Ramadhan akan Memusnahkan Corona?

Beberapa hari lagi, kita akan memasuki Bulan Ramadhan. Pertanyaan paling besar yang bergelayut di kepala kita; Umat Islam adalah “Apakah kita akan menghabiskan Bulan Ramadhan tahun ini dengan Kondisi Luar Biasa (KLB) karena Virus Corona, layaknya semua Negara-Negara yang ada di Dunia? Dimana syiar agama dan keceriaan keluarga yang biasanya ada setiap kali menyambut dan menjalani bulan mulia ini? Bagaimana kita akan melalui kondisi seperti ini? Apakah wabah ini akan mempengaruhi bulan paling mulia, bulan mubarakah? Kemudian pertanyaan yang tidak kalah pentingnya, apakah Ramadhan yang seringkali dikaitkan dengan kesehatan dan ketaatan, mampu memusnahkan wabah ini? Tidak ada satu muka bumi pun, kecuali wabah ini sudah pernah menapakinya.

Catatan kita kali ini, akan merujuk Artikel yang ditulis oleh Nur al-Din Qilalah, berjudul Hal sa Yaqdhi Ramadhan ‘ala Kuruna?

Setelah pintu-pintu Masjid ditutup bagi kaum Muslimin yang ingin menunaikan shalat; setelah Muazzin mengumandangkan azan dengan:
ألا صلوا في بيوتكم، ألا صلوافي رحالكم
“Shalatlah di rumah kalian. Shalatlah di rumah kalian.”
Setelah Shalat Jumat dibatalkan (semuai itu berdasarkan aturan tegas Negara dan tindakan preventif mencegah kerumunan, meminimalisir perkumpulan); setelah sejumlah Negara menerbitkan aturan larangan keluar rumah kepada warga negaranya, dan itu terjadi rata-rata tidak lama sebelum masuknya bulan Ramadhan, maka kaum Muslimin mulai bertanya-tanya bagaimana mereka akan shalat Jamaah dan bagaimana mereka akan menjalankan shalat Tarawih?

Sebulan sebelum ini, mungkin tidak ada seorang pun yang membayangkan bulan Ramadhan tahun ini akan sepi dari ritual-ritual dan acara-acara yang setiap tahun menyertainya; Shalat Tarawih Berjamaah di Masjid, Berbuka Bersama, Ibadah Haji dan Umrah, Pesta Pernikahan, Arisan dan Kumpul-Kumpul Keluarga, Halal bi Halal, Syawalan, baik dilakukan di Masjid, di Rumah, maupun tempat-tempat umum. Tidak ada seorang pun yang membayangkan semua ini akan terjadi. Tidak ada yang membayangkan Ramadhan tahun ini akan sepi, sendiri, dan menyendiri.

Sebagian besar Negara sudah membuat aturan ketat untuk menghadapi kondisi terupdate di bulan Ramadhan 2020 ini. Sudah ada keputusan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama (NU), dan berbagau Organisasi Masyarakat lainnya di berbagai Negara, bukan hanya di Indonesia, untuk melakukan Lockdown Masjid selama bulan Ramadhan, tidak mengadakan Shalat Tarawih dan I’tikaf, sebagaimana juga tidak diadakan kegiatan Berbuka bersama, ceramah dan kajian, seminar dan diskusi.

Debat Seputar Puasa di Musim Wabah Corona

Problematika yang muncul, bukan saja sekadar kaitan puasa dengan Agama dan Budaya. Berbagai perubahan besar yang menyertai Ramadhan tahun ini, menyebabkan masalahnya semakin luas dan lebar, sampai-sampai yang dipermasalahkan adalah kewajiban puasa itu sendiri di bulan Ramadhan di tengah Wabah Corona. Pointnya; Apakah harus tetap berpuasa dalam kondisi seperti ini atau boleh tidak?

Ada kelompok yang berpandangan, keringnya kerongkongan akibat berpuasa, menyebabkan kemungkinan terinfeksi Virus Corona semakin besar, sehingga boleh-boleh saja tidak menjalankan kewajiban puasa Ramadhan di tahun ini. Gantinya, dengan memberikan makan kaum fakir miskin.

Mereka berpandangan, puasa tahun ini harus ditiadakan. Tubuh yang lemah, menyebabkannya lebih rentan dimasuki Virus dan memudahkan penyebarluasannya. Jikalau puasa tetap dijalankan, sama saja dengan menantang bahaya. Virus Corona akan semakin menyebar luas di kalangan kaum Muslimin.

Apalagi di bulan Mei, kata mereka, sebagian besar negeri kaum Muslimin; Timur Tengah, Indonesia, Malaysia, dan selainnya, berada dalam cuaca panas. Kerongkongan akan mudah kering.

Keringanan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan tahun ini menimbulkan perdebatan sengit, khususnya keringanan puasa bagi yang sudah berusia lanjut dan sakit-sakitan. Orang-orang yang memiliki penyakit kambuhan, yang tahun sebelumnya bisa berpuasa dengan baik tanpa masalah, mungkin saja tidak berpuasa Ramadhan karena khawatir Virus akan masuk ke dalam paru-paru mereka.

Itu pandangan kelompok pertama...

Kelompok lainnya berpandangan, puasa tetap dijalankan selama belum ada penelitian ilmiah yang mengaitkan puasa dengan infeksi Virus Corona. Inilah pendapat yang dipegang oleh berbagai Lembaga Ilmiah dan Syariah. Selama belum ada penelitian ilmiah, maka hukum asalnya wajib berpuasa di bulan Ramadhan.

Niat Dahulu dan Berpuasa yang Sehat!

Ada kelompok ketiga, menyeru untuk tidak ikut serta dalam debat kusir. Cukup berniat puasa, menjalankan kewajiban agama, berharap agar Wabah Corona ini diangkat oleh Allah SWT dari semua Negeri dan penduduk bumi.

Maklum dalam agama kita, menjaga jiwa (Hifzh al-Nafs) lebih didahulukan dari menjalankan ritual ibadah. Karena itulah dibolehkan bagi yang sedang sakit atau khawatir dirinya akan sakit, untuk tidak berpuasa selama bulan Ramadhan. Dan bukanlah kebajikan dan bukan pula ibadah yang baik, jikalau ada yang berpuasa sedangkan ia dalam kondisi sakit.

Kelompok ini berpandangan, keputusan terkait masalah ini sebaiknya diserahkan kepada Para Dokter dan Para Pakar yang berpengalaman. Merekalah yang memiliki kecakapan untuk menetapkan hukum apakah puasa bisa menyebabkan terinfeksi Virus atau tidak. Jikalau mereka menetapkan hal itu berdasarkan kajian ilmiah kedokteran, maka tidak ada masalah jikalau khalayak diseru untuk tidak berpuasa, bahkan bisa jadi hukumnya wajib tidak berpuasa. Perang melawan Wabah Corona pada hari ini dan meminimalisir penyebarannya, lebih utama dari apapun.

DR. Muhammad al-Fayid, seorang Pakar asal Moroko tentang Industri Microbiology, merupakan satu dari sekian banyak pakar yang optimis adanya kaitan positif antara puasa dengan Virus Corona. Ia Optimis sekali. Bahkan, ia salah satu yang berpandangan, Bulan Ramadhan akan mampu memusnahkan Virus Corona.

Ia menasehati orang yang akan berpuasa untuk mencukupkan diri dengan menu biasa saja di malam hari agar bisa menghilangkan racun dari tubuh. Tidak mengkonsumsi semua jenis makanan instant (kaleng) dan tidak juga yang berminyak (lemak), semampu mungkin menjauhi semua jenis gula, tidak banyak mengkomsumsi makanan-makan mengenyangkan seperti daging. Cukup dengan makanan-makanan alami sayur-sayuran dan makanan-makanan yang akan memperkuat imunitas tubuh.

Sinetron Ramadhan dan Seruan Memperbaiki Diri

Secara umum, semua bersepakat Ramadhan tahun ini akan kehilangan berbagai hal istimewa yang biasanya melekat, seperti kebersamaan. Kondisi ini akan memaksa kaum Muslimin untuk beribadah sendiri-sendiri bersama keluarga kecil di rumah, sebagai ganti dari ibadah berjamaah yang biasanya dilakukan di tahun-tahun sebelumnya.

Puasa tahun ini akan menjadi fakta khusus dan istimewa, tidak pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah Islam. Namun di sisi lain, ada juga manfaatnya. Ramadhan tahun ini menjadi moment untuk melakukan perubahan berbagai kebiasaan, seperti kumpul-kumpul, nge-mall, bergadang sampai sahur. Ini adalah langkah awal untuk mengubahnya di masa yang akan datang.

Para Seniman berpandangan, Khususnya para Artis, Virus Corona di Bulan Ramadhan akan mempengaruhi juga kegiatan-kegiatan seni dan film. Banyak shooting yang gagal dilakukan. Mereka khawatir akan kehilangan job main sinetron dan mengisi acara. Ditutupnya Masjid-Masjid dan dilarangnya Shalat Tarawih menjadi kekhawatiran tersendiri bagi mereka.

Dan para pecinta Film dan Sinetron tidak bisa membayangkan jikalau layar televisi mereka selama Bulan Ramadhan, tidak ditayangkan Sinetron Religi dan Sejarah, plus Komedi (Jenaka). Manusia pada hari ini, di kondisi saat ini, sangat membutuhkan Komedi dan Lawakan. Virus Corona ini membuat mereka semakin kreatif membuat konten-konten di Media Sosial.

Tapi intinya, satu-satunya tayangan yang akan mendapatkan rating tinggi di semua media cetak dan elektronik, Televisi dan Radio, Situs dan Websire adalah “Sinetron” Corona, yang semuanya berharap agar Episode terakhirnya ada di bulan Ramadhan ini, bahkan sebelum masuk bulan Ramadhan. Amin. ***
Catatan SesudahnyaNewer Post Catatan SebelumnyaOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment