Dialektika Fikih (Al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni (1)

No Comments
Entah bahasa apa yang cocok untuk mengartikan al-Takyíf ini dalam bahasa Indonesia. Ada yang mengartikannya dengan “Adaptasi”. Ada juga yang mengartikannya dengan “Dialektika”. Ada juga yang saya dapati mengartikannya dengan “Rekayasa”.  Untuk yang terakhir, maknanya terlalu peyoratif. Saya kurang setuju. Sebab, makna al-Takyíf al-Fiqhí  itu positif.

Entah mana yang cocok. Tapi nanti kita bisa menentukan arti cocoknya atau mendekati makna aslinya setelah membaca Artikel ini.

Al-Takyíf merupakan istilah undang-undang di kawasan Arav, kemudian dipinjam dan digunakan dalam kajian fikih. Inilah awal mula digunakannya istilah al-Takyíf al-Fiqhí di kalangan ulama kontemporer, sepadan dengan makna yang digunakan ketika menyebut al-Takyíf al-Qanùni (al-Takyíf atas Undang-Undang).

#Dialektika Fikih (Al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni (1)

Maksud al-Takyíf al-Fiqhí atau al-Takyíf al-Qanùni adalah menentukan pengertian al-Tasharruf (tindakan) atau masalah atau kejadian, dilihat dengan pandangan fikih atau undang-undang atau peradilan, kemudian membaginya dan menempatkannya di bab yang sesuai, agar bisa diolah dan ditetapkan hukumnya sesuai dialektikanya dan susunannya.

Misalnya, apakah tindakan ini masuk dalam bab Ibadah atau Muamalah atau Adat Kebiasaan?  Apakah wajib atau Haram, dianggap salah satu hak Allah SWT atau hak para hamba? Apakah criminal yang masuk ke dalam bab al-Hudùd atau bab al-Qishâs atau bab al-Ta’zír? Apakah pembunuh tersebut jenisnya al-‘Amd atau Khata’ atau Syibh ‘Amd? Apakah menguasai harta orang lain dengan deskripsi seperti ini, kemudian dianggap pencurian, atau diangggap pengkhiatan terhadap amanah atau Perampokan?

Jawaban terpilih dari setiap pertanyaan dan pemisalan ini, dianggap sebagai Dialektika dan Pembagian awal masalan, kemudian akan menjadi pondasi hokum-hukum fikih atau undang-undang atau peradilan.

Al-Takyíf al-Fiqhí sama kedudukannya dengan Dokter yang memeriksa dan melakukan diagnosis awal kondisi pasiennya, sebelum mengobati atau melakukan diagnose lebih lanjut. 

Dari sisi ilmiah, al-Takyíf al-Fiqhí masuk dalam ruang yang dikenal ulama dengan nama Tahrír Mahall al-Nizâ’. Sebagaimana diketahui, jikalau tidak ada Tahrír Mahall al-Nizâ’, maka akan terjadi berbagai diskursus dan perdebatan. Padahal, perbedaan bisa dilebur atau dipersempit dengan Tahrír Mahall al-Nizâ’, yaitu dengan Dialektika yang benar atas masalah.

Ia juga bisa dinamakan dengan al-Munâthaqah bi al-Tashawwur (berbicara dengan deskripsi), didahulu oleh al-Tashdiq (pembenaran), sesuai dengan kaedah al-Hukm ‘ala Syai-in Far’un ‘an Tashawwurihi (hokum atas sesuatu, cabang dari deskripsinya). Hanya saja, al-Takyíf lebih khusus dari al-Tashawwur.

Dialektika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni


Perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang masalah seni, kedudukannya, dan hokum-hukumnya dalam Islam, khususnya jenis seni yang lebih dikenal dan lebih menyebar luas di tengah masyarakat, seperti nyanyian, music, dan patung, sebagian pangkal masalahnya adalah shahih atau tidaknya dalil-dalil seputar masalah tersebut dari sisi riwayatnya. Kemudian pangkal masalah lainnya adalah penggunaan dalil-dalil yang bisa dijadikan sandaran dalam masalah terkait dari sisi al-Dilâlah dan al-Muqtadhâ.

Padahal, ada sebab lainnya yang memyebabkan perbedaan ini, namun jarang diperhatikan dan dikaji, yaitu dialektika masalah dan penyusunannya.

Ketika kita membaca berbagai kitab dan fatwa terkait seni, baik lama maupun baru, maka kita biasanya akan mendapati masalah ini tidak begitu diperhatikan, atau disebutkan sebagiannya saja (al-Juz-i), atau kita mendapatinya ada al-Takyíf namun tidak jelas dan samar.

Masalah al-Takyíf Seni memiliki efek besar dalam pengkajiannya dan penting untuk didudukkan hukumnya. Atas dasar itulah perlu dijelaskan dan diperinci unsur-unsur penting yang terkandung di dalamnya dan pandangan-pandangan yang membentuknya, kemudian juga perlu ditunjukkan adanya titik temu di antara semua jenisnya.

1# Seni Sebagai al-Lahw (Permainan, Senda Gurau)

Jenis ini dikenal luas di kalangan ulama, khususnya nyanyian, dendang, dan tarian. Inilah yang dijelaskan oleh banyak sekali hadits Nabi Muhammad Saw, baik dalam bentuk al-Ibâhah (boleh) maupun dalam bentuk al-Taqyíd (dibatasi) dan al-Tawjíh (diarahkan).

Dalam Shahíh al-Bukhâri, ada Bâb al-Lahwi bi al-Hirâb wa Nahwiha. Dalam Sunan al-Turmudzí, ada Bâb al-Lahwi wa al-Ghinâi ‘inda al-‘Ars. Dan Bab sejenisnya, banyak didapati dalam Kitab-Kitab Sunnah. Dan maksud al-Lahwi disini adalah hiburan ketika pesta.

Tidak ada seorang pun yang berpandangan bahwa semua seni adalah al-Lahwi, atau berpandangan bahwa semua al-Lahwi adalah seni. Artiya, sebagian seni itu ada yang masuk dalam kategori al-Lahwi, dan sebagian lainnya kenikmatan (Imtâ’ al-Nafs).

Dengan al-Takyíf, masalah hokum boleh atau haramnya seni, membutuhkan diskusi lebih lanjut. Khususnya, mengenai hokum al-Lahwi secara umum; apakah ia al-Ibâh (boleh) kecuali yang dinafikan dalil, atau al-Hazhr (haram) kecuali yang dinafikan dalil?

Jikalau melihat banyaknya jenis al-Lahwi dan hiburan, kemudian banyak didapati di masa sekarang ini, di seluruh lapisan masyarakat, bahkan sudah ada semenjak zaman Nabi, maka tidak mungkin dan tidak layak berpendapat kecuali memastikan bahwa al-Lahwi itu boleh. Itu hokum asalnya dan berdasarkan nash-nash yang ada.

Artinya, yang perlu dikaji lebih lanjut adalah kondisi ketika al-Lahwi ini melampui batas, ketika ia memberikan pengaruh buruk atau tidak baik terhadap kewajiban.

Jikalau al-Lahwi itu mengandung atau melazimkan perbuatan-perbuatan yang haram, maka tidak diragui hukumnya haram. Tapi, jikalau dikatakan bahwa ia diharamkan sebagai hokum asalnya karena bercampur hal-hal yang diharamkan di beberapa kondisinya atau di sebagian besar kondisinya, maka ini tidak benar dan tidak layak. Kaedah Fikih yang menjadi pegangan Jumhur ulama menegaskan al-Harâm lâ Yuharrim al-Halâl, yang haram tidak mengharamkan yang halal. Atau lafadz lainnya: al-Hâlal lâ Yahrum bi Mulâqat al-Harâm, yang halal tidak akan haram dengan masuknya yang haram.

Jadi, al-Takyíf Seni sebagai al-Lahwi, hokum asalnya adalah al-Ibâhah (boleh), sama dengan ucapan, perbuatan, dan hiburan lainnya. Kemudian, jikalau keluar dari makna atau pengertian ini, maka dilihat dengan dalil. Jikalau sekadar al-Lahwi atau permainan atau mendengarkan keduanya, maka hukumnya al-Ibâhah.

Hal yang mempengaruhi hokum adalah berlebih-lebihannya dalam al-Lahwi ini dan terus menerus melakukannya, sampai lalai menjalankan hak dan kewajiban, atau kecanduan, atau menghabiskan waktu dan usia dengan kesia-siaan. Dalam kondisi seperti ini, maka hokum al-Lahwi beralih dari al-Ibâhah (boleh) ke al-Karâhah (Makruh), atau ke al-Tahrím (haram), sesuai tingkat berlebih-lebihannya dan efeknya.

Imam al-Ghazali mengatakan dalam Kitab Ihyâ Ulùm al-Dín (2/ 282):
“Tidak semua kebaikan, akan menjadi kebaikan jikalau sering dilakukan. Dan tidak setiap Mubah, akan Mubah jikalau sering dilakukan. Roti itu Mubah, namun jikalau mengkomsumsinya berlebihan, hukumnya menjadi haram.”

Inilah yang dinamakan oleh al-Syâthibí dengan al-Mubâh bi al-Juz, al-Mathlùb al-Tark bi al-Kull (boleh sebagian, diminta untuk meninggalkan secara total). Ia memisalkannya dengan berjalan-jalan di taman, mendengarkan kicauan burung, nyanyian yang Mubah, permainan yang Mubah dengan Merpati. Semua ini hukumnya al-Mubâh bi al-Juz. Jikalau suatu hari dilakukan, atau dalam kondisi tertentu, maka hukumnya tidak masalah. Jikalau terus-menerus dilakukan,  maka hukumnya Makruh,  pelakunya disebut kurang akal, bertentangan dengan tradisi baik, dan berlebihan melakukan kemubahan.” (Lihat Kitab al-Muwâfaqât: 1/ 209)

Inilah yang dimaksudkannya dengan al-Mubâh bi al-Juz, al-Mathlùb al-Tark bi al-Kull (boleh sebagian, diminta untuk meninggalkan secara total). Maksudnya, dilarang melakukannya terus-menerus.

2# Seni Sebagai Industri dan Pekerjaan

Ada sisi lainnya yang perlu dilihat dan dikaji ketika membahas masalah seni dan hukumnya, yaitu tumbuh kembangnya yang begitu pesat sebagai pekerjaan dan industri jasa, yang menjadi mata pencaharian sebagian orang atau Pelaku Seni. Seni bisa jadi adalah layanan yang diminta oleh para penggemarnya dan para penikmatnya. Bisa jugga layanan dari orang yang menjadi menguasainya dan memproduksinya.

Seni Arsitektur masuk ke dalam bahasan ini, yang ditunjukkan oleh firman Allah SWT:
قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ ۖ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ ۗ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dikatakan kepadanya: "Masuklah ke dalam istana". Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: "Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca". Berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." (Surat al-Nam: 44)

Dan firman-Nya:
يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (Surat Saba': 13)

Intinya, semua seni, jikalau tidak menjadi pekerjaan atau sumber rezeki, atau pemasukan buat pelakunya, maka ia akan terlindas dan hilang.

Ibn Khaldùn berpandangan dalam kitabnya Târikh Ibn Khaldun (1/ 401), karya seni dan karya Tersier hanya akan muncul ke permukaan, jikalau banyak yang memintanya dan banyak yang ingin mempelajarinya di tengah masyarakat yang berperadaban sejahtera dan berarsitektur kemajuan:
“Jikalau lautan infrastruktur sudah berkembang dan hal-hal tersier sudah dipinta, maka secara umum baguslah dunia industrinya dan jauh lebih baik. Ia sempurna dengan semua hal yang menyempurnakannya. Kemudian, industry-industri lainnya akan bertambah banyak. Semua itulah yang akan menjadi pondasi kesejahteraan dan derivasinya, seperti tukang jagal, tukang semak, tukang kikir, dan sejenisnya.

Semua jenis ini akan berhasil jikalau pembangunan melahirkan banyak tersier dan bergantung dengannya, menjadikannya sebagai mata pencaharian bagi pelakunya di perkotaan, bahkan keuntunganya menjadi keuntungan paling besar untuk mendapatkan kesejahteraan hidup di perkotaan, seperti tukang minyak rambut, tukang kepang rambut, tukang kamar mandi, tukang lilin, pengajar nyanyi, pengajar menari, pengajar pemukul gendang, kemudian juga seperti para pembuat kertas yang mengeluhkankan mencetak buku, menjilidnya, dan membenarkannya. Industriini menyebabkan kesejahteraan di Kota, menyebabkab terlalaikannya masalah-masalah pemikiran dan semisalnya.

Keluar dari pengertian di atas jikalau pembangunannya tidak seperti yang dijelaskan. Sebagaimana kami sampaikan tentang penduduk perkotaan, ada di antara mereka yang mengajar burung, mengajar orang-orang non Arab dan Afrika, kemudian mengimajinasikan banyak hal-hal aneh dengan ilham pikiran, mengajarkan ilmu ukur, menari, berjalan di atas benang di udara, kemudian mengajarkan hewan memikul beban, batu, dan berbagai industry lainnya, yang tidak didapatkan di Maghrib, sebab pembangunan di perkotaan tidak seperti pembangunan Mesir dan Kairo. Semoga Allah SWT mengekalkan keduanya bagi kaum muslimin.”

Industri dan kerja seni seperti ini, tidak ada seorang pun yang menyatakan keharamannya. Sama dengan seni lainnya, ketika ia dijadikan sebagai pekerjaan dan profesi.

3# Seni Sebagai Hiasan dan Barang Perhiasaan

Hubungan antara seni dan keindahan, banyak sekali. Khususnya bagi  kalangan pecinta seni, dari kalangan para intelektual dan ahli fikih kontemporer. Mereka berpandangan bahwa seni pada dasarnya dan idealnya adalah ungkapan keindahan tentang fenomena keindahan alam semesta dan kehidupan. Seni akan sukses dan menarik, sesuai dengan kadar keindahan dan keelokan yang ada padanya.

Seni yang hakiki adalah seni yang menampilkan keindahan, fokusnya, dan unsurnya, dalam bentuk-bentuk yang indah lagi elok. Dengan begitu, ia menunjukkan pendidikan keindahan, merasakan taste keindahan berbagai jenis ilmu dan indera manusia, baik yang tergores maupun tidak tergores.

Al-Ustâdz Muhammad Quthb mengatakan dalam Kitabnya Manhaj al-Fan al-Islâmi (halaman 6), “Seni Islam adalah seni yang menggariskan gambaran alam dari sudut pandangan Islam. Ini adalah ungkapan yang indah tentang alam, kehidupan dan manusia, melalui pandangan Islam terhadap alam, kehidupan, dan manusia. Ini adalah seni yang mempersiapkan pertemuan antara keindahan dan kebenaran. Maka, keindahan adalah hakikat alam semesta ini. Dan kebenaran adalah puncak keindahan. Di puncak, akan bertemu keduanya, yang ketika itu juga bertemu semua hakikat wujud.”

Berdasarkan hal ini, seni merupakan salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, dan dibolehkan kepada para hamba-Nya.

***

Catatan kita ini belum selesai, ya. Ini baru bagian pertama. Baca juga bagian selanjutnya di: Dialektika Fikih (Al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni (2)

Oke. Jangan kemana-mana, ya! []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment