Bid'ah Salah Kaprah & Peradaban

Salah satu istilah Pemikiran Islam yang akrab di telinga kita saat ini adalah Bid’ah. Bahkan bisa dikatakan, istilah Bid’ah dan Takfir merupakan dua istilah paling "berbahaya" dalam skala Nasional dan Internasional. Bukan istilahnya yang salah, namun penggunaannya yang tidak benar dan tidak sesuai Syariat.

Dahsyatnya lagi, istilah ini merupakan salah faktor utama penyebab pertikaian di antara kelompok umat Islam. Ada malah yang sampai mengkafirkan antara yang satu dengan yang lainnya, minimal menfasikkan. Ada juga kelompok yang dalam pikiran mereka cuman bicara tentang Bidah atau menghukumi orang lain sebagai pelaku Bid'ah.

Efeknya, mereka tidak mau berhubungan dan berinteraksi dengan orang yang mereka sebut sebagai pelaku Bid'ah, menghalalkan ghibah menyebut keburukan-keburukan mereka dan mengadu domba di antara mereka, berdasarkan pandangan tidak ada ghibah bagi Fasik. Dan pelaku bidah adalah Fasik.

Lebih lanjut, ada yang malah berusaha membahayakan orang yang diklaimnya sebagai pelaku Bid'ah; dicela, dipukul, bahkan dilukai. Dalam akal mereka, ini merupakan ibadah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan catatan kita kali ini akan merujuk Artikel berjudul al-Bid'ah al-Hadhariyyah (Bid'ah Peradaban), karya Mas'ud Shabari.

Bahaya-Bahaya Paham Bid’ah

Salah kaprah dalam memahami Bid'ah menyebabkan umat tertinggal dan peradaban mundur ke belakang. Ketika percetakan sampai di Istanbul, Khilafah Utsmaniyah, Sultan yang berkuasa ketika itu menolaknya. Bahkan, ada sejumlah fatwa yang mengharamkan penggunaan Mesin Cetak karena Bid'ah yang bisa merendahkan al-Quran, Sunnah, Ilmu Syariah dan Bahasa Arab.

Tidak lama setelahnya dibolehkan. Hanya saja tidak boleh digunakan untuk mencetak al-Quran atau Sunnah atau Kitab-Kitab Fikih dan Syariah. Akibatnya, Barat semakin maju. Mereka menggunakan alat percetakan dan memanfaatkannya untuk kemajuan peradaban ilmu. Sebaliknya, kaum Muslimin justru semakin tertinggal. Dan ini merupakan efek salah paham terhadap Bid'ah.

Kemudian, salah kaprah dalam memahami makna Bid'ah, juga menjadi penyebab tegaknya sebuah Negara dan runtuhnya. Ketika Sultan Salim I memasuki Mesir dan melakukan ekspansi kekuasaan dengan memerangi Dinasti al-Mamalik, ia menggunakan Meriam. Tapi, Dinasti al-Mamalik tidak mau menggunakannya karena ia Bid'ah yang tidak pernah digunakan oleh para Rasulullah.

Ketika Sultan Mamluk ditangkap setelah berhasil dikalahkan dan ditetatpkan baginya hukuman gantung, ia berucap kepada Sultan Salim I untuk mengingkari apa yang sudah dilakukannya, "Kalian menggunakan Bid'ah ini (meriam) yang tidak dikenal oleh Rasulullah Saw, tidak juga para sahabatnya dan para salaf. Kalian memerangi kami dengan senjata Bid'ah tersebut. Senjata ini bisa digunakan oleh perempuan untuk mengalahkan laki-laki. Kalau seandainya kami berkeputusan untuk menggunakan Meriam, kalian tidak akan sanggup mengalahkan kami. Tetapi, kami adalah kaum yang tidak mengingkari sunnah Nabi Saw yang berjihad dengan pedang. Bagaimana mungkin kalian memerangi orang-orang bertauhid dengan Bid'ah ini?!”

Mendudukkan Makna Bid'ah

Hakikatnya, perbedaan pendapat mengenai Bid'ah merupakan masalah klasik di kalangan Ahli Fikih. Ada dua pandangan utama. Ada yang berpandangan, semua Bid'ah adalah terlarang. Dan ada yang mendetail Bid'ah dengan membaginya menjadi beberapa jenis, kemudian setiap jenisnya ada hukumnya sesuai dengan kondisinya dan tujuannya.

Bid'ah ada yang baik dan ada yang buruk. Pandangan pertama memahami Bid'ah secara bahasa, mencakup semua hal baru dalam agama yang tidak ada Nashnya dalam al-Quran dan Sunnah, baik terkait Ibadah maupun ‘Adat (Kebiasaan), baik maupun buruk.

Pendapat ini dipegang oleh Imam al-Syafii, al-‘Izz bin Abdissalam, al-Nawawi, Ibn Abidin dari Mazhab Hanafi, al-Qarrafy dan al-Zarqany dari Mazhab Maliki, Ibn al-Jauzy dari Mazhab Hanbali, dan Ibn Hazm dari a l-Zhahiri.

Walaupun kelompok ini berpandangan setiap hal baru adalah Bid'ah, namun mereka tidak berpandangan setiap yang Bid'ah itu diharamkan. Mereka berlapang diri dalam Dilalah al-Tasmiyah (penamaan), sebagaimana juga berlapang diri ketika menetapkan hukum segala kejadian. Bid'ah tetap diberikan hukum yang lima (wajib, haram, makruh, mubah, dan sunnah). Maka, kadang-kadang hukumnya wajib, seperti belajar Nahwu untuk menjaga Kitabullah, kemudian belajar ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil untuk menjaga Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Masuk ke dalam lingkup paham adalah masalah pengumpulan al-Quran dalam satu kitab yang dinamakan dengan Mushaf. Penamaan Mushaf bukanlah perkara al-Tauqify (ada landasan dalilnya dari al-Quran dan Sunnah), tapi adalah amalan para sahabat radhiyallahu anhum.

Cakupan Bidah Hasanah

Keistimewaan Pandangan ini adalah Sunnah Hasanah. Walaupun istilah ini bermasalah, ditolak oleh sejumlah Ahli Fikih, tapi ia digunakan oleh Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu ketika menyatukan orang-orang di zamannya untuk shalat Tarawih dengan satu Imam, kemudian ia mengatakan, “Sebaik-baik bidah adalah ini."

Sebabnya, ketika itu ia menyaksikan orang-orang bercerai berai. Ada yang shalat Tarawih sendirian. Ada yang shalat Tarawih bersama beberapa orang. Kemudian, ia menyatukan mereka dan menunjuk Ubay bin Ka'ab sebagai Imam.

Pemahaman Bid'ah Hasanah seperti ini, membuka ruang besar dalam Kerja Sosial dan Kebajikan, serta menciptakan beraneka ragam wasilah/ metode berdakwah. Bahkan, pemahaman Bid'ah seperti ini masuk juga ke dalam masalah-masalah Ibadah, seperti Shalar Tarawih yang sudah dicontohkan, mendirikan Lembaga-Lembaga Sosial, Lembaga-Lembaga Zakat, Lembaga-Lembaga Fatwa, Mendirikan Mahad dan Sekolah, Percetakan Buku, Radio dan Stasiun Televisi yang digunakan untuk berdakwah, serta juga penggunaan sarana Teknologi dalam Dakwah dan Kegiatan Sosial.

Kreatif dalam membuat Sarana Dakwah dan Keilmuan adalah Bid'ah Hasanah yang dibenarkan oleh sabda Rasulllah Saw, “Siapa yang berbuat Sunnah Kebaikan dalam Islam, baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya.”

Sebagaimana dimaklumi, al-Bid’ah al-Wajibah atau al-Bid’ah al-Hasanah adalah Khadim (pelayan) untuk Ushul al-Syariah, Kaedah-Kaedahnya, dan Dasar-Dasar Umumnya. Para Ahli Fikih sudah menetapkan Kaedahnya al-Wasail Hukm al-Maqashid (Sarana Hukumnya Hukum Tujuan).

Bid'ah yang Terlarang

Di antara Bid'ah ada yang hukumnya Haram, seperti pandangan-pandangan Bid'ah yang disampaikan oleh kelompok-kelompok sesat. Ada juga yang hukumnya Makruh tidak Haram, seperti berkumpul untuk berdoa di Hari Arafah bagi yang tidak menunaikan Ibadah Haji, memperindah Masjid, dan mempercantik Mushaf. Ada yang hukumnya Mubah, seperti bersalaman setelah shalat, berlapang diri atau longgar dalam kehidupan, mencakup makan, minum, pakaian, dan sebagainya.

Namun, ada juga Ahli Fikih yang berpandangan semua Bid'ah tertolak dalam Agama. Di antara yang berpandangan dengan pandangan ini adalah Imam Malik, al-Syatibi, al-Tharthusy. Dari kalangan Mazhab Hanafi ada al-Imam al-‘Ainy. Dari Mazhab al-Syafii ada Ibn Hajar al-‘Asqalany dan Ibn Hajar al-Haitamy. Dari Mazhab Hanbali ada Ibn Rajab dan Ibn Taimiyah.

Dalil mereka adalah firman Allah SWT, “Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (Surat al-Maidah: 3)

Kemudian hadits Rasulullah Saw, “Kalian harus berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ Rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku, gigitlah ia dengan geraham kalian. Hati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru. Setiap perkara yang baru adalah bidah, dan setiap bidah adalah sesat.”

Bid'ah Adat (Kebiasaan)

Pemahaman yang berbeda mengenai makna Bid'ah dan cakupannya, menjadi faktor berbedanya para ulama dalam menetapkan sejumlah masalah dan perkara yang masih diperdebatkan. Perbedaan sampai sekarang masih tetap ada seputar masalah bolehnya merayakan Maulid Nabi, Hari Ibu, Hari Ulang Tahun, Hari Besar Nasional, dan lain-lain. Pangkal masalahnya adalah Masalah Fikih Bid'ah; apakah Bid'ah masuk ke dalam Ruang Adat (kebiasaan) atau hanya khusus di ruang Ibadah dan Akidah?

Orang yang berpandangan, Bid'ah tidak masuk dalam Adat, maka ia membolehkan segala bentuk perayaan di atas, dengan syarat tidak disertai sesuatu yang haram, seperti campur baur laki-laki dan perempuan, serta selainnya. Orang yang berpandangan, Bid'ah masuk ke dalam Adat, maka ia mengharamkan semua bentuk perayaan di atas, mencukupkan diri dengan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha saja. Ia berpandangan, segala sesuatu yang tidak ada di zaman Rasullah Saw atau Sahabat atau Khulafa’ Rasyidin, maka tidak boleh diadakan.

Kaedah-Kaedah Mengatur Perbedaan Pendapat Seputar Bid'ah

Perbedaan seputar makna Bid'ah; lapang, sempit, dan hukum, haruslah diatur dengan Dhawabit, Petunjuk, dan Kaedah yang memastikan perbedaan pendapat tetap berada di ruangnya, bukan di ruang lainnya yang bukan ruangnya.

Di antaranya adalah memfungsikan kaedah “Lâ Yunkir al-Mukhtalaf Fîhi, wa Innamâ Yunkir al-Muttafaq alaihi”; Tidak diingkari yang berbeda, Tapi Diingkari yang Disepakati. Semua masalah yang diperdebatkan oleh para ulama, tidak sah untuk dijadikan medan gejolak  perbedaan, tidak juga menjadi medan untuk pertikaian dan saling membelakangi antara umat Islam.

Seharusnya, pengingkaran hanya dilakukan untuk  masalah-masalah yang disepakati, masalah-masalah yang Qath’i dalam agama dan Ushul. Maka, pengingkaran bisa dilakukan kepada seseorang yang berpandangan Hijab tidak wajib atau berpandangan riba tidak haram, atau berpandangan aneh terkait sejumlah kewajiban di zaman di turunkannya al-Quran.

Sedangkan untuk masalah-masalah khilafiyah, hendaklah berlapang dada menerima pandangan lainnya dan berhubungan dengannya, walaupun kita berpandangan itu salah. Ada ketetapan di kalangan ulama, “Pandanganku salah, namun bisa benar. Dan pandanganmu salah, namun bisa benar.”

Point lainnya, perkara yang sudah disepakati ulama keharamannya atau kebid'ahannya, selayaknya dijauhi. Bahkan, harus bekerjasama dan saling tolong menolong menjelaskan keharamannya kepada Umat dan mencegah mereka melakukannya. Bid'ah dalam Ushul Akidah dan Ibadah, hukumnya haram sesuai kesepakatan Ulama. Namun, mereka berbeda pendapat dalam beberapa masalah Furu’nya.

Kemudian, harus dibedakan juga antara Bid'ah Mukaffirah (menyebabkan kekafiran) dengan Bid'ah Ghair Mukaffirah (tidak menyebabkan kekafiran). Tidak boleh tergesa-gesa mengkafirkan pelaku Bid'ah atau pelaku dosa besar.

Di antara kaedah yang bisa meringankan tajamnya perbedaan seputar Bid'ah adalah Kaedah yang ditetapkan sejumlah Ahli Fikih, “al-Hukm ‘ala al-Af’al, la ‘ala al-Dzawat; hukum atas perbuatan, bukan orang.” Jikalau kita melihat perbuatan seseorang itu Bid'ah, maka kita menghukuminya Bid'ah. Tapi kita tidak menyifati pelakunya sebagai Mubtadi’ (pelaku Bid'ah). Sebab bisa jadi ia miliki Ta’wil dengan salah satu pandangan Ahli Fikih atau ada Syubat dalam pandangannya atau melakukannya karena jahil atau lupa atau berbagai Udzur Syar'i lainnya.

Pentingnya Melakukan Pendekatan

Pada hari ini, kita perlu mendekatkan jarak yang ada di antara kita. Sekarang ini, kita sangat membutuhkan sikap saling memahami dan saling bekerjasama. Kita harus membedakan masalah-masalah yang disepakati dengan masalah-masalah yang diperselisihkan. Kita harus sadar, masalah-masalah yang disepakati, jauh lebih banyak dari masalah-masalah yang diperselisihkan.

Sibuk dengan masalah-masalah yang diperdebatkan oleh para ulama, dibandingkan dengan masalah-masalah yang mereka sepakati, merupakan sesuatu yang harus dijauhi. Meninggalkan perbuatan tidak begitu urgen ini, hukumnya wajib.

Bahaya yang mengintai umat di hari ini, jauh lebih dahsyat dari masa-masa sebelumnya. Badan topan yang ada sekarang ini, bertujuan untuk memporak-porandakan Umat Islam. Jikalau kita berpikiran sempit dan saling berbenturan dalam masalah-masalah yang memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT untuk berbeda, kita akan hancur.

Kalau sampai itu terjadi, pelajarannya akan lebih menyakitkan. Pada ujungnya, kita semuanya akan menyesal. Dan ketika itu, penyesalan sudah tiada guna.***
Catatan SesudahnyaNewer Post Catatan SebelumnyaOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment