiun televise dan masuk ke setiap rumah.

Artikelnya ditutup dengan mengatakan, “Inilah seni. Dan itulah pengaruhnya terhadap dunia manusia dan kehidupan umat manusia. Dengan begitu, ia menjadi penghalang besar kemajuan kita dan peradaban kita. Jadi, kenapa harus ada lagi di dunia kita dan di lingkungan kita?

Semua Deskripsi seni di atas, bisa diterima dan bisa juga ditolak dalam satu waktu. Jikalau menyaksikan realita yang terjadi di sebagian besar kondisi, ia bisa diterima. Bahkan, mayoritasnya memang begitu. Lihat saja produksi dan aktifitas seni yang sudah disebutkan, kemudian lihat juga lingkungan yang menyelimutinya.

Akan tetapi, jikalau dilihat dari sisi percampurannya, globalnya, dan pelazimannya atas sesuatu yang tidak lazim, maka ia tertolak. Ini sama halnya dengan apa yang terjadi pada para pengkritik Ibn Hazm, yaitu ketika ia membolehkan nyanyian dan alat gendang. Mereka membawa masalahnya terhadap point-point yang tidak ada hubungannya, tidak ada kaitannya dengan pendapatnya.

Syeikh al-Zubair Dahhân mengatakan dalam Kitabnnya Tahqíq al-Arib bi Inshâf Ibn Hazm fí Mas-alah al-Ghinâ’ wa al-Mùsiqí wa Alât al-Tharb, “Pilihan Ibn Hazm ini, merupakan pilihan controversial, yang menyebabkannya diserang cacian dan celaan. Sebagian orang memandangnya sesat dan menyesatkan. Kadangkala, orang-orang yang berbeda dengannya, mengkritiknya dengan realita nyanyian, alat-alat gendang, dan video tak senonoh yang ada pada hari ini, seakan-akan orang yang membolehkan alat-alat gendang berarti membolehkan gambar-gambar tersebut, padahal sebenarnya orang yang berakal tidak akan meragui keharamannya. Jikalau Ibn Hazm ditanya, maka ia akan  menjawab dengan apa yang diriwayatkan dari seorang Salaf, ‘Tidak ada yang melakukannya kecuali orang-orang fasik di antara kami.’ Hanya saja, penyelewengannya dari makna sebenarnya, bukan berarti diharamkan hokum asalnya.”

Karena itulah, jikalau dikatakan, “seni nyanyian dan drama yang jelas deskripsinya dengan sifat-sifat yang sudah disebutkan, tidak boleh bagi siapapun menyibukkan diri dengannya, baik melaksanakannya, mendengarnya, maupun menyaksikannya”, maka ucapan tersebut adalah ucapan persial dan setengah-setengah. Sebab, sifat-sifat ini bukanlah sesuatu yang lazim, tidak juga global, tetapi semua itu hanyalah paparan/ eksternal, bukan dzatnya sendiri. Ia ada di sebagian seni, tapi tidak di sebagian seni lainnya. Di sebagian seni, ada perbuatan-perbuatan seperti itu, tapi tidak di sebagian seni lainnya. Bisa jadi di sebagian besar seni ada, tapi tidak semuanya.

Point paling pentingnya, seni yang mengandung hal-hal terlarang tersebut, bisa dilepaskan dan bisa diubah. Jikalau ada orang yang berseni dengan kekotoran dan ingin mengotorinya, ada sebagian lainnya yang justru ingin berseni dengan cara-cara yang agung dan bersih. Hanya saja, mereka kadangkala tidak mengusainya dengan baik.

Memisahkan antara seni apapun dengan hal-hal haram lagi kotor yang menempel padanya, hanya membutuhkan cita tinggi dan tujuan mulia. Sesuai dengan kadar azam, hasilnya akan tampak.

5# Seni Sebagai Sarana (al-Wasílah)

Ini jenis masalah seni lainnya, yang bisa dijadikan pondasi dalam Dialektika, yaitu fakta bahwa sebagian besar seni hanyala sarana yang mampu menarik hati khalayak dan bisa memberikan pengaruh kepada merek. Tujuannya tentu jelas, yaitu menasehati dan menyampaikan berbagai info. Dan itulah tujuan seni.

Wujud jenis ini tidak sedikit.  Dengan berbagai jenis seni dan kerjanya, ia seringkali ditampilkan kepada masyarakat, mulai dari Khat, lukisan, dan hiasan dinding, mulai dari seni sastra sampai ke produksi film, lagi religi dan nasional.

Secara umum, tujuan-tujuan yang ingin dicapai dengan kerja seni sebagai sarana, bisa jadi adalah perbaikan yang positif, dan  bisa jadi adalah pengrusakan yang menghancurkan. Bisa jadi perbaikan bagi sebagian orang, dan bisa jadi kehancuran bagi sebagian lainnya.

6# Seni Sebagai Kebutuhan Fitrah Manusia

Saya tidak mendapati, minimal saya tidak ingat buku yang pernah saya baca, yang mengkaji seni dari sudut ini atau melakukan Dialektika dengan jenis ini. Maksud jenis yang sedang dibahas ini, manusia dengan berbagai ras dan budaya, mereka berinteraksi dengan seni dan tertarik dengannya, serta sangat mencintainya sebagai bawaan yang sudah tertanam kuat di dalam dirinya.  Inilah yan menafsirkan eksistensi seni di semua suku di sepanjang masa, sebagaimana ia menafsirkan peralihan suatu seni dari satu suku ke suku lainnya, kemudian diterima dengan cepat di kalangan lainnya.

______________

Cerita Syeikh Ahmad al-Raysùni

_____________


Ketika masih muda, saya meyakini haramnya nyanyian dan derivasinya. Saya bersikap keras dalam masalah ini. Dalam suatu jamuan yang disajikan kepada para peserta dalam Muktamar Islam di Kota Tetoun di Moroko (tahun 1974), ketika berada di istana sang Tuan Rumah, muncullah suara “al-Jauq al-Andalusi” (music klasik Moroko). Saya benar-benar terkejut mendapatinya. Saya merasa asing dan tidak menyukainya. Saya tidak mampu bertahan bersama “kemungkaran” ini, kemudian saya masa bodoh saja dengan orang-orang yang ada di sekitarku, menundukkan kepala dan segera keluar tanpa melihat kepada seorang pun.

Ketika kembali  ke Aula Muktamar, temanku segera menghampiriku, yaitu al-Akh Hammâd al-Zammùry, yang kebetulan saya duduk di dekatnya, “Dimana engkau tiba-tiba bersembunyi? Apa yang terjadi?” Ketika saya menjelaskan sikapku, ia berkata kepadaku,”Kalau saya, sendi-sendi saya menikmatinya, dan saya senang bersama dendang Andalusia.” Kemudian saya segera menjawab, “Kalau Saya, sendi-sendi saya sudah berkarat dan kering, tidak lagi menerima kerusakan.”

Teman saya tersebut mengungkapkan fitrahnya dan perasaannya secara spontan, sedangkan saya mengungkapkan sikap fikih sesuai dengan apa yang saya baca dan saya ingat, sampai-sampai saya kenyang karenanya.

Ada kejadian lainnya, yang saya saksikan bertahun-tahun setelahnya. Momentnya jauh lebih kecil dari sebelumnya. Suatu hari, saya berkumpul bersama keluarga di rumah kami, di desa kami. Dalam perkumpulan itu, ada kedua orangtua saya, sejumlah saudara laki-laki dan perempuan, serta sejumlah kerabat. Kemudian salah seorang yang hadur menghidupkan radio yang dibawanya. Kemudian terdengarlah suara nyanyian lembut. Ketika saya merasakan ketidaknyamanan, berdirilah seorang anak kecil berjoget bersama dengan iringan lagu dan syairnya. Padahal usianya baru tiga tahun.

Saya lama memikirkannya dan berkali-kali merenungi kejadian terakhir ini. Saya mendapati bahwa anak kecil ini tidak ada yang menggerakkannya untuk berjoget kecuali fitrahnya dan tabiatnya. Ketika itu, saya mulai mengkaji lagi dan lagi, saya meluruskan pendapat saya selama ini tentang masalah nyanyian dan music, sampai saya yakin bahwa semuanya sudah berakar dalam fitrah kita, penciptaan kita, dan kecenderungan kita. Allah SWT mensyariatkannya dan membolehkannya degan kadarnya, dengan bentuknya, atau dengan berbagai bentuknya.

Keyakinan ini semakin kuat ketika saya membaca tulisan menarik yang ditulis oleh al-Imâm Abù Bakar bin al-Arabí dalam Kitabnya ‘Aridhâh al-Ahwâzi syarh Shahíh al-Turmudzí, “Hal halal adalah sesuatu yang diizinkan melakukannya. Hal haram adalah sesuatu yang dilarang melakukannya. Allah SWT dengan keindahan hikmahya ketika menciptakan semua yang ada di bumi bagi kita, Dia membaginya menjadi tiga kondisi:
Ada yang dibolehkannya secara mutlak.
Ada yang dibolehkannya dalam satu kondisi, tidak pada kondisi lainnya.
Ada yang bolehnnya dalam satu bentuk, tidak bentuk lainnya.

Sedangkan jikalau dikatakan bahwa ada di bumi ini yang dilarang, tidak pernah tersentuh hokum al-Ibâhah kapan pun, dalam bentuk apapun, maka saya tidak mengetahuinya sama sekali. Segala sesuatu tersentuh oleh hokum halal dan haram kecuali al-Tauhíd, yang tidak dimasuki perubahan, tidak turun dari derajat fardhu dan tangga wajib apapun kondisinya.”

Rasa suka terhadap seni, juga tidak keluar dari bahasan di atas. Allah SWT tidak akan menempatkannya dalam tabiat kita, kemudian Dia mengharamkannya secara mutlak. Tindakan paling layak syariat terhadap kecenderungan fitrah manusia adalah al-Tahdzíb (mendidik) dan al-Tawjíh (mengarahkan), al-Taqyíd (membatasi), dan al-Tarsyíd (menasehati). Tidak ada larangan mutlak atau pengharaman di seluruh bagian.

Imam al-Ghazâli sudah memaparkan masalah ini dalam sebuah pembahasan dengan judul al-Samâ’ wa al-Wajd, menyertakan berbagai hadist dan atsar, di antaranya hadits yang terdapat dalam al-Shahíhain, dari Aisyah radhiyallahu anha, “… Pada hari raya, dua orang berkulit hitam bermain dengan kayu dan tombak. Kayaknya beliau bertanya atau berkata, ‘Apakah engkau melihat?’ Saya menjawab, ‘ya.’ Kemudian beliau menempatkanku di belakangnya, pipiku di pipinya. Beliau berkata, ‘Di hadapanmu wahai Bani Arfidah.’ Sampai saya merasa bosan, beliau berkata, ‘Cukup?’ Saya menjwab, ‘ya.’ Beliau berkata, ‘Pergila.”

Di antara hokum dan adab yang di Istinbathkan al-Ghazâli, serta fikih yang ditegaskannya adalah berdirinya Nabi Muhammad Saw dalam jangka waktu yang lama menyaksikannya dan mendengarkannya, untuk menemasi Aisyah radhiyallahu anha. Dan ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik itu dengan menyenangkan hati istri dan anak-anak, dengan menyaksikan permainan. Dan itu jauh lebih baik dari sikap kering dan kasar.

Saya menukil hal ini untuk menguatkan bahwa keterikatan jiwa dengan sei, adalah kecendrungan fitrah seorang anak manusia dan kebutuhan alaminya, serta untuk menjelaskan bagaimana sikap Nabi Muhammad menghadapinya.


***


Oke. Itulah catatan mengenai Dialektika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni Menurut Islam, yang diterjemahkan dan disusun ulang dari Makalah yang ditulis oleh Syeikh Ahmad al-Raysuní dengan judul “al-Masalah al-Fanniyah fí al-Nazhr al-Maqâshidí min Khilâl Madkhal al-Takyíf wa al-Tawzhífí”, disampaikan dalam seminar bertajuk “al-Funùn fi Dhau Maqâshid al-Syarí’ah”, yang diadakan oleh Pusat Studi Maqâshid al-Syaríah London, di tanggal 4-5 November 2016, di Kota Istanbul.

Semoga catatan ini memberikan wajah baru bagi kita bagaimana memandang masalah seni dalam Islam. Harus dilihat dengan detail, dari berbagai sudut pandangan. Agar, hasil pandangan fikih yang disampaikan, tidak parsial. []

Catatan:
1-Silahkan Tinggalkan Komentar Anda, Tapi Sopan Beretika
2-Kalau Anda Menggunakan Handphone atau Tablet, Silahkan Klik "View Web Version" Untuk Melihat Tampilan Aslinya