Dialektika Fikih (Al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni (2)

No Comments
Agar Anda nyambung dengan tulisan ini, Anda terlebih dahulu harus membaca tulisan saya sebelumnya. Jikalau belum baca, silahkan dibaca dulu, agar bisa mendapatkan deskripsi yang paripurna. Silahkan disini: Dialektika Fikih (Al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni (2)
***

4# Seni Sebagai Degradrasi dan Hedonisme

Jenis inilah yang menjadi patokan orang-orang mengharamkan seni dengan segala jenisnya. Tentu saja, ia berbeda dengan deskripsi yang sudah kita paparkan sebelumnya. Ia hanya bersandarkan kepada realita yang disaksikan dan fakta yang belum diurai.

Nyanyian, Musik, Tarian, Patung, Drama, Sinema atau Film, dan lain sebagainya, dipenuhi dengan berbagai fenomena kekotoran, hedonisme, mengikui nafsu syahwat, mengandung berbagai kemungkaran, terjerumus ke dalam berbagai hal hina menghancurkan. Bahkan, sebagian orang mendeskripsikan seni sebagai kegilaan. Berdasarkan realita ini, tidak ada hokum yang layak disematkan kecuali haram.

#Dialektika Fikih (Al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni (2)

Syeikh Abu Zaid dalam Kitab al-Tamtsíl, halaman 45 menjelaskan, “Ketahuilah, kaedah Syariah menjelaskan bahwa sesuatu jikalau asalnya Mubah, kemudian mengandung hal haram atau menyebabkan keharaman, maka ia menjadi haram. Begitu juga dengan film/ drama. Jikalau dikatakan bahwa hokum asalnya masuk ke dalam jenis al-Lahwi yang dibolehkan (al-Mubâh), kemudian dicampuri oleh sesuatu yang haram atau menyebabkan haram, maka ia menjadi haram; baik pelaksaannya, pendapatannya, dan menontonnya, berdasarkan kaedah di atas.”

Dalam kitab yang sama, di halaman 57, ia berkata lebih lanjut, “Nasehat dan keutamaan yang diklaim ada di dalamnya, tertutupi oleh tirai al-Lahwi yang membangunkan nafsu tertidur dan syahwat yang tenang, sebagaimana realita yang terjadi,  mengulang-ngulang perbuatan fahisy, kefasikan, dan kemaksiatan, menghancurkan rumah dari dalam. Semuanya merupakan hal yang berbahaya bagi akidah, akhlak, keutamaan, dan etika.”

DR. Ibrâhim Hilâl menulis sebuah artikel berjudul Ta’tsír al-Fann ‘ala a-Usrah, memaparkan sejumlah pengaruh negative seni kontemporer terhadap keluarga dan para anggotanya, seperti perceraian, degradasi moral, dan kerusakan keluarga, khususnya yang ditampilkan di stasiun-stasiun televisi dan masuk ke setiap rumah.

Artikelnya ditutup dengan mengatakan, “Inilah seni. Dan itulah pengaruhnya terhadap dunia manusia dan kehidupan mereka. Dengan begitu, ia menjadi penghalang besar kemajuan kita dan peradaban kita. Jadi, kenapa harus ada lagi di dunia kita dan di lingkungan kita?

Semua Deskripsi di atas, bisa diterima dan bisa juga ditolak dalam satu waktu. Jikalau menyaksikan realita yang terjadi, ia bisa diterima. Bahkan, mayoritasnya memang begitu. Lihat saja produksi dan aktifitas seni yang sudah disebutkan, kemudian lihat juga lingkungan yang menyelimutinya.

Akan tetapi, jikalau dilihat dari sisi percampurannya, globalnya, dan pelazimannya atas sesuatu yang tidak lazim, maka ia tertolak. Ini sama halnya dengan apa yang terjadi pada para pengkritik Ibn Hazm. Ketika ia membolehkan nyanyian dan alat gendang, mereka memahami masalahnya dengan point-point yang tidak ada hubungannya, tidak ada kaitannya sama sekali dengan pendapatnya.

Syeikh al-Zubair Dahhân mengatakan dalam Kitabnnya Tahqíq al-Arib bi Inshâf Ibn Hazm fí Mas-alah al-Ghinâ’ wa al-Mùsiqí wa Alât al-Tharb, “Pilihan Ibn Hazm ini, merupakan pilihan controversial, menyebabkannya dicaci dan dicela. Sebagian orang memandangnya sesat dan menyesatkan. Kadangkala, orang-orang yang berbeda dengannya, mengkritiknya dengan realita nyanyian, alat-alat gendang, dan video tak senonoh yang ada pada hari ini, seakan-akan orang yang membolehkan alat-alat gendang berarti membolehkan gambar-gambar tersebut, padahal sebenarnya orang yang berakal tidak akan meragui keharamannya. Jikalau Ibn Hazm ditanya, maka ia akan  menjawab dengan apa yang diriwayatkan dari seorang Salaf, ‘Tidak ada yang melakukannya kecuali orang-orang fasik di antara kami.’ Hanya saja, penyelewengannya dari makna sebenarnya, bukan berarti diharamkan hokum asalnya.”

Karena itulah, jikalau dikatakan, “Seni nyanyian dan drama yang jelas deskripsinya dengan sifat-sifat yang sudah disebutkan, tidak boleh bagi siapapun menyibukkan diri dengannya, baik melaksanakannya, mendengarnya, maupun menyaksikannya”, maka ucapan tersebut adalah ucapan persial dan setengah-setengah. Sebab, sifat-sifat ini bukanlah sesuatu yang lazim, tidak juga global, tetapi semua itu hanyalah paparan/ eksternal, bukan dzatnya sendiri. Ia ada di sebagian seni, tapi tidak di sebagian seni lainnya. Di sebagian seni, ada perbuatan-perbuatan seperti itu, tapi tidak di sebagian seni lainnya. Bisa jadi di sebagian besar seni ada, tapi tidak semuanya.

Point paling pentingnya, seni yang mengandung hal-hal terlarang tersebut, bisa dilepaskan dan bisa diubah. Jikalau ada orang yang berseni dengan kekotoran dan ingin mengotorinya, ada sebagian lainnya yang justru ingin berseni dengan cara-cara yang agung dan bersih. Hanya saja, mereka kadangkala tidak mengusainya dengan baik.

Memisahkan antara seni apapun dengan hal-hal haram lagi kotor yang menempel padanya, hanya membutuhkan cita tinggi dan tujuan mulia. Sesuai dengan kadar azam, hasilnya akan tampak.

5# Seni Sebagai Sarana (al-Wasílah)

Inilah masalah seni lainnya. Bisa dijadikan pondasi dalam Dialektika. Ada fakta begini, sebagian besar seni hanyalah sarana yang mampu menarik hati khalayak ramai dan mempengaruhi mereka. Tujuannya jelas, yaitu menasehati dan menyampaikan berbagai informasi. Dan memang itulah tujuan seni.

Jenis ini tidak sedikit.  Dengan berbagai jenis seni dan kerjanya, ia seringkali ditampilkan kepada masyarakat, mulai dari Khat, lukisan, dan hiasan dinding, mulai dari seni sastra sampai ke produksi film, lagi religi dan nasional.

Secara umum, tujuan-tujuan yang ingin dicapai dengan kerja seni sebagai sarana, bisa jadi adalah perbaikan yang positif, dan  bisa jadi adalah pengrusakan yang menghancurkan. Bisa jadi perbaikan bagi sebagian orang, dan bisa jadi kehancuran bagi sebagian lainnya.

6# Seni Sebagai Kebutuhan Fitrah Manusia

Saya tidak mendapati, minimal saya tidak ingat buku yang pernah saya baca, mengkaji seni dari sudut ini atau melakukan Dialektika dengan jenis ini. Maksud jenis yang sedang dibahas ini, manusia dengan berbagai ras dan budaya, mereka berinteraksi dengan seni dan tertarik dengannya, serta sangat mencintainya sebagai bawaan yang sudah tertanam kuat di dalam dirinya.  Inilah yang menafsirkan eksistensi seni di semua suku di sepanjang masa, sebagaimana ia menafsirkan peralihan suatu seni dari satu suku ke suku lainnya, kemudian diterima dengan cepat di kalangan lainnya.

Ketika masih muda, saya meyakini haramnya nyanyian dengan segala bentuknya. Saya bersikap keras dalam masalah ini. Dalam suatu jamuan yang disajikan kepada para peserta Muktamar Islam di Kota Tetoun di Moroko pada tahun 1974, acaranya diadakan di istana sang Tuan Rumah, kemudian terdengarlah suara “al-Jauq al-Andalusi” (music klasik Moroko). Saya benar-benar terkejut mendengarnya. Saya merasa asing dan tidak menyukainya. Saya tidak mampu bertahan bersama “kemungkaran” ini, kemudian saya masa bodoh saja dengan orang-orang yang ada di sekitar saya, menundukkan kepala dan segera keluar tanpa melihat kepada seorang pun. 

Ketika kembali  ke Aula Muktamar, teman saya segera menghampiri, yaitu al-Akh Hammâd al-Zammùry. Kebetulan saya duduk di dekatnya, “Dimana engkau tiba-tiba bersembunyi? Apa yang terjadi?” Ketika saya menjelaskan sikap saya, ia berkata kepadaku,”Kalau saya, sendi-sendi saya menikmatinya, dan saya senang bersama dendang Andalusia.” Kemudian saya segera menjawab, “Kalau Saya, sendi-sendi saya sudah berkarat dan kering, tidak lagi menerima kerusakan.” Teman saya tersebut mengungkapkan fitrahnya dan perasaannya secara spontan, sedangkan saya mengungkapkan sikap fikih sesuai dengan apa yang saya baca dan saya ingat, sampai-sampai saya kenyang karenanya.

Ada kejadian lainnya. Saya saksikan bertahun-tahun setelahnya. Momentnya jauh lebih kecil dari sebelumnya. Suatu hari, saya berkumpul bersama keluarga di rumah kami, di desa kami. Dalam perkumpulan itu, ada kedua orangtua saya, sejumlah saudara laki-laki dan perempuan, serta sejumlah kerabat. Kemudian salah seorang yang hadir menghidupkan radio yang dibawanya. Kemudian terdengarlah suara nyanyian lembut. Ketika saya merasakan ketidaknyamanan, berdirilah seorang anak kecil berjoget bersama dengan iringan lagu dan syairnya. Padahal usianya baru tiga tahun.

Saya lama memikirkannya dan berkali-kali merenunginya. Saya mendapati bahwa anak kecil ini tidak ada yang menggerakkannya untuk berjoget kecuali fitrahnya dan tabiatnya. Ketika itu, saya mulai mengkaji lagi dan lagi. Saya meluruskan pendapat saya selama ini tentang masalah nyanyian dan music, sampai saya yakin bahwa semuanya sudah berakar dalam fitrah kita, penciptaan kita, dan kecenderungan kita. Allah SWT mensyariatkannya dan membolehkannya dengan kadarnya, dengan bentuknya, atau dengan berbagai bentuknya.

Keyakinan ini semakin kuat ketika saya membaca tulisan menarik yang ditulis oleh al-Imâm Abù Bakar bin al-Arabí dalam Kitabnya ‘Aridhâh al-Ahwâzi syarh Shahíh al-Turmudzí, “Sesuatu yang halal adalah sesuatu yang diizinkan melakukannya. Sesuatu yang haram adalah sesuatu yang dilarang melakukannya. Allah SWT dengan keindahan hikmahya ketika menciptakan semua yang ada di bumi bagi kita, Dia membaginya menjadi tiga kondisi:
  1. Ada yang dibolehkannya secara mutlak
  2. Ada yang dibolehkannya dalam satu kondisi, tidak pada kondisi lainnya
  3. Ada yang bolehnya dalam satu bentuk, tidak bentuk lainnya.

Sedangkan jikalau dikatakan bahwa seua yang ada di bumi ini dilarang, tidak pernah tersentuh hukum al-Ibâhah kapan pun, dalam bentuk apapun, maka saya tidak mengetahuinya sama sekali. Segala sesuatu tersentuh oleh hokum halal dan haram kecuali al-Tauhíd. Ia sama sekali tidak dimasuki perubahan, tidak turun dari derajat fardhu dan tangga wajib apapun kondisinya.”

Rasa suka terhadap seni, juga tidak keluar dari bahasan di atas. Allah SWT tidak akan menempatkannya dalam tabiat kita, kemudian Dia mengharamkannya secara mutlak. Tindakan paling layak syariat terhadap kecenderungan fitrah manusia adalah al-Tahdzíb (mendidik) dan al-Tawjíh (mengarahkan), al-Taqyíd (membatasi), dan al-Tarsyíd (menasehati). Tidak ada larangan mutlak atau pengharaman di seluruh bagian.

Imam al-Ghazâli sudah memaparkan masalah ini dalam sebuah pembahasan dengan judul al-Samâ’ wa al-Wajd, menyertakan berbagai hadist dan atsar, di antaranya hadits yang terdapat dalam al-Shahíhain, dari Aisyah radhiyallahu anha, “… Pada hari raya, dua orang berkulit hitam bermain dengan kayu dan tombak. Kayaknya beliau bertanya atau berkata, ‘Apakah engkau melihat?’ Saya menjawab, ‘ya.’ Kemudian beliau menempatkanku di belakangnya, pipiku di pipinya. Beliau berkata, ‘Di hadapanmu wahai Bani Arfidah.’ Sampai saya merasa bosan, beliau berkata, ‘Cukup?’ Saya menjawab, ‘ya.’ Beliau berkata, ‘Pergilah.”

Di antara hukum dan adab yang di Istinbathkan al-Ghazâli, serta fikih yang ditegaskannya adalah berdirinya Nabi Muhammad Saw dalam jangka waktu yang lama menyaksikannya dan mendengarkannya, menemani Aisyah radhiyallahu anha. Dan ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik itu dengan menyenangkan hati istri dan anak-anak, dengan menyaksikan permainan. Dan itu jauh lebih baik dari sikap kering dan kasar.

Saya menukil hal ini untuk menguatkan bahwa keterikatan jiwa dengan seni, adalah kecendrungan fitrah seorang anak manusia dan kebutuhan alaminya, serta untuk menjelaskan bagaimana sikap Nabi Muhammad menghadapinya.

***

Itulah catatan mengenai Dialektika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni Menurut Islam, diterjemahkan dan disusun ulang dari Makalah yang ditulis oleh Syeikh Ahmad al-Raysuní dengan judul “al-Masalah al-Fanniyah fí al-Nazhr al-Maqâshidí min Khilâl Madkhal al-Takyíf wa al-Tawzhífí”, disampaikan dalam seminar bertajuk “al-Funùn fi Dhau Maqâshid al-Syarí’ah”, yang diadakan oleh Pusat Studi Maqâshid al-Syaríah London, di tanggal 4-5 November 2016, di Kota Istanbul.

Semoga catatan ini memberikan wajah baru bagi kita bagaimana memandang masalah seni dalam Islam. Harus dilihat dengan detail, dari berbagai sudut pandangan. Agar, hasil pandangan fikih yang disampaikan, tidak parsial. []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment