Kewajiban Berbuat Baik (al-Ihsān) Kepada Tetangga Menurut Islam

No Comments
Ada tiga kebutuhan asasi seorang manusia, yaitu sandang, pangan, dan papan. Dalam bahasa mudahnya, papan adalah rumah. Semua kita membutuhkannya sebagai tempat berteduh dan bermalam, tempat beristirahat dan bercanda bersama keluarga. Tidak masalah jikalau statusnya kontrakan. Kalau mampu beli, malah lebik baik lagi. Jangan ngutang apalagi pakai riba, jangan deh!

Tapi, ada satu prinsip yang diperhatikan. Kata orang Arab “al-Jār Qabla al-Dār”, tetangga dulu sebelum rumah. Kenapa? Sebab betah atau tidaknya kita di suatu rumah, tergantung dengan tetangganya. Jikalau tetangganya baik, kita akan betah sekali. Apalagi kalau sampai tetangganya sudah kayak saudara. Itu nikmat luar biasa. Sebaliknya, kalau tetangganya resek, jahat, culas, dan sebagainya, maka kehidupan kita akan bak di Neraka. Tidak betah. Pengen pindah.

#Kewajiban Berbuat Baik (al-Ihsān) Kepada Tetangga Menurut Islam
Dalam catatan kali ini, kita akan melihat bagaimana keutamaan berbaik baik kepada tetangga dalam Islam, apa hak-hak mereka yang harus ditunaikan, apa makna tetangga dalam Islam. Dan masih banyak lagi masalah lainnya yang akan kita bahas dalam tulisan ini, lengkap dengan dalilnya dari al-Quran dan hadits atau sunnah.

Keutamaan Berbuat Baik Kepada Tetangga Dalam Islam


Masalah “Hak Tetangga” merupakan salah satu masalah agung dan besar dalam Islam. Jibril alaihissalam terus-menerus menasehati Rasulullah Saw masalah tetangga, sampai Nabi Muhammad Saw menduga bahwa seorang tetangga akan mewarisi tetangganya.

Beliau bersabda:
مازال جبريل يوصيني بالجار ، حتى ظننت أنه سيورثه
“Jibril selalu menasehati masalah tetangga, sampai saya menduga bahwa seorang tetangga akan mewarisi tetangganya.”

Masalah ini, juga dijelaskan dalam al-Quran al-Karim:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (Surat al-Nisa: 36)

Nabi Muhammad Saw mendorong umatnya untuk berbuat baik kepada tetangganya dan memuliakannya dalam sabdanya:
ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره
“Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan Hari Akhir, maka muliakanlah tetangganya.” (Muttafaq alaihi)

Dalam riwayat Muslim dijelaskan:
فليحسن إلى جاره
“Maka, berbuat baiklah kepada tetangganya.” (Hr Muslim)

Bahkan, berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari keimanan dalam Islam, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
والذي نفسي بيده لا يؤمن عبد حتى يحب لجاره ما يحب لنفسه
“Demi jiwaku yang berada dalam genggamannya, tidak beriman seorang hamba sampai ia mencintai tetangganya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Hr Muslim)

Orang yang berbuat baik kepada tetangganya merupakan manusia terbaik di sisi Allah SWT:
خير الأصحاب عند الله خيرهم لصاحبه، وخير الجيران عند الله خيرهم لجاره
“Sebaik-baik sahabat di sisi Allah SWT adalah orang yang terbaik di antara mereka kepada sahabatnya. Dan sebaik-baik tetangga di hadapan Allah SWT adalah orang yang paling baik kepada tetangganya di antara mereka.” (HR al-Turmudzi)

Siapakah Tetangga Dalam Islam?


Tetangga adalah orang yang berada di samping Anda, baik muslim maupun non muslim. Pengertian detailnya di kalangan ulama, banyak sekali. Namun makna yang paling dekat dengan kebenaran adalah “sesuai dengan ‘Urf atau adat atau kebiasaan yang berlaku di suatu masyarakat.” Artinya, jikalau di masyarakat Jogja makna tetangga adalah satu RT, maka itulah maknanya. Beda budaya, beda pula mengartikannya.

Tetangga juga bertingkat-tingkat. Hak antara yang satu dengan yang lainnya, berbeda sesuai dengan tingkatannya. Ada tetangga muslim yang  masih ada ikatan kerabat. Ada tetangga non muslim namun masih ada hubungan kekerabatan. Ada tetangga non Muslim yang tidak ada hubungan kekerabatan sama sekali.

Secara umum, hak bertetangga sama saja berlakunya. Namun, jikalau ditambah dengan hubungan kekerabatan dan hubungan akidah, maka haknya bertambah di sisi lainnya.

Deskripsi Tetangga atau Bertetangga


Ada orang yang menyangka bahwa tetangga hanyalah orang yang rumahnya berada di dekatnya. Pendapat ini memang tidak salah. Namun, juga tidak sepenuhnya benar. Ia hanyalah salah satu bentuk tetangga. Banyak bentuk lainnya yang masuk dalam makna kata-kata tetangga. Ada tetangga kerja, tetangga lapak di pasar, tetangga di sawah dan kebun, tetangga di bangku sekolah dan kuliah. Dan lain-lain.

Hak-Hak Bertetangga Menurut Islam


Tetangga memiliki banyak hak. Kita akan membahas beberapa di antaranya.

1#Menjawab Salam dan Menghadiri Undangan

Pada dasarnya, ini adalah hak umum kaum muslimin.Hanya saja, jikalau yang mengucapkan salam adalah tetangga Anda, maka kewajiban menjawabnnya jauh lebih wajib. Sama dengan undangan, jikalau yang mengundang tetangga Anda, maka menghadirinya jauh lebih wajib. Moso, tetangga Anda ada acara, Anda diam saja di rumah.

2#Tidak Menyakiti Tetangga

Ini merupakan salah satu hak terbesar dalam hidup bertetangga. Jikalau ia diharamkan kepada manusia lainnya, maka kepada muslim jauh lebih haram lagi. Nabi sudah mewanti-wanti masalah ini dalam berbagai haditsnya.

Beliau bersabda:
“Demi Allah, tidak beriman. Demi, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman.”

Para sahabat bertanya:
“Siapa ya Rasulullah?”

Beliau menjawab:
مَن لا يأمن جاره بوائقه
“Orang tang tetangganya tidak merasa aman dari keburukan-keburukannya.” (Hr al-Bukhari)

Ada yang berkata kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, Fulanah mengerjakan shalat sepanjan malam dan berpuasa sepanjang siang. Namun, lisannya menyaikiti tetangganya.”

Beliau menjawab:
لا خير فيها، هي في النار
“Tidak ada kebaikannya. Ia di Neraka.” (Hr Ahmad)

Pada suatu  hari, seseorang mendatangi Nabi Muhammad Saw mengadukan kejahatan tetangganya, kemudian beliau menjawab, “Buanglah barangmu di jalan.”

Kemudian ia melakukannya. Orang-orang yang lewat bertanya kepadanya. Ketika mereka tahu kejahatan tetangganya, maka mereka melaknatnya. Kemudian datanglah tetangga yang jahat ini kepada Nabi Muhammad Saw mengadu tentang orang-orang yang melaknatnya.

Beliau menjawab:
فقد لعنك الله قبل الناس
“Allah sudah melaknatmu sebelum mereka.” (Hr al-Baihaqi)

3# Siap Menghadap Keburukan Tetangga

Point ketiga ini hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kehormatan diri dan memiliki cita tinggi. Banyak orang yang mampu menahan dirinya untuk tidak menyakiti orang lain. Namun untuk bersabar dan ikhlas menerima kezhaliman orang lain, yang dalam hal ini adalah tetangga, merupakan sesuatu yang maha sulit.

Allah SWT berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ
Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan." (Surat al-Mukminun: 96)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (Surat al-Syura: 43)

Hasan al-Bashri mengatakan:
“Bertetangga yang baik bukan tidak menyakiti yang lainnya. Bertetangga yang baik adalah bersabar menghadapi kejahatan yang lainnya.”

4# Menanyakan Kondisinya dan Menunaikan Hajatnya/ Kebutuhannya

Rasulullah Saw bersabda:
ما آمن بي من بات شبعانًا وجاره جائع إلى جنبه وهو يعلم
“Tidaklah beriman kepadaku, seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, sedangkan ia mengetahuinya.” (Hr al-Thabrani)

Orang-orang yang shaleh di zaman dahulu selalu menanyakan kondisi tetangga mereka dan berusaha menunaikan hajat mereka. Para sahabat biasanya suka memberikan hadiah kepada tetangganya, kemudian tetangganya memberikan hadiah lagi kepada yang lainnya, sampai berpuluh-puluh tetangga, sampai hadiah itu juga didapatkan oleh yang pertama melakukannya. Masya Allah.

Suatu hari, Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu menyembelih seekor domba, kemudian ia mengatakan kepada budaknya:
“Jikalau engkau menyembelih, maka mulailah membaginya kepada tetangga kita yang Yahudi.”

Suatu hari, Aisyah radhiyallahu anha bertanya kepada Nabi Muhammad Saw:
“Saya mempunyai dua tetangga. Siapakah yang paling berhak saya berikan hadiah?”

Beliau menjawab:
إلى أقربهما منكِ بابًا
“kenapa tetangga yang pintunya terdekat darimu.” (Hr al-Bukhari)


5# Menutupi Aibmu dan Menjaga Kehormatanmu

Ini juga merupakan salah satu hak besar, tidak kalah penting dari lainnya. Ketika kita hidup bertetangga dengan seseorang, maka kita akan mengetahui keburukannya. Maka, tugas kita adalah menjaga kehormatannya dan menutupi aibnya. Jangan menyebarkannya kepada orang lain, menjadikannya sebagai bahan candaan dan guyonan. []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment