Sunnah Taknik (al-Tahnīk) Anak yang Baru Lahir & Manfaatnya dari Segi Kesehatan

No Comments
Anak-anak adalah nikmat dari Allah SWT dan karunia agung yang wajib disyukuri, bergembira mendapatkannya, berjanji akan menjaganya, merawatnya, dan mendidiknya dengan baik agar menjadi tumbuhan yang baik di Taman Islam.

Islam memberikan perhatian besar terhadap fase anak-anak, semenjak dilahirkan, bahkan sebelum dilahirkan, ketika seorang laki-laki atau perempuan baru berpikir untuk menikah. Islam mewasiatkan kepada umatnya untuk memilih dengan baik siapa yang akan menjadi suami atau istrinya, demi menjamin keturunan yang baik dan ikatan kekeluaraan yang kuat. Bukan dari sisi akhlak saja, namun juga dari paras tubuh dan psikologi. Dan perhatian ini terus diberikan oleh Islam sampai masuk fase kehamilan, ketika melahirkan dan menyusui, fase mendidik dan tumbuh kembang.

#Sunnah Taknik (al-Tahnīk) Anak yang Baru Lahir & Manfaatnya dari Segi Kesehatan

Islam mensyariatkan sejumlah hak untuk anak-anak dalam semua fase yang dilaluinya. Sebagiannya dijelaskan dalam Kitabullah, kemudian dirinci oleh sunnah Rasulullah Saw, kemudian Islam menjadikannya sebagai sunnah yang harus dijalankan sebagai bentuk bakti orangtua kepada anak-anaknya.

Di antara amalan yang disyariatkan semenjak hari pertama kehidupan sang anak adalah memberitahukan kabar gembira kelahirannya kepada khalayak, ucapan selamat atas kelahirannya, mendoakannya, mengazankan dan mengiqamahkan di kedua telingannya, kemudian mentahniknya.  Hukumnya Sunnah.

Dengan Kurma atau Dengan Madu


Tahnik atau al-Tahnīk, merupakan sunnah Rasulullah Saw. Maksudnya, mengunyah kurma atau sesuatu yang manis di mulut seseorang yang sehat tidak sakit, kemudian meletakkannya di mulut sang anak, memijitkannya dan mentahniknya, dengan memasukkan sebagian kurma yang sudah dikunyah, menggunakan jari yang bersih, memasukkannya ke dalam mulut sang anak, kemudian digerakkan kiri dan kanan dengan lembut, sampai masuk semuanya ke dalam mulutnya. Tidak masalah memasukkan sedikit kurma yang segar tadi ke dalam mulut sang anak agar ia bisa mengunyahnya dan merasakan faedahnya.

Jikalau tidak ada kurma, maka al-Tahnīk juga bisa dilakukan dengan sesuatu yang manis. Lebah madu lebih utama dalam hal ini. Bisa juga dengan yang lainnya, asalkan sesuatu yang tidak tersentuh api (tidak dimasak).

Tahnik (al-Tahnīk) Menurut Sunnah Rasulullah Saw


Banyak hadits Nabi Muhammad Saw yang berbicara tentang al-Tahnīk. Salah satunya adalah riwayat Asmā binti Abū Bakar. Ketika itu, ia sedang hamil Abdullāh bin al-Zubair. Kemudian ia ikut hijrah ke Madinah, usia kandungannya yang sudah mencapai Sembilan bulan. Dalam perjalanan ke Madinah, semuanya singgah di Quba. Dan disanalah ia melahirkan seorang  bayi laki-laki. Pasca melahirkan, ia segera membawa anaknya kepada Nabi Muhammad Saw dan meletakkannya di kamarnya.

Beliau meminta kurma. Setelah diberikan, beliau memasukkan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya, kemudian memasukkannya ke dalam mulut sang anak. Sehingga, yang pertama kali masuk ke dalam keronkongannya adalah air liur Nabi Muhammad Saw.

Kemudian beliau menatahniknya dengan kurma dan mendoakan kebaikan baginya. Anak tersebut mendapatkan keberkahan. Ia adalah anak pertama yang dilahirkan dalam Islam. Semuanya berbahagia, sebab itu bukti kedustaan ungkapan yang ketika itu menyebar luas, “Orang-orang Yahudi sudah menyihir kalian. Kalian tidak akan berketurunan.”

Manfaat al-Tahnīk dari Sisi Kesehatan


Dr. Muhammad Alī al-Bār, pakar al-I’jāz al-Ilmy di situs Islamway menjelaskan, keilmuan kontemporer sudah membuktikan mamfaat kesehatan al-Tahnīk ini untuk tubuh sang  anak yang baru dilahirkan dan baru tumbuh. Ia memaparkan tafsir ilmiah yang memuaskan akal dan logika.

Ia menjelaskan:
“Hadits-hadits seputar al-Tahnīk menjelaskan bahwa kurma atau makanan manis merupakan hal pertama yang masuk ke dalam kerongkongan sang anak. Kemudian juga menjelakskan sunnahnya membawa sang anak kepada orang yang baik lagi shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, untuk dilakukan al-Tahnīk, kemudian juga agar mendapatkan keberkahan dari orang-orang shaleh.”

Ilmu kontemporer mampu menyingkap hikmah dari al-Tahnīk semenjak 14 abad yang lalu. Semua anaknya, khususnya yang baru dilahirkan dan masih menyusu, terancam kematian jikalau mengalami salah satu dari dua hal berikut: Pertama, turunnya kadar gula di dalam darah. Kedua, turunnya derajat panas tubuh ketika udara yang ada di sekitarnya menjadi dingin.

Kadar Gula (Glukosa) di dalam darah anak yang baru lahir itu rendah. Semakin ringan beratnya, maka semakin rendahlah kadar gulanya. Sehingga anak yang lahir premature, yang beratnya kurang dari 2,5 kg, maka kadar gula darahnya rendah sekali. Biasanya kurang dari 20 mg dalam setiap 100 ml darah. Rata-rata, anak yang lahir dengan berat di atas 2,5 kg, kadar darah mereka biasanya di atas 30 mg.

Kadar gula yang rendah, bisa menyebabkan beberapa hal  berbahaya:
  • Bayi menolak untuk menyusu
  • Lemahnya otot-otot
  • Sering berhenti bernafas
  • Kejang-kejang

Bahkan, jikalau diabaikan, bisa menyebabkan hal-hal berbahaya lainnya yang akan terus dialami sang anak sampai ujung usianya.
  • Terlambatnya pertumbuhan
  • Keterbelakangan mental
  • Lumpuh otak
  • Tidak bisa melihat atau mendengar atau keduanya
  • Epilepsy

Jikalau tidak diobati, bisa menyebabkan kematian. Padahal obatnya gampang, yaitu cukup dengan memberikan Glukosa yang sudah dilarutkan di dalam air, bisa dengan mulut dan bisa dengan impus. Inilah yang dilakukan oleh al-Tahnīk.

Al-Tahnīk adalah pengobatan prenventif dari segala penyakit yang disebabkan oleh kurangnya gula di dalam darah, sebab bahan al-Tahnīk mengandung gula Glukosa dengan ukuran besar, apalagi ketika bercampur dengan liur yang mengandung enzim-enzim khusus yang mampu mengubah Sokrosa menjadi Monosakarida.

Kandungan air liur akan memudahkan proses pelarutan gula, agar sang anak bisa mendapatkan faedahnya. Karena itulah, banyak rumah sakit, khususnya Rumah Sakit Ibu dan Anak, yang memberikan sari Glukosa kepada sang anak, lansung setelah kelahirannya, sebelum disusui ibunya. Ini menjadi petunjuk nyata hikmah di balik sunnah al-Tahnīk.

Penelitian ilmiah juga menegaskan bahwa al-Tahnīk menguatkan otot-otot mulut dengan gerakan lidah ketika al-Tahnīk dilakukan, sehingga anak siap menyusu, menghisap ASI dengan kuat, membantu pencernaan, menggerakkan darah, memancing nalurinya untuk menyusu. Kemudian, tekanan di bagian langit-langit mulut sang anak ketika al-Tahnīk akan sangat membantunya melafalkan huruf dengan lurus ketika nanti ia sudah masuk usia berbicara.[]

*Catatan merujuk ke Artikel Khidmah al-Markaz al-I’lām al-Araby, yang berjudul Tahnīk al-Maulūd; Sunnah Nabawiyyah wa Fawāid Shihhiyah, yang diterjemahkan, ditambahkan, disusun ulang oleh Denis Arifandi Pakih Sati, tanpa merubah maksud asli dari sang Penulis.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment