Rumitnya Masalah Pembantu (al-Khãdim) Dalam Fikih

No Comments
Pembantu (al-Khãdim), merupakan salah satu masalah yang rumit kajiannya dalam kitab-kitab fikih. Apakah ia masuk dalam kebutuhan Primer atau bukan? Jikalau masuk, maka akan ada beberapa konsekwensi hukumnya. Jikalau tidak, maka hukumnya pun akan berbeda.

Jikalau kita melihat realita yang ada sekarang ini, hampir semua rumah di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, membutuhkan pembantu atau al-Khadim. Bahkan para Syeikh yang mengajar di Masjid-Masjid di wilayah Haram, di rumahnya pun ada pembantu. Kalau tidak semuanya, pasti ada di antara mereka yang memilikinya.

Ah, tidak usah jauh-jauh. Di Indonesia saja banyak yang membutuhkan pembantu. Keluarga menengah ke atas, rata-rata pasti memiliki Pembantu. Kelas menengah ke bawah bukannya tidak mau memiliki pembantu, tapi kurang Budget saja. 

#Rumitnya Masalah Pembantu (al-Khãdim) Dalam Fikih

Pembantu (al-Khãdim) dan Kewajiban Zakat


Ketika membahas masalah zakat, ada dua tema yang biasanya dihubungkan dengan pembantu.

Pertama, Ketika menjelaskan Syarat-Syarat Wajib Zakat, khususnya ketika menjelaskan bagian al-Fadhl ‘an al-Hawãij al-Ashliyah (lebih dari kebutuhan pokok). Dalam pandangan Ahli Fikih, segala bentuk kebutuhan pokok, tidak masuk dalam kewajiban zakat. Kemudian, dicontohkan sejumlah kebutuhan pokok yang mencakup rumah, makanan, pakaian, dan pembantu.

Kedua, Ketika menjelaskan kategori fakir dan miskin yang berhak mendapatkan zakat, apakah bisa dianggap seseorang itu fakir ketika ia tidak mampu mencukupi kebutuhannya, walaupun ia sendiri memiliki pembantu yang melayaninya? Atau wujud pembantu tersebut merupakan dalil bahwa ia adalah orang kaya yang tidak layak mendapatkan zakat?

Kedua kondisi ini dijelaskan oleh karya-karya fikih kita, dengan kutipan sebagai berikut:
“Tidak masalah jikalau zakat tersebut diberikan kepada orang yang memiliki rumah dan memiliki peralatan rumah tangga di rumahnya, pembantu, kuda, senjata, pakaian, dan buku-buku keilmuan jikalau ia memang ahlinya. Jikalau ia memeliki kelebihan dari semua itu, yang jumlahnya mencapai 200 dirham, maka haram baginya mengambil sedekah.”

Al-Imâm Hasal al-Bashri pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki rumah dan pembantu, apakah ia tetap mengambil zakat? Kemudian ia menjawab, “Ia bisa mengambilnya jikalau membutuhkan, dan tidak ada masalah sama sekali.” (Kitab al-Amwâl karya Abû Ubaid, halaman 556)

Umar bin Abd al-Azîz, di masa kekhalifahannya, ketika ia menjadi khalifah, ia menulis kepada para Gubenurnya agar mereka melunasi hutang orang-orang yang berhutang, kemudian ada yang menjawab titahnya:
“Kami mendapati seseorang yang memiliki rumah, pembantu, kuda, dan peralatan rumah tangga di rumahnya, namun ia berstatus penghutang?”

Umar menjawabnya dengan menulis:
“Seorang muslim harus memiliki rumah yang ditinggalinya, pembantu yang membantu menyelesaikan pekerjaannya, kuda yang digunakannya untuk berjihad melawan musuhnya, dan harus ada peralatan rumah tangga di rumahnya. Ya, bayarkan hutangnya. Ia adalah orang yang terbebani hutang.” (Kitab al-Amwâl karya Abû Ubaid, halaman 556)

Pembantu  (al-Khãdim) dan Ibadah Haji


Pembahasan mengenai Pembantu, juga akan Anda dapatkan ketika membahas masalah haji, khususnya ketika para Ahli Fikih berbicara tentang al-Istithâ’ah al-Mâliyah (Kemampuan Materi) yang menyebabkan wajibnya haji, implementasi dari firman Allah SWT:
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (Surat Ali Imran: 97)

Orang-orang berkata, “Apakah kemampuan Materi itu terhitung setelah dibayarkannya gaji pembantu? Atau pembayaran gaji ini bagian dari kesejahteraan yang tidak bisa dilepaskan dari seseorang?”

Ada beberapa Nash yang menjelaskan:
“Baru dianggap (mampu) jikalau sudah ada kelebihan dari kewajibannya untuk menafkahi keluarganya, kelebihan dari kebutuhan dirinya dan keluarganya, berupa rumah dan pembantu.” (Kitab al-Mughny, 5/ 12)

Penulis kitab al-Mughny menganggap bahwa upah pembantu, kedudukannya sama dengan rumah. Sama-sama kebutuhan pokok. Jikalau sudah terpenuhi, barulah setelahnya dimulai tahap “kaya” yang menyebabkan wajibnya haji.

Hanya saja, beberapa baris setelah kalam di atas, Anda akan terkejut dengan pandangan penulis al-Mughny, yang menempatkan nikah, tidak sama dengan status Pembantu:
“Jikalau ia ada hajat untuk menikah, khawatir jikalau berbuat zina, maka didahulukan nikah. Sebab, hukumnya sudah wajib baginya. Tidak bisa diabaikan. Hukumnya sama dengan nafkah. Jikalau tidak khawatir, maka didahulukan haji. Sebab nikah itu sunnah. Sehingga, ia tidak didahulukan dari haji yang bersifat wajib.” (Kitab al-Mughny, 5/ 12)

Maksudnya, seorang pemuda berkewajiban untuk mempersiapkan haji terlebih dahulu sebelum mempersiapkan diri untuk menikah. Kecuali jikalau ia khawatir akan terjerumus ke dalam perzinaan. Maka, ketika itu diizinkan baginya untuk mempersiapkan biaya pernikahan sebelum haji.

Pointnya, masalah pernikahan berada di anak tangga lebih rendah ddibandingkan masalah pembantu dalam tangga kebutuhan sosial kemasyarakatan. Artinya, kebutuhan manusia terhadap pembantu, jauh lebih besar dari kebutuhannya terhadap pernikahan.

Pembantu (al-Khãdim) dan Istri


Dalam bab Nikah, terdapat pembicaraan tentang keharusan adanya “pembantu” bagi istri atau tidak? Apakah ia wajib bagi setiap suami atau hanya wajib kepada suami yang istrinya berasal dari lingkungan sosial yang terbiasa dengan adanya pembantu?

Masalah ini diperdebatkan oleh para ulama, berdasarkan firman Allah SWT:
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." (Surat al-Thalaq: 7)

Pembantu (al-Khãdim) dan Kebangkrutan (al-Iflâs)


Bab tentang “Kebangkrutan”, juga membahas tentang Pembantu. Para Ahli Fikih membahas tentang orang yang berhutang ketika tidak mampu menunaikan kewajibannya membayar hutang. Jikalau itu terjadi, maka semua yang dimilikinya dijual untuk membayarkan hutangnya sesuai dengan hasil penjualannya, kecuali kebutuhan pokok yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan seorang anak manusia, yang salah satunya adalah Pembantu.

“Wajib bagi hakim atau wakilnya menyisakan harta primer bagi orang yang dihukumi bangkrut, berupa rumah dan pembantu yang layak. Sebab, keduanya tidak bisa diabaikan, sehingga tidak dijual untuk membayarkan hutangnya. Hukumnya sama dengan pakaiannya dan makanan pokoknya.” (Kitab Kasyf al-Qinâ’ an Matan al-Iqnâ’, 3/ 433)

Pembantu (al-Khãdim) dan Upah Pegawai


Diriwayatkan oleh al-Mustawrid bin al-Syaddâd, saya mendengar Nabi Muhammad Saw bersabda, “Siapa yang bekerja untuk kami, kemudian tidak memiliki rumah, maka ambilah rumah. Atau tidak memiliki istri, maka ambillah istri. Atau tidak memiliki pembantu, maka ambillah pembantu. Atau tidak memiliki kenderaan, maka ambillah kenderaan. Siapa yang mendapatkan sesuatu selain itu, maka ia khianat.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, hadits shahih dengan berapa jalur periwayatannya, terdapat dalam Musnad Ahmad, cetakan al-Risâlah 29/ 543)

Hadits ini menjelaskan bahwa upah pegawai umum negara seharusnya mencukupi untuk memiliki Rumah + Istri + Pembantu + Kenderaan. Semua itu adalah unsur yang menjamin berputarnya roda kehidupan untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder. Para Ulama Kontemporer mencabut point “Pembantu” untuk masuk dalam gaji pekerja atau pegawai. Masalahnya Debateble.

Pembantu Bersama (al-Ajîr al-Musytarak)


Para Ahli Fikih hari ini dibuat kebingungan dengan masalah di atas; apakah gaji pembantu masuk dalam kategori kebutuhan Primer, sehingga tidak masuk dalam kewajiban zakat; boleh dipenuhi dulu sebelum persiapan biaya haji; membiarkannya tetap ada di tangan orang yang bangkrut; dan menjadikannya sebagai salah satu unsur gaji wajib bagi pekerja? Atau tidak?

Jikalau dilihat kitab-kitab fikih, maka akan didapati bahwa “Pembantu” salah satu kebutuhan primer. Namun jikalau dilihat realitasnya, maka akan didapati bahwa ia merupakan salah satu tanda kekayaan dan kesejahteraan.

Pangkal kebingungan ini adalah ketidaktahuan kondisi sosial (al-Namth al-Ijtima’i) yang menjadi sebab para Ahli Fikih terdahulu melahirkan fikih “pembantu” dan ketidaktahuan dengan menjadikannya sebagai kebutuhan primer. Kondisi sosial ketika itu membuat kebutuhan terhadap “pembantu” menjadi sesuatu yang primer. Tidak ada ketika itu “pembantu bersama” atau al-Ajir al-Musytarak, yang sekarang banyak wujudnya dan banyak didapati.

Ketika itu tidak ada toko roti yang menjual roti, sehingga setiap keluarga harus memenuhi kebutuhan rotinya sendiri. Untuk mengatasi masalah “roti” ini dibutuhkan usaha besar; kaloborasi dengan pembantu, untuk mengadon tepung, membuat tungku perapian, memasak rotinya, dan lain-lain.

Dengan kondisi sosial seperti ini, tidak mungkin berlepas diri dari pembantu. Kedudukannya lebih penting dari istri bagi yang masih bujangan. Ia bisa saja bersabar tidak memiliki istri, namun ia tidak akan mampu bertahan tanpa makan.

Sama kedudukannya dengan mencuci baju. Ketika itu tidak ada Mesin Cuci atau Mesin Cuci Otomatis. Hanya bisa dicuci tangan. Tidak ada Laundry seperti yang ada di zaman sekarang.

Menghidangkan dan menyiapkan makanan dengan segala turunannya, juga masuk dalam pembahasan ini. Ketika itu, tidak ada restoran atau warung makanan yang menjual makanan siap saji, atau menjual bahan-bahan yang siap saji.

Kondisi sosial yang kita jalani sekarang ini, sudah memiliki “pembantu bersama” (al-Ajîr al-Musytarak), berupa restoran, laundry, toko roti, penjahit, tukang sterika baju, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Pada zaman ini, wujud pembantu di rumah bukanlah kebutuhan primer. Pembantu Bersama (al- Ajîr al-Musytarak) sudah menyelesaikan semua masalah di atas. Tidak dibutuhkan lagi pembantu khusus (al-Khâdim al-Khâs). Pekerjaan-pekerjaan rumah tangga lainnya, seperti menyapu rumah dan mengepel lantai, bisa dilakukan sendiri oleh pemilik rumah. Jikalau tidak mampu, maka ia bisa meminta bantuan Pembantu khusus, ketika benar-benar dibutuhkan. Apalagi, seperti mengepel lantai, tidak perlu dilakukan setiap hari. Sesekali saja.

Logikanya sama dengan kenderaan. Dahulu, ia merupakan salah satu kebutuhan primer karena tidak adanya ketika itu transportasi massal, taksi, atau bus. Sekarang, semua sudah ada. Masalahnya pun selesai. Kondisi sosial berubah.

Al-Qarrâfy mengatakan, “Kaedah ini harus diperhatikan. Dengan menguasainya, Anda akan mendapati banyak kesalahan para Ahli Fikih dan Ahli Fatwa. Mereka mengiring semua yang tertulis di buku-buku para Imam mereka ke semua penduduk negeri di semua zaman. Itu bertentangan dengan Ijma’. Mereka adalah para pelaku maksiat yang berdosa di hadapan Allah SWT, tidak ada udzur dengan kejahilan (tidak tahu). Sebab mereka berfatwa padahal tidak layak melakukannya, sama sekali tidak paham dengan ilmu-ilmu fatwa, syarat-syaratnya, dan kondisi-kondisinya.” (Kitab al-Furuûq karya al-Qarrâfy, 1/ 46)

Ia melanjutkan, “Bersikap jumud terhadap kitab-kitab yang dinukil, selamanya adalah bentuk kesesatan dalam beragama, kejahilan terhadap Maqashid ulama muslimin dan para salaf terdahulu.” (Kitab al-Furuûq karya al-Qarrâfy, 1/ 191) []
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment