Ketika Ulama Mengoreksi Lagi Pandangan Fikihnya (1)

Di antara fenomena ilmiah yang seringkali disalahpahami sebagian orang adalah fenomena al-Tarâju’at al-Fiqhiyyah, yaitu ketika seorang ulama mengoreksi pandangan fikihnya dan menarik pandangan sebelumnya, atau fenomena ketika seorang Mufti mengoreksi fatwanya atau mengubahnya. Fenomena ini sudah ada semenjak zaman Nabi Muhammad Saw.

Salah satunya adalah hadits riwayat Muslim dalam Shahihnya, dari Abu Qatadah, ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasullah, bagaimana pandangan Anda, jikalau saya dibunuh di jalan Allah SWT dalam kondisi bersabar, ikhlas, maju ke medan perang dan berpaling, apakah Allah SWT mengampunkan kesalahan-kesalahan saya?” Beliau menjawab, ‘Ya.” Ketika ia berpaling, beliau kembali memanggilnya dan berkata, “Ya, kecuali hutang. Begitulah yang dikatakan Jibril.” (Hr Muslim)

#Ketika Ulama Mengoreksi Lagi Pandangan Fikihnya (1)

Pada awalnya,  Rasulullah Saw berfatwa gugurnya semua dosa karena syahid di jalan Allah SWT, kemudian Jibril turun dan meluruskan fatwa Rasullah Saw bahwa Syahid memang memggugurkan semua dosa kecuali hutang. Kemudian beliau memanggil lagi laki-laki tersebut dan mengoreksi fatwanya.

Hal tersebut juga terjadi di zaman sahabat. Salah satu kisahnya diriwayatkan oleh al-Hakam bin Mas’ud al-Tsaqafy, Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu memutuskan masalah perempuan yang meninggal, kemudian meninggalkan suaminya, ibunya dan saudara-saudara sebapaknya, ibunya dan saudara-saudara seibunya. Ia memutuskan saudara seibu sebapak dan saudara seibu, bersekutu mendapatkan sepertiga. Kemudian ada seseorang yang berkata kepadanya, “Pada tahun ini dan ini, engkau tidak menetapkan mereka bersekutu?” Ia menjawab, “Itu yang kami putuskan ketika itu. Hari ini, ini yang kami putuskan.” (10/ 120, dengan pensanadan yang shahih)

Umar bin al-Khattab menggunakan kedua ijtihad, sesuai dengan kebenaran pandangannya. Keputusan di perkara yang pertama, tidak menghalanginya untuk menggunakan keputusan yang kedua. Keputusan yang pertama, tidak batal karena yang kedua.

Imam 4 Mazhab yang Mengoreksi Kembali Pandangannya


Mari sekarang kita lihat para Imam 4 Mazhab yang mengoreksi kembali pandangan fikihnya:

Pertama, Imam Malik
Dari Abdurrahman bin Wahb, mendengar pamannya berkata, ia mendengar Malik ditanya tentang menyela jari-jari kedua kaki ketika wudhu, ia menjawab, “Tidak ada keharusan melakukannya.” Pamannya tersebut diam saja, sampai orang-orang agak lengang, kemudian ia menghampiri Malik dan berkata, “Wahai Abu Abdillah, saya tadi mendengar fatwamu kepada khalayak tentang masalah menyela jari kedua kaki. Engkau mengatakan bahwa tidak ada keharusan melakukannya. Kami memiliki riwayat sunnah mengenai masalah tersebut.” Ia berkata, “Apa?” Pamannya menjawab, “Bercerita kepada kami al-Laits bin Saad, Ibn Luhai’ah, dan Amru bin al-Harits, dari Yazid bin Amru al-Mu’afiry, dari Abu Abdurrahman al-Hably, dari al-Mustawrid bin Syaddad al-Qursy berkata, “Saya melihat Rasullah Saw memijat dengan telunjuknya di antara jari-jari kedua kakinya.” Ia berkata, “Ini hadits yang baik, saya tidak pernah mendengarnya kecuali ini.” Setelah itu saya mendengarnya ditanya lagi, dan ia memerintahkan untuk menyela jari-hari kedua kaki.” (Hr al-Baihaqi dalam al-Sunan, hadits 361)

Kedua, Imam Abu Hanifah dan Para Pengikutnya
Imam Abu Hanifah mengoreksi sejumlah pendapatnya, sampai ada tulisan khusus yang menjelaskan tentang revisi-revisi pendapatnya. Ketika Abu Yusuf bertemu dengan Imam Malik di Madinah, ia bertanya tentang sebab perbedaan Imam Malik dengan Imam Abu Hanifah seputar ukuran Sha’ dan Mud.

Imam Malik memerintahkan penduduk Madinah untuk membawakan Sha’ mereka. Mereka menyatakan, sanad mereka dalam Sha’ ini adalah generasi mereka terdahulu.

Malik berkata kepada Abu Yusuf, “Menurut pendapatmu, apakah mereka berdusta?”  Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah. Mereka tidak berdusta.” Malik berkata, “Saya meneliti Sha’ ini, saya mendapatinya lima sepertiga liter, wahai Penduduk Irak.”

Abu Yusuf memerintahkan, “Saya rujuk kepada pendapatmu wahai Abu Abdullah. Jikalau sahabatku (Abu Hanifah) melihat seperti apa yang saya lihat, ia akan berpendapat dengan pendapatku.”

Ketiga, Imam al-Syafii
Kalau Imam al-Syafii, rasanya tidak perlu disebutkan contohnya. Jikalau kita membaca kitab-kitab Mazhab Syafii, maka kita akan mendapati masalah-masalah yang komentarnya, “Pendapatnya dahulu begini. Kalau baru begini.”

Keempat, Imam Ahmad
Dalam al-Mughny dijelaskan, Ali bin Said al-Razi berkata, “Saya bertanya kepada Imam Ahmad mengenai Shalat Tasbih, kemudian ia menjawab, ‘Menurutku, tidak ada riwayat yang shahih.’ Saya bertanya, ‘Abdullah bin Amru?’ Ia menjawab, ‘Semua yang diriwayatkan dari Amru bin Malik, ada komentarnya.’ Saya berkata, ‘Diriwayatkan oleh al-Mustamir bin al-Rayyan, dari Abu al-Jauza’.’ Ia bertanya, ‘Siapa yang memberitahumu?’ Saya menjawab, ‘Muslim (ibn Ibrahim).’ Ia berkata, ‘Al-Mustamir adalah Syeikh yang tsiqah.’ Ia takjub.”

Ibn Hajar al-Asqalany berkata, “Pada awalnya, masalah tersebut tidak sampai kabarnya kepada Ahmad, kecuali dari jalur periwayatan Amru bin Malik, yang merupakan seorang al-Nakri (munkar). Ketika ia mendengar adanya jalur riwayat al-Mustamir, ia kagum. Lahirnya, ia rujuk dari pendapat sebelumnya yang mendhaifkannya.” (Lihatlah al-Lali al-Mashnuah fi al-Ahadits al-Maudhuah, 2/ 43)

Kelima, Ibn Taimiyah
Di antara pendapatnya yang dikoreksi oleh Ibn Taimiyah adalah jangka waktu mengusap al-Khuff (sepatu). Awalnya, ia berpendapat 24 jam bagi yang berstatus mukim, kemudian tiga hari untuk yang berstatus musafir. Kemudian akhirnya ia mengoreksi bahwa tidak ada batasan waktu untuk kondisi darurat dan ada kebutuhan.

Ia mengatakan, “Ketika saya menempuh perjalanan panjang, masa mengusap sudah selesai, namun perjalanan belum berujung. Tidak mungkin dilepas dan berwudhu kecuali ditinggalkan oleh rombongan atau kondisinya tidak mungkin untuk berdiri. Kuat dugaanku setelahnya tidak ada jangka waktu ketika memang ada hajat.” (Lihat Majmu’ al-Fatawa: 21/ 215)

Para Ulama Kontemporer yang Mengoreksi Pendapatnya


Sebagai contoh, kita bisa melihat beberapa ulama kontemporer yang mengoreksi pendapat dan fatwa mereka dalam sejumlah masalah.

Pertama, Syeikh Muhammad Nashir al-Din al-Albany
Ia merupakan sosok ulama yang dikenal banyak melakukan penelitian ilmiah di zaman kita. Ia banyak melakukan revisi hukum terhadap sejumlah hadits. Pada awalnya ia mendhaifkan, kemudian ia menemukan sesuatu baru yang membuatnya mengubah ijtihadnya, kemudian ia memshahihkannya atau sebaliknya. Sebagian besar hukum fikih berubah mengikuti perubahan hukum hadits.

Kedua, Syeikh Syuaib al-Arnauth
Apa yang dialami Syeikh al-Albany, bukan ia semata yang mengalaminya. Syeikh Syuaib al-Arnauth juga.

Pendapat dahulunya, ketika mentakhrij hadits-hadits Zaad al-Maad, ada hadits yang dihukumnya Hasan. Pendapat terbarunya, ketika ia mentakhrij al-Musnad, ia menghukumi hadits serupa dengan Dhaif.

Al-Syeikh al-Qaradhawi mengomentari revisinya ini dengan mengatakan, “Takhrijnya terhadap al-Musnad, ia berada dalam posisi lebih matang dan lebih independen di satu sisi. Esok, ada lima ulama lainnya yang akan bersamanya. Ini adalah kerja bersama yang berharga.”

Ketiga, Syeikh Yusuf al-Qaradhawi
Revisi pendapat atau fatwa ini, juga dilakukan oleh pakar fikih kontemporer Syeikh Yusuf al-Qaradhawi. Misalnya fatwa bolehnya masuk ke Knesset (Parlemen Israel). Pada awalnya, ia membolehkan. Kemudian, ia melarang dan mengharamkan.

Ia mengatakan dalam fatwa terbarunya, “Nyata bagiku, setelah mengkaji berbagai pandangan, mengkaji lebih dalam, mengkaji berbagai sisi gelapnya; sikap yang benar –sesuai syariat Islam, menolak masuk ke Parlemen Zionis (Knesset). Sebab tindakan tersebut menunjukkan pengakuan tidak lansung terhadap hak wujud mereka atau hak eksistensi mereka di bumi terjajah.”

Keempat, Syeikh Muhammad Shaleh al-Utsaimin
Ia banyak rujuk dalam berbagai masalah, salah satunya masalah Tahiyyat al-Masjid, dengan mengatakan, “Dahulu, saya mengatakan wajibnya mengerjakan Tahiyyat al-Masjid. Namun setelah itu, pendapat yang kuat menurutku adalah tidak wajib. Tetapi, jikalau ada yang menyatakan wajib, maka kita tidak bersikap keras kepadanya atau mengingkarinya.”

Contoh lainnya adalah masalah Jalsat al-Istirahah (duduk istirahat). Ia mengatakan, “Jikalau seseorang membutuhkannya, maka ia menjadi Wajib li Ghairiha (wajib karena sebab lainnya), agar bisa nyaman dan tidak menyulitkan. Namun jikalau tidak butuh, maka tidak wajib. Saya condong dengan pendapat yang menyatakan hukumnya sunnah secara Mutlak. Selayaknya seseorang itu duduk istirahat. Saya juga melakukannya jikalau saya menjadi Imam. Setelah lama mengkaji, nyata bagiku bahwa pendapat yang diperinci tersebut adalah pendapat yang moderat; lebih kuat dari pendapat yang menyatakan bahwa ia mutlak sunnah. Walaupun pendapat yang rajih dalam masalah ini. tidaklah rajih menurutku. Tetapi jiwaku lebih condong. Dan saya berpegang dengan pendapat tersebut.” []
___
Baca Selanjutnya: Ketika Ulama Mengoreksi Lagi Pandangan Fikihnya (2)

No comments

Powered by Blogger.