Batas Sakit Boleh Tidak Puasa Ramadhan

Ketika masuk Bulan Ramadhan, salah satu pertanyaan berulang adalah tentang sakit dan puasa. Orang-orang yang sakit atau kerabat mereka bertanya-tanya tentang Batasan sakit yang memungkinkan dan membolehkan tidak berpuasa di Bulan Ramadhan? Kapan orang yang sakit wajib berpuasa Ramadhan, dan kapan dimakruhkan? Dan kapan pula diharamkan?

Dalam catatan ini, kita akan merujuk Artikel Hamid al-Atthar berjudul Dhabit al-Maradh alladzi Yubih al-Fithr fi Ramadhan (Batasan Sakit yang Membolehkan untuk Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan).

Kita akan memaparkan pendapat-pendapat para Ulama sebagai jawaban atas masalah-masalah di atas.

Terlebih dahulu, kita paparkan dahulu ayat-ayat yang mewajibkan kita berpuasa. Secara umum, ia membahas tentang orang sakit yang diberikan keringanan (Rukhsah) tidak berpuasa, sebagaimana firman Allah SWT: 
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Surat al-Baqarah: 184)

Para Ulama berijma’, secara umum sakit merupakan udzur yang membolehkan untuk tidak berpuasa. (Lihatlah Kitab al-Mughny (3/155) karya Ibn Quddamah al-Maqdisy)

Hanya saja, Para Ulama berbeda pendapat tentang Batasan (Rincian/ Detail) Sakit yang menyebabkan bolehnya tidak berpuasa. Pendapat paling rajih (kuat) dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan semua penyakit yang menyebabkannya semakin parah karena berpuasa, atau dikhawatirkan akan terlambat kesembuhannya karena berpuasa. Kedua kondisi inilah yang menyebabkan bolehnya tidak berpuasa di Bulan Ramadhan.

Sedangkan pendapat yang menyatakan semua penyakit tanpa kecuali, merupakan pendapat yang tidak bisa diterima. Banyak penyakit yang sama sekali tidak merasakan efek apapun jikalau berpuasa, seperti sakit kepala atau sakit tangan atau sakit kaki, dan selainnya. Siapa saja yang mengalami penyakit sejenis ini, ia tidak boleh meninggalkan puasa Ramadhan.

Pembagian Orang yang Sakit

  • Pertama, Orang yang sakitnya Lazim dan Kontinyu, tidak bisa diharapkan kesembuhannya, seperti penyakit kanker. Kondisi seperti ini, tidak melaziminya untuk berpuasa. Kondisinya tidak bisa diharapkan akan mampu menjalankan puasa. Ia bisa memberi makan seorang Miskin untuk setiap hari yang tidak dipuasainya. Caranya, bisa dengan mengumpulkan sejumlah orang Miskin sesuai dengan hari yang tidak dipuasainya, kemudian ia memberikan mereka makan atau bekal, sebagaimana yang dilakukan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu ketika ia berusia tua. Atau, bisa juga dengan membagikan makanan lansung kepada orang-orang Miskin sesuai dengan jumlah hari yang tidak dipuasainya. Setiap orang Miskin mendapakan ¼ Sha’ Nabi, yaitu seukuran 1,5 kg + 10 gram Gandum yang bagus. Sebaiknya disertai dengan Daging atau Minyak yang bisa digunakannya sebagai lauk. Hukum yang sama berlaku juga bagi orang tua (sepuh) yang sudah tidak mampu berpuasa. Ia memberi makan satu orang Miskin untuk setiap harinya.

  • Kedua, Orang yang mengalami sakit tiba-tiba, tidak sejak awal, bisa diharapkan kesembuhannya, seperti demam dan sejenisnya. Kondisi orang seperti ini, bisa dibagi tiga.

  1. Ia tidak kesulitan untuk berpuasa dan tidak pula memudharatkannya. Ia wajib berpuasa. Tidak ada uzur.
  2. Ia mengalami kesulitan untuk berpuasa. Namun tidak memudharatkannya. Ia dimakruhkan untuk berpuasa. Sebab, ia bisa mengambil keringanan (Rukhshah) dan tidak usah menyulitkan diri sendiri. 
  3. Puasa bisa memudharatkannya. Ia haram berpuasa. Sebab,  perbuatannya tersebut akan mendatangkan mudharat terhadap dirinya sendiri.
Allah SWT berfirman:
وَلاَ تَقْتُلُو”اْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً
“Dan janganlah kalian bunuh diri kalian. Allah Maha Pengasih atas kalian.”

Dan firman-Nya:
وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُو”اْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Jangan campakkkan dengan tangan kalian kepada kehancuran. Berbuatbaiklah. Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Dalam hadits Nabi Saw dijelaskan:
لا ضرر ولا ضرار
“Tidak mudharat dan tidak memudharatkan.” (HR Ibn Majah dan al-Hakim. Imam al-Nawawi berkata, “Jalan periwayatannya banyak. Sebagiannya menguatkan sebagian lainnya.”

Mudharat akibat puasa bisa diketahui dengan apa yang dirasakannya terhadap dirinya, atau dengan pemberitahuan Dokter yang terpercaya.

Ketika orang yang masuk Jenis ini tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka ia men-Qadha hari-hari yang tidak dipuasainya setelah sembuh. Jikalau ia meninggal sebelum kesembuhannya, maka kewajiban Qadha pun gugur. Sebab, kewajibannya untuk berpuasa di hari-hari lainnya tidak tercapai oleh usianya. (Lihat Majmu’ al-Fatawa wa Rasail Ibn Utsaimin, 20/ 106)

Penyakit yang Dibolehkan untuk Tidak Berpuasa Ramadhan?

Dalam Kitab al-Mughny karya Ibn Quddamah dijelaskan, “Sakit yang menyebabkan bolehnya tidak berpuasa adalah sakit keras yang akan semakin parah karena berpuasa atau dikhawatirkan kesembuhannya akan semakin lama. Ditanyakan kepada Imam Ahmad, ‘Kapankah orang yang sakit boleh tidak berpuasa?’ Ia menjawab, ‘Jikalau ia tidak mampu berpuasa.’ Ditanya lagi, ‘Seperti demam?’ Ia menjawab, ‘Sakit apa lagi yang lebih keras dari demam?!’

Diriwayatkan dari seorang Salaf, ia membolehkan tidak berpuasa untuk jenis sakit apapun, walaupun sakit jari atau sakit gigi, berdasarkan keumuman ayat yang menjelaskan masalah sakit. Kemudian juga berdasarkan dalil musafir yang boleh tidak berpuasa walaupun sebenarnya tidak ada keharusan baginya mengambil keringanan. Jikalau Musafir bisa, maka orang yang sakit pun bisa.

Kemudian Ibn Quddamah mengatakan, “Sakit itu tidak ada batasannya. Penyakit itu berbeda-beda. Ada yang jikalau berpuasa, maka akan membahayakan. Ada juga yang tidak berefek sama sekali, seperti sakit gigi, luka di jari, kudis, dan semisalnya. Sakit itu tidak ada batasannya. Mungkin menjadi pointnya adalah hikmahnya, yaitu khawatit akan memudharatkan. Itulah pointnya.” (Kitab al-Mughny, 3/ 155-156)

Al-Qurthuby mengatakan, “Jumhur Ulama berpandangan, jikalau sakit itu membuatnya kesakitan atau dikhawatirkan akan semakin parah atau dikhawatirkan akan semakin bertambah, maka sah-sah saja jikalau tidak berpuasa. Ibn Athiyyah mengatakan, ‘Ini adalah Mazhab orang-orang cerdas di kalangan pengikut Malik. Dan itulah pandangan mereka. Sedangkan Malik sendiri berpandangan, yaitu sakit yang menyulitkan orangnya dan membuatkan kesakitan.” (Lihat Tafsir al-Qurthuby, 2/ 276)

Kemudian Imam al-Nawawi mengatakan, “Syarat sakit yang dibolehkan untuk tidak berpuasa adalah jikalau puasa tersebut akan menyulitkannya, sehingga akan menyebabkan kesulitan.” ( Lihat Kitab al-Raudhah, 2/ 234-235)

Imam al-Nawawi berkata di bagian lainnya, “Orang sakit yang tidak mampu berpuasa karena sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, tidak lazim baginya berpuasa ketika itu dan lazim baginya menqadha’ berdasarkan ucapan penulis, yaitu jikalau kesulitan yang nyata menghampirinya karena berpuasa. Tidak disyaratkan harus mencapai kondisi puncak yang tidak memungkinkannya berpuasa. Para sahabat kami mengatakan, ‘Syarat dibolehkannya tidak berpuasa, jikalau puasa tersebut menyebabkan kesulitan yang tidak mungkin dipikulnya.” Mereka mengatakan ini sebagai rincian sebelumnya, tentang Bab al-Tayammum. Sahabat kami berkata, ‘Sedangkan jikalau sakit ringan yang tidak akan menyebabkan kesulitan nyata bagi pelakunya, maka tidak boleh baginya tidak berpuasa. Tidak ada perbedaan pendapat di antara kami mengenai hal ini. Dan pendapat berbeda di kalangan Ahli Zhahir.” (Lihatlah Kitab al-Majmu’, 6/ 258)

Al-Kasany, “Sakit yang diberikan keringanan (Rukhshah) adalah sakit yang dikhawatirkan akan semakin parah karena berpuasa. Itulah yang diisyaratkan dalam al-Jami’ al-Shaghir. Jikalau seseorang berpuasa, kemudian ia khawatir penyakitnya akan semakin sakit atau demamnya semakin parah, maka ia berbuka. Al-Kirkhy menyebutkan dalam Mukhtasharnya, sakit yang menyebabkan bolehnya tidak berpuasa adalah sakit yang dikhawatirkan akan menyebabkan kematian atau menambah penyakit. Apapun sakitnya.

Diriwayatkan dari Abu Hanifah, jikalau kondisinya dibolehkan untuk menunaikan shalat wajib dengan duduk, maka tidak masalah jikalau ia tidak berpuasa. Faktor penyebab bolehnya tidak berpuasa secara mutlak, bahkan wajib adalah sakit yang dikhawatirkan akan membahayakan. Sebab, jikalau tetap dilakukan, maka sama saja dengan bunuh diri, bukan menegakkan hak Allah SWT. Dan itulah kewajiban sebenarnya. Dan kondisi seperti ini, tidak ada kewajiban. Hukumnya haram. Tidak berpuasa menjadi sesuatu yang Mubah, bahkan wajib.”

Kemudian al-Kasany melanjutkan, “Begitulah. Sakit saja bukanlah sebab keringanan (Rukhsah). Sebab keringanan sakit dan safar (perjalanan) karena kesulitan berpuasa, untuk memudahkan keduanya dan memberikan keringan, sesuai dengan firman Allah SWT, ‘Allah SWT menginginkan kemudahkan bagi kalian, dan tidak menginginkan kesulitan.’ (Surat al-Baqarah: 185) Ada penyakit yang bisa mendapatkan manfaat dengan puasa dan meringankannya. Dan kondisi ini, puasa menjadi mudah bagi orang yang sakit, jauh lebih mudah dari makan. Bahkan bisa jadi makan itu memudharatkannya, membuatnya kesulitan. Di antara bentuk ibadah adalah meringankan sesuatu yang memudahkan orang sakit mendapatkannya dan menyempitkan ruang yang akan memperparah sakitnya.” (Lihatlah Kitab al-Bada’i wa al-Shana’i, 2/ 245-246)

Pendapat Terpilih

Setelah memaparkan pendapat-pendapat Ulama, pendapat yang benar dalam masalah ini adalah: Sakit yang dibolehkan oleh Allah SWT untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan adalah orang yang jikalau berpuasa, maka puasa tersebut akan menyulitkannya dengan kesulitan yang tidak tertanggungkan. Siapa saja yang kondisinya seperti ini, maka ia silahkan tidak berpuasa dan menqadha’ di hari-hari lainnya sebanyak puasa yang ditinggalkannya. Jikalau kondisinya tidak seperti itu, maka ia tidak diizinkan untuk tidak berpuasa. Jikalau kondisi sudah payah, kemudian masih saja berpuasa, maka ia sudah membebani dirinya dengan kesulitan dan menutupi kemudahan. Dan ini bukanlah point yang diinginkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Allah SWT menginginkan kemudahan  bagi kalian, dan tidak menginginkan kesulitan.” (Surat al-Baqarah: 185)

Sedangkan orang yang tidak akan mengalami kesulitan karena berpuasa, kondisinya sehat dan mampu berpuasa, maka ia wajib menjalankannya. Berdasarkan al-Quran dan Sunnah jelaslah, setiap penyakit yang akan memudharatkan pelakunya karena berpuasa, baik semakin bertambah maupun semakin lambat kesembuhannya, maka dibolehkan baginya untuk tidak berpuasa dan menqadhanya di hari-hari lainnya sebanyak yang ditinggalkannya.

Jikalau orang yang sakit mampu berpuasa tanpa mengakibatkan kesulitan dan kesusahan karena sakit yang dideritanya, dan ia juga tidak khawatir penyakitnya akan bertambah karena puasa yang dikerjakannya, maka ia harus berpuasa. Sebab, sekadar sakit bukanlah sebab keringan (Rukhsah ) bagi orang yang sehat, sebagaimana orang yang bersafar diharuskan berpuasa jikalau jaraknya Qasharnya tidak tercapai. Keringanan karena sakit dan safar karena adanya kesulitan akibat puasa, untuk memudahkan keduanya dan meringankan. (Lihatlah Fatwa Yas-alunaka karya Syeikh DR. Hisyam al-Din ‘Ifanah) Sebagaimana firman Allah SWT, “Allah menginginkan kemudahan bagi kalian, dan tidak menginginkan kesulitan.” (Surat al-Baqarah: 185)

Ini menujukkan, keringanan untuk tidak berpuasa bagi orang yang sakit, berhubungan dengan kekhawatiran akan membahayakan, berdasarkan riwayat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi Saw bersabda:
إن الله وضع عن المسافر شطر الصلاة وعن الحامل والمرضع الصوم
“Allah SWT menggugurkan bagi orang yang dalam perjalanan, setengah shalat. Kemudian menggugurkan puasa bagi perempuan yang hamil dan menyusui.”
Sebagaimana diketahui, keringanan bagi ibu hamil dan menyusui karena khawatir akan membahayakan dirinya atau anaknya; walaupun keduanya tidak sakit. Begitu juga dengan orang yang sakit, keduanya dibolehkan tidak berpuasa karena khawatir akan membahayakan. Ketika sifat “membahayakan” itu hilang, maka tidak boleh baginya untuk tidak berpuasa. (Lihat Kitab Ahkam al-Maridh, halaman 94-95)

Syeikh Yusuf al-Qaradhawi mengatakan, “ Hal itu diketahui dengan dugaan kuat (Ghalabah al-Zhan). Dan dugaan kuat tersebut bisa digunakan untuk hukum-hukum praktis. Ia bisa diketahui dengan dua hal:
  1. Bisa dengan pengalaman, yaitu pengalaman orang yang sakit; mencoba berpuasa sehari atau beberapa hari, kemudian merasakan kesulitan atau bertambah sakitnya. Atau dengan pengalaman selainnya yang bisa dipercaya, kondisinya sama dengan kondisi yang dialaminya, serta penyakit yang dideritanya sama.
  2. Bisa dengan rekomendasi dokter muslim terpercaya agamanya dan keilmuannya dalam bidang kedokteran; spesialis penyakit yang dideritanya. Tidak cukup sekadar dokter yang pinter, tapi harus spesialis dan pakar. Di zaman sekarang ini, kita mengenali spesialisasi yang mendetail dalam ilmu kedokteran, sampai-sampai para dokter jenius seperti orang awam di hadapan spesialisasi-spesialisasi yang detail tersebut. (Lihatlah Kitab Fiqh al-Shiyam, halaman 66)

Sebagai penutup, kami tegaskan, setiap orang yang sakit diberikan kepadanya keringanan untuk tidak berpuasa, agar tidak menyulitkan dirinya sendiri dengan nyeyel tetap berpuasa. Ia seharusnya mengambil keringanan yang diberikan oleh Allah SWT. Tidak usah berpuasa. Berdasarkan firman Allah SWT, “Allah menginginkan kemudahan bagi kalian, dan tidak mengingina kesulitan.” (Surat al-Baqarah: 185)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Umar radhiyallahu anhu, Nabi Saw bersabda:
إن الله يحب أن تؤتى رخصه كما يكره أن أن تؤتى معصيته
“Sesungguhnya Allah SWT suka diambil keringanan-Nya sebagaimana suka diambil Azimah-Nya.” (HR Ahmad)

Kita memohon kepada Allah SWT agar Dia memberikan kesembuhan kepada orang-orang yang sakit di antara kita, dengan kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit sedikit pun. Amin. ***
Catatan SesudahnyaNewer Post Catatan SebelumnyaOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment