Jenis-Jenis Najis (1)

Kajian Kitab Fikih Sunnah, Karya Syeikh al-Sayyid Sabiq
***

Najis adalah kotoran yang wajib dijauhi oleh seorang Muslim. Dan jikalau ada yang terkena, maka wajib dicuci atau dibersihkan. Masalah ini berdasarkan firman Allah SWT, “Dan pakaianmu sucikanlah.” (Surat al-Muddatsir: 4) Kemudian berdasarkan firman-Nya, “Allah SWT mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (Surat al-Baqarah: 222)

#Jenis-Jenis Najis (1)

Najis memiliki banyak bentuk

Bangkai

Maksudnya, semua yang mati tanpa disembelih sesuai ketentuan syariat. Masuk dalam kategori bangkai, bagian yang dipotong dari hewan dalam kondisi hidup, berdasarkan hadits riwayat Abu Waqid al-Laitsi, Rasulullah Saw bersabda, “Bagian yang dipotong dari hewan ternak dalam kondisi hidup, maka ia bangkai.” (Hr Abu Daud dan al-Turmudzi, kemudian dihasankannya), kemudian ia berkata, “Para Ulama mengamalkannya.”

Hanya saja, ada beberapa bangkai yang dikecualikan dari kategori Najis.
Pertama, Bangkai Ikan dan Belalang
Hukumnya Suci, berdasarkan hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, Rasulullah Saw bersabda, “Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah. Kedua bangkai adalah Ikan dan Belalang. Dan kedua darah adalah Hati dan Limpa.” (HR Ahmad, al-Syafii, Ibn Majah, al-Baihaqi, dan al-Dar Quthny)

Haditsnya lemah (Dhaif). Hanya saja Imam Ahmad menshahihkan mauqufnya, sebagaimana pendapat Abu Zur’ah dan Abu Hatim. Kondisi ini sama dengan hukum Marfu’. Sebab, ada sahabat yang mengatakan, “Dihalalkan ini bagi kami, dan diharamkan ini bagi kami.” Semisalnya, “Kami diperintakan dan kami dilarang.” Di bagian sebelumnya sudah dipaparkan hadits Nabi, “Suci airnya, halal bangkainya.”

Kedua, Bangkai yang Tidak ada Darah Mengalirnya
Banyak contohnya, seperti semut, lebah, dan selainnya. Hukumnya suci. Jikalau jatuh ke dalam sesuatu, kemudian mati, maka ia tidak menyebabkannya bernajis. Ibn al-Mundzir mengatakan, “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang sucinya apa yang disebutkan tadi, kecuali riwayat dari al-Syafii. Pendapat yang Masyhur dalam Mazhabnnya, ia najis. Namun dimaafkan jikalau masuk ke dalam sesuatu yang cair dan tidak mengubahnya.”

Ketiga, Tulang Bangkai, Tanduknya, Kukunya, Bulunya, dan Kulitnya
Semua yang masuk ke dalam kategori tersebut, hukumnya suci. Sebab hukum asalnya adalah suci. Tidak ada dalil yang menunjukkannya bernajis. Al-Zuhri mengatakan, “Tentang tulang bangkai, seperti tulang Gajah dan sejenisnya, ‘Saya mendapati sekelompok ulama salaf yang menjadikannya sebagai sisir atau menjadikannya sebagai minyak rambut. Mereka berpandangan, tidak ada masalah sama sekali.”

Diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Ibn Abbas radhiyallahu anhu, ia bersedekah kepada budak perempuan milik Maymunah dengan seekor domba. Kemudian domba tersebut mati. Rasulullah Saw melewatinya dan bersabda, “Kenapa kalian tidak mengambil kulitnya. Kalian bisa menyamaknya, kemudian memanfaatkannya.” Mereka menjawab, “Domba itu bangkai.” Beliau berkata, “Diharamkan itu, memakannya.” (Diriwayatkan oleh al-Jamaah. Hanya saja Ibn Majah menyatakan, dari Maymunah, dalam riwayat al-Bukhari dan al-Nasai penyebutan “Samak”)

Diriwayatkan oleh Ibn Abbas radhiyallahu anhu, ketika ia membaca ayat “Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai.” (Surat al-An’am: 145) sampai akhir ayat, kemudan ia berkata, “Diharamkan itu bagian yang dimakan, yaitu daging. Sedangkan kulit, gigi, tulang, rambut, dan bulu, maka ia halal.” (Hr Ibn al-Mundzir dan Ibn Abi Hatim)

Susu Bangkai, hukumnya juga suci. Para sahabar radhiyallahu anhum, ketika mereka menaklukkan negeri-negeri yang ada di Irak, mereka memakan kejunya Majusi, padahal sembelihan mereka dianggap sebagai bangkai.

Salman al-Farisy radhiyallahu anhu pernah ditanya tentang keju, minyak samin, dan sejenisnya, ia menjawab, “Halal adalah yang dihalalkan oleh Allah SWT dalam Kitab-Nya. Dan haram adalah yang diharamkan oleh Allah SWT dalam Kitab-Nya. Jikalau diam, maka dimaafkan.” Sebagaimana dimaklumi, masalah yang ditanyakan adalah masalah Keju, ketika itu Salman menjadi wakil Umar bin al-Khattab di al-Madain.

Darah

Darang yang mengucur atau mengalir atau Darah Haidh, hukumnya sama saja; sama-sama Najis. Hanya saja, dimaafkan dari darah yang sedikit. Diriwayatkan dari Ibn Juraij, maksudnya adalah darah yang tumpah. Tidak ada masalah jikalau sedikit.

Diriwayatkan oleh Ibn al-Mundzir, dari Abu Mujlaz tentang darah di tempat penyembelihan Domba atau darah di atas kuali, berkata, “Tidak ada masalah, dilarang itu darah yang tumpah.”

Diriwayatkan oleh Abd bin Humaid dan Abu al-Syeikh, dari Aisyah radhiyallahu anha, “Kami makan daging, sedangkan di kualinya ada garis-garis darah.” Al-Hasan mengatakan, “Kaum muslimin shalat dengan luka-luka yang ada tubuh mereka.” (Hr al-Bukhari) Ada riwayat Shahih yang menjelaskan bahwa Umar mengerjakan shalat dengan darah mengalir.

Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan dalam Kitabnya Fath al-Bari, Abu Hurairah berpandangan tidak masalah setetes dua tetes darah dalam shalat. Sedangkan darah kutu dan kumal, maka hukumnya dimaafkan berdasarkan atsar ini.

Abu Mujlaz ditanya tentang Nanah yang mengenai badan dan pakaian, ia menjawab, ‘Tidak masalah. Allah SWT hanya menyebut darah, tidak Nanah.” Ibn Taimiyah mengatakan, “Wajib mencuci pakaian jikalau terkena nanah, dan tidak ada dalil yang menjelaskan kenajisannya.” Utamanya, menjaga diri sesuai kemampuan.

Daging Babi

Allah SWT berfirman, “Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -- karena sesungguhnya semua itu kotor --.” Maksudnya, semua itu adalah Najis yang tidak disukai tabiat manusia yang lurus.


Muntah Manusia, Kencingnya, dan Kotorannya

Kenajisan semua jenis ini disepakati oleh para ulama. Hanya saja jikalau sedikit, hukumnya dimaafkan. Kemudian ada keringanan untuk kencing anak kecil laki-laki yang belum makan makanan, cukup disucikan dengan percikan air, berdasarkan hadits Umm Qais radhiyallahu anha, ia mendatangi Nabi Saw dengan membawa anak laki-lakinya yang belum makan makanan. Kemudian anaknya tersebut kencing di pangkuan Nabi Saw. Kemudian beliau meminta air dan memercikkannya ke pakaiannya dan tidak mencucinya.” (Muttafaq alaihi)

Diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, Rasulullah Saw bersabda, “Kencing anak kecil laki-laki dipercikkan air, dan kencing anak kecil perempuan dicuci.” Qatadah mengatakan, “Jikalau keduanya belum makan. Jikalau sudah makan, maka dicuci kencing keduanya.” (Hr Ahmad. Inilah lafadznya. Kemudian juga diriwayatkan oleh Ashab al-Sunan kecuali al-Nasai)

Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalany mengatakan dalam Fath al-Bary. “Sanadnya shahih. Percikan itu berlaku jikalau anak kecl laki-lakinya masih menyusu. Jikalau ia sudah makan makanan sebagai asupannya, maka wajib dicuci tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Barangkali sebab keringanan adalah banyaknya orang yang ingin menggendongnya dan banyaknya pipisnya, serta juga kesulitan mencuci pakaian mereka. Maka, diberikanlah keringanan.”

___
Selanjutnya: Jenis-Jenis Najis (2)

No comments

Powered by Blogger.