Sunnah Nabi Muhammad Saw Sebagai Hujjah Dalam Syariat (2)

Kita sudah membahas di bagian sebelumnya: Sunnah Nabi Muhammad Saw Sebagai Hujjah Dalam Syariat (1), menjelaskan dalil-dalil dari al-Quran dan Sunnah yang menjadi landasan masalah terkait.

Ijma’ Umat Islam


Jikalau kita mengkaji atsar para salaf dan para Imam sesudahnya, maka kita tidak akan mendapati di hati seorang pun di antara mereka mereka yang dipenuhi iman dan keikhlasan, pengingkaran untuk berpegangpeguh dengan sunnah, menjadikannya sebagai hujjah dan mengamalkan ajarannya.

Bahkan sebaliknya, kita tidak mendapati mereka kecuali berpegangteguh dengan sunnah, menjadikannya sebagai petunjuk, bersemangat mengamalkannya, dan berhati-hati agak tidak melanggar tuntunannya.

#Sunnah Nabi Muhammad Saw Sebagai Hujjah Dalam Syariat (2)

Sebab, sunnah merupakan salah satu Ushul Islam, landasan pokok memahami al-Quran dan penetapan sejumlah besar hukum Islam. Mereka bersepakat bahwa Sunnah adalah Hujjah. Mereka satu kata. Mereka satu hati.

Imam al-Syafii mengatakan:
“Ijma tegas menyatakan, bagi seseorang yang nyata baginya Sunnah Rasulllah Saw, maka tidak boleh baginya meninggalkan sunnah demi pendapat seseorang.”

Dalam Kitab al-Umm, ia juga mengatakan:
“Saya tidak mendengar seorang pun yang orang-orang menyatakannya sebagai ulama atau menyatakan dirinya ulama, menyelisihi pandangan bahwa Allah SWT mewajibkan hamba-Nya untuk mengikuti Rasul-Nya dan menjalankan hukumnya, menyelisihi pandangan bahwa Allah SWT tidak memberikan pilihan lain kecuali mengikutinya, menyelisihi pandangan bahwa tidak ada kelaziman mengikuti setiap ucapan kecuali Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Selain keduanya, harus mengikuti al-Quran dan Sunnah. Kemudian menyelisihi pandangan bahwa Allah SWT mewajibkan kepada kita, kepada orang-orang sebelum kita dan sesudah kita, tentang wajibnya menerima kabar dari Rasullah Saw.”

 Ibn Hazm berkomentar mengenai firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (Surat al-Nisa: 59)

“Para ulama ber-Ijma’ bahwa firman ini ditujukan kepada kita dan kepada setiap yang diciptakan dan memiliki ruh, baik jin maupun manusia, sampai hari kiamat kelak, persis dengan nasehat yang juga ditujukan kepada orang-orang yang hidup di zaman Rasulullah Saw dan orang-orang yang datang setelahnya. Tidak ada perbedaan.”

Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah mengatakan:
“Ketahuilah, tidak ada seorang Imam pun yang diakui khalayak ramai, menyelisihi Sunnah Rasulullah Saw, baik detail maupun global. Mereka bersepakat dengan penuh keyakinan wajibnya mengikuti Rasullah Saw, kemudian semua orang bisa diambil ucapannya dan ditinggalkan kecuali Rasullah Saw.”

Tidak Mungkin Beramal Hanya dengan al-Quran


Logika menegaskan kehujjahan Sunnah Rasulullah Saw dan kemustahilan memahami syariah dan detailnya, serta hukum al-Quran tanpa menyertakannya. Semua itu dijelaskan dengan cakupannya terhadap nash-nash mujmal (global) yang membutuhkan penjelasan. Kemudian, ada juga masalah yang membutuhkan keterangan dan penafsiran.

Penjelasan itu harus ada, agar bisa memahami maksud Allah SWT, mengistinbathkan rincian hukum-hukum al-Quran. Tidak ada cara yang bisa ditempuh kecuali dengan sunnah. Tanpa sunnah, maka akan banyak hukum al-Quran yang tidak terpakai dan akan banyak taklif yang batal.

Ibn Hazm mengatakan:
“Di ayat al-Quran mana yang menjelaskan bahwa Zuhur empat rakaat, Maghrib tiga rakaat, cara rukuk seperti ini, cara sujud seperti ini, cara membaca dalam shalat dan cara salam, penjelasan mengenai apa-apa saja yang harus dijauhi ketika berpuasa, penjelasan mengenai tatacara zakat emas dan perak,  zakat domba, unta dan sapi, jumlah yang harus dizakatkan, jumlah zakat yang harus dibayarkan, penjelasan mengenal amalan-amalan haji ketika wukuf di Arafah, tatacara shalat di Arafah dan di Muzdalifah, melempar jumrah, tatacara ihram dan hal-hal yang harus dijauhi, memotong tangan pencuri, sifat susuan yang menyebabkan mahram, makanan-makanan yang diharamkan, tatacara menyembelih dan berkurban, hukum-hukum hudud, sifat terjadinya talak, hukum-hukum jual beli, penjelasan mengenai riba, qada, dan saling klaim di pengadilan, sumpah, Ahbas dan Umra, sedekah dan segala jenis fikih? Di dalam al-Quran, hanya bersifat global. Jikalau kita meninggalkan sunnah, maka kita tidak tahu bagaimana mengamalkannya. Jalannya adalah kembali kepada penukilan Rasullah Saw. Ijma’ hanya ada dalam masalah-masalah ringan. Kembali ke hadits itu sangat penting. Kalau seandainya para pemimpin mengatakan, ‘Kita tidak mengambil kecuali yang kita dapati dalam al-Quran, maka ia menjadi kafir berdasarkan Ijma umat.”

Karena itulah, ketika dikatakan kepada Mutharrif bin Abdullah al-Syikkhir, “Janganlah engkau berbicara dengan kami kecuali hanya dengan al-Quran.” Kemudian ia menjawab, “Demi Allah, kami tidak mencari ganti al-Quran, tapi kami merujuk orang yang lebih paham di antara kita tentang al-Quran.”

Ketika ada yang berkata kepada Imran bin Hushain, “Engkau menyampaikan kepada kami hadits-hadits yang tidak ada landasannya dalam al-Quran.” Ia pun marah dan berkata, “Engkau bodoh. Apakah engkau mendapati dalam al-Quran bahwa shalat Zuhur empat rakaat tidak dijaharkan bacaannya?” Kemudian ia menjelaskan juga masalah shalat, zakat, dan sejenisnya. Kemudian ia melanjutkan, “Apakah engkau mendapatkan tafsirnya dalam Kitabullah? Kitabullah kabur (Abham) dalam semua ini. Sunnahlah yang menafsirkannya.”

Hukum-hukum yang diambilkan dari sunnah, hakikatnya diambil dari al-Quran, disirami dengan Ushulnya. Sebab, begitulah Allah SWT menjelaskan dalam kitab-Nya. Mengambilkan hukum dari sunnah, sama dengan mengambilnya dari al-Quran. Sebagaimana meninggalkannya, sama dengan meninggalkan al-Quran. Itulah yang dipahami sahabat dan para salaf.

Itulah yang dikatakan oleh Abdullah bin al-Mas’ud:
“Allah SWT melaknat para wanita yang membuat tato dan yang minta dibuatkan tato, para wanita yang mencukur alis matanya, para wanita yang menghias giginya untuk mempercantik diri, dan para wanita yang mengubah ciptaan Allah SWT.”

Kabar tersebut sampai ke telinga salah seorang wanita dari Bani Asad, dikenal dengan nama Umm Yaqub. Kemudian wanita tersebut mendatangi Abdullah bin Masud dan berkata, “Saya mendengar engkau melaknat ini dan ini.” Ia menjawab, “Kenapa saya tidak boleh melaknat orang yang juga dilaknat oleh Rasullah Saw, dan orang yang juga terdapat dalam kitabullah.” Wanita itu berkata, “Saya sudah membaca lembar demi lembarnya, saya tidak mendapatkan ucapanmu itu.” Ia berkata, “Jikalau engkau benar-benar membacanya, engkau akan mendapatkannya. Apakah engkau tidak membaca ayat, ‘Apa yang dibawa oleh Rasul kepada kalian, maka ambillah. Dan apa yang kalian dilarang, maka tinggalkannya.’ (Surat al-Hasyr: 7) Wanita itu menjawab, “Iya.” Ia berkata, “Ia sudah melarangnya.” (Hr al-Bukhari).

Berdasarkan semua pemaparan di atas, jelas wajib berhujjah dengan sunnah dan mengamalkannya. Hukumnya sama dengan al-Quran; wajib ditaati dan wajib diikuti. Orang yang tidak mau berpegang dengan sunnah, sama saja ia berlepas diri dari al-Quran. Taat kepada Rasullah Saw, sama dengan taat kepada Allah SWT. Bermaksiat kepada Rasullah Saw, sama dengan bermaksiat kepada-Nya. Menjaga diri dari ketegelinciran dan kesesatan, hanya ada pada point: Berpegang teguh dengan al-Quran dan Sunnah. Keduanya. []

No comments

Powered by Blogger.