Kedudukan Akal Dalam Islam (2)

No Comments
Hubungan antara Akal (al-Aql) dan Dalil (al-Naql) merupakan masalah yang menyibukkan logika kalangan kontemporer, menjadi ruang pemantik syubhat kalangan relatifism-agnogtism, serta kesempatan bagi para pembenci Islam untuk menusuk-nusuk ajaran Islam. Akal pun saling berbenturan dalam memahaminya. Ide dan Usulan pun bermunculan untuk menyikapinya.

Alaminya, hal tersebut terjadi karena  
  1. Lemahnya ilmu agama
  2. Terpengaruh logika sekuler
  3. Berbeda kemampuan logika di sisi lainnya.

#Kedudukan Akal Dalam Islam (2)

Di bagian sebelumnya: Kedudukan Akal Dalam Islam (1), kita sudah menjelaskan kedudukan akal dalam Islam, bagaimana Allah SWT menyuruh para hamba-Nya menggunakan instrumen ini demi meraih kebenaran. Pertanyaannya, bagaimana hubungan akal dengan dalil, ketika yang pertama membenarkan yang kedua? Memastikan kebenarannya dan menegaskan keshahihannya?

Begini jawabannya...

Akal bukanlah hukum mutlak atas Dalil (al-Naql). Cobalah Anda perhatikan lomba lari estafet. Ketika pelari pertama melaju dan sudah berlari sekian kilometer, bukanlah ia akan segera memberikan tongkat estafet ke pelari selanjutnya untuk segera menyelesaikan pertandingan dan memenangkan pertandingan?

Begitulah kira-kira contohnya hubungan antara akal dengan dalil. Orang pertama adalah orang yang menyampaikan risalah hakiki, menegaskan perintah agama yang bersifat given. Siapa pun Nabinya, beliau pastinya adalah sosok yang jujur. Ketiga tugasnya sudah selesai, maka ia memberikan tongkat estafetnya ke pelari peralih. Proses peralihan itu adalah landasan Logika-Pencarian. Tidak ada lagi kesempatan untuk merenungi masalah-masalah ghaib, karena tidak memiliki instrument-instrumen menyelaminya, seperti masalah beristiwa' di Arsy, bagaimana manusia akan melewati jembatan (al-Shirat)?

Akal mempercayai kejujuran sosok yang memberitahukan (al-Mukhbir), Pencipta langit tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang mampu menundukkannya. Kebijaksanaan-Nya mutlak. Kekuasaan-Nya mutlak. Berserah diri merupakan konklusi logika.

Ketika itu, peranan akal terhadap dalil adalah alat Istinbath, bekerja berdasarkan Ushul dan kaedah tertentu yang merupakan kaloborasi antara akal dan dalil, untuk mengatur proses terjadinya yang terjadi, menjamin tidak mengedepan hawa nafsu atau penyelewengan dalam masalah-masalah Ijtihad. Sebab, akal semata adalah alat yang bisa benar dan bisa salah.

Di sisi lainnya, logika nyata tidak akan bertentangan dengan dalil shahih, sebab Allah SWT pencipta semesta, penuh hikmah, kuasa, dan iradah, membalas kebaikan bagi orang-orang beriman dan menghukum orang-orang yang kafir, menciptakan akal dan logika, Maha Sempurna.

Maka, Dia sama sekali tidak mewahyukan sesuatu yang bertentangan dengan logika nyata. Waham kontradiksi tidak akan muncul kecuali ketika dalil tidak memiliki ruang diselami logika, seperti mukjizat Isra’ dan Mi’raj; Nabi mampu menjelajahi jarak jauh dalam jangka waktu singkat. Dalam kondisi seperti inilah akal menjalankan peranannya untuk al-Taslîm (mutlak percaya dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT).

Contohnya, seseorang yang hidup di zaman sekarang, kemudian berucap kepada seseorang yang hidup di zaman jahiliyyah, “Saya dari Moroko ke Makkah, hanya satu hari saja pakai pesawat.” Laki-laki yang berucap itu jujur. Hanya saja akal mereka yang hidup di zaman jahiliyyah tidak akan mampu membayangkannya; membayangkan bagaimana jarak yang begitu jauh, biasanya mereka tempuh berbulan-bulan dengan unta, bisa ditembus dalam satu hari saja.

Silahkan Logikakan…

Berdasarkan hal ini, para ulama mengatakan bahwa para Nabi datang dengan membawa kabar-kabar yang Muhârât al-‘Uqûl (Membingungkan Logika), Bukan Muhâlât al-‘Aql (Dimustahilkan Logika). Maksudnya, akal menyadari tidak dustanya kabar-kabar tersebut, tapi ia tidak mampu mendeskripsikannya, susah mengkhayalkannya. Ibn Taimiyah mengatakan dalam Kitab al-Jawâb al-Shahîh, 4/ 391:
“Wajib dibedakan antara sesuatu yang diketahui akal ketidakshahihannya dan ketidakmungkinannya, dengan sesuatu yang tidak mampu akal untuk mendeskripsikannya dan mengenalinya. Jenis yang pertama adalah Muhâlât al-‘Uqûl, dan jenis yang kedua adalah Muhârât al-‘Uqûl. Para Rasul diutus dengan kabar-kabar yang kedua.”

Ia juga mengatakan di bagian lainnya (Kitab al-Jawâb al-Shahîh, 4/ 400):
“Para Nabi kadangkala memberitahukan sesuatu yang tidak mampu dikenali oleh Logika, bukan dengan sesuatu yang akal mampu mengetahui ketidakshahihannya. Mereka membawa kabar yang Muhârât al-‘Uqûl, bukan Muhâlât al-‘Uqûl.”

Makanya, ada di antara aliran-aliran dalam Islam yang tersesat, ketika mereka menggunakan akal mereka untuk membatalkan nash-nash yang shahih dan menginterpretasinya (takwil) dengan makna yang tidak dikandungnya, seperti kelompok al-Mu’tazilah, al-Mujassimah, dan lain-lain.

Hubungan akal dengan dalil, dalam masalah akidah, layaknya hubungan antara orang awam yang muqallid dengan alim yang mujtahid. Bahkan, hubungannya lebih rendah lagi. Sebab pada dasarnya, Allah SWT menyifati diri-Nya dengan apa yang disifati oleh diri-Nya sendiri, atau disifati oleh Nabi Muhammad Saw, baik al-Nafi maupun al-Itsbât. Kita mengimaninya tanpa al-Takyîf, tidak juga al-Tamtsîl, tidak juga al-Tahrîf, dan tidak juga al-Ta’thîl, menetapkan sifat-sifat dengan menafikan kesamaan dengan makhluk. Kita menetapkan tapi tidak melakukan al-Tasybîh. Kita menyucikan tapi tidak menasfikan.

Namun dalam hal-hal yang berhubungan dengan al-Furû’ (cabang), ia memiliki peranan dalam Istinbath, memahami, dan menafsirkan. Akal ini maksudnya adalah akal yang diluruskan oleh wahyu, bukan logika semata; akal yang tunduk keada kaedah-kaedah dan dasar-dasar, luwes dalam ilmu-ilmu syariat.

Akal juga berperan untuk kritik hadits, yang terbagi menjadi dua bagian:
  1. Tamhîsh al-Sanad, yaitu mengenal kondisi para perawi dan sifat al-Adâlah yang ada pada diri mereka.
  2. Tamhîsh al-Matan, yang merupakan proses penting dalam menyaring hadits.
Ada sejumlah syarat yang ditetapkan oleh para Ulama untuk sah atau shahihnya Matan Hadits, yang dirangkum oleh Syeikh Musthafa al-Sibâ’I dalam Kitabnya al-Sunnah wa Makânatuhâ fî al-Tasyrî’, halaman 116:
  1. Lafadznya tidak rancu, tidak mungkin diucapkan oleh seseorang yang bagus bahasanya dan fasih.
  2. Tidak bertentangan dengan logika sehat, tidak mungkin dinterpretasi.
  3. Tidak bertentangan dengan kaedah-kaedah umum dalam hokum dan etika.
  4. Tidak bertentangan dengan indera dan persaksian, serta fakta sejarah
  5. Tidak menyeru hal-hal hina yang tidak direkomendasikan dalam syariat.
  6. Tidak bertentangan dengan logika Sifat-Sifat Allah SWT dalam Ushul al-Aqidah, kemudian tidak juga bertentangan dengan para Rasul-Nya.
  7. Tidak bertentangan dengan al-Quran al-Karim atau sunnah yang muhkam atau ijma atau hal urgen dalam agama, tidak mengandung intrpretasi (al-Ta’wîl)

Syeikh Waliyullah al-Dahlawy juga menjelaskan hal yang sama dalam kitabnya al-‘Ajâlah al-Nâfi’ah.

Ibn al-Jauzy mengatakan, sebagaimana dalam kitab Tadrîd al-Râwi karya al-Suyûthy, 1/ 274:
“Jikalau Anda melihat hadits bertentangan dengan logika atau bertentangan dengan al-Manqûl (hadits), atau bertentangan dengan Ushul, maka ketahuilah bahwa ia al-Maudhû’ (palsu).”

Kritik Matan (Naqd al-Matan) banyak digunakan oleh para sahabat, di antaranya adalah Aisyah Umm al-Mukminin, Ibn Abbas, dan Ibn Umar. Untuk lebih dalam, silahkan lihat kitab al-Ijâbah karya al-Zarkary, kemudian Kitab Maqâyis al-Mutûn karya Musfir al-Damîny.

Mustahil akan terjadi kontradiksi antara logika nyata dengan dalil shahih. Itulah konklusi yang dihasilkan oleh Ibn Taimiyah dalam kitabnya Dar al-Mafâsid, 1/ 148:
“Sesuatu yang bisa diketahui dengan Logika Nyata, tidak akan bertentangan dengan syariat. Bahkan, nash yang shahih tidak akan pernah bertentangan dengan Logika Nyata. Saya sudah memperhatikannya dalam masalah-masalah yang diperdebatkan khalayak. Saya mendapati, sesuatu yang bertentangan dengan nash-nash yang shahih adalah syubhat-syubhat yang rusak, yang dengan mudah bisa dikenali dengan logika. Bahkan, dengan logika semata, bisa diketahui anonimnya yang sesuai dengan syariat. Saya mendapati, sesuatu yang diketahui dengan Logika Nyata, tidak akan bertentangan dengan Nash sedikit pun, bahkan Nash yang bertentangan denganya; bisa jadi adalah hadist Maudhu’ atau Dilâlah Dha’îfah. Sehingga tidak layak dijadikan dalil, walaupun dilepaskan dari kontradiksi logika nyata, apalagi jikalau nyata-nyata bertentangan dengan Logika Nyata.”

Dengan begitu bisa disimpulkan, kontradiksi antara Logika (al-Aql) dengan Dalil (al-Naql) adalah Mitos, Khurafat. Pangkalnya adalah berbedanya kemampuan logika, menyerah terhadap syubhat, tidak mengekang diri dengan sistematika logika nyata atau sistematika logika yang benar. []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment