Kewajiban Beriman Terhadap Asmâ’ Allah SWT dan Ŝifat-Nya

(Kajian Kitab Minhajul Muslim, Karya Syeikh Abu Bakar al-Jazairy)
***

Seorang muslim mengimani nama-nama paling baik dan sifat-sifat yang agung yang dimiliki oleh Allah SWT, serta tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun. Kemudian ia tidak menakwilkannya sehingga menyebabkan al-Ta'thil, tidak menyamakan-Nya dengan sifat-sifat yang Muhdats (baru) sehingga mentakyîfnya atau mentamtsîlnya. Itu mustahil.

Seorang muslim menetapkan bagi Alah SWT, semua yang ditetapkan-Nya bagi diri-Nya, serta menetapkan nama dan sifat yang ditetapkan oleh Rasul-Nya. Kemudian ia menafikan apa yang dinafikan-Nya, menafikan apa yang dinafikan oleh Rasul-Nya, dari segala jenis aib dan kekurangan, baik secara global maupun terperinci.

#Kewajiban Beriman Terhadap Asmâ’ Allah SWT dan Ŝifat-Nya

Dalil Naqli/ al-Quran dan Sunnah (Hadits)


Pertama, Pemberitahuan Allah SWT sendiri mengenai nama-Nya dan sifat-Nya, sebagaimana firman-Nya, “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. " (Surat al-A’râf: 180)

Dan firman-Nya, “Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik).” (Surat al-Isrâ’: 110)

Sebagaimana Dia menyifati diri-Nya dengan Maha Mendengar dan Maha Melihat, Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, Maka Kuat dan Maha Mulia, Maka Lembut dan Maha Tahu, Maha Syukur dan Maha Lembut, Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Dia benar-benar berbicara kepada Musa, Dia ber-Istiwâ’ di Asry-Nya, Dia mencipta dengan kedua tangan-Nya, Dia mencintai orang-orang yang berbuat baik, Dia ridha dengan orang-orang yang beriman, serta berbagai sifat al-Zâtiyah dan al-Fi’liyyah lainnya, seperti kedatangan-Nya dan turun-Nya, sebagaimana dijelaskan-Nya dalam Kitab-Nya dan diucapkan oleh Rasul-Nya.

Kedua, Pemberitahuan Rasulullah Saw, sebagaimana terdapat dalam berbagai hadits shahih dan kabar sharih, seperti sabda Rasulullah Saw, “Allah SWT tertawa terhadap dua laki-laki yang saling membunuh, kemudian keduanya masuk surga.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (4/29) dan Muslim (3/1504) Kitab al-Imârah)

 Dan sabdanya, “Ada seseorang yang dilemparkan ke Neraka Jahannam, kemudian ia berkata, ‘Apakah ada tambahannya?’ Sampai Rabb yang mulia meletakkan kaki-Nya (dalam riwayat lainnya; telapak kaki-Nya) sehingga saling berdesakan, kemudian ia mengatakan, ‘Cukup, cukup.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (8/168) dan Muslim (4/2187) Kitab al-Jannah)

Dan sabdanya, “Rabb kami turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir, kemudian Dia berfirman, ‘Siapakah yang berdoa kepada-Ku sehingga Aku mengabulkannya? Siapakah yang meminta kepada-Ku sehingga Aku memberinya? Siapakah yang memohon ampunan kepada-Ku sehingga Aku mengampunkannya?” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (2/66) dan Muslim (1/521) Kitab Shalat al-Musâfirîn wa Qashruha)

Dan sabdanya, “Allah lebih bahagia dengan taubat hamba-Nya, dari salah seorang kalian yang menemukan untanya.” (Diriwayatkan oleh Muslim (4/2104) Kitab al-Taubah)

Sabdanya kepada budak perempuan, “Dimanakah Allah?” Ia menjawab, “Di langit.” Beliau berkata, “Saya siapa?” Ia menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Beliau berkata, “Bebaskan ia, ia adalah mukminah.” Dan sabdanya, “Allah SWT menggengam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian berfirman, ‘Aku adalah Penguasa, manakah para penguasa bumi?” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (6/158) dan (8/135)

Ketiga, Pengakuan para Salaf Shaleh dari kalangan para sahabat, para Tabiin dan Imam empat Mazhab, terhadap sifat Allah SWT. Mereka tidak menakwilkannya atau menolaknya atau mengeluarkannya dari zahirnya. Tidak ada satu pun riwayat terpercaya yang menjelaskan bahwa ada sahabat yang menakwilkan salah satu sifat-Nya atau menolaknya atau mengatakan bahwa zahirnya bukanlah maksud dari firman-Nya.

Namun, mereka beriman dengan Madlûlnya (isinya), kemudian memaknainya sesuai dengan zahirnya. Mereka tahu bahwa sifat Allah SWT tidak sama dengan sifat makhluk yang muhdast (baru). Imam Malik rahimahullah ditanya tentang firman Allah SWT, “al-Rahmân alâ Arsyistawâ (Allah ber-Istiwâ di Asry-Nya).”  Kemudian ia menjawab, “Istiwâ itu maklûm (jelas), caranya majhul (tidak diketahui), dan bertanya mengenai hal itu adalah bid’ah.”

Imam al-Syafii rahimahullah mengatakan, “Saya beriman kepada Allah SWT dan apa yang berasal dari-Nya, serta sesuai dengan maksud-Nya. Saya beriman kepada Rasulullah Saw dan apa yang berasal darinya, serta sesuai dengan maksudnya.”

Imam Ahmad mengatakan seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw, “Sesungguhnya Allah SWT turun ke langit dunia.”… “Sesungguhnya Allah SWT dilihat pada Hari Kiamat.”… “Sesungguhnya Allah SWT takjub, tertawa, marah, ridha, benci, dan mencinta.” … Ia mengatakan, “Kami mengimaninya dan membenarkannya tanpa ‘kaif’ (mempertanyakan caranya) dan tanpa makna. Artinya, kami mengimani bahwa Allah SWT turun dan dilihat, Dia berada di atas Arsy-Nya.

Semua itu merupakan sesuatu yang jelas bagi makhluk-Nya, tetapi kami tidak tahu bagaimana cara turun-Nya, tidak juga cara melihat-Nya, tidak juga al-Istiwâ’, dan tidak juga makna hakikinya. Namun, kami menyerahkan ilmu masalah tersebut kepada Allah SWT yang mengatakannya dan mewahyukannya kepada Rasul-Nya.

Kami tidak menolak Rasulullah Saw dan tidak menyifati Allah SWT melebihi sifat yang disifatkan-Nya, disifati oleh Rasul-Nya, tanpa batasan dan tanpa ujung. Kami paham bahwa Allah SWT tidak ada yang semisal dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Dalil Aqli/ Logika


Pertama, Allah SWT menyifati diri-Nya dengan sejumlah sifat dan menamai diri-Nya dengan sejumlah nama. Kita tidak dilarang untuk menyifati-Nya dan menamai-Nya dengan semua itu. Kita tidak diperintahkan untuk menakwilkannya, atau memaknainya dengan selain zahirnya. Jikalau kita menjadi kelompok yang men-Ta’ţîl dan menafikan sifat-Nya, mulhid (tidak percaya) dengan asmâ’-Nya, maka Dia mengancam dengan firman-Nya, “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. " (Surat al-A’râf: 180)

Kedua, Bukankah orang yang menafikan salah satu sifat Allah SWT karena takut Tasybîh, sudah terlebih dahulu men-Tasybîhnya dengan sifat-sifat makhluk? Ketika ia takut melakukan Tasybîh, kemudian lari menjauhinya dengan melakukan al-Nafi wa al-Ta’ţîl, yaitu dengan menafikan sifat-sifat Allah SWT yang sudah ditetapkan-Nyadan menta’ţîlnya, maka ia sudah mengumpulkan dua dosa besar; al-Tasybîh dan al-Ta’ţî’l.

Jadi, apakah masuk akal (kondisi seperti ini), jikalau Allah SWT disifati dengan sifat-sifat yang disifati diri-Nya dan disifati oleh Rasulullah Saw, namun disertai keyakinan bahwa sifat-Nya itu tidak sama dengan sifat makhluk-Nya? Sebagaimana zat-Nya tidak sama dengan zat makhuk-Nya?

Ketiga, Beriman kepada sifat-sifat Allah SWT dan menyifati-Nya dengan sifat-sifat tersebut, bukan berarti menyamakan-Nya dengan sifat-sifat makhluk. Sebab bukanlah sebuah kemustahilan, jikalau Allah SWT memiliki sifat-sifat yang khusus bagi diri-Nya sendiri, tidak sama dengan sifat-sifat makhluk-Nya, tidak mirip kecuali nama saja. Sehingga, Khaliq memiliki sifat-sifat yang khusus bagi diri-Nya sendiri, dan makhluk juga memiliki sifat-sifat yang khusus bagi dirinya sendiri.

Seorang muslim beriman dengan sifat-sifat Allah SWT dan menyifati-Nya dengan sifat-sifat tersebut. Ia tidak meyakini sedikit pun, bahkan tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa tangan Allah SWT, misalnya, serupa dengan tangan makhluk-Nya dalam makna apapun selain hanya nama saja.

Sebab, antara al-Khaliq dengan al-Makhluq, keduanya berbeda dalam zat-Nya, sifat-Nya, dan Af’âl-Nya. Allah SWT berfirman, Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa.  Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (Surat al-Ikhlâs: 1-4)

Dan firman-Nya, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Surat al-Syûrâ: 11) []

No comments

Powered by Blogger.