Kedudukan Akal dalam Islam

Idealnya, semua agama haruslah tegak di atas akal; logika. Kenyataannya, justru banyak yang menjadikan kebekuan logika sebagai cirinya, memenjarakannya di ruang “abai” dan “cuek”. Bahkan, kondisi seperti itu menjadi ciri utamanya; ciri khas. Berbeda dengan Islam, memuji akal dan memuliakannya, membuatkan instrumentnya, menentukan tujuannya, dan menggariskan batasannya.

Menurut bahasa, akal atau al-‘Aql bermakna al-Habs, al-Man’ dan al-Imsâk. Maknanya, menahan. Sebab, ia menahan pemilik akal dan menghalanginya terjerumus ke dalam jurang kehancuran, mencegahnya melakukan sesuatu yang tidak terpuji. (Lihatlah Kitab Lisân al-Arab, 11/ 457. Kemudian Kitab Maqâyis al-Lughah, 4/ 69)

Menurut Istilah, akal terbagi dua. Ada akal Gharîzy Thab’î (naluri alami). Inilah bapaknya ilmu, mendidiknya dan menumbuhkembangkannya. Ada akal Kasbî Mustafâd, merupakan anaknya ilmu, buahnya, dan konklusinya. (Lihatlah Kitab Miftâh Dâr al-Sa’âdah karya Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, 1/ 118)

Itulah sebabnya, lafadz akal dalam al-Quran digunakan dalam berbagai bentuk. Kadangkala digunakan untuk menyeru manusia mengaktifkan fitrahnya dan akalnya yang sudah ada di dalam dirinya (al-Jibillah). Kadangkala, ia digunakan untuk menyeru para Ahli Ilmu, agar mereka menggunakan Akal Kasbi mereka, yang sudah diasah dengan ilmu dan Logika.

Akal dalam al-Qurân al-Karîm

Jikalau Anda membaca al-Quran, maka Anda akan mendapati penggunaan lafadz akal, ada dalam sejumlah bentuk. Misalnya lafadz Ya’qilûn, Ta’qilûn, Wa Mâ Ya’qiluhâ illa al-Alimûn, dan selainnya.

Ada ayat-ayat yang menjelaskan fungsi akal dalam memahami kalam atau ucapan, seperti firman Allah SWT:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Surat Yusuf: 2)

Dalam ayat lainnya:
۞ أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (Surat al-Baqarah: 75)

Ada ayat-ayat lainnya yang menuntut akal berkontribusi dalam memahami ayat-ayat kauniyah (alam semesta), seperti firman Allah SWT:
وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya)." (Surat al-Nahl: 12)

Ayat-ayat lainnya menjelaskan tugas akal untuk memilih manfaat dan meninggalkan mudharat, seperti firman Allah SWT:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Surat al-An'am: 32)

Banyak ayat-ayat lainnya, jenis serupa, menjelaskan tugas-tugas akal dan mendorong pemilik akal untuk menggunakannya sesuai dengan tujuannya.

Ahli al-Sunnah wa al-Jamâ’ah berpandangan, akal adalah Barang (al-‘Aradh) dan Sifat (al-Shifat) yang tidak berdiri sendiri, tetapi tegak bersama yang lainnya. Orang yang berakal tidak dinamakan berakal sampai ia bersifat dengan akalnya tersebut. (Lihatlah Bughyat al-Murtâd, karya Ibn al-Taimiyah, halaman 25)

Jikalau Anda merenungi Kitabullah, mengkaji tingkatan dalil aqli; logika, maka Anda akan mendapati Islam membentangkan karpet merahnya untuk akal dan logika, hanya saja ada batasan-batasan dan aturan-aturan penggunaannya. Tidak berlebihan menggunakannya sehingga menjadikannya sebagai penguasa, dan tidak juga mengabaikannya sehingga menafikan hujjahnya dan logikanya ketika berpikir.

Islam Memuliakan Akal

Islam sangat memuliakan akal dan memerintahkan umatnya untuk menggunakannya sebagai jalan untuk mencapai kebenaran. Buktinya bisa kita dapati dalam beberapa point berikut:

Pertama, Akal adalah pokok dari al-Taklîf. Jikalau akal berkurang atau tidak normal, maka al-Taklîf juga gugur, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw, “Pena diangkat dari tiga orang; dari orang yang tidur sampai bangun, dari anak kecil sampai mimpi (baligh), dan dari orang yang gila sampai sadar.” (Hr al-Nasâi dan Ibn Mâjah)

Kedua, Allah SWT menyeru sekalian manusia menggunakan akalnya untuk menggapai kebenaran, dengan cara merenung (al-Tadabbur) dan berpikir (al-Tafakkur). Ada beberapa lafadz yang digunakan, seperti “Mudah-mudahan kalian berpikir.” Atau “Bagi kaum yang memahami.” Atau “ Bagi kaum yang berpikir.” Salah satu contohnya adalah firman Allah SWT, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Surat Ali Imran: 190-191)

Semua ayat di atas menunjukkan urgensi penggunaan akal dan peranannya untuk mendapatkan hidayah. Ketika akal merenungi alam semesta, ia akan menunjukinya terhadap wujud Penciptanya dan mengarahkannya untuk menggunakan logikanya. Ia akan mendapati segala sesuatu ada tujuannya, bisa digunakan sebagai alat Istinbath mengenal sebagian sifat-sifat Allah SWT.

Ia akan berpikir, suatu kesia-siaan jikalau Allah SWT menciptakan semesta, kemudian membiarkannya begitu saja tanpa risalah. Ia membaca wahyu, kemudian ia mendapatkan hidayah seiring pembacaannya.

Ketiga, Allah SWT mencela orang yang tidak menggunakan akalnya, tidak menggunakannya sebagai jalan petunjuk, suka mengekor di dunia pemikiran dan ideologi, taklid buta kepada yang lainnya. Allah SWT berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti." (Surat al-Baqarah: 170-171)

Keempat, Salah satu fungsi akal adalah mengambil manfaat dan faedah dari kisah, hikmah dan pemisalan yang ada di dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (Surat Yusuf: 111)

Kemudian firman-Nya, "Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (Surat al-Ankabut: 43)

Kelima, Akal memiliki peranan penting untuk mengistinbathkan hukum, mengkaji dalil, mengkritik matan hadits. Semakin akal diluruskan dengan cahaya wahyu, ia akan semakin hebat dan semakin besar, dan ia akan semakin mampu berijtihad, mencari kebenaran, dan beristinbath.

Islam memuliakan akal dan menjaganya, mengharamkan segala upaya menafikan akal dan mematikannya, seperti pengharaman terhadap segala hal yang memabukkan dan narkoba. Dalam kajian fikih, kita mengenal adanya Diyat bagi seseorang yang berlaku zalim kepada orang lain sehingga menyebabkannya kehilangan akal.

Akal itu Terbatas

Dalam Islam, akal ada batasannya. Walaupun ia memiliki kemampuan besar, namun tetap memiliki kelemahan dalam banyak hal. Sebab, sejak awal, Allah SWT memang menciptakannya terbatas. Jikalau keluar dari batasannya, maka pemilik akal akan tersesat dalam kegelapan, tenggelam dalam kerancuan dan kebingungan.

Persis seperti yang dijelaskan oleh al-Imâm al-Syâthiby, dalam Kitabnya al-I’tishâm (2/ 318):
“Allah SWT menetapkan batasan akal yang tidak bisa dilampuinya. Ia tidak bisa mengetahui semua yang diinginkannya. Kalau seandainya bisa, maka posisinya akan sama dengan al-Bâri; Allah SWT yang mengetahui segala sesuatu yang sudah terjadi, apa yang akan terjadi dan apa yang tidak akan terjadi.”

Akal terbatas jangkauannya. Batasannya tidak bisa dilalui. Terbatas padahal hal-hal yang dijangkau oleh inderanya. Jikalau ia mampu mengetahui adanya Pencipta alam semesta dengan indera yang dimilikinya, namun ia tidak mampu mengungkap detail tentang Pencipta dan bagaimana Penciptanya; tidak mampu mengungkap detail masalah ruh dan bagaimana ruh tersebut; bagaimana surga dan negara; dan masalah-masalah ghaib lainnya.

Jikalau Anda sudah memahami keterbatasan akal, maka Anda akan mampu memahami Islam, Anda akan mudah keluar dari lingkaran syubhat dan was-was setan.

Al-Imâm Ibn Taimiyah mengatakan, “Pemberitahuan para Rasul tentang detail yang terjadi pada hari kiamat, tentang detail perintah syariat, tidak akan bisa diketahui oleh manusia dengan akal mereka sendiri, sebagaimana pemberitahuan para rasul tentang nama dan sifat Allah SWT, tidak akan bisa dikenali manusia dengan akal mereka, walaupun mereka bisa mengetahui globalnya dengan akal mereka tersebut.” (Lihatlah Kitab al-Risâlah al-Tadammuriyah, halaman 77)

Perlu juga ditegaskan, banyak para pengkaji yang tidak mengetahuinya, pengetahuan dan kemampuan akal mengenal masalah-masalah yang ada adalah kemampuan yang bersifat Mujmal (global) bukan Mufasshal (detail), parsial bukan konfrehensif.

Akal semata, malah melahirkan perpecahan dan perbedaannya, karena tingkat kemampuannya berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Tadi sudah dijelaskan, akal adalah sifat muktasabah (diusahakan). Intinya sama pada semua anak manusia. Hanya berbeda kemampuan jangkauannya. Dengan akalnya, seorang intelek mampu mengetahui apa yang tidak diketahui orang awam. Bisa jadi apa yang diketahui seorang ilmuwan, tidak diketahui oleh seorang intelek. Makanya, dalam kajian Filsafat, perbedaan itu banyak sekali dalam berbagai masalah. Sampai-sampai, ada ungkapan begini, “Mereka tidak akan bersepakat, kecuali pada kesimpulan ‘Mereka tidak bersepakat.”

Hubungan antara Akal (al-Aql) dan Dalil (al-Naql) merupakan masalah yang menyibukkan logika kalangan kontemporer, menjadi ruang pemantik syubhat kalangan relatifism-agnogtism, serta kesempatan bagi para pembenci Islam untuk menusuk-nusuk ajaran Islam. Akal pun saling berbenturan dalam memahaminya. Ide dan Usulan pun bermunculan untuk menyikapinya.

Alaminya, hal tersebut terjadi karena lemahnya ilmu agama, kemudian terpengaruh karena logika sekuler, kemudian berbeda kemampuan logika di sisi lainnya.

Akal Bukanlah Hukum Mutlak atas Dalil (al-Naql)

Cobalah Anda perhatikan lomba lari estafet. Ketika pelari pertama melaju dan sudah berlari sekian km, bukanlah ia akan segera memberikan tongkat estafet ke pelari selanjutnya untuk segera menyelesaikan pertandingan dan memenangkan pertandingan?

Begitulah kira-kira contohnya hubungan antara akal dengan dalil. Orang pertama adalah orang yang menyampaikan risalah hakiki, menegaskan perintah agama yang bersifat given. Siapa pun Nabinya, beliau pastinya adalah sosok yang jujur. Ketika tugasnya sudah selesai, maka ia memberikan tongkat estafetnya ke pelari peralih. Proses peralihan itu adalah landasan logika-penelitian. Tidak ada lagi kesempatan untuk merenungi masalah-masalah ghaib, karena tidak memiliki instrument-instrumen menyelematinya, seperti masalah beristiwa di Arsy, bagaimana manusia akan melewati jembatan?

Akal mempercayai kejujuran sosok yang memberitahukan (al-Mukhbir), Pencipta langit tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang mampu menundukkannya. Kebijaksanaan-Nya mutlak. Kekuasaan-Nya mutlak. Berserah diri merupakan konklusi logika.

Ketika itu, peranan akal terhadap dalil adalah alat Istinbath, bekerja berdasarkan Ushul dan kaedah tertentu yang merupakan kaloborasi antara akal dan dalil, untuk mengatur proses kejadian yang terjadi, menjamin tidak mengedepan hawa nafsu atau penyelewengan dalam masalah-masalah Ijtihad. Sebab, akal semata adalah alat yang bisa benar dan bisa salah.

Di sisi lainnya, logika nyata tidak akan bertentangan dengan dalil shahih, sebab Allah SWT pencipta semesta, penuh hikmah, kuasa, dan iradah, membalas kebaikan bagi orang-orang beriman dan menghukum orang-orang yang kafir, menciptakan akal dan logika, Maha Sempurna.

Maka, Dia sama sekali tidak mewahyukan sesuatu yang bertentangan dengan logika nyata. Waham kontradiksi itu tidak akan muncul kecuali ketika dalil tidak memiliki ruang diselami logika, seperti mukjizat Isra’ dan Mi’raj; Nabi mampu menjelajahi jarak jauh dalam jangka waktu singkat. Dalam kondisi seperti inilah akal menjalankan peranannya untuk al-Taslîm (mutlak percaya dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT).

Contohnya, seseorang yang hidup di zaman sekarang, kemudian berucap kepada orang lain yang hidup di zaman jahiliyyah, “Saya dari Moroko ke Makkah, hanya satu hari saja pakai pesawat.” Laki-laki yang berucap itu jujur. Hanya saja akal mereka yang hidup di zaman jahiliyyah tidak mampu membayangkannya; membayangkan bagaimana jarak yang begitu jauh, biasanya mereka tempuh berbulan-bulan dengan unta, bisa ditembus dalam satu hari saja.

Silahkan Logikakan…

Berdasarkan hal ini, para ulama mengatakan, para Nabi datang dengan membawa kabar-kabar yang Muhârât al-‘Uqûl (Membingungkan Logika), Bukan Muhâlât al-‘Aql (Dimustahilkan Logika). Maksudnya, akal menyadari tidak dustanya kabar-kabar tersebut, tapi ia tidak mampu mendeskripsikannya, susah mengkhayalkannya. Ibn Taimiyah mengatakan dalam Kitab al-Jawâb al-Shahîh, 4/ 391:
“Wajib dibedakan antara sesuatu yang diketahui akal ketidakshahihannya dan ketidakmungkinannya, dengan sesuatu yang tidak mampu akal untuk mendeskripsikannya dan mengenalinya. Jenis yang pertama adalah Muhâlât al-‘Uqûl, dan jenis yang kedua adalah Muhârât al-‘Uqûl. Para Rasul diutus dengan kabar-kabar yang kedua.”

Ia juga mengatakan di bagian lainnya (Kitab al-Jawâb al-Shahîh, 4/ 400):
“Para Nabi kadangkala memberitahukan sesuatu yang tidak mampu dikenali oleh Logika, bukan dengan sesuatu yang akal mampu mengetahui ketidakshahihannya. Mereka membawa kabar yang Muhârât al-‘Uqûl, bukan Muhâlât al-‘Uqûl.”

Makanya, ada di antara aliran-aliran dalam Islam yang tersesat, ketika mereka menggunakan akal mereka untuk membatalkan nash-nash yang shahih dan menginterpretasinya (takwil) dengan makna yang tidak dikandungnya, seperti kelompok al-Mu’tazilah, al-Mujassimah, dan lain-lain.

Hubungan akal dengan dalil, dalam masalah akidah, layaknya hubungan antara orang awam yang muqallid dengan alim yang mujtahid. Bahkan, hubungannya lebih rendah lagi. Sebab pada dasarnya, Allah SWT menyifati diri-Nya dengan apa yang disifati oleh diri-Nya sendiri, atau disifati oleh Nabi Muhammad Saw, baik al-Nafi maupun al-Itsbât. Kita mengimaninya tanpa al-Takyîf, tidak juga al-Tamtsîl, tidak juga al-Tahrîf, dan tidak juga al-Ta’thîl, menetapkan sifat-sifat dengan menafikan kesamaan dengan makhluk. Kita menetapkan tapi tidak melakukan al-Tasybîh. Kita menyucikan tapi tidak menafikan.

Namun dalam hal-hal yang berhubungan dengan al-Furû’ (cabang), ia memiliki peranan dalam Istinbath, memahami, dan menafsirkan. Akal ini maksudnya adalah akal yang diluruskan oleh wahyu, bukan logika semata; akal yang tunduk kepada kaedah-kaedah dan dasar-dasar, luwes dalam ilmu-ilmu syariat.

Akal juga berperan untuk kritik hadits, terbagi menjadi dua bagian:
  1. Tamhîsh al-Sanad, yaitu mengenal kondisi para perawi dan sifat al-Adâlah yang ada pada diri mereka
  2. Tamhîsh al-Matan, yang merupakan proses penting dalam menyaring hadits.

Ada sejumlah syarat yang ditetapkan oleh para Ulama untuk sah atau shahihnya Matan Hadits, dirangkum oleh Syeikh Musthafa al-Sibâ’I dalam Kitabnya al-Sunnah wa Makânatuhâ fî al-Tasyrî’, halaman 116:
  1. Lafadznya tidak rancu, tidak mungkin diucapkan oleh seseorang yang bagus bahasanya dan fasih.
  2. Tidak bertentangan dengan logika sehat, tidak mungkin dinterpretasi. 
  3. Tidak bertentangan dengan kaedah-kaedah umum dalam hokum dan etika. 
  4. Tidak bertentangan dengan indera dan persaksian, serta fakta sejarah
  5. Tidak menyeru hal-hal hina yang tidak direkomendasikan dalam syariat. 
  6. Tidak bertentangan dengan logika Sifat-Sifat Allah SWT dalam Ushul al-Aqidah, kemudian tidak juga bertentangan dengan para Rasul-Nya. 
  7. Tidak bertentangan dengan al-Quran al-Karum atau sunnah yang muhkam atau ijma' atau hal urgen dalam agama, tidak mengandung intrpretasi (al-Ta’wîl)

Syeikh Waliyullah al-Dahlawy juga menjelaskan hal yang sama dalam kitabnya al-‘Ajâlah al-Nâfi’ah.

Ibn al-Jauzy mengatakan, sebagaimana terdapat dalam kitab Tadrîd al-Râwi karya al-Suyûthy, 1/ 274:
“Jikalau Anda melihat hadits bertentangan dengan logika atau bertentangan dengan al-Manqûl (hadits), atau bertentangan dengan Ushul, maka ketahuilah ia al-Maudhû’ (palsu).”

Kritik Matan (Naqd al-Matan) banyak digunakan oleh para sahabat, di antaranya adalah Aisyah Umm al-Mukminin, Ibn Abbas, dan Ibn Umar. Untuk lebih dalam, silahkan lihat kitab al-Ijâbah karya al-Zarkary, kemudian Kitab Maqâyis al-Mutûn karya Musfir al-Damîny.

Mustahil akan terjadi kontradiksi antara logika nyata dengan dalil shahih. Itulah konklusi yang dihasilkan oleh Ibn Taimiyah dalam kitabnya Dar al-Mafâsid (1/ 148):
“Sesuatu yang bisa diketahui Logika Nyata, tidak akan bertentangan dengan syariat. Bahkan, nash yang shahih tidak akan pernah bertentangan dengan Logika Nyata. Saya sudah memperhatikannya dalam masalah-masalah yang diperdebatkan khalayak. Saya mendapati, sesuatu yang bertentangan dengan nash-nash shahih adalah syubhat-syubhat rusak, dengan mudah bisa dikenali dengan logika. Bahkan, dengan logika semata, bisa diketahui anonimnya yang sesuai dengan syariat. Saya mendapati, sesuatu yang diketahui dengan Logika Nyata, tidak akan bertentangan dengan Nash sedikit pun, bahkan Nash yang bertentangan dengannya; bisa jadi adalah hadist Maudhu’ atau Dilâlah Dha’îfah. Sehingga tidak layak dijadikan dalil, walaupun dilepaskan dari kontradiksi logika nyata, apalagi jikalau nyata-nyata bertentangan dengan Logika Nyata.”

Dengan begitu bisa disimpulkan, kontradiksi antara Logika (al-Aql) dengan Dalil (al-Naql) adalah Mitos, Khurafat. Pangkalnya adalah berbedanya kemampuan logika, menyerah terhadap syubhat, tidak mengekang diri dengan sistematika logika nyata atau sistematika logika yang benar.***
Catatan SesudahnyaNewer Post Catatan SebelumnyaOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment