Kewajiban Beriman Kepada Para Malaikat

Kajian Kitab Minhaj al-Muslim, karya Syeikh Abu Bakar al-Jazairy
***

Seorang muslim wajib mengimani para Malaikat Allah SWT. Mereka adalah makhluk yang paling mulia, Hamba-Nya yang paling agung, diciptakan dari cahaya, sebagaimana manusia diciptakan dari tanah dan jin diciptakan dari api.

Allah SWT memberikan mereka sejumlah tugas yang mereka jalankan. Ada yang bertugas menjaga para hamba, menulis amalan-amalan mereka. Ada yang ditugaskan menjaga surga dan nikmatnya. Ada yang ditugaskan menjaga neraka dan siksanya. Ada yang bertigas bertasbih malam dan siang tanpa lelah.

Allah SWT melebihkan sebagian kedudukan mereka, antara yang satu dengan lainnya. Di antara mereka ada yang dekat dengan Allah SWT, seperti Jibril, Mikail, dan Israfil, kemudian ada juga yang tidak dekat.

#Kewajiban Beriman Kepada Para Malaikat  

Dalil Naqli/ al-Quran dan Sunnah (Hadits)


Pertama, Perintah Allah SWT untuk mengimani mereka, kemudian kabar wujud mereka dalam firman-Nya, "Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. " (Surat al-Nisâ’: 136)

Dan firman-Nya, “Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. " (Surat al-Baqarah: 98)

Dan firman-Nya yang tidak ada Ilah melainkan diri-Nya, “Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah).” (Surat al-Nisâ’: 172)

Dan firman-Nya, “Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. " (Surat al-Hâqqah: 17)

Dan firman-Nya, “Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat." (Surat al-Muddassir: 31)

Dan firman-Nya, “Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. " (Surat al-Ra'd: 23-24)

Dan firman-Nya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Surat al-Baqarah: 30)

Kedua, Pemberitahuan Rasulullah Saw tentang Para Malaikat. Beliau berdoa ketika mengerjakan Qiyamullail, “Ya Allah, rabb Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Engkau meluruskan di antara hamba-Mu dalam perbedaan mereka, tunjukilah diriku dengan kebenaran yang diselisihi dengan izin-Mu, Engkau menunjuki siapapun yang Engkau mau ke jalan yang lurus.” (Diriwayatkan oleh Muslim (1/534) Kitab Shalat al-Musâfirîn)

Dan sabdnya, “Langit bersuara, dan ia memang layak bersuara. Tidak ada satu tempat pun seukuran 4 jengkal, kecuali disana ada malaikat yang bersujud.” (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim, dan ia Ma’lûl (ada ‘ilatnya), diriwayatkan oleh Imam Ahmad (5/173)

Dan sabdanya, “Setiap hari, Baitul Makmur dimasuki tujuh puluh ribu malaikat, kemudian mereka tidak kembali." (Aslinya terdalam dalam al-Shahîhain)

Dan sabdanya, “Jikalau hari Jumat, maka setiap pintu Mesjid ada malaikat yang menulis. Bagian pertama, maka masuk yang pertama. Jikalau Imam duduk, maka Suhuf dilipat dan mereka mendengarkan zikir.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (4/136), dan diriwayatkan oleh Mâlik dengan derajat Shahîh)

Dan Sabdanya, “Kadangkala, malaikat mendatangiku dalam wujud laki-laki, kemudian ia berbicara  kepadaku dan saya paham apa yang dikatakannya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dalam Shahîhnya)

Dan sabdanya, “Untuk kalian, ada malaikat malam dan malaikat siang yang saling bergantian.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (1/145)

Dan sabdanya, “Dia menciptakan Malaikat dari cahaya, menciptakan Jin dari api, dan menciptakan Adam dari yang disifati kepada kalian.” (Diriwayatkan oleh Muslim (4/2294) Kitab al-Zuhd wa al-Raqâiq)

Ketiga, Banyak para sahabat yang melihat Malaikat di Hari Badar, kemudian mereka juga melihat Jibril sang pengantar wahyu lebih dari sekali. Kadangkala, ia datang dalam bentuk Dihyah al-Kalby, dan mereka melihatnya. Paling masyhur adalah hadits Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Muslim. Dalam hadits itu Nabi Muhammad Saw bersabda, “Apakah kalian tahu siapa yang bertanya?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau mengatakan, “Itu adalah Jibril. Mendatangi kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (Diriwayatkan oleh Muslim (1/38) Kitab al-Îmân)

Keempat, Milyaran kaum mukmin di setiap masa dan di setiap tempat, mereka percaya kepada para Malaikat dan membenarkan mereka sesuai dengan kabar yang dibawa oleh Para Rasul, tanpa ada keraguan dan tanpa ada kebimbangan.


Dalil Aqli/ Logika


Pertama, Akal tidak memustahilkan adanya para Malaikat dan tidak menafikan wujud mereka. Akal tidak akan memustahilkan dan menafikan kecuali jikalau ada dua hal yang kontrakdiktif, bersatu dalam satu waktu, seperti sesuatu yang ada dan sesuatu yang tidak dalam satu waktu, atau dua hal yang berlawanan seperti wujud kegelapan dan cahaya sekaligus. Beriman kepada para Malaikat tidak masuk jenis tersebut sedikit pun.

Kedua, Semua yang berakal mengakui, akibat menunjukkan adanya sebab. Para malaikat memiliki banyak pengaruh yang menunjukkan wujud mereka dan memastikan keberadaan mereka, di antaranya:
  1. Sampainya wahyu kepada para Nabi dan para Rasul. Biasanya, wahyu itu sampai kepada mereka dengan perantara Jibril al-Amîn, yaitu malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu. Dan ini merupakan akibat nyata yang tidak bisa dipungkiri. Ini merupakan penegas dan penguat wujud malaikat.
  2. Meninggalnya makhluk dengan dicabutnya ruh mereka. Ini merupakan akibat zahir dan menunjukkan adanya malaikat maut dan para pembantunya. Allah SWT berfirman, “Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu." (Surat al-Sajdah: 11)
  3. Menjaga manusia dari gangguan jin dan setan, serta kejahatan keduanya sepanjang hidup mereka. Manusia itu hidup di antara Jin dan Setan. Keduanya melihatnya, namun ia tidak bisa melihat keduanya. Keduanya mampu mengganggunya, namun ia tidak mampu menganggu keduanya. Menolak gangguan keduanya adalah bukti adanya penjaga manusia yang menjaga dan membela mereka. Allah SWT berfirman, Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah." (Surat al-Ra'd: 11)
Ketiga, Tidak melihat sesuatu karena lemahnya pandangan, atau karena tidak memiliki kesiapan sempurna untuk melihatnya, itu bukan berarti menafikan wujudnya. Banyak materi di alam semesta ini yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, namun sekarang bisa dilihat dengan Mikroskop. []

No comments

Powered by Blogger.