Kedudukan Akal Dalam Islam (1)

No Comments
Idealnya, semua agama haruslah tegak di atas akal; logika. Kenyataannya, justru banyak yang menjadikan kebekuan logika sebagai cirinya, memenjarakannya di ruang “abai” dan “cuek”. Bahkan, kondisi seperti itu menjadi ciri utamanya; ciri khas. Berbeda dengan Islam, yang memuji akal dan memuliakannya, membuatkan instrumentnya, menentukan tujuannya, dan menggariskan batasannya.

Menurut bahasa, akal atau al-‘Aql bermakna al-Habs, al-Man’ dan al-Imsâk, yang maknanya adalah menahan. Sebab, ia menahan pemilik akal dan menghalanginya terjerumus ke dalam jurang kehancuran, mencegahnya melakukan sesuatu yang tidak terpuji. (Lihatlah Kitab Lisân al-Arab, 11/ 457. Kemudian Kitab Maqâyis al-Lughah, 4/ 69)

#Kedudukan Akal Dalam Islam (1)

Menurut Istilah, akal terbagi dua. Ada akal Gharîzy Thab’î (naluri alami). Inilah bapaknya ilmu, yang mendidiknya dan menumbuhkembangkannya. Ada akal Kasbî Mustafâd, yang merupakan anaknya ilmu, buahnya, dan konklusinya. (Lihatlah Kitab Miftâh Dâr al-Sa’âdah karya Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, 1/ 118)

Itulah sebabnya, lafadz akal dalam al-Quran digunakan dalam berbagai bentuk. Kadangkala digunakan untuk menyeru manusia mengaktifkan fitrahnya dan akalnya yang sudah ada di dalam dirinya (al-Jibillah). Kadangkala, ia digunakan untuk menyeru para Ahli Ilmu, agar mereka menggunakan Akal Kasbi mereka, yang sudah diasah dengan ilmu dan Logika.

Akal dalam al-Qurân al-Karîm


Jikalau Anda membaca al-Quran, maka Anda akan mendapati penggunaan lafadz akal, ada dalam sejumlah bentuk. Misalnya lafadz Ya’qilûn, Ta’qilûn, Wa Mâ Ya’qiluhâ illa al-Alimûn, dan selainnya.

Ada ayat-ayat yang menjelaskan fungsi akal dalam memahami kalam atau ucapan, seperti firman Allah SWT:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Surat Yusuf: 2)

Dalam ayat lainnya:
۞ أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (Surat al-Baqarah: 75)

Ada ayat-ayat lainnya yang menuntut akal berkontribusi dalam memahami ayat-ayat kauniyah (alam semesta), seperti firman Allah SWT:
وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya)." (Surat al-Nahl: 12)

Ayat-ayat lainnya menjelaskan tugas akal untuk memilih manfaat dan meninggalkan mudharat, seperti firman Allah SWT:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Surat al-An'am: 32)

Banyak ayat-ayat lainnya, jenis serupa, yang menjelaskan tugas-tugas akal dan mendorong pemilik akal untuk menggunakannya sesuai dengan tujuan wujudnya.

Ahli al-Sunnah wa al-Jamâ’ah berpandangan bahwa akal adalah Barang (al-‘Aradh) dan Sifat (al-Shifat) yang tidak berdiri sendiri, tetapi tegak bersama yang lainnya. Orang yang berakal tidak dinamakan berakal sampai ia bersifat dengan akalnya tersebut. (Lihatlah Bughyat al-Murtâd, karya Ibn al-Taimiyah, halaman 25)

Jikalau Anda merenungi Kitabullah, mengkaji tingkatan dalil aqli; logika, maka Anda akan mendapati bahwa Islam membentangkan karpet merahnya untuk akal dan logika, hanya saja ada batasan-batasan dan aturan-aturan penggunaannya. Tidak berlebihan menggunakannya sehingga menjadikannya sebagai penguasa, dan tidak juga mengabaikannya sehingga menafikan hujjahnya dan logikanya ketika berpikir.

Islam Memuliakan Akal


Islam sangat memuliakan akal dan memerintahkan umatnya untuk menggunakannya sebagai jalan mencapai kebenaran. Buktinya bisa kita dapati dalam beberapa point berikut:

Pertama, Akal adalah pokok dari al-Taklîf. Jikalau akal berkurang atau tidak normal, maka al-Taklîf juga gugur, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw, “Pena diangkat dari tiga orang; dari orang yang tidur sampai bangun, dari anak kecil sampai mimpi (baligh), dan dari orang yang gila sampai sadar.” (Hr al-Nasâi dan Ibn Mâjah)

Kedua, Allah SWT menyeru sekalian manusia menggunakan akalnya menggapai kebenaran, dengan cara merenung (al-Tadabbur) dan berpikir (al-Tafakkur). Ada beberapa lafadz yang digunakan, seperti “Mudah-mudahan kalian berpikir.” Atau “Bagi kaum yang memahami.” Atau “ Bagi kaum yang berpikir.” Salah satu contohnya adalah firman Allah SWT, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Surat Ali Imran: 190-191)

Semua ayat di atas menunjukkan urgensi penggunaan akal dan peranannya untuk mendapatkan hidayah. Ketika akal merenungi alam semesta, maka ia akan menunjukinya terhadap wujud Penciptanya dan mengarahkannya untuk menggunakan logikanya. Ia akan mendapati bahwa segala sesuatu ada tujuannya, bisa digunakan sebagai alat Istinbath mengenal sebagian sifat-sifat Allah SWT.

Ia akan berpikir bahwa suatu kesia-siaan jikalau Allah SWT menciptakan semesta, kemudian membiarkannya begitu saja tanpa risalah. Ia membaca wahyu, kemudian ia mendapatkan hidayah seiring pembacaannya.

Ketiga, Allah SWT mencela orang yang tidak menggunakan akalnya, tidak menggunakannya sebagai jalan petunjuk, suka mengekor di dunia pemikiran dan ideologi, taklid buta kepada yang lainnya. Allah SWT berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti." (Surat al-Baqarah: 170-171)

Keempat, Salah satu fungsi akal adalah mengambil manfaat dan faedah dari kisah, hikmah dan pemisalan yang ada di dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (Surat Yusuf: 111), kemudian firman-Nya, "Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (Surat al-Ankabut: 43)

Kelima, Akal memiliki peranan penting untuk mengistinbathkan hukum, mengkaji dalil, mengkritik matan hadits. Semakin akal diluruskan dengan cahaya wakyu, maka ia akan semakin hebat dan semakin besar, dan ia akan semakin mampu berijtihad, mencari kebenaran, dan beristinbath.

Islam memuliakan akal dan menjaganya, mengharamkan segala upaya menafikan akal dan mematikannya, seperti pengharaman terhadap segala hal yang memabukkan dan narkoba. Dalam kajian fikih, kita mengenal adanya Diyat bagi seseorang yang berlaku zalim kepada yang lainnya sehingga menyebabkannya hilang akal.


Akal itu Terbatas


Dalam Islam, akal ada batasannya. Walaupun ia memiliki kemampuan yang besar, namun ia tetap memiliki kelemahan dalam banyak hal. Sebab, sejak awal, Allah SWT memang menciptakannya terbatas. Jikalau keluar dari batasannya, maka pemilik akal akan tersesat dalam kegelapan, tenggelam dalam kerancuan dan kebingungan.

Persis seperti yang dijelaskan oleh al-Imâm al-Syâthiby, dalam Kitabnya al-I’tishâm, 2/ 318:
“Allah SWT menetapkan batasan akal yang tidak bisa dilampuinya. Ia tidak bisa mengetahui semua yang diinginkannya. Kalau seandainya bisa, maka posisinya akan sama dengan al-Bâri; Allah SWT yang mengetahui segala sesuatu yang sudah terjadi, apa yang akan terjadi dan apa yang tidak akan terjadi.”

Akal terbatas jangkauannya. Batasan itu tidak bisa dilaluinya. Terbatas padahal hal-hal yang dijangkau oleh inderanya. Jikalau ia mampu mengetahui adanya Pencipta alam semesta dengan indera yang dimilikinya, namun ia tidak mampu mengungkap detail tentang Pencipta dan bagaimana Penciptanya itu; tidak mampu mengungkap detail masalah ruh dan bagaimana ruh tersebut; bagaimana surga dan negara; dan masalah-masalah ghaib lainnya.

Jikalau Anda sudah memahami keterbatasan akal, maka Anda akan mampu memahami Islam, Anda akan mudah keluar dari lingkaran syubhat dan was-was setan.

Al-Imâm Ibn Taimiyah mengatakan, “Pemberitahuan para Rasul tentang detail yang terjadi pada hari kiamat, tentang detail perintah syariat, tidak akan bisa diketahui oleh manusia dengan akal mereka sendiri, sebagaimana pemberitahun para rasul tentang nama dan sifat Allah SWT, tidak akan bisa dikenali manusia dengan akal mereka, walaupun mereka bisa mengetahui globalnya dengan akal mereka tersebut.” (Lihatlah Kitab al-Risâlah al-Tadammuriyah, halaman 77)

Perlu juga ditegaskan, banyak para pengkaji yang tidak mengetahuinya, bahwa pengetahuan dan kemampuan akal mengenal masalah-masalah yang ada adalah kemampuan yang bersifat Mujmal (global) bukan Mufasshal (detail), parsial bukan konfrehensif.

Akal semata, malah melahirkan perpecahan dan perbedaan, karena tingkat kemampuannya berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Tadi sudah dijelaskan bahwa akal bersifat muktasabah (diusahakan). Intinya sama pada semua anak manusia. Hanya berbeda kemampuan jangkauannya. Dengan akalnya, seorang intelek mampu mengetahui apa yang tidak diketahui orang awam. Bisa jadi apa yang diketahui seorang ilmuwan, tidak diketahui oleh seorang intelek. Makanya, dalam kajian Filsafat, perbedaan itu banyak sekali dalam berbagai masalah. Sampai-sampai, ada ungkapan begini, “Mereka tidak akan bersepakat, kecuali pada kesimpulan ‘Mereka tidak bersepakat.”

***
Selanjutnya: Kedudukan Akal Dalam Islam (2)
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment