Kewajiban Beriman Kepada Para Rasul

Kajian Kitab Minhaj al-Muslim, karya Syeikh Abu Bakar al-Jazairy
***

Seorang muslim wajib mengimani bahwa Allah SWT memuliakan beberapa keturunan anak Adam dengan menjadikan mereka sebagai Rasul-Nya. Syariat-Nya diwahyukan kepada mereka. Mereka diperintahkan untuk menyampaikannya sebagai hujjah pada Hari Kiamat kelak. Dia mengutus mereka dengan sejumlah bukti, menguatkan mereka dengan sejumlah mukjizat, dimulai dengan Nabi Nuh alaihissalam dan ditutup dengan Nabi Muhammad Saw.

#Kewajiban Beriman Kepada Para Rasul

Mereka hanyalah manusia biasa, sama dengan manusia lainnya. Mereka makan dan minum, sakit dan sehat, lupa dan ingat, mati dan hidup. Hanya saja, mereka adalah mahluk Allah SWT yang mutlak sebagai makhluk paling sempurna, paling terbaik tanpa pengecualian. Keimanan seorang hamba tidak akan sempurna kecuali dengan mengimani mereka, baik secara umum maupun terperinci.

Dalil Naqli/ al-Quran dan Sunnah (Hadits)


Pertama, Pemberitahuan Allah SWT mengenai para Rasul-Nya. Mereka diutus dan diberikan risalah, sebagaimana firman-Nya, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu." (Surat al-Nahl: 36)

Dan firman-Nya, “Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. " (Surat al-Hajj: 75)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.  Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. " (Surat al-Nisâ’: 163-165)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan." (Surat al-Hadîd: 25)

Dan firman-Nya, “dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Surat al-Anbiyâ’: 83)

Dan firman-Nya, “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (Surat al-Furqân: 20)

Dan firman-Nya, “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka." (Surat al-Isrâ’: 101)

Dan firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (Surat al-Ahzâb: 7)

Kedua, Pemberitahuan Rasulullah Saw sendiri mengenai dirinya, serta mengenai para saudaranya dari kalangan Para Nabi dan Para Rasul, sebagaimana sabdanya, “Tidaklah Allah SWT mengutus seorang Nabi pun kecuali ia mengingatkan kaumnya tentang si Celek nan Pedusta; al-Masih al-Dajjal.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (9/148) dan diseburkan dala Fath al-Bâri (13/389) Kitab al-Tauhîd)

Dan sabdanya, “Janganlah saling membanding-bandingkan antara Para Nabi.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (4/194) dan Muslim dalam Kitab al-Fadhâil (42)

Dan sabdanya ketika ditanya Abu Dzar tentang jumlah Para Nabi dan Rasul, “Seratus dua puluh ribu, dan Para Rasul di antara mereka adalah tiga ratus tiga belas.” (Ini hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Hibbân dalam Shahîhnya)

Dan sabdanya, “Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, Jikalau Musa hidup, maka ia tidak boleh kecuali mengikutiku.” (Diriwayatkan oleh Imâm Ahmad dalam Musnadnya (3/387) dan Majma’ al-Zawâid (1/173), (8/262)

Dan sabdanya, “Itu adalah Ibrahim,” taktaka beliau dipanggil, ‘Wahai sebaik-baik manusia’ sebagai bentuk kerendahan hatinya. Dan sabdanya, “Tidak layak seorang hamba mengatakan, ‘Saya lebih baik dari Yunus bin Matta.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, terdapat dalam al-Shahîhain dari Abu Hurairah)

Dan pemberitahun Rasulullah Saw ketika malam Isra’, yaitu ketika Para Rasul dikumpulkan di Baitul Maqdis, dan beliau menjadi imam mereka. Kemudian, beliau juga mendapati di beberapa lagit ada Yahya, Isa, Yusuf, Idris dan Harun, Musa dan Ibrahim. Setelah itu, beliau memberitahukan kondisi mereka sesuai dengan yang beliau saksikan.

Dan sabdanya, “Nabi Allah Daud makan dengan kerja tangannya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (3/74)

Ketiga, Berimannya Milyaran umat Islam dan umat Ahli Kitab; Yahudi dan Nashrani bahwa Allah SWT mengutus para Rasul. Mereka benar-benar meyakini risalah mereka, meyakini kesempurnaan mereka, dan meyakini bahwa Allah SWT memuliakan mereka.

Dalil Aqli/ Logika


Pertama, Rububiyyah Allah SWT dan rahmah-Nya, melazimkan adanya pengutusan Para Rasul kepada sekalian makhluk-Nya agar Para Rasul tersebut bisa mengenalkan-Nya kepada mereka, menunjuki mereka tentang kesempurnaan Insani yang ada di dalam diri mereka, kemudian juga untuk menunjukkan kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.

Kedua, Allah SWT menciptakan semua makhluk untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (Surat al-Dzâriyât: 56). Maka, ini melazimkan adanya pengangkatan para Rasul dan pengutusan mereka untuk mengajarkan para hamba-Nya bagaimana menyembah-Nya dan menaati-Nya, sebab itulah tujuan penciptaan mereka.

Ketiga, Pahala dan hukuman yang menyertai ketaatan dan kemaksiatan, melazimkan adanya pengutusan Para Rasul dan pengiriman para Nabi, agar orang-orang tidak mengatakan pada Hari Kiamat kelak, “Wahai Tuhan kami, kami tidak tahu bagaimana menaati-Mu sehingga kami bisa menaati-Mu. Kami tidak tahu apa itu maksiat kepada-Mu sehingga kami bisa menjauhinya. Engkau sama sekali tidak zalim, maka jangan menyiksa kami..” Akhirnya mereka memiliki hujjah/ alasan terhadap Allah SWT. Kondisi ini menuntut Para Rasul harus diutus agar tidak ada lagi yang membuat-buat alasan. Allah SWT berfirman, “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat al-Nisâ’: 165)[]

No comments

Powered by Blogger.