Macam-Macam Air Dalam Thaharah

Kajian Kitab Fiqh al-Sunnah, karya Syeikh al-Sayyid Sabiq
***

Thaharah atau bersuci memiliki dua makna; Hakikiyah, yaitu bersuci dengan air; Hukmiyah, yaitu bersuci dengan tanah ketika air tidak tidak, dikenal dengan Istilah al-Tayammum.

Air, dalam kajian Thaharah, memiliki beberapa jenis;


Air Mutlak (al-Mâ’ al-Muthlaq)

Hukumnya Thahûr, yaitu suci dan menyucikan, yaitu mencakup beberapa jenis air.

1- Air Hujan, Air Salju, dan Air Dingin
Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, “Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu." (Surat al-Anfal: 11)

Dan firman-Nya, "Dan Kami turunkan dari langit air yang suci” (Surat al-Furqan:48)

#Macam-Macam Air Dalam Thaharah

Dan berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, “Jikalau Rasulullah Saw takbir dalam shalatnya, maka beliau diam sejenak sebelum membaca (al-Fatihah), kemudian saya bertanya, ‘Wahai Rasullah –demi ibu, engkau, dan bapakku, saya melihat diammu antara al-Takbir dan al-Qiraah, apakah yang engkau ucapkan?’ Beliau menjawab, ‘Saya membaca: Ya Allah, jauhkanlah antara diriku dengan kesalahan-kesalahanku sebagaimana engkau menjauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, sucikanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, bersihkanlah kesalahan-kesalahanku dengan salju, air, dan air dingin.” (Hr al-Jamaah, kecuali al-Turmudzi)

2- Air Laut
Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, kami sedang berlayar. Kami membawa sedikit air. Jikalau kami berwudhu dengan air tersebut, maka kami kehausan. Apakah kami boleh berwudhu dengan air laut?” Beliau menjawab, “Suci airnya, halal bangkainya.” (Hr al-Khamsah).

Al-Turmudzi mengatakan, “Hadits ini hadits Hasan Shahih. Dan saya bertanya kepada Muhammad bin Ismail al-Bukhari mengenai hadits ini, dan beliau menjadiwab, ‘Hadits Shahih.”

Nabi Saw tidak menjawab “Ya” agar hukum bisa dihubungkan dengan sebabnya, yaitu kesucian mutlak. Kemudian beliau menambahkan hukum yang tidak ditanyakan sama sekali, yaitu kehalalan bangkainya, sebagai bentuk faedah ilmu yang sempurna; memberitahukan hukum lainnya yang tidak ditanyakan. Hal itu dilakukan ketika memang ada hajat dan merupakan salah satu bentuk fatwa yang baik.

3- Air Zamzam
Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Saw meminta segayung air Zamzam, kemudian beliau meminumnya dan berwudhu. (Hr Ahmad)


4-Air yang Berubah karena lama diam atau tergenang atau bercampur sesuatu yang biasanya tidak bisa dipisahkan, seperti ranting dan daun pohon. 
Air seperti ini masuk dalam kategori Air Mutlak. Pada dasarnya, semua yang layak disebut air secara mutlak, maka ia bisa digunakan untuk bersuci. Allah SWT berfirman, “Jikalau kalian tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah.” (Surat al-Maidah: 6)

Air Bekas (al-Mâ’ al-Musta’mal)

Maksudnya, Air bekas atau sisa orang berwudhu atau mandi. Hukumnya Thahûr, yaitu suci dan menyucikan, sama dengan Air Mutlak. Hukumnya hukum asal air, sejaknya awalnya Suci-Menyucikan. Tidak ada dalil yang mengeluarkannya dari sifat Suci-Menyucikannya.

Dasarnya adalah hadits al-Rabi’ bint al-Muawwidz tentang sifat wudhu Rasullah Saw. Ia menjelaskan bahwa beliau mengusap rambutnya dengan air tersisa di kedua tangannya. (Hr Ahmad dan Abu Daud)

Kemudian dalam lafadz riwayat Abu Daud dijelaskan bahwa Rasulullah Saw mengusap kepalanya dengan sisa air di tangannya.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Saw bertemu dengannya di salah satu jalanan Madinah, Namun ia menghindar, pergi dan mandi (wajib), kemudian ia datang menghampiri Nabi Saw. Beliau bertanya, “Dimana engkau tadi wahai Abu Hurairah?” Ia menjawab, “Saya tadi Junub. Saya tidak merasa enak jikalau bermajelis denganmu dalam kondisi tidak suci.” Beliau berkata, “Maha Suci Allah, mukmin tidak bernajis.” (Hr al-Jamaah)

Artinya, Jikalau seorang mukmin tidak bernajis, maka tidak ada alasan menyatakan manusia bisa menghilangkan kesucian sesuatu karena sekadar bersentuhan. Sebab, yang terjadi adalah pertemuan antara yang suci dengan yang suci. Dan itu sama sekali tidak ada pengaruhnya.

Ibn al-Mundzir mengatakan, diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Umar, Abi Umamah, Atha bin Abi Rabah, al-Hasan al-Bashri, Makhul, dan al-Nakh’i, mereka mengatakan, “Siapa yang lupa mengusap kepalanya, kemudian mendapati basah di jenggotnya, maka cukup membasuhnya dengan sisa air di jenggotnya.”

Ia melanjutkan, “Ini menunjukkan, mereka berpandangan air al-Musta’mal sesuatu air yang menyucikan. Dan itulah pendapat yang saya pegang.”

Mazhab ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Malik dan Imam al-Syafii, kemudian pendapat ini juga disematkan oleh Ibn Hazm kepada Sufyan al-Tsauri, Abu Tsaur, dan semua Ahli al-Zhahir.

Air yang Bercampur dengan Sesuatu yang Suci

Air yang bercampur dengan sesuatu yang suci, seperti sabun, al-Za’faran, tepung, dan berbagai jenis suci lainnya yang tidak bisa dipisahkan dari air, maka hukumnya Suci-Menyucikan selama ia masih berada dalam kondisi Mutlaknya. Jikalau keluar dari hukum mutlaknya, tidak mencakup hukum dasar air, maka ia tetap Suci, namun tidak menyucikan.

Diriwayatkan oleh Umm Athiyyah, Rasulullah Saw menemui kami ketika anak perempuannya Zainab meninggal, kemudian beliau bersabda, “Mandikanlah tiga kali atau lima kali atau tujuk kali –sesuai dengan pandangan kalian, dengan air dan daun al-Sidr, kemudian diakhir ditambahkan Kafur atau potongan Kafur. Jikalau kalian selesai, maka beritahu diriku.” Ketika kami selesai, maka kami memanggilnya dan memberikan haknya. Beliau bersabda, “Pakaikan kafannya.” (Hr al-Jamaah)

Mayat tidak dimandikan kecuali dengan sesuatu yang bisa digunakan bersuci oleh orang yang masih hidup. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Nasai, Ibn Khuzaimah, dari Umm Hani’, Nabi Saw mandi bersama Maymunah dari satu bejana yang ada bekas adonannya (dalam riwayat lainnya: terjadi percampuran dengan air), hanya saja kemutlakkan airnya tidak hilang.

Air yang Bercampur Najis

Air yang bercempur dengan najis, ada dua keadaan:

Pertama, Jikalau Najis menyebabkan berubahnya rasa atau warna atau bau, maka tidak boleh bersuci dengan air tersebut menurut Ijma para ulama, sebagaimana dinukil dari Ibn al-Mundzir dan Ibn al-Mulqin

Kedua, Air masih dalam kemutlakannya, tidak berubah salah satu dari tiga sifat di atas. Hukumnya Suci-Menyucikan, baik airnya banyak maupun sedikit. Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah, ada seorang Badui yang Buang air Kecil (kencing/ pipis) di Masjid, kemudian orang-orang ingin menghajarnya. Nabi berkata, “Biarkan ia, tumpahkan di kencing tersebut seember air atau sebejana air. Kalian diutus untuk mempermudah, bukan mempersulit.” (Hr al-Jamaah, kecuali Muslim)

Abu Said al-Khudry radhiyallahu anhu meriwayat, ada seseorang yang bertanya kepada Rasululullah Saw, “Wahai Rasulullah, apakah kami boleh berwudhu dari sumur Budha’ah?” Beliau menjawab, “Air itu Suci-Menyucikan, tidak dinajiskan apapun.” (Hr Ahmad, al-Syafii, Abu Daud, al-Nasai, dan al-Turmudzi, kemudian dihasankannya)

Ahmad berkata, “Hadits Sumur Budha’ah adalah shahih, dishahihkan oleh Yahya bin Main dan Abu Muhammad bin Hazm.” 

Inilah pendapat yang dipegang oleh Ibn Abbas, Abu Hurairah, al-Hasan al-Bashri, Ibn al-Musayyib, Ikrimah, Ibn Abi Laila, al-Tsauri, Dau dl-Zhahiry, al-Nakh’i, Malik, dan lain-lain.

Al-Ghazali mengatakan, “Saya ingin kalau Mazhab Syafii mengenai air, sama dengan Mazhab Malik.”

Sedangkan hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, Nabi Saw bersabda, “Jikalau air mencapai dua kulah, maka ia tidak bernajis.” (Hr al-Khamsah)

Sanad dan Matannya Mudtharib. Ibn Abd al-Barr mengatakan dalam al-Tamhid, “Pendapat al-Syafii berdasarkan hadits “dua kulah” adalah mazhab yang lemah (dhaif) dari sisi kajian, dan tidak tsabit dari sisi atsar.[]

No comments

Powered by Blogger.