Sunnah Nabi Muhammad Saw Sebagai Hujjah Dalam Syariat (1)

Sunnah Nabi Muhammad Saw memiliki kedudukan penting dalam Syariat Islam, berada di posisi kedua setelah al-Quran al-Karim. Ia merupakan implementasi real kandungan al-Quran, penyingkap hal-hal multi interpretasi, penjelas makna-maknanya, penerang lafadz-lafadznya dan kata-katanya.

Jikalau al-Quran menetapkan kaedah dan dasar umum Syariat dan Hukum, kemudian juga Furu’, maka tidak mungkin agama dan syariat akan sempurna kecuali jikalau al-Quran dan hadits duduk bersampingan.

#Sunnah Nabi Muhammad Saw Sebagai Hujjah Dalam Syariat (1)

Banyak sekali ayat al-Quran dan hadits Nabi yang memerintahkan kita untuk menaati Rasulullah Saw, berhujjah dengan sunnahnya dan mengamalkannya, ditambahkan lagi dengan adanya Ijma’ umat dan pendapat para Imam Mazhab yang menetapkan kehujjahannya dan kewajiban menjadikannya sebagai hujjah.

Dalil-Dalil dari al-Quran al-Karim


Banyak sekali ayat al-Quran yang menunjukkan bahwa Sunnah Nabi Muhammad Saw adalah hujjah dan wajib mengikutinya.

Pertama, Ayat-ayat yang menegaskan wajibnya menaati Rasulullah Saw dan mengikutinya, mewanti-wanti untuk tidak menyelisihinya dan mengubah sunnahnya, ketaatan kepadanya adalah ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu." (Surat Muhammad: 33)

Dan firman-Nya:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka." (Surat al-Nisa: 80)

Dan firman-Nya:
فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ
Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim." (Surat al-Hasyr: 17)

Kedua, Ayat-ayat yang menjelaskan bahwa konsekwensi iman adalah menaati Rasulullah Saw, ridha dengan hukum yang ditetapkannya, menjalankan perintah dan larangannya, sebagaimana firman Allah SWT:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (Surat al-Ahzab: 36)

Dan firman-Nya:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (Surat al-Nisa: 65)

Dan firman-Nya:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Surat al-Nur: 51)

Ketiga, Ayat-ayat yang menjelaskan secara umum bahwa sunnah adalah wahyu dari Allah SWT, Rasulullah Saw tidak membawa risalah pensyariatan yang berasal dari dirinya sendiri. Sesuatu yang diharamkan oleh Rasulullah Saw dalam sunnahnya, sama dengan yang diharamkan dalam kitab-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ
Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami.

لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ
niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya.

ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ
Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.

فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ
Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu." (Surat al-Haqqah: 44-47)

Dan firman-Nya:
قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk." (Surat al-Taubah: 29)

Dan firman-Nya:
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Surat al-A'raf: 157)

Keempat, Ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Rasululah Saw adalah penjelas al-Quran dan pensyarahnya. Beliau mengajarkan hikmah kepada umatnya, sebagaimana mengajarkan al-Quran, sebagaimana firman-Nya:
بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan." (Surat al-Nahl: 44)


Dan firman-Nya:
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (Surat al-Nahl: 64)

Dan firman-Nya:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Surat Ali Imran: 164)

Para Ulama dan Ahli Tahqiq berpandangan bahwa maksud al-Hikmah adalah Sunnah Rasulullah Saw. Imam al-Syafii mengatakan, “Ketika Allah SWT menyebutkan al-Kitab, maka maksudnya adalah al-Quran. Ketika menyebutkan Hikmah, maka saya mendengar pakar al-Quran berkata bahwa al-Hikmah itu adalah Sunnah Rasulullah Saw.”

Dalil-Dalil Sunnah Rasulullah Saw


Jikalau melihat sunnah Rasulullah Saw, maka dalilnya sangat banyak sekali, menegaskan wajibnya beramal dengan sunnah dan menegaskan kehujjahannya.

Pertama, Hadits-hadits yang menjelaskan bahwa beliau diwahyukan al-Quran dan selainnya, kemudian hukum yang beliau jelaskan dan beliau syariatkan adalah syariat Allah SWT, beramal dengan sunnah sama dengan mengamalkan al-Quran, menaati Rasulullah Saw adalah menaati Allah SWT, bermaksiat kepadanya adalah maksiat kepada Rabb, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
“Hampir saja seseorang duduk di sofanya, kemudian dia menyampaikan haditsku seraya berkata, ‘Di hadapan kita ada Kitabullah. Kehalalan yang kita dapatkan di dalamnya, maka kita halalkan. Keharaman yang kita dapatkan di dalamnya, kita haramkan. Ketahui, apa yang diharamkan oleh Rasullah Saw, sama dengan yang diharamkan oleh Allah SWT.” (HR Ibn Majah)

Dalam riwayat Abu Daud, “Ketahuilah, saya diberikan al-Kitab dan semisalnya bersama al-Kitab tersebut. Ketahuilah, hampir saja seseorang yang kekenyangan berkata di atas sofanya, ‘Berpegangteguhlah dengan al-Quran ini. Kehalalan yang kalian dapatkan di dalamnya, maka halalkanlah. Keharaman yang kalian dapatkan di dalamnya, maka haramkanlah.”

Dan sabdanya:
“Pemisalanku dan pemisalan apa yang aku bawa seperti seseorang yang mendatangi suatu kaum dan berkata, ‘Wahai kaum, saya melihat pasukan dengan mataku, saya adalah pemberi peringatan yang nyata.’ Ada sekelompok orang yang menaatinya, kemudian berangkat di awal malam dengan pelan-pelan dan selamat. Ada sekelompok lainnya yang mendustai dan tetap berada di tempat mereka. Kemudian di pagi harinya pasukan tadi menyerang mereka dan menghancurkan mereka. Begitulah pemisalan orang yang menaatiku dan mengikuti apa yang aku bawa, serta pemisalan orang yang mendustaiku dan mendustai kebenaran yang aku bawa.” (Hr al-Bukhari)

Abu Hurairah meriwayatkan secara Marfu’, “Siapa yang menaatiku, maka ia sudah menaati Allah SWT. Dan siapa yang mendurhakaku, maka ia durhaka kepada Allah SWT.”

Dalam hadits lainnya: “Semua umatku akan masuk surga, kecuali yang tidak mau.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang tidak mau?” Beliau menjawab, “Siapa yang menaatiku, masuk surga. Siapa yang durhaka kepadaku, maka ia enggan.”

Kedua, Hadits-hadits yang memuat perintah Rasulullah Saw untuk berpegangteguh dengan sunnahnya, menjadikannya sebagai landasan syiar dan ibadah, mendengarkan haditsnya, menghafalnya, dan menyampaikannya kepada yang belum mendengarnya. Beliau melarang berdusta atas namanya dan mengancam pelakunya dengan ancaman yang keras, sebagaimana sabdanya, “Saya meninggalkan bagi kalian dua hal. Kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah. Keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mengantarkan ke al-Haudh.” (Hr al-Baihaqi dan selainnya)

Dan sabdanya:
“Kalian harus berpegang kuat dengan sunnahku dan sunnah para khalifah rasyidin. Pegangkuatlah dan gigitlah dengan geraham kalian.” (Hr Abu Daud)

Dan sabdanya:
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (Hr al-Bukhari)

Dan sabdanya:
“Ambillah Manasik kalian dariku.” (Hr al-Nasai)

Dan sabdanya:
“Semoga Allah SWT menolong seseorang yang mendengar ucapanku, kemudian ia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya...” (Hr al-Turmudzi dan selainnya)

Dan sabdanya:
“Dusta atas namaku tidaklah sama dengan dusta atas nama yang lainnya. Siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka bersiap-siaplah menduduki tempat duduknya dari Neraka.”

___
Selanjutnya: Sunnah Nabi Muhammad Saw Sebagai Hujjah Dalam Syariat (2)

No comments

Powered by Blogger.