Para Wali Allah SWT dan Karamah Mereka

Kajian Kitab Minhaj al-Muslim, karya Syeikh Abu Bakar al-Jazairy
***

Seorang muslim wajib mempercayai Allah SWT memiliki para wali yang dipilih-Nya untuk beribadah kepada-Nya, dimuliakan dengan ketaatan, dan diagungkan dengan mencintai-Nya. Dia memberikan mereka karamah-Nya.

Dia adalah wali mereka yang mencintai mereka dan dekat dengan mereka. Mereka adalah para wali-Nya yang mencintai-Nya dan memuliakan-Nya. Mereka menjalankan perintah-Nya, dan dengan perintah-Nya itu mereka memerintah. Mereka meninggalkan larangan-Nya, dan dengan larangan-Nya itu mereka melarang. Mereka mencintai dengan cinta-Nya. Mereka membenci dengan benci-Nya.

#Para Wali Allah SWT dan Karamah Mereka

Jikalau mereka meminta kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkannya. Jikalau mereka meminta pertolongan-Nya, maka Dia akan menolong mereka. Jikalau mereka meminta perlindungan-Nya, maka Dia akan melindungi mereka.

Mereka adalah ahli Iman dan takwa, ahli karamah dan busyra di dunia dan di akhirat. Setiap mukmin yang bertakwa, ia adalah wali Allah SWT. Hanya saja, mereka memiliki derajat yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketakwaan mereka dan keimanan mereka. Semakin besar derajat iman dan takwanya, maka semakin tinggi derajatnya di sisi Allah SWT dan semakin besar karamahnya.

Penghulu para wali adalah para Rasul dan para Nabi, setelah mereka adalah orang-orang yang beriman. Semua karamah yang tampakkan pada diri mereka, seperti kemampuan untuk memperbanyak makanan yang awalnya sedikit, atau menyembuhkan berbagai kepedihan dan penyakit, atau kemampuan menyeberangi lautan, atau kemampuan tidak terbakar oleh api, dan selainnya, semua itu adalah bagian dari mukjizat.

Hanya saja, mukjizat ini berkaitan dengan al-Tahaddi (tantangan), sedangkan al-Karâmah tidak ada hubungannya dengan hal tersebut sama sekali. Karamah yang paling besar atau paling agung adalah Istiqamah menjalankan ketaatan, yaitu dengan menjalankan segala perintah syariat, kemudian menjauhi segala yang diharamkan dan dilarang.

Dan itu berdasarkan Dalil-dalil berikut:

Pertama, Pemberitahuan Allah SWT mengenai para wali-Nya dan karamah yang mereka miliki dalam firman-Nya, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (Surat Yûnus: 62-64)

Dan firman-Nya, “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). " (Surat al-Baqarah: 257)

Dan firman-Nya, “dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa." (Surat al-Anfâl: 34)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh." (Surat al-A’râf: 196)

Dan firman-Nya, “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. " (Surat Yûsuf: 24)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga." (Surat al-Isrâ’: 65)

Dan firman-Nya, “Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah." (Surat Ali Imrân: 37)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul,  (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." (Surat al-Shaffât: 139-144)

Dan firman-Nya, “Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu." (Surat Maryam: 24-26)

Dan firman-Nya, “Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim", mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. " (Surat al-Anbiyâ’: 69-70)

Dan firman-Nya, “Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, Kemudian Kami bangunkan mereka." (Surat al-Kahfi: 9-12)

Kedua, Pemberitahuan Rasulullah Saw tentang para wali Allah SWT dan karamah mereka dalam sabdanya yang diriwayatkannya dari Allah SWT, “Siapa yang menentang wali-Ku, maka Aku sudah mengumandangkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku akan selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah sampai Aku mencintainya. Jikalau Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, menjadi pandangannya yang dengannya ia memandang, menjadi tangannya yang dengannya ia memukul, dan menjadi kakinya dengannya ia melangkah. Jikalau ia meminta kepada-Ku, maka Aku benar-benar akan memberinya. Jikalau ia meminta perlindungan-Ku, maka Aku benar-benar akan melindunginya.”(Sudah ditakhrij di bagian sebelumnya)

Dan firman-Nya, “Saya akan membalas untuk para wali-Ku sebagaimana singa perang membalas.”

Dan sabdanya, “Di antara hamba Allah SWT ada yang jikalau bersumpah atas nama-Nya, maka Dia akan mengabulkannya.”(Diriwayatkan oleh Muslim (1302) dan Imâm Ahmad (3/128, 167, 284)

Dan sabdanya, “Di tengah umat-umat sebelum kalian, ada orang-orang yang diajak bicara. Jikalau ada itu di antara umatku, maka ia adalah Umar.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (5/15), terdapat dalam Fath al-Bâri (7/42) 

Dan sabdanya, “Dahulu ada seorang perempuan yang menyusui anaknya, kemudian ia melihat seorang laki-laki yang duduk di sofa mahal, kemudian ia berdoa, ‘Ya Allah, jadikan anak saya seperti ini.’ Anak itu melihatnya dengan posisi masih menyusu, kemudian berkata, ‘Ya Allah, jangan menjadikan saya sepertinya.”(Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (4/1976) dan Musnad Ahmad (2/301, 307, 308) Berbicaranya anak yang masih menyusu kepada ibunya adalah karamah bagi anak itu sendiri dan ibunya. Dan sabdanya tentang Juraij; sang ahli ibadah dan ibunya, yaitu taktala ibunya berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau mematikannya sampai Engkau memperlihatkan kepadanya wajah para wanita binal.” Kemudian, Allah SWT mengabulkan doanya sebagai karamah dari-Nya. Juraij; anaknya berkata ketika orang-orang menuduhnya berzina, dan menuduh anak pezina itu adalah anaknya, “Siapakah bapakmu?” Ia menjawab, “Pengembala kambing.” (Sudah di-Takhrîj sebelumnya) Berbicaranya anak yang masih disusui ibunya adalah karamah bagi Juraij sang Ahli Ibadah.

Kemudian juga sabdanya terkait tiga orang yang terkurung di dalam gua. Mereka berdoa kepada Allah SWT dan bertawassul kepada-Nya dengan amal-amal shaleh yang pernah mereka lakukan.
Allah SWT mengabulkan doa mereka dan memberikan kelapangan, sampai mereka bisa keluar dari gua dengan selamat, sebagai karamah bagi mereka.

Kemudian juga sabdanya tentang pendeta dan seorang anak muda, yang di dalamnya dijelaskan bahwa anak muda tersebut melempar binatang yang menghalangi jalan orang banyak dengan batu, sehingga binatang itu mati dan orang-orang bisa lewat. Dan itu adalah karamah bagi anak muda. Sebagaimana raja berusaha untuk membunuh anak muda itu dengan berbagai cara, namun selalu berujung kegagalan. Sampai-sampai, ia dilemparkan dari bukit yang tinggi, namun tidak juga meninggal. Kemudian ia dilemparkan ke laut, namun ia berhasil keluar dan berjalan layaknya manusia biasa, tidak meninggal. Itu adalah karamah bagi anak muda yang beriman dan shaleh. (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Zuhd (73)

Ketiga, Riwayat dari ribuan para ulama. Mereka menyaksikan para wali dan berbagai karamah mereka yang tidak terhitung. Diriwayatkan, para Malaikat mengucapkan salam kepada Imrân bin Hushain radhiyallahu anhu. Kemudian ada Salmân al-Fârisi dan Abu al-Darda’ radhiyallahu anhuma yang makan di sebuah piring, kemudian piring atau makanan bertasbih.

Kemudian Khubaib radhiyallahu anhu suatu kali menjadi tawanan kaum musyrikin di Mekkah, kemudian ia medapatkan buah anggur yang bisa dimakannya. Padahal ketika itu tidak ada buah anggur di Mekkah.

Kemudian al-Barrâ bin ‘Ăzib radhiyallahu anhu jikalau bersumpah atas nama Allah SWT terhadap sesuatu, maka Dia akan mengabulkannya. Ketika hari al-Qâdisiyyah ia bersumpah atas nama Allah SWT bahwa kaum muslimin akan mengalahkan kaum musyrikin dan ia akan menjadi syahid pertama dalam perang itu, kemudian terjadilah apa yang dipintanya.

Kemudian Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu suatu kali berkhutbah di mimbar Madinah, ia berkata, “Wahai Sâriyah, ke bukit! Wahai Sâriyah, ke bukit!” Ia sedang mengarahkan panglima perang yang bernama Sâriyah. Sâriyah mendengar suaranya dan pasukan beranjak menuju bukit. Itu menjadi kemenangan mereka, dan para musuh dari kalangan kaum musyrikin mengalami kekalahan.  Ketika Sâriyah pulang, ia mengabari Umar dan para sahabat lainnya tentang suara Umar radhiyallahu anhu yang didengarnya.

Kemudian ada juga al-‘Ălla’ bin al-Hadhrami yang berucap dalam doanya, “Ya ‘Alîm ya Hakîm, ya ‘Alîy ya ‘Ăzhîm.” Kemudian dikabulkanlah doanya. Ia mampu menyebarang lautan bersama para pasukannya, sedangkan kuda-kuda mereka tidak basah sama sekali.

Kemudian ada juga Hasan al-Bashri yang mendoakan keburukan bagi seseorang yang menyakitinya, kemudian orang tersebut meninggal sesuai dengan kondisi yang didoakan.

Kemudian ada juga seorang laki-laki dari al-Nakh’ yang memiliki keledai, kemudian keledainya mati dalam perjalanannya. Ia pun berwudhu dan mengerjakan shalat sebanyak dua rakaat, serta berdoa kepada Allah SWT. Dia pun menghidupkan keledainya dan kembali membawa barang-barangnya.

Banyak lagi karamah-karamah lainnya yang jumlahnya tidak terhitung, yang disaksikan oleh ribuan bahkan jutaan manusia.[]

No comments

Powered by Blogger.