Meruntuhkan Ruang Khilaf Antara Rukyah dengan Hisab

Perbedaan antara Rukyah dan Hisab, khususnya di Indonesia, sudah menjadi masalah klasik semenjak dahulu. Dua Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam terbesar di Tanah Air, yaitu Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU) mengambil sikap yang berbeda. Muhammadiyah memegang Hisab, atau dengan bahasa lainnya al-Ru’yah al-Falakiyyah, yaitu Rukyah berdasarkan kajian Astronomi. Sedangkan NU memegang Ru’yah dengan Mata, atau dengan bahasa lainnya al-Ru’yah al-Fiqhiyyah (Rukyah sesuai Pandangan Fikih) atau al-Ru’yah al-Bashariyyah (Rukyah berdasarkan Pandangan Mata).

Entah sampai kapan masalah ini akan berujung? Kita juga tidak tahu jawabannya. Usaha untuk mendekatkan dan menyatukan paham, tentu harus dilakukan. Hanya saja, jikalau kita melihat dan memperhatikan Negara-Negara Modern, seperti Turki, kemudian Negara-Negara Eropa, maka kita akan mendapati mereka sudah menetapkan Hisab sebagai patokan dalam menentukan masuknya Bulan Ramadhan, waktu Hari Raya Idul Fitri, Hari raya Idul Adha, dan lain-lain.

#Meruntuhkan Ruang Khilaf Antara Rukyah dengan Hisab

Mereka sudah sejak lama menentukan kapan akan berpuasa Ramadhan, kapan akan Idul Fitri, kapan Idul Adha, kapan akan terjadi Gerhana Bulan dan matahari, dan sebagainya. Mereka tidak lakukan lagi al-Ru’yah al-Bashariyyah; melihat dengan pandangan. Dan rakyat pun tidak perlu nunggu sidang Itsbat kayak di Indonesia. Moment Religi sudah bisa ditentukan dan dipastikan sejak lama.

Di Indonesia, khususnya, walaupun sistem Hisab belum dipakai secara total, namun sudah mulai diakomodasi. Misalnya, ketika ada yang menyatakan sudah melihat Hilal, padahal secara perhitungan Astronomi atau Hisab, belum mungkin ada Hilal, maka persaksiannya ditolak. Sebanyak apapun yang bersaksi dan seshaleh apapun, tetap ditolak. Sebab secara ilmiah, persaksiannya ditolak.


Pada Akhirnya, Semuanya akan Mengiyakan Hisab

Ilmu Hisab atau Ilmu Astromi adalah kemajuan ilmu, teknologi, dan peradaban yang tidak mungkin bisa dibendungkan. Saya yakin, pada akhirnya semua juga akan menggunakan Hisab. Dan semuanya akan bersepakat menggunakannya. Masalahnya hanyalah masalah waktu.

Sepanjang sejarah Islam, teknologi terbaru, jikalau terkait dengan Ibadah atau Muamalah, biasanya tidak lansung diterima. Pasti didahului oleh Kontroversi. Dahulu, misalnya, ketika ditemukan Microphone atau Pengeras Suara, maka muncullah berbagai macam pendapat menyikapinya ketika digunakan untuk mengumandangkan Azan. Ada yang menyatakan Bidah sesat. Ada juga yang menerima.

Masa berganti, waktu berlalu, sekarang masalah tersebut hanyalah ada dalam catatan sejarah. Hampir semua Masjid atau Mushalla atau Surau menggunakan pengeras suara untuk mengumandangkan Azan. Bahkan, shalat pun pakai pengeras suara.

Kalau dalam konteks Indonesia, kayaknya mirip dengan Tukang Ojek Online dengan Tukang Ojek Pangkalan. Walaupun Tukang Ojek Pangkalan berusaha melakukan infiltrasi atas wujud Ojek Online, tetap tidak akan bisa dikalahkan dan dimusnahkan. Malahan Ojek Pangkalannya yang kehilangan wujud atau eksistensi.

Teknologi tidak akan bisa dilawan. Itulah kemajuan peradaban. Semakin dilawan, maka ia akan semakin maju ke depan.

Point yang Menjadi Sumber Perbedaan Pendapat

Jikalau kita mau melakukan Tahrir Mahall al-Niza’; mencari sebab masalah, maka pangkalnya adalah masalah memahami teks agama. Masalahnya bukan kontradiksi antara Ilmu dengan Agama. Sama sekali bukan. Hanya saja perbedaan paham ini harus diperkecil, bahkan harus diarahkan ke satu titik.

Ketika kita membaca Kitab-Kitab Fikih, maka kita akan mendapati komentar seperti ini, “al-Ru’yah Amr Yaqiny, wa al-Hisab Amr Zhanny.” Maksudnya, Ruyah itu bersifat yakin, dan Hisab bersifat Zhanny.

Ungkapan ini memang benar, tapi benar pada zamannya, ketika kitab-kitab tersebut ditulis. Jikalau ungkapan itu diungkapkan pada masa sekarang ini, malah sebaliknya yang terjadi; Hisab bersifat Qath’i dan Rukyah bersifat Zhanni. Ilmu Falak sekarang ini merupakan Ilmu Pasti, khususnya berkaitan dengan waktu dan hari.

Secara ilmiah, perhitungan dengan Ilmu Hisab, jauh lebih kuat dari persaksian dua orang adil yang tidak makshum (terjaga) dari kesalahan. Padahal para Ahli Astronomi mampu menentukan kapan terjadinya Gerhana Bulan atau Gerhana Matahari jauh sebelum terjadinya, dengan perhitungan yang tidak meleset sama sekali. Bahkan, berapa lama terjadinya, mereka juga mampu memperhitungkannya. Ini fakta. Jarang meleset perhitungan yang ditetapkan oleh Ahli Astronomi.

Hal yang sama juga berlaku untuk shalat. Kita menentukan waktu shalat, berpegang dengan hasil perhitungan Hisab atau Astronomi. Lima kali dalam sehari. Minimal. Bisa dikatakan, tidak ada lagi di zaman sekarang ini, yang lansung melihat bayangan matahari untuk menentukan shalat. Jikala shalat saja, ibadah harian kita, lima kali dalam sehari, kita bisa menggunakan Hisab, dan kita tidak berbeda mengenai penggunaannya, kenapa tidak bisa digunakan untuk ibadah puasa?

Hehe...

Pangkal perbedaan pendapat di kalangan Ulama adalah paham terhadap habits Nabi Muhammad Saw, "Jikalau kalian melihatnya, maka berpuasalah.” Para penganut paham al-Ru’yah al-Bashariyyah atau al-Ru’yah al-Fiqhiyyah, mereka berpandangan masalah ini adalah masalah al-Ta’abbudiyyah al-Manshus alaiha (bersifat ibadah bernash). Tidak membutuhkan Logika. Begitu kata Nash, begitulah yang seharusnya dijalankan.

Pandangan mereka, dalam masalah ini, tidak ada ruang untuk Ijtihad; La Ijtihad Ma’a al-Nash; Tidak ada Ijtihad bersama Nash. Dasar mereka ini kuat. Sebab inti ibadah adalah al-Amr (Perintah) dan al-Nahy (Larangan), bukan akal dan logika.

Menyikapi pandangan ini, ada beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan...

Firman Allah SWT tentang Haji:
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (Surat al-Hajj: 27)

Kemudian firman-Nya tentang Jihad:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." (Surat al-Anfal: 60)

Pada hari ini, kita tidak menunaikan haji dengan berjalan kaki atau mengendarai unta, kemudian kita juga tidak berjihad dengan kuda, padahal Nashnya Qath’i. Kenapa Anda tidak memaksa yang lainnya melakukan semua ini? Nashnya kan Qath’i.

Mereka akan menjawab, “Ini hanyalah wasilah; sarana; jalan; metode, dan sarana atau wasilah pasti akan selalu berubah, berbeda dengan ibadah yang memang dituju zatnya (al-Ibadah al-Masqshudah bi Dzatiha).”

Kita bisa menjawab, “Rukyah juga begitu. Ia hanyalah wasilah; jalan; cara; metode untuk mengetahui masuknya bulan, bukan Ibadah al-Maqshudah bi Dzatiha.

Masalah selanjutnya, Ru’yah juga berkaitan dengan beberapa hukum syariat lainnya, selain Penentuan Bulan Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha, sebagaimana terdapat dalam Hadits Shahih, “Jikalau kalian menyaksikan malam sudah datang dari arah sini, maka orang yang berpuasa boleh berbuka.” Maka, apakah disyaratkan melihat dengan mata (al-Ru’yah al-Bashariyyah) setiap malam?

Sama juga dengan shalat. Dalam hadits panjang Jibril dijelaskan panjang lebar mengenai waktu shalat, berpatokan dengan bayang-bayang matahari. Apakah kita melakukannya sekarang ini? Kalau tidak, apakah haditsnya terabaikan? Bahkan, semuanya sekarang pakai perhitungan Hisab.

Itu hanyalah sekadar jendela pembuka pikiran, mengerucutkan diskusi dan perdebatan agar tidak larut dalam masalah itu-itu saja, kemudian untuk meluruskan jikalau ada yang salah paham atau salaf tafsir selama ini. []

No comments

Powered by Blogger.