Kebebasan (al-Hurriyyah) Menurut Fikih

No Comments
Seringkali kader umat Islam dan cendekiawan muslim bertanya, “Apakah segala sesuatu dalam Islam, harus tunduk kepada ketentuan halal dan haram? Apakah agama mencekik manusia? Mereka tidak bisa bergerak dan bertindak kecuali setelah bertanya hokum perbuatan yang dilakukannya; apakah halal atau haram?”

Bukankah selayaknya seorang anak manusia itu bebas dalam semua tindakannya, semua perbuatannya, dan semua perilakunya? Ia tidak dipertanyakan segala sesuatu yang dilakukannya? Kecuali jikalau sesuatu itu ada kekaburan hukumnya atau ada sesuatu di baliknya? Agar, setiap anak manusia merasakan kebebasannya. Jikalau begini, maka orang-orang akan lebih mencintai agamanya, dan tidak akan apriori dengan kehidupan beragama.

#Kebebasan (al-Hurriyyah) Menurut Fikih

Pernyataan ini benar. Tidak sala. Dan tidak masalah. Hanya saja, jikalau ada yang berkata bahwa agama mencekik penganutnya dengan berbagai tuntutan dan kewajiban, maka pernyataan itu panggang jauh dari api.

Begini. Allah SWT membuat ruang kebebasan, jauh lebih luas di dalam syariat-Nya di bandingkan dengan ruang Perintah (al-Awāmir) dan Larangan (al-Nawāhy). Artinya, ketika seseorang melihat dan memperhatikan dengan baik segala perbuatannya dan segala tindak tanduknya, maka ia akan mendapati bahwa kekebasan (al-Hurriyyah) yang diberikan kepadanya, jauh lebih banyak dibandingkan yang lainnya.

Kejeniusan Fikih Islam (al-Fiqh al-Islāmy) tampak nyata, dengan apa yang dikenal dengan istilah Hukum Taklif (al-Hukum al-Taklīfy). Dengan hokum ini, jutaan perbuatan manusia bisa diklasifikasi dengan lima ruang, yaitu wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Semua perbuatan dan perkataannya, semuanya masuk ke dalam hokum lima ruang ini.

Jikalau kita mau mengkaji Hukum Islam dan membuat persentasinya, maka kita akan mendapati bahwa hokum haram adalah hokum yang paling sedikit jumlahnya. Hal-hal yang diharamkan dan dilarang dalam Islam, jumlahnya sedikit. Kemudian setelahnya, barulah hokum wajib. Perintah dalam Islam, jumlahnya juga sedikit. Kemudian setelahnya Hukum Makruh. Kemudian setelahnya, Hukum Sunnah. Kemudian setelahnya, hokum Mubah atau boleh. Kalau mau dipersentasikan, Mubah itu sekitar 80%.

Para Ahli Fikih dan Ulama menetapkan kaedah bahwa Hukum Asal dalam Segala Sesuatu adalah Mubah, sampai Ada Nash yang Mengharamkannya (al-Ashl fī al-Asyya’ al-Ibāhah hattā Yarid al-Nash bi al-Tahrīm). Artinya, jikalau ada suatu masalah kontemporer, maka seorang Mujtahid tidak bisa lansung mengharamkannya, tetapi menegakkannya di atas hokum asalnya yang  membolehkan. Sebab pada dasarnya, manusia bebas hokum (al-Taklīf). Kecuali ada dalil yang mengharamkannya, atau mewajibkannya atau memakruhkannya. Masalah yang terjadi, kadangkala hukumnya bisa kelimanya, sesuai dengan Ijtihad. Hanya saja, hokum asalnya tetap boleh atau al-Ibāhah.

Para Ahli Fikih membagi fikih beberapa bagian utama, yaitu Ibadah, Muamalah, Adab dan Adat.

Jenis kewajiban atau al-Furūdh yang banyak adalah ibadah. Sebab, ia mengatur hubungan seorang hamba dengan Rabbnya. Balasannya adalah balasan Ukhrākhi, di akhirat kelak. Di dunia tetap ada balasannya, walaupun kadangkala tidak tampak nyata. Hanya saja, setiap ibadah itu tidak akan pernah luput dari unsur kemaslahatan. Pasti ada kemaslahatannya. Dan tujuan utamanya, jelas al-Ta’abbud.

Kalau Muamalah, maka muaranya adalah Mashālih al-‘Ibād, kemaslahatan bagi para hamba Allah SWT. Muamalah ini ruangnya lebih bebas, tidak begitu didetail layaknya ibadah. Diisi oleh kaedah-kaedah umum. Masalah-masalah Muamalah selalu mengalami perkembangan antara satu masa dengan masa lainnya. Tapi bukan berarti isinya kaedah umum semua. Ada juga masalah-masalahnya yang sudah ada dalilnya, tidak boleh dilanggar dan dilangkahi oleh Ijtihād. Misalnya, jenis-jenis jual beli yang diharamkan, minuman yang diharamkan, masalah al-Hudūd, dan kriminalitas (al-Jināyah).  Banyak masalah-masalah Muamalah klasik dan kontemporer yang membutuhkan ijtihād baru. Tidak lazim masalah baru dalam Muamalah, ada dasarnya di studi klasik. Namun, sebuah Ijtihād tetaplah harus ditegak di atas Nash al-Qurān dan sunnah, serta Ijtihād umum. 

Kalau Adab, maka ia merupakan syariat yang minim sekali wajibnya dan haramnya, bahkan sebagian besarnya berkisar antara sunnah dan mubah. Ia menjelaskan celupan Islam terhadap kondisi manusia dan kebiasaan mereka, agar tidak sekadar menjadi kebiasaan. Atau Ia adalah perkara-perkara yang menggambarkan kebiasaan dan akhlak baik, seperti Adab Bekerja, Adab Hukum dan Pengadilan, atau Adab Hidup Secara Umum, Adab Berhubungan dengan Muslim dan Non Muslim, dan sejenisnya.

Jenis selanjutnya, berhubungan dengan Adat atau Kebiasaan, seperti melakukan perjalanan, berobat, berhias, pakaian, minuman, dan selainnya. Jenis ini tegak di atas pondasi kebiasaan yang berlaku, namun disertai dengan aturan-aturan yang memastikan kebiasaan atau adat tersebut, tidak menyebabkan mudharat bagi manusia itu sendiri maupun bagi masyarakat secara umum.

Agar Anda paham dengan baik makna “Kebebasan Dalam Fikih” ini, atau memahami bahwa fikih itu sama sekali tidak mencekik anak manusia, bahkan sebaliknya; sangat memberikan kelapangan, maka hendaklah setiap mereka melihat seluruh perbuatannya dan seluruh tindakannya. Hendaklah mereka memperhatikan berapa persentasi wajib yang diwajibkan oleh Allah SWT pada hari ini? Berapakah persentasi haram? Berapakah persentasi Mubah? Maka akan didapati bahwa Mubah itu menjadi hokum asal dalam perbuatan manusia dan tindak tanduknya.

Ketika seorang muslim mengetahui bahwa hokum sebagian besar perbuatannya dan tindakannya adalah Mubah, maka hendaklah ia mencintai Allah SWT dan mencintai Islam, mengetahui ketetapan Allah SWT dalam Kitab-Nya terhadap para hamba-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (Surat al-Maidah: 6)

Hendaklah ia yakin bahwa ketetapan Allah SWT dalam Kitab-Nya merupakan kaedah emas dalam masalah hokum, yaitu firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (Surat al-Baqarah: 185)

Atau meyakini ketetapan Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh al-Bukhāry dan Muslim:
إن هذا الدين يسر، ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه، فسددوا وقاربوا، وأبشروا، واستعينوا بالغدوة والروحة، وشيء من الدلجة
“Agama ini mudah. Tidaklah seseorang mengetatkannya, kecuali ia akan kalah. Maka, luruskanlah dan dekatkanlah. Bergembiralah dan mohonlah bantuan di pagi dan sore hari, serta di waktu malam.”

Pengertian inilah yang difahami oleh Ahli Fikih Umat Islam, dan pengertian inilah yang mereka ungkapkan. Di antara buktinya adalah ucapan al-Imām Ibn al-Qayyim dalam Kitab Ighātsah al-Lahfan (1/ 158):
“Allah SWT menyatukan dalam syariat ini, antara kelurusan dan ketoleranan. Ia lurus dalam bertauhid, dan toleran dalam beramal.”

Bahkan, kebebasan dan kemudahan merupakan syiar umat ini yang membedakannya dengan umat-umat sebelumnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Katsīr dalam tafsirnya (2/ 254):
“Nabi Saw diutus dengan kemudahan (al-Taysīr) dan toleran (al-Samāhah). Syariat umat sebelum mereka, penuh dengan kesempitan. Maka, Allah SWT melapangkan perkara umat ini dan memudahkannya bagi mereka.”

Bahkan, salah satu keagungan syariat Islam, ia memberikan beban (al-Taklīf) kepada umatnya jauh lebih minim dari yang mungkin dilakukannya, sebagaimana dikatakan oleh al-Zamakhsyary:
“Allah SWT tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya dan mudah dilakukannya, bukan sesuai dengan puncak kemampuannya dan usahanya. Manusia itu mampu mengerjakan shalat lebih dari lima waktu, berpuasa lebih dari sebulan, dan berhaji lebih dari sekali.”

Kesimpulannya, Teori Pensyariatan (Nazhariyyat al-Tasyrī’) tegak di atas dasar “Kebebasan dalam Fikih”. Ruang kebebasan, jauh lebih luas dari ruang lainnya. Bahkan, kita tidak bisa menghitung kekebasan yang diberikan oleh Allah SWT karena saking banyaknya dan saking melimpahnya. Wajib dan Haram, ruangnya sangat sempit dalam syariat Islam. []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment