Metode Dialog (Manhaj al-Hiwār) Dalam al-Qurān al-Karím (1)

No Comments
Perbedaan di antara manusia adalah sunnatullah, yasudah di-Qadha oleh Allah SWT semenjak zaman Azali. Semua itu sebagai ujian bagi anak manusia dan sebagai al-Taklíf bagi mereka yang ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi.

Allah SWT berfirman:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (Surat al-Maidah: 48)

#Metode Dialog (Manhaj al-Hiwār) Dalam al-Qurān al-Karím (1)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu." (Surat al-Nahl: 92)

Dan firman-Nya:
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan." (Surat al-Nahl: 93)

Perbedaan, aneka ragam, dan Plural di antara anak manusia adalah sebuah fakta. Agar mereka bisa berinteraksi dengan fakta ini, dibutuhkan dialog (al-Hiwār) untuk mengendalikan perbedaan dan mengarahkannya ke arah yang benar, mengarahkannya untuk saling kenal-mengenal, menjauhi semua tindakan kriminal berbahaya, yang pastinya akan berujung dengan pertikaian dan perpecahan.

Dialog (al-Hiwār) hanya akan mampu menyelesaikan masalah perbedaan jikalau ditentukan titik-titik persamaannya dan titik-titik perbedaannya terlebih dahulu. Iulah kemudian yang akan menjadi point diskusi dan perdebatan. Tentunya dilakukan dengan cara yang baik, demi mengetahui apa yang lebih baik bagi semua pihak.

Agar tujuan Dialog (al-Hiwār) bisa tercapai dengan baik, maka ia harus terikat dengan Metode yang menjamin tidak munculnya perbedaan baru setelahnya. Al-Qurān menunjukkan kepada kita bahwa perbedaan adalah nyata dan fakta. Ia juga menyeru kita untuk berinteraksi melalui Dialog (al-Hiwār).

Apakah Metode yang sudah digariskan oleh al-Qurān untuk hal ini? Mari kita melihatnya…

Islam menempatkan Dialog (al-Hiwār) sebagai pokok utama dalam mendakwahi umat manusia untuk beriman kepada Allah SWT dan menyembah-Nya, begitu juga dalam masalah-masalah yang diperdebatkan. Tidak ada pemikiran yang bisa dianggap suci, sebagaimana tidak ada yang bisa Dialog (al-Hiwār) juga tidak bisa dianggap suci. Mustahil menutup pintu pengetahuan. Allah SWT menjadikan ilmu sebagai hujjah bagi mereka, di hadapan jalan luas yang membentang di semua disisi kehidupan dan kemanusiaan.

Al-Qurān menegaskan asas ini dengan berbagai Metode. Al-Qurān menjelaskan Dialog (al-Hiwār) antara Allah SWT dengan makhluk-Nya melalui perantara para Rasul, antara diri-Nya dengan Malaikat, dan antara diri-Nya dengan Iblis. Padahal, sebenarnya Allah SWT memiliki kekuatan tidak terhingga, cukup bagi-Nya turunkan titah dan wajib ditaati.

Jikalau kita melihat dakwah para Rasul, semuanya tegak di atas Dialog (al-Hiwār) dengan kaum mereka. Dalam al-Qurān, kita banyak mendapati hal ini. Walaupun faktanya, banyak di antara mereka yang menolak melakukan Dialog (al-Hiwār).

Dalam al-Qurān dijelaskan:
وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ
Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)." (Surat Fussilat: 5)

Dalam ayat lainnya:
وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ
Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa." (Surat al-Jatsiyah: 7)

يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri khabar gembiralah dia dengan azab yang pedih." (Surat al-Jatsiyah: 8)

وَإِذَا عَلِمَ مِنْ آيَاتِنَا شَيْئًا اتَّخَذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan." (Surat al-Jatsiyah: 9)

Dalam ayat lainnya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan." (Surat Luqman: 6)

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّىٰ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih." (Surat Luqman: 7)

Al-Qurān bukan sekadar memaparkan dialognya saja, namun sangat memperhatikan al-Manhāj (Metode) yang digunakan, Uslùb yang dipakai, dan contohnya, agar orang yang mengkaji al-Qurān mendapatkan Teori Paripurna tentang Dialog (al-Hiwār) dalam al-Qurān.

Manhāj Dialog (al-Hiwār) dalam al-Qurān al-Karím


Pembahasan seputar Dialog (al-Hiwār) dalam al-Qurān al-Karím, dimulai dari point harus adanya kesiapan mental di kedua belah pihak, memiliki kemampuan untuk melakukan Dialog (al-Hiwār), kemudian ditetapkan aturan-aturan yang akan dijalani, kedua belak pihak harus siapa menerima jikalau nantinya sejumah fakta diungkap. 

Jikalau Dialog (al-Hiwār) terjadi, maka kemungkinan akan berujung ke satu konklusi, dan itu artinya dialognya sukses. Dan bisa jadi kedua belah pihak tidak puas atau masih tetap bersikeras dengan pandanganya. Dalam kondisi seperti ini, pihak yang masih keras kepala harus mau menjalani kebenaran atau mengakuinya; menerima Dialog (al-Hiwār) yang sudah dilakukan.

Jikalau Dialog (al-Hiwār) sudah selesai, maka seorang Muslim harus bertanggungjawab dengan pandangannya. Inilah point-point yang dijelaskan dalam al-Qurān al-Karím terkait dengan Metode Dialog:

1# Memiliki Kebebasan Berpikir

Untuk memulai Dialog (al-Hiwār), pihak-pihak yang terlibat harus memiliki kebebasan berpikir terlebih dahulu, sikap percaya diri terhadap independensi pemikiran, sehingga ia tidak merasa kerdil di hadapan pihak lainnya. Mungkin karena merasa teman dialognya lebih kuat dan lebih hebat dari dirinya. Akibatnya, rasa percaya dirinya akan mengkerucut, kemudian hal yang sama juga akan dialami oleh pemikirannya dan rasa penerimaannya terhadap pihak lainnya. Ia akan bersikap rigid (kaku) dan berubah menjadi gema pemikiran dari pihak lainnya.

Karena itulah, Rasulullah Saw memerintahkan untuk memastikan hal tersebut dan memastikannya harus ada di dalam diri orang-orang yang berdialog.

Dalam al-Qurān al-Karím dijelaskan:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (Surat al-Kahfi: 110)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Surat al-A'raf: 188)

2# Mendialogkan Manhāj al-Tafkír (Metode Berpikir)

Jikalau pihak-pihak yang terlihat dalam dialog sudah memiliki kebebasan berpikir, maka hal pertama yang harus didiskusikan adalah masalah Manhāj al-Tafkír (Metode Berpikir), sebelum berdialog lebih lanjut mengenai tabiat berpikir dan segala tetek bengeknya. Hal ini bertujuan agar semua yang terlibat, bisa memhami fakta yang mungkin diabaikan. Objektifitas.

Semua ada ruangnya. Semua ada dasarnya. Inilah yang menjadi akarnya dan pondasinya. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qurān al-Karím:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?"(Surat al-Baqarah: 170)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ
Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka." (Surat al-Zukhruf: 23)

قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَىٰ مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ ۖ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ
(Rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya." (Surat al-Zukhruf: 24)

3# Menjauhi Hawa Emosi

Di antara tanda berhasilnya sebuah dialog, ia terjadi dalam suasana yang tenang, jauh dari emosi, membuat seseorang mau merenung dan berpikir. Bisa jadi ia tunduk terhadap tekanan-tekanan social yang mengitarinya dan memilih menyerah saja. Jikalau sudah emosi, maka tidak ada lagi yang nama independensi.

Dalam al-Qurân al-Karím dijelaskan:
قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ ۖ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَىٰ وَفُرَادَىٰ ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا ۚ مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ
Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras." (Surat Saba': 46)

Al-Qurân berpandangan bahwa tuduhan terhadap Nabi Muhammad Saw sebagai orang gila, hanyalah berdasarkan emosi dan permusuhan atas rivalnya. Karena itulah, beliau menyeru mereka untuk melepaskan diri dari kondisi ini, berpikir dengan inpenden dan tenang.

4# Siap Menerima Jikala Rivalnya Benar

Untuk memulai Dialog (al-Hiwār), harus ada dulu pengakuan bahwa bisa jadi rival dialog berada di atas kebenaran. Setelah dialog panjang tentang dalil keesaan Allah SWT, maka muncullah ayat ini dalam surat al-Saba’:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَىٰ هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Katakanlah: "Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?" Katakanlah: "Allah", dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata." (Surat Saba': 24)

Kedua belah pihak yang terlibat dalam dialog, sama kedudukannya di hadapan Hidayah dan Kesesatan. Kemudian lansung ditambahkan sikap mengalah, dengan tujuan agar rival mau menerima:
قُلْ لَا تُسْأَلُونَ عَمَّا أَجْرَمْنَا وَلَا نُسْأَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Katakanlah: "Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat." (Surat Saba': 25)

Kemudian menjadikan pilihannya sama dengan criminal, walaupun benar. Pilihan rival tidak disebut sekadar amal, agar di akhir bisa ditetapkan bahwa hakikatnya hokum milik Allah SWT:
قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ
Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui." (Surat Saba': 26)

5# Berjanji dan Konsisten akan Mengikuti Kebenaran

Salah satu hal yang harus diakui dalam sebuah dialog atau perdebatan adalah kemungkinan benarnya apa yang disampaikan oleh pihak rival. Bahkan, harus ada perjanjian, hitam di atas putih, bahwa pihak yang kalah akan mengikuti kebenaran jikalau terbukti. Walaupun ia sebuah kebatilan atau mitos, namun jikalau tampak nyata atau tampak benar dalam dialog, maka harus diikuti. Makanya, orang yang dialog, haruslah benar-benar paham dan berilmu, tidak asal. Taruhannya besar.

Inilah yang disinggung dalam al-Qurân:
قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ
Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)." (Surat al-Zukhruf: 81)

***


>>> Baca Bagian Selanjutnya: Metode Dialog (Manhaj al-Hiwār) Dalam al-Qurān al-Karím (2)
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment