Kewajiban Beriman Kepada Qadhâ’ dan Qadar Allah SWT

Kajian Kitab Minhaj al-Muslim, karya Syeikh Abu Bakar al-Jazairy
***

Qadhâ’ adalah hukum Allah SWT yang bersifat azali mengenai adanya sesuatu atau tiadanya. Dan Qadar adalah Allah SWT menciptakan sesuatu dengan cara yang khusus dan waktu yang khusus. Kadangkala, keduanya memiliki makna yang sama, tidak bisa dipisahkan.

Seorang muslim wajib mempercayai Qadhâ’ Allah SWT dan Qadar-Nya, kebijaksanaan-Nya dan keinginan-Nya, tidaklah sesuatu terjadi di alam semesta, bahkan perbuatan para hamba yang sifatnya Ikhtiyâriyyah (pilihan) kecuali setelah Allah SWT mengetahuinya dan menakdirkannya.

Allah SWT adil dalam Qadhâ’-Nya dan Qadar-Nya, bijak dalam segala tindakan-Nya dan pengaturan-Nya. Kebijaksaan-Nya mengikuti keinginan-Nya. Apa yang diinginkan-Nya, maka akan ada. Apa yang tidak diinginkan-Nya, maka tidak akan ada. Tidak ada daya dan upaya kecuali milik-Nya.

#Kewajiban Beriman Kepada Qadhâ’ dan Qadar Allah SWT

Dalil Naqli/ al-Quran dan Sunnah (Hadits)


Pertama, Pemberitahun Allah SWT dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. " (Surat al-Qamar: 49)

Dan firman-Nya, “Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. " (Surat al-Hijr: 21)

Dan firman-Nya, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. " (Surat al-Hadîd: 22)

Dan firman-Nya, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah." (Surat al-Taghâbun: 11)

Dan firman-Nya, “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya." (Surat al-Isrâ’: 13)

Dan firman-Nya, “Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (Surat al-Taubah: 51)

Dan firman-Nya, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)." (Surat al-An’âm: 59)

Dan firman-Nya, “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (Surat al-Takwîr: 29)

Dan firman-Nya, “Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka." (Surat al-Anbiyâ’: 101)

Dan firman-Nya, “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)." (Surat al-Kahfi: 39) Dan firman-Nya, “Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (Surat al-A’râf: 43)

Kedua, Pemberitahuan Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk mani, kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga, kemudian dikirimkanlah Malaikat yang meniupkan ruh, kemudian diperintahkan dengan empat kalimat; ditetapkan rezekinya, ajalnya, amalnya, sengsara atau bahagia. Demi Zat yang tidak ada ilah melainkan diri-Nya, salah seorang di antara kalian beramal dengan amalan ahli surga sampai tidak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sehasta, kemudian Kitab mendahuluinya dan ia beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga ia memasukinya. Salah seorang di antara kalian beramal dengan amalan ahli neraka, sampai tidak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sehasta, kemudian Kitab mendahuluinya dan ia beramal dengan amalan ahli surga, sehingga ia memasukinya.” (Diriwayatkan oleh Muslim (4/2036) Kitab al-Qadar)

Dan sabdanya kepada Abdullah bin Abbas, “Wahai anak kecil, saya akan mengajarkanmu beberapa kalimat; jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapan-Mu. Jikalau engkau meminta, maka memintalah kepada Allah. Jikalau engkau meminta tolong, maka meminta tolonglah kepada Allah. Ketahui, jikalau umat berkumpul untuk memberikanmu manfaat dengan sesuatu, maka mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali dengan sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Jikalau mereka berkumpul untuk memudharatkanmu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali dengan sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Qalam sudah diangkat, dan suhuf sudah kering.” (Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (2516) dan dishahihkannya. Jagalah Allah, maksudnya menjaga aturan-Nya dan memelihara segala hak-Nya.)

Dan sabdanya, “Makhluk yang paling pertama Allah SWT ciptakan adalah Qalam (pena), kemudian Dia berfirman kepadanya, ‘Tulislah.’ Ia berkata, ‘Wahai Rabb, apa yang saya tulis?’ Dia menjawab, ‘Tulislah Qadar segala sesuatu sampai Hari Kiamat.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (5/317) dan Abu Daud (4700)

Dan sabdanya, “Adam dan Musa berdebat. Musa berkata, ‘Wahai Adam, engkau membuat kami merugi dan membuat kami keluar dari surga.’ Adam menjawab, ‘Apakah engkau Musa yang Allah SWT muliakan berbicara dengan-Nya dan menuliskan taurat dengan tangannya? Engkau mencelaku karena sesuatu yang sudah Allah SWT qadarkan kepadaku 40 tahun sebelum penciptaanku?’ Kemudian Adam mengalahkan Musa dalam perdebatan.” (Diriwayatkan oleh Muslim (4/2042) Kitab al-Qadar)

Penjelasannya, celaan Musa itu tidak pada tempatnya. Jikalau ia mencela Adam karena keluar dari Surga, maka ia mencelanya untuk sesuatu yang sudah ditetapkan Allah SWT kejadiannya. Jikalau ia mencelanya karena dosanya, maka ia sudah bertaubat. Siapa yang bertaubat, maka tidak dicela lagi menurut logika dan syariat.

Dan sabdanya mengenalkan Iman, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, semua kitab-Nya dan semua rasul-Nya, serta Hari Akhir, kemudian beriman dengan Qadar; baik maupun buruk.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Hadits Jibril (1/37) Kitab al-Îmân)

Dan sabdanya, “Beramallah, semuanya dimudahkan untuk tujuan penciptaannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim (4/2040) Kitab al-Qadar)

 Dan sabdanya, “Nazar tidak akan menolak Qadhâ’.” (Diriwayatkan oleh Muslim (4/1261) Kitab al-Qadar, diriwayatkan oleh al-Jamâ’ah dengan lafal berbeda)

Dan sabdanya kepada Abdullah bin Qais, “Wahai Abdullah bin Qais, apakah engkau ingin saya ajarkan satu kalimat dari harta surgawi? Tiada daya dan upaya kecuali di tangan Allah.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (5/170) dan Muslim (4/2077) Kitab al-Dzikr dan al-Du’â)

Dalam sabdanya kepada yang mengatakan jikalau Allah ingin dan engkau ingin, “Katakan, jikalau Allah SWT ingin saja.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (1/214, 282) dan Ibn Mâjah (2117)

Ketiga, Berimannya jutaan umat Nabi Muhammad Saw dari kalangan Ulama (ilmuwan), para bijak dan para shalihin, serta selain mereka, terhadap Qadhâ’ Allah SWT dan Qadar-Nya, kebijaksanaan-Nya dan keinginan-Nya, segala sesuatu sudah ada dalam ilmu-Nya dan sudah ada dalam Qadar-Nya, tidak ada sesuatu pun dalam kekuasaan-Nya kecuali apa yang diinginkan-Nya, apa yang diinginkan-Nya akan terjadi, apa yang tidak diinginkan-Nya tidak akan terjadi, dan Qalam (pena) akan terus menuliskan qadar segala sesuatu sampai Hari Kiamat.

Dalil Aqli/ Logika


Pertama, Akal tidak memustahilkan sesuatu pun yang berkaitan dengan Qadhâ dan Qadar, al-Masyîah (keinginan), al-Hikmah (kebijaksanaan), al-Irâdah (keinginan), dan al-Tadbîr (pengaturan). Bahkan, akal mewajibkan semua itu dan melazimkannya, karena adanya mazhahir yang nyata di alam semesta.

Kedua, Mengimani Allah SWT dan Qudrah-Nya, melazimkan keimanan kepada Qadha-Nya, Qadar-Nya, hikmah-Nya, dan keinginan-Nya.

Ketiga, Jikalau seorang arsitek melukis istana di kertas kecil, menentukan waktu penyelesaiannya, kemudian bekerja untuk membangunnya. Belum habis masa penyelesaiannya, istana yang tadinya dari kertas berubah ke wujud nyata, sesuai dengan yang digoreskan di kertas tanpa ada kurangnya sedikit pun (jikalau sedikit) dan tidak pula berlebih. Maka, bagaimana bisa dipungkiri jikalau Allah SWT sudah menetapkan Qadar alam semesta sampai Hari Kiamat? Karena kesempurnaan Qudrah-Nya dan ilmu-Nya, maka yang di-Qadarkan tadi menjadi nyata sesuai dengan yang dikadarkan-Nya, baik kwantitasnya, tatacaranya, zamannya, dan tempatnya. Allah SWT mampu melakukan segala sesuatu.[]

No comments

Powered by Blogger.