Hadits-Hadits al-Bukhari Merendahkan Wanita?

Belakangan ini, kritikan bertubi-tubi diarahkan kepada al-Imam al-Bukhari dan Shahihnya. Sebagiannya berasal dari para Mahasiswa Muslim yang berada di sejumlah Universitas-Universitas Barat. Dan sebagian lainnya dari kalangan (klaim) "pembaharu" Muslim di Dunia Arab dan Dunia Islam.

Catatan kita ini merujuk Artikel bertujul Hal Haqarat Ahadits al-Bukhari min Sya’n al-Nisa’ (apakah hadits-hadits al-Bukhari merendahkan para wanita (perempuan?), ditulis oleh Fathimah Hafiz.

Jikalau diperhatikan, tidak ada perbedaan antara kritikan-kritikan Eksternal dengan Internal. Globalnya, bisa diringkas dengan beberapa point berikut.

Pertama,  Selama dua abad, ada jarak yang memisahkan antara zaman al-Bukhari dengan zaman al-Nubuwwah (kenabian). Dalam bentangan jarak ini, para sahabat menjalani hidup mereka. Dan itu artinya, susah memastikan keshahihan hadits-hadits yang disematkan kepada mereka.

Kedua,
Pembuatan Kitab tersebut memakan waktu selama 16 tahun. Jangka waktu sebesar itu, tidak cukup untuk memfilter enam ratus hadits, sesuai dengan metode yang dibuatnya sendiri.

Ketiga, Kehujjahan al-Bukhari dan keshahihan hadits-haditsnya, dipermasalahkan oleh sejumlah ulama terdahulu, seperti al-Dar Quthni dan selainnya.

Keempat, Ada sejumlah hadits yang bertentangan dengan al-Quran, di antaranya hadits-hadist merendahkan kedudukan wanita dan menggariskan rendahnya posisi mereka. Inilah klaim yang didendangkan studi-studi Gender.

Di baris-baris berikutnya, saya akan berusaha mendiskusikan kritikan terakhir, kemudian menjelaskan posibilitas-posibilitas pengetahuan yang diberikan oleh  Shahih al-Bukhari (dan kitab-kitab shahih lainnya) kepada para peneliti, untuk membentuk deskripsi-deskripsi yang mendekati kebenaran, seputar kedudukan para wanita di zaman kenabian; peranan mereka dan hubungan mereka dengan berbagai problematika.

Berdasarkan hal ini, terlebih dahulu saya akan mengkaji kebenaran klaim tersebut dalam sejumlah point, kemudian saya sertakan sejumlah hadits berhubungan dengan para wanita, berbeda dengan deskripsi yang diglobalkan kalangan kontemporer.

  • Pertama, Klaim ini bersandarkan sejumlah hadits yang berulang-ulang periwayatannya dengan perbedaan tipis dalam sanad dan lafadznya. Contohnya:
يا معشر النساء، تصدقن، فإني رأيتكن أكثر أهل النار» فقلن: وبم ذلك يا رسول الله؟ قال: «تكثرن اللعن، وتكفرن العشير، ما رأيت من ناقصات عقل ودين، أذهب للب الرجل الحازم، من إحداكن
“Wahai sekalian manusia, bersedekahlah, saya menyaksikan kalian adalah mayoritas penghuni Neraka.” Mereka menjawab, “Kenapa bisa begitu wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Kalian banyak melaknat, mengkufuri kebaikan. Saya tidak melihat perempuan yang kurang akalnya dan agamanya, mampu menghilangkan kesadaran laki-laki penakluk, karena salah satu dari kalian...” (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Haidh, Bab Taraka al-Haidh al-Shaum; 298)

Dan hadits:
لا عدوى ولا طيرة، إنما الشؤم في ثلاث: في الفرس، والمرأة، والدار
“Tidak ada penyakit menular dan thiyarah. Kesialan itu hanya dalam tiga hal; kuda, perempuan, dan rumah.” (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Thibb, Bab La ‘Adwa: 5438)

Dan hadits:
استوصوا بالنساء، فإن المرأة خلقت من ضلع، وإن أعوج شيء في الضلع أعلاه، فإن ذهبت تقيمه كسرته، وإن تركته لم يزل أعوج، فاستوصوا بالنساء
‘Berbuat baiklah kepada para wanita. Ia diciptakan dari tulang rusuk. Bagian tulang rusuk paling bengkok adalah bagian paling atasnya. Jikalau Anda meluruskannya, maka Anda akan mematahkannya. Jikalau Anda membiarkannya, ia akan terus bengkok. Maka, berbuat baiklah kepada para wanita.” (Shahih al-Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya’, Bab Khalq Adam alaihissalam Shalawatullahi alaihi wa Dzurriyatuhu; 3153)

Dan masih ada sejumlah hadits lainnya. Ada sejumlah pakar Syariah yang menginterpretasi hadits-hadits ini, misalnya Syeikh Muhammad al-Ghazali, al-Syeikh Muhammad Abu Syuqqah, al-Syeikh Yusuf al-Qaradhawi. Mungkin bisa dijadikan sebagai rujukan untuk mendapatkan pembahasan lebih dalam dan lebih mantap.

  • Kedua, Penyebutan al-Nisa’ (wanita) dalam Shahih al-Bukhari, ada banyak di ratusan hadits, bisa dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, Khusus  menjelaskan masalah-masalah wanita dan tugas-tugas mereka, misalnya Bab Naum al-Marah fi al-Masjid  (tidurnya wanita di Masjid); Bab Khabr al-Marah al-Wahidah (pengkhabaran satu wanita). Kedua,  Tidak ada pengkhususan Gender, hanya pengkhususan amal. Contohnya, hadits tentang wanita yang disiksa karena kucing yang dipenjarakannya sampai mai. Gara-gara itu, ia masuk Neraka. Ia tidak memberinya makan dan minum. Ditahan. Ia juga tidak membiarkannya mengais sisa-sisa makan di tanah. Tidak ada seorang berakal sehat pun akan ragu, jikalau perbuatan ini dilakukan oleh seorang laki-laki, maka ia mendapatkan hukuman yang sama. Kedua kondisi di atas, susah untuk diklaim jikalau hadits-hadits al-Bukhari merendahkan para wanita. Sebab, sebagian besarnya adalah hadits-hadits deskriptif dan ketetapan, untuk menjelaskan hukum syariat atau nasehat atau petunjuk; tidak ada pujian atau celaan.

  • Ketiga,  Menurut al-Bukhari, sejumlah hadits yang terdapat dalam kitab-Kitab Shahih terkait wanita, statusnya tidak Shahih. Ketika disebutkan di dekat Aisyah radhiyallahu anha tentang hal-hal yang memutus shalat, “Terputus oleh Anjing, Keledai, dan Wanita”, ia berkata, “Kalian menjadikan kami seperti Anjing?” Ia melanjutkan:
لقد رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يصلي، وإني لبينه وبين القبلة، وأنا مضطجعة على السرير، فتكون لي الحاجة، فأكره أن أستقبله، فأنسل انسلالا
“Saya melihat Nabi Saw mengerjakan shalat. Saya ada di antara dirinya dengan kiblat. Saya berbaring di atas kasur. Kemudian saya ada hajat. Dan saya tidak suka menghadap ke arah beliau. Maka, saya pun beringsut pelan-pelan.” (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Shalat, Bab Istiqbal al-Rajul Shahibahu aw Ghairahu wa Huwa Yushalli, halaman 489)

  • Keempat, Dalam Shahihnya, Imam al-Bukhari memaparkan sejumlah hadits yang menunjukkan bagaimana para wanita berinteraksi dengan Rasululah Saw; bagaimana mereka bersentuhan dengan dakwahnya. Contohnya terlalu banyak jikalau dipaparkan disini. Kita akan memilih beberapa di antaranya agar kita bisa menjelaskan bagaimana seorang wanita berinteraksi dengan Rasul dan Risalah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha dan Tayammum

Aisyah radhiyallahu anha menceritakan, dalam suatu peperangan ia ikut dalam perjalanan bersama Nabi Saw. Ia membawa kalung yang akan digunakannya berhias, dipinjamnya dari saudarinya Asma’. Namun, ia kehilangan kalung tersebut. Rasulullah Saw dan sejumlah kaum Muslimin lainnya mencari-cari. Sebagian ada yang mendatangi Abu Bakar radhiyallahu anhu dan berkata, “Apakah Anda tidak melihat apa yang diperbuat oleh Aisyah radhiyallahu anha? Ia menyibukkan Rasulullah Saw dan orang banyak, padahal tidak ada air untuk mereka.”

Kemudian Abu Bakar mendatangi Aisyah mengomelinya dan menusuknya dengan jari kelingkingnya sampai menyakitinya. Tidak ada yang menghalangi Aisyah untuk meninggalkan tempatnya ketika itu, kecuali karena kepala Rasulullah Saw sedang berbaring di atas pahanya. Ketika pagi menjelang, Rasulullah Saw bangun dengan kondisi tanpa ada air, kemudian turunlah ayat Tayammum. Usaid bin Hudhair berkata kepada Aisyah:
جزاك الله خيرا، فوالله ما نزل بك أمر تكرهينه إلا جعل الله ذلك وللمسلمين فيه خيرا
 “Semoga Allah SWT membalas Anda dengan kebaikan. Demi Allah, tidak ada satu urusan pun yang menimpa Anda, yang Anda tidak menyukainya, kecuali Allah SWT menjadikannya kebaikan bagi kaum Muslimin.”

Hadits ini dengan jelas menyatakan, menurut para laki-laki perhatian yang diberikan Aisyah kepada kalungnya yang hilang bukanlah perkara penting, tidak layak menunda keberangkatan tentara karenanya. Tapi, kalung tersebut bukanlah milik Aisyah. Tidak layak ia bersikap lalai untuk sesuatu yang tidak dimilikinya. Allah SWT membalas usahanya untuk mendapatkan kalung tersebut sebanyak dua kali; Pertama, ketika mendapatinya di bawah unta; Kedua, dengan adanya pensyariatan Tayammum. (Lihatlah Shahih al-Bukhari, Kitab al-Tayammum, halaman 327)

Wanita dan Mendakwahkan Islam kepada Kaumnya

Dihikayatkan oleh Imran bin al-Hushain rahiyallahu anhu, para suatu hari mereka berada dalam perjalanan bersama Rasulullah Saw. Kemudian malam pun gelap, semuanya larut dalam tidur sampai pagi. Rasulullah Saw bangun dan semuanya mengerjakan shalat. Air habis. Mereka sangat kehausan sekali. Dalam kondisi seperti itu, datanglah seorang perempuan mengendarai untanya, kakinya menjuntai di antara dua tempat (tong) air. Mereka bertanya, “Dimana ada air?” Ia menjawab, “Tidak ada air.” Kemudian mereka membawanya kepada Nabi Saw. Ia pun menyampaikan apa yang disampaikannya tadi, namun ia menambahkan bahwasanya ia memiliki sejumlah anak Yatim.

Maka, Nabi Saw memerintahkan untuk membawakan kepadanya kedua tempat air tadi. Beliau menyentuh bagian atasnya (bagian mulut tempat air). Mereka semuanya minum. Dan masing-masing memenuhi tempat yang dimilikinya dari kedua tempat air milik perempuan tadi, tanpa mengurangi air yang ada di dalamnya sedikit pun. Kemudian Nabi Saw meminta para sahabatnya mengumpulkan kurma, tempat dan lauk apapun yang mereka miliki. Mereka memberikannya kepada wanita tersebut dan mengikatnya di untanya. Kaum Muslimin berhasil menjaga karakter baiknya.

Setelah itu, kaum Muslimin mampu mengubah image buruk kepada kaum Musyrikin yang ada di sekitar tempat tinggal wanita tersebut; mengubah image menakutkan. Suatu hari, wanita itu berkata kepada kaumnya, “Saya tidak melihat mereka itu sengaja mengajak kalian; apakah kalian tertarik dengan Islam?” Kaumnya menaatinya dan masuk Islam. Kekuatan akal wanita ini dan dakwahnya kepada kaumnya mengingatkan kita dengan Ratu Saba’ yang disebutkan dalam al-Quran. Jelaslah, para wanita menikmati kekuatan akal (logika) dan kadangkala menjadi sebab masuk Islam kaum mereka. (Lihatlah Shahih al-Bukhari, Kitab al-Tayammum, Bab al-Sha’id al-Thayyib wadhu’ al-Muslim, halaman 337)

Wanita dan Membuat Mimbar bagi Rasulullah Saw

Diriwayatkan Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu, ada seorang perempuan yang berkata, “Wahai Rasulullah, apakah saya boleh membuatkan sesuatu bagi Anda, yang bisa Anda gunakan sebagai tempat duduk? Saya memiliki anak tukang kayu.” Beliau menjawab, “Jikalau Anda ingin, Anda bisa membuatkan sebuah Mimbar.”

Hadits ini mengungkapkan kecintaan wanita tersebut kepada Rasulullah Saw dan simpatinya,dengan tidak membiarkannya duduk dengan posisi sulit, sebagaimana ia menunjukkan sisi-sisi kreatifitas wanita lainnya, dengan membuatkan mimbar pertama yang kemudian hari menjadi Sunnah yang diikuti. (Lihatlah Shahih al-Bukhari, Kitab al-Shalat, Bab al-Isti’anah bi al-Najjar wa al-Shunna’ fi A’wad al-Mimbar wa al-Masjid, halaman 437)

Wanita dan Permintaan Hari Harus Khusus untuk Mengajar Para Wanita

Diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudry, ada seorang perempuan yang mendatangi Rasulullah Saw dan berkata:
يا رسول الله، ذهب الرجال بحديثك، فاجعل لنا من نفسك يوما نأتيك فيه تعلمنا مما علمك الله
 “Wahai Rasulullah, para laki-laki membawa hadits Anda. Maka, jadikanlah bagi kami dari hari-hari yang Anda miliki, satu hari saja kami mendatangi Anda dan kami belajar apa saja yang Allah SWT ajarkan kepada Anda.”
Beliau menjawab, “Berkumpullah kalian di hari ini dan ini, di tempat ini dan ini.” Kemudian mereka berkumpul. Rasulullah Saw mendatangi mereka untuk mengajarkan semua yang diajarkan oleh Allah SWT kepadanya. (Lihatlah Shahih al-Bukhari, Bab Ta’lim al-Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam Ummatahu min al-Rijal wa al-Nisa’ mimma ‘Allamahullah, Laisa bi Ra’y wa La Tamtsil, halaman 6880) Hadits ini menjelaskan, menuntut ilmu dan memahami agama adalah sesuatu yang dituntut dari para wanita. Dan Imam (Rasulullah Saw) menyambut permintaan syar’i mereka ini.

Kesimpulan, klaim yang menyatakan hadits-hadits al-Bukhari merendahkan wanita, tidak bersandarkan penelitian konfrehensif terhadap hadits-hadits berkaitan dengan wanita. Klaim tersebut hanyalah berdasarkan Metode comot-comot hadits, mengambil sesuka hati, dan menggeneralisirnya. Tujuannya, untuk kepentingan ideologi tertentu.***
Catatan SesudahnyaNewer Post Catatan SebelumnyaOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment