Ketika Ulama Mengoreksi Lagi Pandangan Fikihnya (2)

Di bagian sebelumnya, kita sudah mengkaji panjang lebar masalah: Ketika Ulama Mengoreksi Lagi Pandangan Fikihnya (1). Kita sudah menjelaskan berbagai contoh koreksi pandangan fikih atau koreksi fatwa yang dilakukan di zaman kenabian dan zaman khalifah rasyidin, kemudian juga dijelaskan contoh koreksi pandangan fikih atau fatwa di kalangan Imam 4 Mazhab dan ulama kontemporer.

Sekarang, mari kita lihat apa saja sebab dan faktor yang menyebabkan koreksi pandangan fikih atau fatwa tersebut, walaupun sebenarnya kita sudah bisa meraba-raba alasan di balik terjadinya.

#Ketika Ulama Mengoreksi Lagi Pandangan Fikihnya (2)

Perubahan Kebiasaan/ al-‘Urf

Sebab ini bukan tujuan pembahasan kita kali ini. Untuk sebab yang satu ini, tidak ada masalah sama sekali. Hakikatnya, yang berubah bukanlah Ijtihadnya, namun realita yang terjadi. Masalah yang terdahulu, tidak sama dengan masalah yang baru saja terjadi atau terbaru. Inilah alasannya, kenapa contoh yang kami paparkan bukanlah contoh-contoh yang mengalami perubahan, dan bukan pula contoh yang berubah karena al-‘Urf.

Tekanan Hajat (Kebutuhan)

Hajat atau kebutuhan yang menekan, kedudukannya sama dengan kondisi darurat. Jikalau pada awalnya, cakupannya sempit, hanya mencakup satu dua orang saja, namun seiring perjalanan waktu ia semakin luas dengan mencakup kelompok manusia atau masyarakat.

Contohnya adalah fatwa Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi yang membolehkan pembelian rumah dengan peminjaman berbunga atau riba di negara-negara Barat, yaitu ketika kondisinya tidak memungkinkan membeli rumah tersebut kecuali melalui Pinjaman Ribawi. Padahal pendapat sebelumnya, ia tegas mengharamkannya.

Tekanan kebutuhan, rintihan orang-orang yang membutuhkan, aduan berulang-ulang, dan melihat lansung realitanya, membuatnya mengubah fatwanya. Dan ini juga yang pada akhirnya menjadi pendapat al-Majlis al-Uruby li al-Ifta wa al-Buhuts.

Tidak ada yang mengingkari, ketika seorang peminta fatwa (al-Mustafti) bersikap ngeyel, ia membuat pemberi fatwa (al-Mufti) beralih dari jenjang al-Afdhal (lebih baik) ke jenjang al-Fadhil (baik), atau membuatnya melunak karena merasakan hajat besar al-Mustafti sehingga memberikannya keringanan (al-Rukhsah).

Diriwayatkan oleh Ibn Abbas radhiyallahu anhu, seseorang mendatangi Nabi Muhammad Saw dan berkata, “Saya memiliki istri yang tidak menolak sentuhan laki-laki lainnya.” Beliau menjawab, “Ceraikan.” Ia berkata, “Tapi saya mencintainya.” Beliau berkata, “Kalau begitu, pertahankan.” (Shahih Sunan al-Turmudzi, 3465)

Terpaksa

Kadangkala, seorang Mufti dipaksa merevisi fatwanya karena sebab tertentu, seperti diancam nyawanya atau hartanya atau anaknya, seperti yang terjadi di zaman Imam Ahmad rahimahullah, yaitu ketika terjadi peristiwa al-Mihnah (fitnah masalah penciptaan al-Quran). Sebagian besar ulama pada zamannya berfatwa dengan fatwa yang sesuai dengan pendapat kelompok al-Mu’tazilah.

Salah satu riwayat sejarah menjelaskan, sebagaimana terdapat dalam Kitab Mizan al-I’tidal, ketika salah seorang Mufti ditanya mengenai penciptaan al-Quran, ia menjawab berkebalikan dengan fatwa yang dahulu pernah difatwakannya. Ia menjelaskan, “Saya takut dibunuh. Jikalau saya dicambuk, saya akan mati.”

Berdasarkan riwayat ini dan riwayat sejenis, kita bisa mengetahui bagaimana keadaan mereka yang dihadapkan dengan pedang; berfatwa sesuai dengan pesanan atau dibunuh. Hal itu memaksanya untuk berfatwa dan merevisi fatwanya terdahulu. Hanya saja, revisi yang seperti ini, sama sekali tidak dianggap. Tidak bisa dijadikan sebagai landasan ibadah.  Dan Mufti juga tidak boleh dikritik tajam atau diserang karena fatwanya tersebut. Sebab, ia terpaksa.

Ijtihad Pertama yang Salah

Ketika seorang Mujtahid atau Mufti atau Ahli Fikih sadar dengan kesalagan Ijtihadnya terdahulu, maka ia akan merevisi pendapatnya. Hanay saja, sebab terjadinya kesalahan tersebut, perlu juga dijelaskan lebih lanjut.

Pertama, Lupa atau Tersalah
Misalnya adalah hadits yang disebutkan oleh al-Albany, “Hadramaut lebih baik dari Bani al-Harits.” Al-Albany menyebutkannya dalam Dhaif al-Jami’, kemudian menyebutkannya dalam al-Silsilah al-Shahihah (7/ 121), “Terjadi kelupaan di Kitab Dhaif al-Jami’ (7225). Seharusnya, ia di Shahih al-Jami’. Maka, dipindahkanlah ke kitab tersebut. Saya memohon ampunan kepada Allah SWT dan bertaubat.

Kedua, Bertambah Luasnya Ilmu
Ketika ilmu bertambah luas dari sebelumnya, semakin banyak dari sebelumnya, atau masalahnya kembali dikaji dan didalami secara konfrehensif, maka kadangkala akan terjadi revisi pandangan atau pendapat atau fatwa.


Ketiga, Terlalu Menganggap Besar Kesalahan Mujtahid
Sebagian orang menganggap revisi yang dilakukan seorang ulama sebagai masalah besar, baik yang berpangkal dari kesalahan atau minimnya ilmu atau minimnya keahlian fikih atau lupa atau tidak tahu jikalau ada yang berbeda, khususnya para pemuda yang bertugas memikul beban agama ini, yang berpandangan bahwa Allah SWT menjaga agama ini dengan menjaga para ulama dari ketegelinciran dan kesalahan.

Aslinya, ini merupakan gambaran salah yang muncul di benak para pemuda tersebut, menempatkan al-‘Ishmah bukan pada tempatnya. Tidak ada seorang pun Mujtahid kecuali bisa melakukan kesalahan, selain Rasulullah Saw. Bahkan, Rasulullah Saw tidak Ma’shum dari kesalahan dalam berijtihad, tetapi beliau Ma’shum dari keputusan salah. Beliau mungkin salah, namun wahyu meluruskan, sebagaimana kasus yang terjadi dalam hadits tentang diampunkan dosa orang yang syahid di jalan Allah SWT.

Penyebab munculnya sikap seperti ini, tidak bisa dilepaskan dari dua sebab utama:

1-Tidak Mengenal Makna Ijtihad dengan Baik
Sebagian pemuda berpandangan bahwa Ijtihad haruslah benar. Ini pandangan yang salah. Ijitihad hanya boleh dilakukan oleh Mujtahid yang memiliki kelayakan berijtihad, mengerahkan segenap kemampuannya; bisa jadi ia mendapatkan kebenaran, dan bisa jadi ia salah.

Dalam kisah perang Bani Quraizhah, Nabi Muhammad Saw tidak mencela seorang pun dari kedua kelompok. Padahal keduanya saling kontradiksi; saling bertolakbelakang. Salah satu kelompok mengerjakan shalat Ashar, dengan berpandangan bahwa itulah yang benar. Sedangkan kelompok lainnya menunda shalat Ashar setelah shalat Maghrib, dengan berkeyakinan itulah yang benar.

2-Mereka Menduga, Ijtihad yang Salah Tidak akan Menggugurkan Dosa

Ada di antara mereka yang mengatakan, “Jikalau Mujtahid tersebut merevisi pandangannya, maka apa yang kita lakukan? Kita sudah lama menjalankan ijtihadnya yang salah? Bagaimana kita meluruskan kesalahan selama ini?”

Penting diketahui, orang yang benar dalam ijtihadnya mendapatkan pahala (al-Ma’jur), dan orang yang salah dalam Ijtihadnya juga diberikan uzur (al-Ma’dzur), bahkan ia tetap mendapatkan pahala sesuai dengan Nash hadits. Diriwayatkan oleh Amru bin al-‘Ash, ia mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Jikalau hakim menetapkan hukum, kemudian ia berijtihad dan benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Jikalau ia menetapkan hukum dan berijtihad, kemudian salah, maka ia mendapatkan satu pahala.” (Kitab al-Lu’lu wa al-Marjan, disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim 2/ 195)

Asalkan ijtihad itu dilakukan oleh orang-orang yang memenuhi syarat-syarat Ijtihad. Jikalau ia berijtihad, padahal tidak memenuhi syarat, maka ia berdosa.

Ketika ulama melakukan kesalahan, sebagian pemuda berpandangan bahwa mereka bisa berijtihad memahami agama. Alasannya, jikalau semua bisa melakukan kesalahan, kemudian dosanya diampuni, kenapa Ijtihad hanya bisa dilakukan ulama?

Jawabnya, dosa kesalahan dalam berijtihad, hanya diangkat dari orang-orang yang memenuhi syarat-syarat Ijtihad, bukan semua orang. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah Saw tidak menyukai orang yang berijtihad tanpa ilmu. Ada sahabat yang berfatwa terkait orang terluka parah ketika hari dingin untuk wajib mandi. Ia pun mandi, dan meninggal. Rasulullah Saw mengecam dan bersabda, “Mereka membunuhnya, semoga Allah SWT membunuh mereka. Kenapa mereka tidak bertanya jikalau tidak tahu? Obat tidak tahu adalah bertanya.” (Muttafaq alaihi)

Sebaliknya, ketika Bilal melakukan kesalahan, dengan membeli satu Sha’ dengan dua Sha’, sehingga terjadi riba, maka Nabi Muhammad Saw memerintahkannya untuk mengembalikan barang tersebut tanpa menyatakannya fasik atau melaknatnya atau bersikap kasar kepadanya. Sebab, Bilal adalah Ahli Ijtihad; memenuhi syarat berijtihad.

Memalsukan Agama

Di sebab seorang Mufti merevisi fatwanya; gagal dalam ujian, mendahulukan dunia dari agama, sebagaimana Allah SWT memisalkan mereka dalam firman-Nya:
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ
Maka kecelakaan yAng besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan." (Surat al-Baqarah: 79)

Dan firman-Nya:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَىٰ نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ ۖ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا ۖ وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia". Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?" Katakanlah: "Allah-lah (yang menurunkannya)", kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya." (Surat al-An'am: 91)

Ini banyak terjadi di kalangan Ulama Sulthah (Ulama Penguasa), yang memalsukan agama sesuai dengan hawa nafsu penguasa. Wajib meragui seorang ulama yang mengubah Ijtihadnya setelah dikalungkan di lehernya kuasa agama di Negara, khususnya dalam masalah-masalah yang ingin dikuatkan oleh Negara.

Hal yang sama juga wajib bagi peneliti  ketika mendapati seorang Ulama mengubah semua pemikirannya dan semua Ijtihadnya setelah ia mati-matian membela Ijtihad pertamanya. []

No comments

Powered by Blogger.