Manusia (al-Insân) Dalam Perspektif Islam

No Comments
Islam memandang manusia (al-Insân) sebagai segenggam tanah (Qabdhah min Thîn al-Ardh) dan tipuan ruh Allah SWT (Rùh Allâh) yang keduanya saling terikat, saling menggenggam, dan saling berinteraksi, yang kemudian membentuk entitas ketauhidan.

Allah SWT berfirman:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah." (Surat Shad: 71)

#Manusia (al-Insân) Dalam Perspektif Islam

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." (Surat Shad: 72)

Itulah penciptaan manusia; segenggam tanah, kemudian tipuan Ruh Allah SWT, keduanya menyatu sempurna, saling terikat, dan ada interaksi antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga konklusinya menjadi manusia yang kita kenal dan kita pergauli sehari-hari.

Ia bukan segenggam tanah murni, sebagaimana sebelum ditiupkannya ruh. Dan bukan pula ruh yang terbebas dari segenggam tanah. Keduanya berkumpul dalam satuan yang saling terikat, masing-masing memiliki keistimewaan yang berbeda. Keduanya sangat dan sangat berbeda.

Ketika syahwat bergelora dan tidak terkontrol, maka ia lebih mendekati unsur segenggam tanah. Sebab, hubungannya dengan jasad lebih dominan dibandingkan dengan bagian lainnya. Tetapi, ia juga bukan sekadar badan saja layaknya hewan. Manusia juga memiliki kemampuan untuk berpikir, berkeinginan, dan memilih, sampai kegiatan yang berhubungan dengan tanah itu sendiri. Dan ini tidak mampu dilakukan dan tidak mampu dimiliki oleh hewan.

 Ketika bergetar dan bercahaya, maka ia lebih dekat ke unsur tiupan ruh. Sebab, ia bergerak dengan ruhnya menuju alam nyata yang terbatas. Hanya saja, ia bukanlah ruh murni layaknya malaikat. Ia memiliki jasad yang tidak bisa dilepaskan dari eksistensinya. Perhatikanlah masa paling agung yang dikenal manusia dalam sejarah bumi, yaitu ketika diturunkannya wahyu kepada Rasulullah Saw; apakah ketika itu beliau adalah ruh murni yang mampu bersalaman dengan Jibril dan menerima wahyunya?

Dengarkanlah firman Allah SWT:
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya." (Surat al-Qiyamah: 16)

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya." (Surat al-Qiyamah: 17)

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." (Surat al-Qiyamah: 18)

Akal bergerak. Lisan bergerak. Rasulullah Saw khawatir jikalau ada hafalan al-Qurannya yang luput. Kemudian Allah SWT menenangkannya bahwa tidak akan ada yang luput darinya. Sebab, Allah SWT sendiri menjamin wahyu tersebut akan dijaga, dikumpulkan, dan dibaca.

Inilah manusia (al-Insân) dengan kedua unsurnya; segenggam tanah dan tiupan ruh.

Setiap usaha untuk menafsirkan salah satu unsurnya tanpa melibat yang lainnya, akan berujung dengan kegagalan, tidak akan mengantarkan kepada fakta. 

Kelompok batil dan memiliki pandangan salah, selalu menafsirkan manusia (al-Insân), baik teori maupun praktek atau kedua-keduanya, dengan salah satu sisinya saja, atau dominan satu sisi dan meminimalisir sisi lainnya.

Kaum Materialisme mengunggulkan unsur jasad dan materi, mengabaikan unsur ruh. Mereka membebaskan setiap diri menikmati segala bentuk syahwat, kenikmatan dan materi. Konklusinya, bangunan materi yang kosong dari percikan cahaya.

Kaum Rohani/ Batiniyah, mengunggulkan unsur ruh dan mengabaikan unsur jasad. Mereka menindasnya dan merendahkannya. Bahkan sebagiannya berusaha menyiksanya dan memenjarakannya, agar bisa melambungkan ruh. Begitulah klaim batil mereka. Inilah yang dilakukan para pendeta. Mereka abai memakmurkan bumi, tidak mau menjalankan tugas pemimpin yang ada di pundak setiap anak manusia.

Sedangkan dalam Islam, manusia diberikan tugas penting, sebagaimana firman Allah SWT:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Surat al-Baqarah: 30)

Islam memuliakan manusia dan mengejarkan mereka mengenai al-Bayân:
۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (Surat al-Isra': 70)

Tugas manusia dalam Islam, bukan sekadar makan dan minum, sama dengan binatang. Juga bukan sekadar memproduksi materi. Manusia adalah khalifah di muka bumi; memakmurkannya, menegakkan keadilan, dan meninggikan ruh. Tugasnya adalah Ibadah dengan pengertian yang konfrehensif, berupa akidah yang benar, menunaikan syiar-syiar agama, dan bersemangat menjalankan seluruh unsur kehidupan, agar dunia ini bisa tegak sebagaimana harusnya.

Dalam al-Quran dijelaskan:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)." (Surat al-Syam: 7)

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (Surat al-Syam: 8)

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu." (Surat al-Syam: 9)

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Surat al-Syam: 10)

Seorang manusia tidak akan mendapatkan keistiqamahannya jikalau tidak ada upaya untuk mensinergikan antara ruh dan jasad. Ia harus mampu menerima jiwanya dan menyempurkan semua keutamaanya, dengan kedua unsurnya. []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment