Kewajiban Beriman Terhadap Risalah Nabi Muhammad Saw

Kajian Kitab Minhaj al-Muslim, karya Syeikh Abu Bakar al-Jazairy
***

Seorang muslim wajib mempercayai bahwa Nabi yang umi; Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib al-Hâsyimi al-Qursyi al-Araby, berasal dari keturunan Ismâ’îl bin Ibrâhim al-Khalîl alaihissalam, beliau adalah hamba Allah SWT dan rasul-Nya yang diutus kepada sekalian manusia, baik Jin maupun manusia.

Kenabiannya menutup segala nubuwwah, risalahnya menutup segala risalah. Tidak ada Nabi setelahnya, dan tidak juga Rasul sesudahnya. Beliau dikuatkan dengan berbagai Mukjizat, dimuliakan dari sekalian Nabi, sebagaimana umatnya dimuliakan dari umat-umat lainnya.

Allah SWT mewajibkan para hamba-Nya untuk mencintainya dan menaatinya, serta mengikutinya. Allah SWT mengkhususkannya dengan sejumlah kekhususan yang tidak dimiliki selainnya, di antaranya al-Wasîilah, al-Kautsar, al-Haudh, al-Maqâm al-Mahmûd.

#Kewajiban Beriman Terhadap Risalah Nabi Muhammad Saw

Dalil Naqli/ al-Quran dan Sunnah (Hadits)

Pertama, Persaksian Allah SWT dan para Malaikat yang menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya, “(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya. " (Surat al-Nisâ’: 166)

Kedua, Pemberitahuan Allah SWT tentang keumuman risalahnya, penutup nubuwwahnya, keharusan menaatinya dan mencintainya, serta statusnya sebagai penutup para Nabi, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya, “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu.” (Surat al-Nisâ’: 170)

Dan firman-Nya, “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari'at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: "Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan". Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan." (Surat al-Mâidah: 19)

Dan firman-Nya, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (Surat al-Anbiyâ’: 107)

Dan firman-Nya, “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Surat al-Jumuah: 2)

Dan firman-Nya, “Muhammad Rasulullah.” (Surat al-Fath: 29)

Dan firman-Nya, “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (Surat al-Furqân: 1)

Dan firman-Nya, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Surat al-Ahzâb: 40)

Dan firman-Nya, “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. " (Surat al-Qamar: 1)

Dan firman-Nya, “Kami sudah memberikanmu nikmat yang banyak.” (al-Kautsar: 1)

Dan firman-Nya, “Dan Tuhanmu akan memberiku, kemudian kamu ridha.” (Surat al-Dhuha: 5)

Dan firman-Nya, “mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. " (Surat al-Isrâ’: 79)

Dan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul.” (Surat al-Nisâ’: 59)

Dan firman-Nya, “Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya"." (Surat al-Taubah: 24)

Dan firman-Nya, “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia.” (Surat Ali Imrân: 110)

Dan firman-Nya, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. " (Surat al-Baqarah: 143)

Dan firman-Nya yang tidak ada Ilah melainkan diri-Nya, “Katakanlah, jikalau kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, Allah akan mencintai kalian dan mengampunkan dosa-dosa kalian.” (Surat Ali Imrân: 31)

Ketiga, Pemberitahuan Rasulullah Saw mengenai nubuwwahnya, penutup nubuwwah-nubuwwah sebelumnya, kewajiban menaatinya dan keumuman risalahnya, sebagaimana termaktub dalam sabdanya, “Saya adalah Nabi, tidak dusta. Saya Ibn Abdul Mutthalib.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (4/37, 39, 52, 81) dan diriwayatkan Muslim (3/1400) Kitab al-Jihâd wa al-Sayr)

Dan sabdanya, “Saya adalah hamba Allah dan penutup para Nabi. Dan Adam masih berupa benda padat dalam tanahnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/127) dan Ibn Hibbân (8/106)

Dan sabdanya, “Pemisalanku dan pemisalan para Nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun rumah, kemudian ia membuatnya bagus dan indah, kecuali satu ubin. Orang-orang mengelilinginya. Mereka takjub dan berkata, ‘Alangkah indahnya jikalau ubin ini dipasang?’ Sayalah ubin itu, dan sayalah penutup para Nabi.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (4/226) dan Diriwayatkan oleh Muslim (4/1790, 1791) Kitab al-Fadhâil)

Dan sabdanya, “Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai saya lebih dicintainya dari anaknya, bapaknya, dan seluruh manusia.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (1/10)

Dan sabdanya, “Semua kalian akan masuk surga kecuali yang enggan.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah yang enggan wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Siapa yang menaatiku, maka ia masuk surga. Siapa yang memaksiatiku, maka ia enggan.” (Terdapat dalam Kitab al-Syifâ karangan al-Qâdhî ‘Iyâdh (2/19) dengan lafal, “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Lafal yang sama juga terdapat dalam Riyâdus Shâlihîn (87)

Dan sabdanya, “Risalah dan Nubuwwah sudah terputus. Tidak ada Rasul setelahku dan tidak juga Nabi.” (Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (4/462) dan berkata, “Ini adalah hadits Hasan Shahîh)

Dan sabdanya, “Saya dilebihkan dari para Nabi lainnya dengan enam hal: Saya diberikan Jawâmi’ al-Kalim, Saya dimenangkan dengan ketakutan para musuh, dihalalkan untuk saya al-Ghanimah, dijadikan bagi saya bumi sebagai tempat sujud yang suci, saya diutus untuk sekalian makhluk, dan saya penutup para Nabi.” (Diriwayatkan oleh Muslim (1/271) Kitab al-Masâjid wa Mawâdhi’ al-Shalat. Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (4/104) dan berkata, “Ini Hasan Shahîh.”)

Dan sabdanya, “Siapa yang menaatiku, maka ia menaati Allah SWT. Siapa yang bermaksiat kepadaku, maka ia bermaksiat kepada Allah SWT. Siapa yang menaati amirku, maka ia menaatiku. Siapa yang bermaksiat kepada amirku, maka ia bermaksiat kepadaku.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (9/77)

Dan sabdanya, “Surga diharamkan untuk sekalian para Nabi sampai saya memasukinya, dan diharamkan bagi sekalian umat sampai umatku memasukinya.” (Diriwayatkan oleh al-Dâruquthny, yang memiliki sejumlah jalan periwayatan yang membuatnya Hasan)

Dan sabdanya, “Jikalau terjadi Hari Kiamat, maka saya adalah Imam para Nabi, khatib mereka, dan pemberi syafaat mereka. Dan ini tidak berbangga.” (Diriwayatkan oleh al-Turmudzi dalam Jâmi’nya, Ibn Mâjah dalam Shahîhnya, dan Imam Ahmad dalam Musnadnya)

Dan sabdanya, “Saya adalah penghulu anak Adam pada hari kiamat, yang pertama kuburannya terbelah pada hari kiamat, yang pertama memberi syafaat, dan yang pertama mendapatkan syafaat.” (Diriwayatkan oleh Muslim (4/1782) Kitab al-Fadhâil)

Keempat, Persaksian Taurat dan Injil tentang pengutusan Nabi Muhammad Saw dengan risalahnya dan Nubuwwahnya, serta kabar gembira yang disampaikan oleh Musa dan Isa tentang kehadirannya, sebagaimana firman Allah SWT yang memuat ucapan Isa, “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)"." (Surat al-Shaff: 6)

Dan firman-Nya, “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk." (Surat al-A’râf: 157)

Dalam Taurat disebutkan, “Aku akan menempatkan bagi mereka seorang Nabi yang sama denganmu di antara saudara mereka. Aku menjadikan kalam-Ku ada di mulutnya. Ia akan berbicara kepada mereka dengan segala hal yang Aku perintahkan. Siapa yang tidak menaati kata-katanya yang disampaikan atas nama-Ku, maka Aku akan menghukumnya karena itu.”

Kabar gembira yang masih ada sekarang ini dalam Taurat adalah bukti kenabian Nabi kita Muhammad Saw, risalahnya, kewajiban mengikutinya, kelaziman menaatinya. Dan ini adalah Hujjah bantahan bagi orang-orang Yahudi. Walaupun mereka menakwilkannya dan mengingkarinya.

Firman-Nya, “Aku akan menempatkan bagi mereka seorang Nabi” menjadi bukti tanpa perlu diragui lagi tentang kenabiannya dan kerasulannya. Sebab yang diajak bicara ini adalah Musa alaihissalam yang merupakan seorang Nabi dan Rasul. Siapa saja yang semisal dengannya, berarti ia juga seorang Nabi dan Rasul.

Dan firman-Nya, “di antara saudara mereka,” adalah sesuatu yang jelas bahwa ia adalah Muhammad Saw.

Dan firman-Nya, “Aku menjadikan kalam-Ku ada di mulutnya,” tidak akan layak disematkan kecuali kepada Nabi kita Muhammad Saw, sebab beliaulah yang membaca Kalamullah dan menghafalnya, yaitu al-Quran al-Karim.

Dan firman-Nya, “Ia akan berbicara kepada mereka dengan segala hal,” adalah bukti hal tersebut. Sebab, Nabi Muhammad Saw berbicara tentang perkara Ghaib yang tidak dibicarakan Nabi selainnya, beliau memberitahukan sejumlah perkara yang pernah terjadi dan yang akan terjadi sampai Hari Kiamat.

Dalam Taurat juga disebutkan, “Wahai Nabi, Kami mengutusmu untuk membawa kabar gembira dan memberi peringatan, penjaga orang-orang yang umi. Engkau adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku. Aku menamakannya al-Mutawakkil (orang yang bertawakkal), tidak kasar juga keras, tidak berteriak-teriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi memaafkan dan mengampunkan, dan Allah SWT tidak akan mencabut nyawanya sampai ia meluruskan ajaran yang bengkok, sampai mereka mengatakan, ‘Tidak ada Ilah melainkan Allah”. Kemudian dengan perantaranya, dibukalah mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli, dan hati-hati yang tertutup.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri, terdapat dalam al-Mujam al-Kabîr karangan al-Thabrani (11/312), nomor (11841)

Kemudian juga disebutkan, “Mereka membuat-Ku cemburu dengan selain Allah. Mereka membuat-Ku murka dengan sesembahan-sesembahan mereka yang batil. Aku membuat cemburu mereka dengan rakyat selain mereka, dengan rakyat yang jahil Aku buat mereka murka.”

Dan firman-Nya, “dengan rakyat yang jahil,” adalah sebuah kejelasan bahwa ia adalah rakyat Arab. Sebab, mereka adalah rakyat yang jahil sebelum pengutusan Nabi Muhammad Saw. Bahkan, orang-orang Yahudi menamakan orang-orang Arab dengan kaum umi, sebagaimana terdapat juga firman-Nya, “Tidak akan tergelincir generasi dari Yahudza dan keturunannya, sampai datang sosok yang segalanya, dan ia lah sosok yang ditunggu semua umat.”

Siapakah yang ditunggu semua umat selain Nabi kita Muhammad Saw. Apalagi oleh orang-orang Yahudi. Mereka adalah orang-orang yang sudah lama menunggunya, berdasarkan pengakuan terang-terangan yang mereka sampaikan. Namun, rasa dengki menghalangi mereka untuk mengimaninya dan mengikutinya.

Allah SWT berfirman, “Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. " (Surat al-Baqarah: 89)

Sebagaimana sejumlah kabar gembira berikut ini terdapat dalam Injil:
  1. Ketika itu, John The Baptist (Pemberi nasehat, penyeru, dan pemberi kabar gembira tentang Nubuwwah sang Nabi) mendatangi orang-orang Yahudi seraya mengatakan, “Taubatlah kalian, karena penguasa langit sudah mendekat.” Kata-katanya ini merujuk kepada Muhammad Saw, sebagaimana ia juga merupakan kabar gembira tentang dekatnya masa pengutusannya. Sebab, beliau adalah penguasa dan hakim untuk aturan langit.
  2. Ia menyampaikan kepada mereka pepatah lainnya, dengan mengatakan, “Penguasa langit itu serupa dengan biji atom yang diambil oleh seseorang, kemudian ia menanamnya di kebunnya. Padahal ia adalah benih paling kecil dari seluruh benih. Namun ketika ia tumbuh, maka ia akan menjadi kacang tumbuhan paling besar.” Ungkapan dalam Injil ini adalah inti yang disebutkan dalam al-Quran al-Karim dalam firman Allah SWT, “Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). " (Surat al-Fath: 29) Maksudnya adalah Muhammad Saw dan para sahabatnya.
  3. “Aku berangkat. Sebab jikalau Aku tidak berangkat, maka Paraclete (Terjemahannya dari Yunani ke Bahasa Arab adalah orang yang banyak dipuji, sesuai dengan makna Muhammad atau Ahmad) tidak akan mendatangi kalian. Jikalau Aku pergi, Aku akan mengutusnya kepada kalian. Jikalau datang hari itu, ia akan mencela dunia karena kesalahannya.” Bukankah kalimat dari Injil ini jelas menyatakan kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad Saw? Siapakah Paraclete itu jikalau bukan Muhammad? Siapakah yang mencela dunia karena salahnya selain dirinya? Sebab, ketika ia diutus, dunia berenang di lautan kerusakan dan kejahatan, berhalaisme menyebar luas sampai di kalangan Ahli Kitab. Siapakah yang datang setelah diangkatnya Isa yang menyeru kepada Allah SWT; Rabb langit dan bumi selain Muhammad?

Dalil Aqli/ Logika


Pertama, Apa halangannya jikalau Allah SWT mengutus Muhammad sebagai Rasul? Sebelumnya, Dia sudah mengurus ratusan para Rasul dan mengirim ribuan para Nabi. Jikalau tidak ada halangannya, baik secara logika maupun secara syariat, maka apa lagi yang bisa mengingkari risalahnya dan tidak mempercayai nubuwwahnya kepada sekalian manusia?

Kedua, Kondisi-kondisi yang menyertai pengutusan Muhammad Saw, melazimkan adanya risalah dan Rasul yang memperbarui pengetahuan manusia tentang Khaliknya.

Ketiga, Penyebaran Islam yang begitu cepat di seluruh penjuru dunia dan berbagai negeri, penerimaan anak manusia terhadap Islam itu sendiri dan mengutamakannya dari agama-agama lainnya adalah bukti kebenaran Nubuwwahnya.

Keempat, Shahihnya ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, kebenarannya dan kelayakannya, kemudian hasilnya yang baik lagi berkah, merupakan bukti bahwa ia berasal dari Allah SWT, pemiliknya adalah Rasulullah dan Nabi-Nya.

Kelima, Sejumlah mukjizat dan hal-hal luar biasa yang mampu dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, mustahil bagi akal jikalau itu dilakukan oleh selain Nabi dan Rasul.

Inilah sejumlah mukjizat tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih yang derajatnya hampir Mutawatir, tidak mungkin didustai kecuali oleh orang yang lemah akalnya atau gila:

  1. Terbelahnya bulan (Sejumlah hadits tentang terbelahnya bulan terdapat dalam al-Shahîhain) untuk Nabi Muhammad Saw. Al-Walîd bin al-Mughîrah dan para Kafir Quraisy lainnya meminta kepada Nabi Muhammad Saw sebuah bukti kebenarannya sebagai seorang Nabi dan pembawa risalah. Kemudian, bulan pun terbelah menjadi dua bagian; satu bagian di atas bukit, dan satu bagian lagi di bawahnya. Kemudian Nabi Muhammad Saw berkata kepada mereka, “Saksikanlah.” Sebagian mereka mengatakan, “Saya melihat bulan di antara dua sisi bukit (bukit Abu Qubais). Kaum Quraisy bertanya kepada penduduk negeri lainnya; apakah mereka menyaksikan terbelahnya bulan? Mereka memberitahu bahwa mereka juga melihat apa yang mereka saksikan. Kemudian turunlah firman Allah SWT, “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus". Dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka." (Surat al-Qamar: 1-3)
  2. Mata Qatadah tertembak ketika Perang Uhud sampai ke pipinya, kemudian Nabi Muhammad Saw mengembalikannya lagi menjadi lebih baik dari sebelumnya.
  3. Kedua mata Ali bin Abi Thalib radhiyalla anhu kemasukan kerikil pada Hari Khaibar, kemudian Nabi Muhammad Saw meniup keduanya dan sembuh, seakan-akan sebelumnya tidak ada masalah sama sekali.
  4. Betis Ibn al-Hakam patah ketika Perang Badar, kemudian Nabi Muhammad Saw meniupnya dan sembuh tanpa menyisakan rasa sakit sedikit pun.
  5. Pohon berbicara kepada Nabi Muhammad Saw. Ada Arab Badui yang mendekatinya, kemudian berkata, “Wahai A’rabi, mau kemana?” Ia menjawab, “Ke keluargaku.” Beliau berkata, “Apakah engkau ingin saya tunjukkan kebaikan?” Ia menjawab, “Apa itu?” Beliau berkatakan, “Engkau bersaksi bahwa Tidak ada Ilah melainkan Allah SWT saja, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.” A’rabi tadi mengatakan, “Siapa yang menjadi saksi untuk yang engkau ucapkan tadi?” Beliau berkata kepadanya, “Pohon ini (beliau menunjuk pohon yang ada di pinggiran lembah).” Kemudian pohon itu membuat lubang di tanah agar bisa berdiri di hadapannya. Beliau memintanya bersyahadat tiga kali, kemudian ia bersyahadat sebagaimana diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw. (Sunan al-Dârimi, al-Muqaddimah (1/4)
  6. Kesedihan batang kurma (Riwayat mengenai Batang Kurma ini terdapat dalam al- Shahîhain) dan tangisannya untuk Nabi Muhammad Saw yang suaranya bisa didengar dengan jelas oleh orang yang berada di Mesjid, yaitu ketika Nabi Muhammad Saw meninggalkannya, padahal sebelumnya beliau berkhutbah menggunakannya sebagai mimbar. Ketika dibuat mimbar baru dan tidak lagi menggunakannya, maka ia menangis sedih dan rindu. Suaranya terdengar layaknya suara  al-‘Isyâr (Yaitu unta betina yang sudah hamil 10 bulan). Ia tidak kunjung diam sampai datang Rasulullah Saw, kemudian meletakkan tangannya yang mulia untuk memegangnya, dan ia pun diam.
  7. Doa Nabi Muhammad Saw untuk Kisra agar mengalami kehancuran. Kemudian, ia pun hancur.
  8. Doa Nabi Muhammad Saw untuk Ibn Abbas agar ia faqih (paham) masalah agama, kemudian ia menjadi Habr (tinta) umat ini.
  9. Memperbanyak makanan dengan doa Nabi Muhammad Saw. Dengan dua Mud gandum saja, lebih dari delapan puluh orang bisa makan.
  10. Memperbanyak air dengan doa Nabi Muhammad Saw. Ketika hari Hudaibiyah, orang-orang merasa haus. Rasulullah memegang kantong air yang biasa digunakannya untuk berwudhu. Orang-orang menghadap kepadanya dan berkata, “Tidak ada yang kita miliki kecuali kantong air yang ada di hadapanmu.” Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam kantong air, kemudian air mengalir dari celah-celah jarinya layaknya mata air. Semuanya minum dan berwudhu, jumlahnya seribu lima ratus orang.
  11. Isrâ’ dan Mi’râj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke langit tertinggi sampai ke Sidratul Muntaha, kemudian kembali lagi ke tempat tidurnya. Ketika itu, hari belum juga pagi.
  12. Al-Quran al-Karim. Kitab ini adalah kitab yang mengandung kabar orang-orang sebelum kita, kabar orang-orang setelah kita, hukum di antara kita, hidayah dan cahaya. Ia adalah mukjizatnya yang paling besar, tanda nubuwwahnya yang paling abadi dan kekal sepanjang hari dan sepanjang masa, agar terus menjadi bukti kebenaran nubuwwahnya. Dan hujjah itu tetap ada bagi sekalian makhluk sampai Allah SWT menetapkan ketetapan-Nya di muka bumi ini. Al-Quran al-Karim adalah salah satu mukjizat paling besar yang diberikan kepada Nabi kita Muhammad Saw, penjelasan paling agung. Terkait masalah ini, beliau mengatakan, “Tidaklah seorang Nabi pun dari kalangan Para Nabi kecuali diberikan sejumlah ayat, yang dengan semisalnya manusia mengimaninya. Dan yang diberikan kepadaku itu adalah wahyu yang diwahyukan oleh Allah SWT. Saya berharap menjadi orang yang paling banyak pengikutnya pada Hari Kiamat.” (Sebagian besar mukjizar ini terdapat dalam al-Shahîhain. Jikalau tidak terdapat dalam al-Shahîhain, maka ia terdapat dalam kitab-kitab al-Sunnah al-Nabawiyah)[]

No comments

Powered by Blogger.