Qiyās al-Syabh; Logika Menyesatkan

Qiyas. Bahasa yang sudah umum. Bahasa rakyat. Seringkali diasosiakan dengan Logika. Sederhananya, melogikakan sesuatu dengan sesuatu lainnya, kemudian menyimpulkan hukumnya. Mudah sekali.

Namun, Qiyas di atas bukanlah Qiyas yang diinginkan dalam Ushul Fiqih. Tidak memenuhi standar. Qiyas ada syarat dan rukunnya. Kurang salah satunya, Qiyasnya batil.

Qiyas al-Syabh. Salah satu jenis Qiyas yang Batil. Secara umum, Para ulama menjelaskannya Qiyas al-Syabh:
الجمع بين أمرين لاشتراكهما في  نوع من الشبه
“Menyatukan di antara dua perkara karena keduanya bersekutu di salah satu jenis kesamaan.”

Hanya menyimpulkan hukum berdasarkan satu atau dua kesamaan, tanpa melihat sisi lainnya. Qiyas ini banyak digunakan oleh kalangan awam. Dan juga digunakan kalangan Intelektual untuk menipu atau membodohi umat.


Ada beberapa contoh Qiyās al-Syabh dalam al-Quran al-Karim.
“Apakah Mereka (Manusia) akan Menunjuki Kami?”
Dalam al-Quran dijelaskan:
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ
Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta." (Surat Huud: 27)

Coba perhatikan ayat di atas. Bagian yang digarisi. Mereka melihat masalahnya dari sisi “sama-sama manusia, sama-sama anak cucu Adam.” Dengan metode Qiyās al-Syabh, mereka menetapkan hukum berdasarkan satu kesamaan. Seolah-olah mereka mengatakan, “Kami manusia, kalian manusia. Jikalau kami bukan Rasul, maka kalian juga begitu. Jikalau kita sama, maka kalian sama seperti kami. Tidak ada keistimewaan.”

Ibn al-Qayyim menjelaskan maknanya:
“Ini merupakan salah satu betuk Qiyās paling batil. Faktanya, sebagian manusia lebih istimewa dari sebagian lainnya. Status kaya di tengah masyarakat, membuat mereka lebih mulia dan lebih terhormat di bandingkan yang lainnya dalam urusan duniawi. Ada yang menjadi rakyat, dan ada yang menjadi pemimpin. Ada yang menjadi raja, dan ada yang menjadi pelayan.”

Hal itu ditunjukkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Surat al-Zukhruf: 32)

Para Rasul menjadi pernyataan ini dengan mengatakan:
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal." (Surat Ibrahim: 11)

Kemudian Allah SWT menjawab dengan firman-Nya:
وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ ۘ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ
Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah". Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya." (Surat al-An'am: 124)

Kemudian juga firman-Nya:
وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ
Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: "(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum." (Surat al-Mukminun: 33)

Kemudian firman-Nya:
وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَرًا مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi." (Surat al-Mukminun: 34)

Para Rasul menjelaskan bahwa kesamaan dari "sisi manusia" yang mereka jadikan sebagai ukuran, dengan segala kekhususannya berupa makan dan minum, semua itu hanyalah Qiyās al-Syabh dan Jama' al-Shùry. Hal ini semisal denga firman Allah SWT:
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالُوا أَبَشَرٌ يَهْدُونَنَا فَكَفَرُوا وَتَوَلَّوْا ۚ وَاسْتَغْنَى اللَّهُ ۚ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
 Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-Rasul mereka membawa keterangan-keterangan lalu mereka berkata: "Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?" lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (Surat al-Taghabun: 6)

“Jikalau ia Mencuri, Maka Saudaranya Mencuri juga Sebelumnya.”
Contoh kedua dalam al-Quran adalah hikayat saudara Nabi Yusuf, ketika mereka mendapati takaran di karung saudara mereka, “"Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” (Surat Yusuf: 77)

Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Mereka sama sekali tidak menyatukan antara al-Ashl dengan al-Furu’ dalam ‘Ilatnya, dan tidak juga dalam dalilnya. Mereka hanya menggabungkan salah satu dari keduanya, dengan lainnya tanpa ada dalil yang menyatukan. Sekadar kesamaan antara dirinya dengan Yusuf. Mereka mengatakan, ‘Ini diqiyaskan dengan saudaranya. Bentuk seperti ini adalah al-Jam’u dengan kesamaan yang tidak ada sama sekali. Qiyas sekadar bentuk tanpa ‘Ilat kesamaan, maka ia adalah Qiyas Fasid (rusak). Kekerabatan bukanlah ‘Ilat persamaan dalam “mencuri”, walaupun mencuri sebuah fakta. Al-Jam’u yang dilakukan adalah jenis al-Syabh yang kosong dari ‘Ilat dan juga tidak ada dalilnya.”

“Jual beli itu sama dengan riba.”
Dalam hal ini, orang-orang musyrik melogikakan riba dengan jual beli. Alasannya, adanya al-Syabah al-Shury (kesamaan semu), seolah-olah orang yang melakukan riba hanyalah sekadar meminta tambahan kompensasi waktu, sama dengan penjual kredit yang meminta tambahan kompensasi waktu. Artinya, kata mereka, jikalau kalian membolehkan jual beli, maka kalian juga harus membolehkan riba. Itulah yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (Surat al-Baqarah: 275)

“Apa yang Allah bunuh, dan apa yang kalian Bunuh.”
Ketika Allah SWT mengharamkan bangkai, orang-orang musyrik mengatakan, “Apa yang dibunuh Tuhan kalian, kalian tidak memakannya. Dan apa yang kalian bunuh dengan tangan kalian, kalian memakannya.”

Mereka menganalogikan kematian bangkai (tanpa sembelih) dengan kematian akibat sembelih. Artinya, kata mereka, bangkai itu tidak mati sendiri. Allah SWT yang menghilangkan nyawanya. Sedangkan sembelihan, kalian yang menghilangkan nyawanya dengan pisau. Jadi, kenapa kalian menghalalkan yang kalian bunuh dengan tangan kalian dan tidak mau dengan apa yang dihilangkan nyawanya oleh Allah SWT? Kan sama saja, kata mereka.[]