Malam Lailatul Qadar & Turunnya al-Quran

Ada sejumlah tujuan di balik turunnya Surat al-Qadar. Salah satunya, menjelaskan dan menguatkan makna-maknanya, sesuai dengan tujuan-tujuan besar yang dibawa Islam. Kemudian diejawantahkan oleh lafadz al-Quran yang penuh mukjizat.

Di antara tujuan utama surat ini dan pikiran pokoknya adalah penjelasan mengenai keutamaan al-Quran dan keagungannya. Allah SWT menyematkan awal penurunannya kepada diri-Nya sendiri. Untuk menguatkan fakta ini, dipaparkan bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari dasar al-Quran dan sumbernya.

Catatan ini merujuk Artikel berjudul Lailat al-Qadar wa Nuzul al-Quran al-Karim (Malam Lailatul Qadar dan Turunnya al-Quran al-Karim), karya Idris Ahmad.

Berdasarkan hal di atas, ditetapkan sejumlah faedah yang tercakup dalam surat ini, di antaranya.

  1. Meninggikan kedudukan al-Quran yang berada di tengah-tengah manusia. Sebab, keutamaan itu dirujuk pertama kali ke sumbernya. Ia adalah Kalamullah. Kemudian setelahnya dilihat zaman turunnya, dan itu di Malam Lailatul Qadar; salah satu malam di bulan Ramadhan. Kemudian setelahnya dilihat jalan penurunannya; mengisyaratkan kepada al-Ruh, yaitu Jibril yang membawa turun Kitab ini kepada Nabi Muhammad Saw.
  2. Keutamaan malam yang sama dengan malam turunnya di setiap tahun, yaitu malam Lailatul Qadar. Derivasinya, kaum Muslimin didorong untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan Qiyamullail dan Sedekah. 
  3. Penamaan Lailatul Qadar adalah pilihan dari Allah SWT, dikhususkan di malam turunnya wahyu kepada Nabi Muhamad Saw. Jelas, awal penamaannya adalah di ayat ini. Sebelumnya, nama ini tidak dikenal di kalangan Kaum Muslimin. Penyebutannya dengan nama ini akan memberikan kerinduan tersendiri bagi siapa saja mengenalinya. Makanya, di ujung ayat dikatakan, “Apakah engkau tahu apa itu Lailatul Qadar?” 
  4. Makna al-Qadar yang termaktub dalam Lailatul Qadar adalah kemuliaan dan keutamaan di hadapan Allah SWT. Ada keberkahan dan kemuliaan yang terkandung di dalamnya. Ia adalah kemuliaan lainnya bagi al-Quran al-Karim dilihat dari zaman kemunculannya atau zaman turunnya. Dalam Kitab al-Tashil dikatakan, “Lafal ‘Kami menurunkannya di malam Lailatul Qadar’ adalah pengagungan al-Quran dari tiga sisi; Pertama, hanya disebutkan Dhamirnya tidak nama jelasnya menunjukkan ketenarannya dan kesohoran namanya. Keduanya, Penurunannya dipilih di sebaik-baik waktu. Ketika, Penurunannya disandarkan lansung oleh Allah SWT kepada diri-Nya. 
  5. Surat ini menegaskan, selain al-Quran dimuliakan dengan masa turunnya di malam terbaik sepanjang tahun, ia juga mengkhususkan kemuliaan malam Lailatul Qadar di antara malam-malam yang ada sepanjang tahun karena al-Quran diturunkan di malamnya; dengan turunnya Malaikat dan Ruh; rahmat dan keselamatan bagi orang-orang yang beriman sampai terbit fajar. Keutamaan-keutamaan ini cukup mendorong kita untuk memperhatikan malam ini dengan mencari waktu-waktu Mustajabnya.

Apakah Semua al-Quran atau Sebagiannya yang Diturunkan di Malam Lailatul Qadar?

 Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan Ahli Tafsir, Dhamir Ghaib (hu) dalam firman Allah SWT “Inna Anzalnahu (kami menurukannya)” adalah al-Quran al-Karim. Sebab, ia memang diturunkan di Malam Lailatul Qadar; menunjukkan kedudukannya, ketenarannya, dan terhunjamnya di akal kaum Muslimin. Mereka benar-benar memperhatikannya. Perbedaan hanya terjadi seputar perbedaan tentang berapa banyak yang diturunkan di malam tersebut? Apakah diturunkan di Malam itu semua al-Quran atau sebagiannya?

Sebagian ulama berpandangan, wahyu yang diturunkan di malam Lailatul Qadar tersebut adalah awal wahyu al-Quran, yaitu bagian-bagian awal surat al-‘Alaq. Itulah awal wahyu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abbas, “Kemudian berurutan setelahnya turunnya wahyu; antara awal turunnya wahyu sampai akhirnya, terbentang waktu selama 20 tahun.”

Sebagian ulama berpandangan, wahyu yang diturunkan di malam itu adalah semua al-Quran sekaligus ke langit dunia, kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur sesuai dengan kejadian. Inilah pendapat Jumhur Ulama. Dihikayatkan oleh al-Alusy, ini adalah Ijma’.

Pendapat yang kuat, tidak ada kontradiksi di antara kedua pendapat. Keduanya bisa disatukan. Sudah maklum diketahui, wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw di Gua Hira, yaitu bagian-bagian awal surat al-‘Alaq, terjadi di malam Lailatul Qadar, kemudian berangsur-angsur setelahnya selama 23 tahun. Turun ke dunia secara berangsur-angur. Begitulah maksud pendapat pertama.

Sedangkan pendapat yang menyatakan turunnya sekaligus di malam Lailatul Qadar, maksudnya adalah turun dari al-Lauh al-Mahfudz ke Bait al-Izzah yang ada di langit dunia. Masing-masing pendapat, semuanya memuliakan al-Quran.

Al-Jam’u (menyatukan) kedua pendapat tersebut, bisa dilihat dari beberapa nukilan berikut.

Pertama, Dalam Kitab Adhwa’ al-Bayan
“Faktanya, tidak ada kontradiksi sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, yaitu antara wujudnya di al-Lauh al-Mahfudz kemudian turun ke langit dunia sekaligus, dengan turunnya kepada Nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur. Ketika ia berada di al-Lauh al-Mahfudz, ia berada di tempat yang berisikan apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat. Salah satu yang ada di al-Lauh al-Mahfuz adalah apa yang akan diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw.

Kemudian turunnya sekaligus ke langit dunia, maksudnya pemindahan bagian yang ada di al-Lauh al-Mahfudz (semua al-Quran). Al-Quran itu ada di al-Lauh al-Mahfudz sama dengan yang lainnya; ada di langit dunia, kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah Saw.

Maklum bagi kita semua, al-Quran itu juga ada sekarang ini di al-Lauh a-Mahfufz. Dalil turunnya al-Quran sekaligus, kemudian diturunkan setelahnya dengan berangsur-angsur adalah firman Allah SWT:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (Surat al-Hijr: 9)

Kata-kata “Nazzalna” adalah al-Tadh’if, bermakna al-Tikrar (berulang), sama dengan firman Allah SWT di ayat lainnya:
تنزل الملائكة
‘Dan para Malaikat turun.” (Surat al-Qadar: 4)
Maksudnya, di setiap malam Lailatul Qadar.

Berdasarkan hal ini, al-Quran ada di al-Lauh al-Mahfudz ketika Qalam sudah menulis apa yang ada di alam semesta dan apa yang akan datang, kemudian dipindahkan ia ke langit dunia sekaligus di malam Lailatul Qadar, kemudian diturunkan secara berangsur-angsur selama 20 tahun. Setiap kali Allah SWT ingin menurunkan bagiannya, Dia berfirman apa yang inginkan diturunkan-Nya. Jibril alaihissalam mendengarnya. Tidak ada kontradiksi sama sekali di antara tiga keadaan di atas.”

Kedua, Dalam Kitab al-Tahrir wa al-Tanwir
“Bisa saja maksud al-Quran adalah semuanya, sehingga kata kerja dalam “Anzalna” menunjukkan kondisi awalnya yang diturunkan di malam tersebut sebanyak lima ayat dari surat al-‘Alaq, kemudian waktu terhenti, kemudian turun lagi secara bertahap. Belum selesai turunnya al-Quran kecuali setelah lebih dari 20 tahun. Ketika semua al-Quran ditetapkan kadarnya dalam ilmu Allah SWT dan diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur sampai selesai, maka turunnya dimulai dengan turunnya ayat-ayat pertamanya. Sebab, ayat-ayat yang turun setelahnya dianggap turunnya bersama awalnya.”***
Catatan SesudahnyaNewer Post Catatan SebelumnyaOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment