Urgensi Sikap Malu Dalam Islam

Rasa malu berkaitan erat dengan hati (al-Qalb). Jikalau hati hidup, dipenuhi cahaya Allah SWT, maka rasa malu berbuat maksiat dan keburukan akan semakin besar. Jikalau hati mati, maka rasa malu berbuat maksiat tidak akan ada sama sekali. Padam.

Kadangkala, kita tidak habis pikir dengan seseorang yang begitu cueknya melakukan kemaksiatan di hadapan orang banyak. Santai. Tidak peduli. Padahal, kita yang melihatnya saja merasa malu.

Esensi dan Hakikat Sikap Malu (al-Hayā’) Menurut Islam

Sikap malu merupakan sikap yang mendorong seseorang melakukan semua perbuatan baik dan menjauhi semua perbuatan buruk. Salah satu sifat mulia. Ia adalah pangkal segala akhlak yang mulia. Ia adalah hiasan keimanan dan syiar Islam, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah Saw:
إن لكل دين خُلقًا، وخُلُقُ الإسلام الحياء
“Setiap agama ada akhlaknya, dan akhlak Islam adalah malu.” (HR Malik)

Wahab bin Munabbih mengatakan:
الإيمان عريان، ولباسه التقوى، وزينته الحياء
“Iman itu tidak berpakaian. Pakaiannya adalah ketakwaan, dan perhiasannya adalah sikap malu.”

Ada juga ulama lainnya yang mengatakan:
من كساه الحياء ثوبه لم ير الناس عيبه
“Siapa yang dipakaikan pakaian malu, maka manusia tidak akan melihat aibnya.”

Karena banyaknya keistimewaan dan keutamaan yang dimiliki oleh sikap malu, maka syariat memerintahkan umat Islam untuk berakhlak dengan sifat ini dan mendorong mereka menjadikannya sebagai hiasan diri, bahkan menjadikannya sebagai bagian dari keimanan.

Rasulullah Saw bersabda:
الإيمان بضعٌ وسبعون شعبة، فأفضلها قول: لا إله إلا الله، وأدناها: إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان
“Iman itu 75 cabang. Paling afdhalnya adalah ucapan La Ilāha Illallāh. Paling rendahnya adalah mencampakkan gangguan di jalan. Dan sikap malu merupakan salah satu cabang keimanan.” (Muttafaq alaihi)

Dalam riwayat lainnya dijelaskan:
الحياء والإيمان قرنا جميعًا، فإذا رفع أحدهما رفع الآخر
“Sikap malu dan keimanan itu satu tanduk. Jikalau salah satunya dicabut, maka yang lainnya ikut tercerabut.” (HR Abu Nuaim)

Rahasia kenapa malu itu bagian dari iman; sebab keduanya mengajak kepada kebaikan dan mendekatkan diri kepada Alah SWT, menjauhkan dari keburukan dan kejahatan.

Jikalau Anda melihat seseorang yang asal berani aja, lisannya kotor dan suka berbuat keji, salah satu sebab ia berlaku seperti itu karena hilangnya rasa malu.

Rasulullah Saw bersabda:
إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى: إذا لم تستحِ فاصنع ما شئت
“Di antara kalam kenabian pertama yang diperoleh manusia adalah ‘Jikalau engkau tidak malu, maka berbuatlah sesuka hatimu.” (HR al-Bukhari)

Ini Bukanlah Sikap Malu

Ada orang yang tidak mau melakukan kebaikan, menyampaikan kebenaran, menjalankan amar makruf dan nahi mungkar, dengan alasan malu. Ini, tanpa perlu dipertanyakan dan diragui, merupakan pemahaman yang salah tentang makna sikap malu.

Sebaik-baik manusia, Nabi Muhammad Saw adalah manusia yang paling pemalu, bahkan lebih pemalu dari anak gadis pingitan. Namun, rasa malu tidak menghalanginya menyampaikan kebenaran, melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, bahkan murka demi Allah SWT ketika aturan-Nya dilanggar.

Malu seharusnya tidak menghalangi seseorang menuntut ilmu dan bertanya masalah-masalah agama. Jikalau kita lihat sejarah, maka kita akan mendapati Umm Sulaim al-Anshāriyah radhiyallāhu anha bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, Allah SWT tidak malu dari kebenaran, apakah seseorang perempuan mandi jikalau bermimpi?”

Rasa malu sama sekali tidak menghalanginya untuk bertanya, dan rasa malu tidak menghalangi Nabi Muhammad Saw untuk menjawab, “Ya, jikalau ia melihat air.” (HR Muttafaq alaih)

Jenis-Jenis Malu

Para ulama membagi malu menjadi 4 bagian.

  • 1# Malu Kepada Allah SWT

Ketika rasa malu tertanam dalam diri seorang hamba;  Allah SWT melihatnya dan bersamanya di setiap waktu, maka ia akan malu jikalau sampai menyaksikannya bermalas-malasan menjalankan kewajiban dan melakukan kemaksiatan.

Allah SWT:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?" (Surat al-'Alaq: 14)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (Surat Qaaf: 16)

Banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bagaimana Allah SWT melihat para hamba-Nya dan selalu mengawasi-Nya.

Nabi Muhammad Saw bersabda kepada para sabahatnya:
استحيوا من الله حق الحياء
“Malulah kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya.”
Para sahabatnya berkata, “Wahai Rasulullah, kami merasa malu.”

Beliau melanjutkan:
ليس ذاكم، ولكن من استحيا من الله حق الحياء فليحفظ الرأس وما وعى، والبطن وما حوى، وليذكر الموت والبلى، ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا، فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حق الحياء
“Bukan itu. Tapi, siapa yang malu kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya, maka jagalah kepalanya dan apa yang diakalinya, jagalah perutnya dan isinya, ingatlah kematian dan musibah. Siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang melakukannya, maka ia sudah malu kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya.” (Hr al-Turmudzi)

Ada seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan untuk melakukan kemaksiatan, kemudian laki-laki tersebut berkata, “Tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang.” Kemudian perempuan itu menjawab,”Mana penciptanya?”

  • 2# Malu kepada Para Malaikat

Ada sahabat yang mengatakan, “Bersama kalian, ada yang tidak meninggalkan kalian. Maka, malulah kepada mereka. Muliakanlah mereka.”

Allah SWT sudah mewanti-wanti makna ini dalam firman-Nya:
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ
Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu)."

كِرَامًا كَاتِبِينَ
yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu)."

يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Surat al-Infithar: 10-12)

Ibn al-Qayyim al-Jauziyah menjelaskan, “Maksudnya, mereka malu dari para malaikat yang selalu menjaga, memuliakan mereka, mengagungkan mereka. Mereka malu layaknya orang semisal kalian melihat yang lainnya. Para malaikat juga merasa terganggu dengan sesuatu yang membuat anak Adam merasa terganggu. Jikalau anak Adam terganggu dengan orang yang berbuat maksiat dan berlaku buruk di hadapannya, walaupun ia melakukan semisalnya, maka bagaimana menurut kalian dengan para malaikat yang mulia?!”

  • 3# Malu Kepada Manusia

Hudzaifah bin al-Yaman mengatakan, “Tidak ada kebaikan pada diri orang yang tidak malu kepada orang lain.”

Mujāhid mengatakan, “Jikalau seorang muslim tidak mendapatkan dari saudaranya kecuali rasa malu yang menghalanginya berbuat maksiat, maka itu sudah cukup baginya.”

Nabi Muhammad Saw menjadikan sifat malu sebagai hokum atas perbuatan seseotang, standar sekaligus ukuran, sebagaimana sabdanya:
ما كرهت أن يراه الناس فلا تفعله إذا خلوت
“Apa yang engkau tidak suka dilihat anak manusia, maka janganlah melakukanya ketika engkau sendirian.” (Hr Ibn Hibban)

  • 4# Malu Terhadap Diri

Siapa yang malu kepada orang lain, namun tidak malu kepada dirinya sendiri, maka sama saja ia menganggap dirinya lebih hina dari orang lain. Selayaknya seorang anak manusia jikalau ingin melakukan keburukan, hendaklah ia membayangkan dirinya sendiri yang melakukannya dan dilihatnya dengan mata kepalanya.

Jikalau ia malu melihat dirinya melakukan maksiat, maka ia akan lebih malu dari orang lain yang menyaksikanya bermaksiat. Makanya, ada Ulama Salaf yang mengatakan, “Siapa yang ketika sendirian melakukan suatu amalan yang ia malu melakukannya di hadapan orang lain, maka dirinya tidak ada harganya.”

Astaghfirullah… kami memohon ampunan-Mu, ya Allah. Ampuni kami.

Sikap malu adalah sikap mulia, akhlak agung, etika yang seharusnya tertanam dalam diri setiap anak manusia, apalagi seorang muslim. Sebagai manusia yang Beragama, berislam, tidak selayaknya kita melepaskan sikap satu ini dalam setiap perbuatan kita.

Semoga Allah SWT mengkaruniakan kita sikap dan sifat mulia ini, bukan malu yang tercela.***
Catatan SesudahnyaNewer Post Catatan SebelumnyaOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment