Qiyās al-Syabh; Logika Awam dan Metode (Intelektual) Menyesatkan Umat

No Comments
Qiyas, merupakan bahasa yang sudah umum bagi kita semua. Sudah menjadi bahasa rakyat. Kalau saya sebut "Qiyas" misalnya, pikiran orang yang saya ajak bicara lansung tertuju ke logika, yaitu melogikakan sesuatu dengan sesuatu lainnya, kemudian menyimpulkan hukumnya. Mudah sekali.

Namun, Qiyas seperti ini, bukanlah Qiyas yang diinginkan dalam kajian Ushul Fiqih. Ia sama sekali tidak memenuhi standar Qiyas dalam syariat yang menetapkan keharusan adanya sejumlah syarat dan sejumlah rukun. Kalau seandainya Syarat dan Rukun ini tidak terpenuhi, maka Qiyas yang dilakukan adalah Batil.

#Qiyās al-Syabh; Logika Awam dan Metode (Intelektual) Menyesatkan Umat

Dan membuat saya tertawat geli adalah, ketika ada yang berlogika dengan Qiyas Batil ini, kemudian ia merasa sudah menjadi pakar Ushul Fikih, seolah-olah ia sudah menjadi Mujtahid abad ini dan pemegang kunci surga. Semua orang yang tidak sejalan denganya, tidak sepaham, lansung dicap “penduduk Neraka.” Dan siapa yang sejalan dengannya, maka sudah lansung menjadi Ahli Surga. Hehe....

Qiyas itu tidak semudah itu. Berat, Sungguh berat. Sungguh sulit. Kalau Anda tidak percaya, tanya saja orang yang pernah belajar Ushul Fikih. Apalagi masalah ‘Ilat. Lebih sulit lagi. Banyak yang gagal dalam materi yang satu ini.

Jangan sampai seperti orang yang baru baca judul buku “Ushul Fikih”, kemudian sudah mengaku menguasai Ushul Fikih. Kwalat, kowe!

Catatan kita kali ini akan mencoba masalah Qiyas yang biasanya digunakan oleh kalangan awam, yang dalam Istilah pakar Ushul Fikih dikenal dengan nama Qiyas al-Syabh. Gimana hukumnya dan gimana logika hukumnya. Silahkan dibaca.

Qiyās al-Syabh


Ada pertanyaan begini, “Apa sebabnya al-Qiyās dalam Ushul al-Fiqh begitu njlimet? Kenapa susah mengkajinya dan susah juga menerapkannya? Bukankah semua manusia menggukan al-Qiyās dalam kehidupannya, dimana ia menghubungkan antara sesuatu yang serupa dengan yang lainnya, kemudian menetapkan hukumnya?”

Jawabannya, “al-Qiyās dengan makna arti seperti kebanyakan orang itu, dinamakan oleh pakar Ushul al-Fqh dengan sebuah Qiyās al-Syabh, yang merupakan sebuah jenis al-Qiyās batil dalam pandangan Ushul Fiqih dan batil juga dalam pandangan sejarah. Makanya, ketika menjelaskan masalah syarat-syarat al-Qiyās dan pengertian al-Qiyās yang benar, para pakar Ushul al-Fiqh menjelaskannya dengan panjang lebar, agar ia tidak bercampur dengan Qiyās al-Syabh nan batil.

Pengertian Qiyās al-Syabh


 Apa pengertian Qiyās al-Syabh? Para ulama menjelaskannya begini:
الجمع بين أمرين لاشتراكهما في  نوع من الشبه
“Menyatukan di antara dua perkara karena keduanya bersekutu di salah satu jenis kesamaan.”

Kebatilannya dalam sejarah, al-Quran sudah menyebutkan sejumlah contoh Qiyās al-Syabh ini, yang banyak digunakan oleh kalangan awam. Jikalau kita memperhatikan contohnya, maka kita akan mendapati batilnya Qiyās- Qiyās yang mereka melakukan, kemudian juga menunjukkan kepada kita bahwa Qiyās al-Syabh ini sering dijadikan pintu sebagian penganut kebatilan untuk menipu manusia, dengan cara menunjukkan kebatilan seolah-olah sebuah kebenaran.

Contoh-Contoh Qiyās al-Syabh


Di bagian ini, kita akan melihat beberapa contoh Qiyās al-Syabh dalam al-Quran al-Karim.

“Apakah Mereka (Manusia) akan Menunjuki Kami?”
Di antara contoh yang disebutkan oleh al-Quran adalah al-Qiyās yang menjadipenyebab banyaknya anak manusia yang berpaling dari dakwah para Rasul. Dalam al-Quran dijelaskan:
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ
Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kele bihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta." (Surat Huud: 27)

Coba perhatikan ayat di atas. Bagian yang digarisi. Mereka melihat masalahnya dari sisi “sama-sama manusia, sama-sama anak cucu Adam.” Dengan metode Qiyās al-Syabh, mereka menetapkan hokum salah satu yang sama, dengan yang lainnya. Seolah-olah mereka mengatakan, “Kami manusia, kalian manusia. Sebagaimana kami bukanlah para Rasul, maka kalian juga begitu. Jikalau kita sama dalam hal ini, maka kalian sama seperti kami. Tidak ada keistimewaan bagi kalian.”

Ibn al-Qayyim menjelaskan maknanya:
“Ini merupakan salah satu betuk Qiyās paling batil. Faktanya menjelaskan bahwa sebagiannya lebih istimewa dari yang lainnya. Status social sebagian orang dan status kekayaan mereka, membuat mereka lebih mulia dan lebih terhormat di bandingkan yang lainnya dalam urusan duniawi. Sebagian manusia ada yang menjadi rakyat, dan sebagian lainnya ada yang menjadi pemimpin. Sebagiannya ada yang menjadi raja, dan sebagiannya lagi menjadi pelayan.”

 Hal itu ditunjukkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Surat al-Zukhruf: 32)

Para Rasul menjadi pernyataan ini dengan mengatakan:
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal." (Surat Ibrahim: 11)

Kemudian Allah SWT menjawab dengan firman-Nya:
وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ ۘ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ
Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah". Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya." (Surat al-An'am: 124)

Kemudian juga firman-Nya:
وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ
Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: "(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum." (Surat al-Mukminun: 33)

Kemudian firman-Nya:
وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَرًا مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi." (Surat al-Mukminun: 34)

Para Rasul menjelaskan bahwa kesamaan dari "sisi manusia" yang mereka jadikan sebagai ukuran, dengan segala kekhususannya berupa makan dan minum, semua itu hanyalah Qiyās al-Syabh dan Jama' al-Shùry. Hal ini semisal denga firman Allah SWT:
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالُوا أَبَشَرٌ يَهْدُونَنَا فَكَفَرُوا وَتَوَلَّوْا ۚ وَاسْتَغْنَى اللَّهُ ۚ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
 Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-Rasul mereka membawa keterangan-keterangan lalu mereka berkata: "Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?" lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (Surat al-Taghabun: 6)

“Jikalau ia Mencuri, Maka Saudaranya Mencuri juga Sebelumnya.”
Contoh kedua yang diceritakan al-Quran adalah hikayat al-Quran tentang saudara Nabi Yusuf alaihissalam, yaitu ucapan mereka ketika mendapati takaran di karung saudara mereka, “"Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” (Surat Yusuf: 77)

Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Mereka sama sekali tidak menyatukan antara al-Ashl dengan al-Furu’ dengan ‘Ilatnya, dan tidak juga dengan dalilnya. Mereka hanya menggabungkan salah satu dari keduanya dengan yang lainnya tanpa ada dalil yang menyatukan, selain sekadar kesamaan antara dirinya dengan Yusuf. Mereka mengatakan, ‘Ini diqiyaskan dengan saudaranya. Bentuk seperti ini adalah al-Jam’ dengan kesamaan yang tidak ada sama sekali. Qiyas yang hanya sekadar bentuk tanpa ‘Ilat kesamaan, maka ia adalah Qiyas yang Fasid (rusak). Kekerabatan persaudaraan bukanlah ‘Ilat persamaan dalam “mencuri”, walaupun mencuri itu sebuah fakta. Al-Jam’ yang dilakukan adalah jenis al-Syabh yang kosong dari ‘Ilat dan juga tidak ada dalilnya.”

“Jual beli itu sama dengan riba.”
Dalam hal ini, orang-orang musyrik mengqiyaskan riba dengan jual beli, dengan sekadar al-Syabah al-Shury (kesamaan semu), seolah-olah orang yang melakukan riba hanyalah sekadar meminta tambahan sebagai kompensasi waktu, sama dengan penjual kredit yang meminta tambahan sebagai kompensasi waktu. Artinya, kata mereka, jikalau kalian membolehkan jual beli, maka kalian juga harus membolehkan riba. Itulah yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (Surat al-Baqarah: 275)


“Apa yang Allah bunuh, dan apa yang kalian Bunuh.”
Ketika Allah SWT mengharamkan bangkai, maka orang-orang musyrik mengatakan, “Apa yang dibunuh Tuhan kalian, janganlah kalian memakannya. Dan apa yang kalian bunuh dengan tangan kalian, maka makanlah.”

Mereka menganalogikan kematian bangkai/ tanpa sembelih dengan kematian akibat sembelih. Artinya, kata mereka, bangkai itu mati sendiri, Allah SWT yang menghilangkan nyawanya. Sedangkan sembelihan, kalian kalian menghilangkan nyawanya dengan pisau. Jadi, kenapa kalian menghalalkan yang kalian bunuh dengan tangan kalian dan tidak mau dengan apa yang dihilangkan nyawanya oleh Allah SWT? Kan sama saja, kata mereka.

Qiyās al-Syabh dan Fikihnya Orang Awam


Qiyas itu sulit. Ya, memang sulit. Studinya maupun prakteknya. Hanya saja, ia merupakan salah satu dalil syariat yang paling banyak digunakan di kalangan masyarakat awam. Makanya, seringkali kita mendapati ada seseorang yang awam ilmu agamanya, ketika ia mendapati atau mengetahui hokum suatu masalah dalam Islam, baik karena dibacanya maupun didengarkannya, maka ia lansung akan mengqiyaskan puluhan masalah dengan masalah tadi, kemudian juga mengqiyaskan puluhan kondisi yang sebenarnya berbeda.

Orang awam tadi membuat furu’ puluhan masalahnya dengan dasar satu masalah yang sudah didapati hukumnya, hanya karena sekadar adanya al-Syabh antara masalah yang diketahuinya dengan masalah yang baru.

Makanya tidak heran, sering kita saksikan ada orang yang sudah kayak pakar Ushul, padahal baru tahu kata Ushul kemarens sore. Hehe…. ^_*

Para ulama tidak membolehkan seorang awam berfatwa untuk dirinya sendiri dalam masalah yang terjadi hari ini, dengan fatwa yang dikeluarkan kemaren, walaupun mungkin ia melihat ada kedekatan dan kemiripan dalam masalah.

Inilah yang ditegaskan oleh Imam al-Nawawi dalam Kitabnya Adab al-Fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti: 43:
“Begitu juga dengan orang awam. Jikalau ada suatu masalah yang menimpanya dan sudah dipertanyakannya sebelumnya, kemudian masalahnya terjadi lagi, maka lazim baginya untuk bertanya lagi, berdasarkan pendapat yang paling shahih. Kecuali masalahnya sudah sering terjadi dan sulit baginya bertanya lagi, maka hal itu tidak lazim baginya. Cukup baginya dengan jawaban dari pertanyaan sebelumnya karena kondisinya yang sulit.

Kesimpulan


Apa kesimpulan yang didapatkan dalam catatan ini?
Ushul Fikih itu tidak semudah membalik telapak tangan. Jangan disangka, Anda duduk bermajelis sekali, kemudian lansung menjadi pakar Ushul, yang mampu mengurai semua masalah fikih. Qiyas yang sering digunakan oleh orang awam adalah Qiyās al-Syabh.

Hukumnya? Jelas tidak boleh, sebab tidak terpenuhinya syarat-syarat yang sudah kita jelaskan di atas. Pelajari dulu Qiyas yang ada dalam Ushul Fikih dulu dengan baik. Pahami dengan sebenar-benarnya. Jangan asal saja.

Baca kalam Imam al-Nawawi di bagian akhir. Itulah fenomena yang banyak kita saksikan saat sekarang ini. Kita sering mengqiyaskan antara satu fatwa dengan fatwa lainnya, hanya karena kesamaan di satu sisi saja. Akibatnya, fatwanya ngawur bin ngawur bin nyeleneh.

Sip. Itu catatan saja. Semoga bermanfaat. []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment