Kewajiban Beriman Kepada Allah SWT

No Comments
(Kajian Kitab Minhaj al-Muslim, Karya Syeikh Abu Bakar al-Jazairy)
***

Seorang muslim wajib beriman kepada Allah SWT dengan membenarkan wujud-Nya. Dialah yang menciptakan langit dan bumi, mengetahui nyata dan ghaib, Rabb segala sesuatu dan Penguasanya, Tidak ada Ilah melainkan diri-Nya, tidak ada Rabb selain-Nya. Dia Maha Mulia, disifati dengan segala kesempurnaan, suci dari segala kekurangan. Semua itu berdasarkan petunjuk (hidayah) Allah SWT sebelum petunjuk apapun, sesuai dengan firman Allah SWT:
وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ
“Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (Surat al-A’râf: 43)

Kemudian juga berdasarkan dalil-dalil naqli dan aqli berikut ini.

#Kewajiban Beriman Kepada Allah SWT

Dalil Naqli; al-Quran dan Sunnah (Hadits)


Pertama, Allah SWT memberitahukan sendiri mengenai wujud-Nya, mengenai ketuhanan-Nya kepada para makhluk-Nya, tentang Asmâ’-Nya (nama-nama) dan Shifat-Nya (sifat-sifat), sebagaimana tertera dalam al-Quran al-Karim:
 “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Surat al-A’râf: 54)

Kemudian firman-Nya ketika menyeru Musa alaihissalam di pinggir lembah di bagian paling kanannya, di pada tempat yang diberkahi dari sebatang pohon kayu:
 “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.” (Surat al-Qašaš: 30)

Dan firman-Nya:
 “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Surat Ťaha: 14)

Dan firman-Nya yang mengagungkan diri-Nya sendiri, menyebut asmâ-Nya dan šifat-Nya:
“Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. * Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. * Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat al-Hasyr: 22-24)

Kemudian firman-Nya yang memuji diri-Nya sendiri:
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. * Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. * Yang menguasai di Hari Pembalasan.” (Surat al-Fâtihah: 2-4)

Dan firman-Nya untuk kita kaum muslimin:
 “Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Surat al-Anbiyâ’: 92)

Kemudian dalam ayat surat al-Mukminûn: “Dan Aku adalah Tuhanmu, maka Bertakwalah kepada Aku.”

Kemudian firman-Nya yang membantah tuduhahan adanya Rabb selain diri-Nya atau Tuhan selainnya di Bumi dan di Langit:
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (Surat al-Anbiyâ’: 22)

Kedua, Pemberitahun sekitar 124 ribu Nabi dan Rasul mengenai wujud Allah SWT dan tentang ketuhanannya kepada seluruh alam, tentang makhluk-Nya, tentang apa yang dilakukan-Nya terhadap makhluk-Nya, tentang asmâ-Nya dan Ŝifat-Nya. Tidak ada seorang Nabi atau Rasul pun kecuali Allah SWT sudah berbicara kepadanya atau mengutus utusan-Nya atau menetapkan di dalam hatinya suatu bukti bahwa itu adalah Kalamullah atau wahyu-Nya.

Kabar yang disampaikan oleh jumlah besar ini, dari kalangan manusia-manusia yang suci dan terbaik, mustahil untuk didustai, sebagaimana mereka tidak mungkin sepakat berdusta. Kabar yang mereka sampaikan tentang sesuatu yang tidak ghaib, kemudian mereka mewujudkannya, memastikan kebenarannya, dan meyakininya, merupakan sebuah bukti. Mereka adalah manusia terbaik, memiliki jiwa paling suci, logika paling kuat, dan pembicaraan yang paling layak dipercayai.

Ketiga, Berimannya milyaran manusia. Mereka meyakini wujud Allah SWT, beribadah kepada-Nya dan menaati-Nya adalah bukti lainnya. Padahal biasanya, cukup dengan satu dua orang saja, sesuatu itu sudah layak dipercayai. Bagaimana dengan Jamaah, umat, dan jumlah manusia yang tidak terhitung? Ditambah dengan bukti logika dan fitrah manusia yang membenarkan apa yang mereka percayai dan beritahukan.

Keempat, Pemberitahuan jutaan Ulama (Ilmuwan) mengenai wujud Allah SWT, Ŝifat-Nya, asmâ-Nya, dan ketuhanan-Nya terhadap segala sesuatu, serta kemampuan-Nya melakukan segala sesuatu, merupakan bukti selanjutnya. Dengan bukti tersebut, mereka menyembah-Nya dan menaati-Nya. Mereka mencintai-Nya dan membenci sesuatu karena-Nya.

Dalil Aqli/ Logika


Pertama, Wujud Alam yang beraneka ragam, kemudian wujud makhluk yang banyak dan beraneka rupa, merupakan bukti wujud Penciptanya, dan ia adalah Allah SWT. Sebab, tidak ada satu pun di alam ini yang mengklaim penciptanya selain diri-Nya. Logika tidak bisa menerima jikalau sesuatu ada tanpa ada yang mengadakannya. Bahkan, sesuatu yang sederhana saja, tidak mungkin ada tanpa ada yang mengadakannya, seperti makanan tanpa ada memasaknya, atau karpet di tanah tanpa ada yang membentangnya?

Maka, bagaimana dengan alam yang besar ini; langit dan semua yang tercakup di dalamnya; semesta, matahari, bulan, dan bintang-bintang; semuanya berbeda ukurannya, kadarnya, spektrumnya, dan perjalanannya, kemudian juga dengan bumi dan semua makhluk yang ada di dalamnya; manusia, jin, dan hewan, dengan jenis dan pribadi yang berbeda warna dan bahasa, berbeda dalam pengetahuan dan pemahaman, kekhasan dan identitas, kemudian semua yang tersimpan di dalam bumi; barang tambang yang  beraneka warna dan manfaatnya, kemudian semua yang mengalir di atasnya; sungai-sungai, kemudian laut-laut yang melingkupi daratannya, kemudian tumbuhan dan pepohohan yang tumbuh di atasnya yang buah-buahannya berbeda; berbeda jenisnya, rasanya, dan baunya, khasnya, dan manfaatnya.

Kedua, Wujud kalam Allah SWT di hadapan kita; kita baca, kita tadabburi dan kita berusaha memahami makna-maknanya, merupakan bukti wujud-Nya. Mustahil, jikalau ada kalam tapi tidak ada yang mengucapkannya. Tidak mungkin ada kata jikalau tidak ada yang mengatakannya.

Kalam-Nya adalah bukti wujud-Nya. Apalagi, kalam-Nya mencakup syariat paling kokoh yang dikenal umat manusia, undang-undang paling lurus untuk mewujudkan kebaikan bagi kemanusiaan, sebagaimana ia mencakup teori-teori ilmiah paling terpercaya, kemudian juga mencakup perkara-perkara ghaib dan peristiwa-peristiwa sejarah. Ia benar dalam semua yang disampaikannya.

Sepanjang masa, tidak ada satu pun syariatnya yang gagal mewujudkan kemaslahatan, walaupun berbeda masa dan tempat. Tidak ada satu teori ilmiah terbaru pun yang mampu membantah kebenarannya, tidak ada satu kabar ghaib pun yang menyelisihi kenyataan. Sebagaimana, tidak ada seorang pun sejarawan, siapapun itu, yang berani mengkritik satu kisah saja dan menganggapnya dusta, atau berani mendustakannya atau menafikan salah satu kejadian sejarah yang ditunjukkannya atau dirincikan kejadiannya.

Kalam bijaksana seperti ini, mustahil bagi logika menuduhnya sebagai karya anak manusia. Kehebatannya jauh di atas kemampuan manusia dan tingkat pengetahuan mereka. Jikalau ia bukanlah kalam manusia, maka itu artinya ia adalah kalam pencipta manusia. Ia adalah bukti wujud-Nya, ilmu-Nya, kemampuan-Nya, dan kebijaksanaan-Nya.

Ketiga, Sistem yang detail dalam sunnah kauniyah; penciptaan dan Takwîn, pertumbuhan dan perkembangan seluruh makhluk hidup di alam ini. Semuanya tunduk dan terikat dengannya, tidak bisa meninggalkannya sedikit pun. Manusia, misalnya, dimulai dengan wujudnya sebagai mani di dalam rahim, kemudian melalui sejumlah tahapan menakjubkan yang tidak bisa diintervensi siapapun selain Allah SWT, sampai ia lahir sebagai manusia normal. Ini adalah hal penciptaan dan takwîn.

Dalam pertumbuhan dan perkembangan, wujudnya dimulai dari masa bayi dan anak-anak, kemudian menjadi pemuda, kemudian menjadi dewasa dan tua.

Sunnah-sunnah umum yang berlaku bagi manusia dan hewan ini, berlaku juga untuk pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Begitu juga dengan planet-planet dan benda-benda langit. Semuanya tunduk dengan sunnah-sunnah yang sudah ditentukan, tidak bisa dilanggar dan keluar dari garis yang sudah ditetapkan. Jikalau keluar dari garisnya atau ada sejumlah planet keluar dari garis peredarannya, maka selesailah kehidupan ini.

Dengan dalil-dalil logika ini, dan dengan dalil-dalil Naqli ini, seorang muslim beriman kepada Allah SWT dan dengan Rububiyyah-Nya terhadap segala sesuatu, serta Ilahiyyah-Nya bagi yang terdahulu dan yang kemudian. Dengan dasar keimanan dan keyakinan ini, kehidupan seorang muslim menjalani semua urusan. []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment