Hukum dan Tatacara Khitan Menurut Islam

No Comments
Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H
***

“Bagaimana tata cara khitan menurut islam, Bagaimana tata cara khitan sesuai sunnah, Bagaimana hukum khitan dengan laser?”

***


Ketika kecil, hal yang paling menggalaukan ketika akan melakukan khitan atau sunat adalah sunnat itu kayak apa? Pakai apa? Ada teman-teman sudah sunat duluan, malah nakut-nakutin “Nanti, khitannya pakai kapak tumpul.” “Nanti, jarumnnya besar banget, lho.” Bikin galau semakin bertambah-tambah…

Patut di syukuri juga dahulu ketika saya dan generasi saya dikhitan, ada yang namanya obat bius. Paling tidak, ketika dipotong itu tidak terasa sakit. Saya tidak bayangkan bagaimana khitan orang zaman dahulu, “Pasti, sakit sekali.” Sebab, peralatan yang mereka pakai, serba jadul dan sangat jadul sekali.

Tata Cara Khitan Menurut Islam

Untuk masa penyembuhan, saya kayaknya butuh waktu sampai seminggu. Kalau sekarang, khitan itu sudah bertambah variatif. Ada juga dengan laser. Itu lebih cepat lagi. Penyembuhannya juga lebih cepat. Tapi harus dilakukan oleh professional. Jangan sampai salah. Masa depan taruhannya.

Oke… kita balik ke topic, yaitu bagaimana tata cara sunnah menurut Islam. Sebelum kita membahas lebih jauh, harus diingat dahulu dengan baik, bahasan kita ini bersifat idealis, bukan praktis. Kita akan melihat atsar dari Rasulullah Saw dan para sahabat. Kalau masalah praktisnya, itu pakar khitan atau sunnat atau dokter yang paham. Jangan sampai sekarang baca tulisan ini, Anda lansung saja khitan anak Anda sendirian. Bahaya nanti.


***

Tata Cara Khitan Menurut Islam


Al-Hafidz menukil dari al-Mawardi, “Khitan laki-laki adalah memotong kulit yang menutupi kepala zak*ar. Disunnahkan memotongnya dari pangkalnya, di bagian awal kepala zak*ar. Minimalnya, tidak ada sesuatu pun lagi yang menutupi kepada zak*ar.”
Imam al-Haramain mengatakan, “Benarnya untuk laki-laki adalah memotong kulit yang menutupi kepala zak*ar, sampai tidak ada lagi kulit yang menjulur.”

Ibn al-Shabbagh mengatakan, “Agar terbuka semua bagian kepada zak*ar.”

Ibn Kijj mengatakan, yang dinukil oleh al-Rafii, “Wajibnya adalah dengan memotong apa yang ada di atas kepada zak*ar, walaupun sedikit. Dengan syarat, potongannya mencakup keliling kepada zakar.”

Imam al-Syafii mengatakan, “Haknya untuk khitan perempuan adalah sesuai dengan namanya.”

Al-Mawardi mengatakan, “Khitan perempuan adalah memotong kulut yang ada di atas kema*lu*annya, di atas jalan masuk zak*ar, sepertu biji kurma, atau seperti jenggot ayam janta. Wajibnya, memotong kuit yang berada di atas, bukan pangkalnya. Diriwayatkan oleh Abu Daud, dari hadits Umm Athiyyah bahwa seorang perempuan berkhitan di Madinah, kemudian Nabi Muhammad Saw mengatakan kepadanya, “Jangan potong berlebihan, itu lebih bagus bagi perempuan.” Ia mengatakan, “Hadits ini tidak kuat.”

Dari paparan pendapat ulama di atas, bisa ditarik kesimpulan tentang tata cara khitan menurut Islam, yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw. Untuk yang lagi-lagi, di potong kulit yang menutupi kepala zak*arnya, dan untuk yang perempuan diambil kulit yang berada di atas kem*alu*annya, namun tidak semuanya. Hanya sedikit saja.

***

Dalil Masalah Ini


Sekarang, mari kita lihat dalil-dalil yang terkait dengan masalah ini. Tanpa dalil, kata orang, kering dan kerdil, tidak kuat dan tidak bisa dipercaya.

Diriwayatkan oleh Umm Athaiyyah al-Anshariyyah bahwa seorang perempan berkhitan di Madinah, kemudian Nabi Muhammad Saw bersabda kepadanya:
لا تنهكي؛ فإن ذلك أحظى للمرأة، وأحب إلى البعل
“Janganlah berlebihan. Sebab hal itu lebih bagus bagi wanita, dan lebih disukai oleh suami.”

Abu Daud mengatakan, “Diriwayatkan dari Ubaidillah bin Amru, dari Abdul Malik dengan maknanya dan pensanadannya.”

Ia kemudian melanjutkan, “Tidak kuat, diriwayatkan secara Mursal. Muhammad bin Hassan adalah Majhul, dan hadits ini lemah (dhaif).”

Dalam bahasa lainnya dikenal dengan nama “Mudtharib al-Isnad ala Dha’fihi. Namun, ada beberapa hadits lainnya yang serupa; hadits riwayat Anas, riwayat Ali, dan riwayat Ibn Umar.

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda kepada Umm Athiyyah, yang merupakan perempuan tukang khitan di Madinah, “Apabila engkau mengkhitan wanita biarkanlah sedikit, dan jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami.” (Hr al-Thabrani dengan pensandan yang dhaif)

Hadits dengan lafadz yang sama, juga ada dari periwayatan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, dengan pensanadan yang juga dhaif (lemah).

Diriwyatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwa ada sejumlah wanita Anshar yang mendatangi Nabi Muhammad Saw. Kemudian beliau bersabda:
يا نساء الأنصار، اختضبن غمسًا، واخفضن ولا تنهكن؛ فإنه أحظى عند أزواجكن، وإياكن وكفر المنعمين
“Wahai para wanita Anshar, berinailah dengan mencelupnya, berkhitanlah dan jangan berlebihan, sebab itu lebih bagus bagi suami-suami kalian. Dan jangan kalian kufur kepada suami kalian.” (Hr al-Bazzar dengan pensanadan yang dhaif)

Ibn al-Mudzir mengatakan, “Dalam masalah khitan, tidak ada khabar yang bisa dijadikan rujukan, dan tidak ada sanad yang bisa diikuti.” (Lihatlah Kitab Talkhis al-Habir: 4/ 83)

Dalam Kitab Aun al-Ma’bud dijelaskan, “Hadits tentang khitan para wanita diriwayatkan dengan bentuk yang banyak. Semuanya lemah (dhaif), ber’ilat, tidak sah dijadikan sebagai hujjah.” (Lihatlah Kitab Aun al-Mabud: 14/ 126)

Ibn Abd al-Barr mengatakan, “Ijma kaum muslimin menegaskan bahwa khitan itu untuk laki-laki.” (Lihatlah Kitab al-Tamhid: 21/ 59)

***

Hukum Khitan dengan Laser


Tidak ada aturan khusus menentukan khitan itu harus dengan alat tertentu; pisau, pakai, gunting, silet, dan sebagainya. Di zaman sekarang, sesuai dengan perkembangan teknologi, khitan bisa dilakukan dengan alat-alat canggih, yang bisa mempercepat proses khitan dan juga meminimalisir rasa sakitnya, serta mempercepat kesembuhannya.

Tidak masalah dengan laser. Asalkan, dilakukan oleh ahlinya. Dan pastinya, harus sudah mendapatkan rekomendasi dari dokter. Silahkan Anda bertanya dulu kepada dokter, apakah boleh berkhitan atau bersunat dengan laser atau tidak? Jikalau dokter bilang tidak masalah, berarti tidak masalah. Jikalau dibilang jangan, berarti jangan. Sebab masalah ini, ruangnya adalah ruang praktek, lapangan.

Kalau dalam Islam, teorinya sudah kita jelaskan di atas. Masalah eksekusinya, itu masalah pakar lainnya. Terimakasih []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment