Kewajiban Beriman Terhadap Uluhiyyah Allah SWT

No Comments
Kajian Kitab Minhaj al-Muslim, karya Syeikh Abu Bakar al-Jazairy
***

Seorang muslim mengakui Uluhiyyah Allah SWT bagi yang terdahulu dan yang kemudian, tidak ada ilah selain diri-Nya, tidak yang berhak disembah selain diri-Nya, berdasarkan dalil-dalil Naqli dan dalil-dalil Aqli.

Dasar pertama, tentunya hidayah Allah SWT. Siapa saja yang diberikan hidayah oleh Allah SWT, maka ia adalah orang yang mendapatkan hidayah. Dan siapa yang tersesat, maka tidak ada penunjuk baginya.

Dalil Naqli/ al-Quran dan Sunnah (Hadits)


Pertama, Persaksian Allah SWT, persaksian para Malaikat-Nya, dan para Ulama tentang Uluhiyyah-Nya. Allah SWT berfirman, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Surat Ali Imrân: 118)

#Kewajiban Beriman Terhadap Uluhiyyah Allah SWT

Kedua, Pemberitahuan Allah SWT dalam sejumlah ayat-Nya. Dia berfirman, “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. " (Surat al-Baqarah: 255)

Dan firman-Nya, “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. " (Surat al-Baqarah: 163)

Dan berfirman kepada Nabi-Nya; Nabi Musa alaihissalam, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku." (Surat Ťahâ: 14)

Dan berfirman kepada Nabi kita Muhammad Saw, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah." (Surat Muhammad: 19)

Dan berfirman memberitahukan tentang diri-Nya, “Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. " (Surat al-Hasyr: 22-23)

Ketiga, Pemberitahuan para Rasul tentang Uluhiyyah-Nya dan menyeru seluruh umat manusia untuk mengakuinya, kemudian untuk beribadah semata kepada-Nya bukan selain-Nya. Nuh berkata, “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." (Surat al-A’râf: 59)

Sama dengan Nuh, Syu’aib, Hud dan Shaleh; tidak ada seorang pun di antara mereka kecuali mengatakan, “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Dan Musa berkata kepada Bani Israel, “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.” (Surat al-A’râf: 140)

Musa mengatakan ini kepada Bani Israel ketika mereka memintanya untuk membuat patung sebagai Tuhan yang mereka sembah. Yunus berkata dalam tasbîhnya, “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (Surat al-Anbiyâ’: 87)

Nabi kita Muhammad Saw menucapkan dalam Tasyahhud shalatnya, “Saya bersaksi bahwa tiada Ilah melainkan Allah saja, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Dalil Aqli/ Logika


Pertama, Rububiyyah Allah SWT terhadap segala sesuatu sudah tsabit tanpa ada perdebatan sedikit pun. Rububiyyah itu melazimkan Uluhiyyah-Nya dan memastikannya. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, memberi dan tidak memberi, memberi manfaat dan memudharatkan, Dialah yang berhak disembah sekalian makhluk, wajib dipertuhankan dengan menaati-Nya dan mencintai-Nya, mengagungkan-Nya dan menyucikan-Nya, menyukai rahmat-Nya dan takut dengan azab-Nya.

Kedua, Jikalau semua makhluk itu ber-Rabb kepada Allah SWT, dalam artian mereka adalah orang-orang yang diciptakan oleh Allah SWT dan diberikan rezeki, diatur urusan mereka, ditentukan kondisi dan keadaan mereka, maka bagaimana bisa diterima logika jikalau mereka mempertuhan selain-Nya? Pastinya, dari jenis makhluk-Nya yang juga membutuhkan-Nya? Jikalau sudah jelas bahwa tidak ada makhluk yang menjadi Ilah, maka nyatalah bahwa Penciptanya adalah Ilah yang Haq dan berhak disembah.

Ketiga, Penyifatan-Nya dengan kesempurnaan yang mutlak. Sifat tersebut tidak ada pada selain-Nya, Zat yang Maha Kuat lagi Maha Kuasa, Maha Mulia lagi Maha Besar, Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Maha Lembut lagi Maha Penyayang, Maha Kasih lagi Maha Mengetahui. Semua itu melazimkan hati para hamba untuk menuhankan-Nya, dengan mencintai-Nya dan mengagungkan-Nya, kemudian menuhankan-Nya dengan anggota badan mereka, cara menaati-Nya dan mengikuti-Nya. []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment