Zakat Mal untuk Berbuka Orang Berpuasa

Di antara masalah kontemporer dalam bab Zakat adalah menyalurkan Zakat Mal (Zakat Harta) untuk berbuka orang-orang yang berpuasa, baik lansung disalurkan ke pribadi maupun melalui lembaga-lembaga sosial; merekalah yang membeli makanan dan minuman, kemudian mengirimkannya kepada para fakir miskin, atau menyediakan makanan berbuka bagi orang-orang yang berbuka, biasanya dilakukan di Masjid atau tempat-tempat yang sudah disediakan.

Catatan kita ini akan merujuk Artikel Masud Shabry, yang berjudul Ikhraj Zakat al-Mal fi Ifthar al-Shaimin (Mengeluarkan Zakat Harta untuk Berbuka atau Menyediakan Berbuka bagi Orang-Orang yang Sedang Berpuasa).

Zakat artinya, orang yang berzakat (al-Muzakki) mengeluarkan beberapa persen hartanya setelah mencapai Nishabya dan berlalu selama setahun penuh hijriyah kepada orang-orang yang diberikan hak oleh Allah SWT, jumlahnya ada delapan, sebagaimana terdapat dalam surat al-Taubah, yaitu firman-Nya:
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat al-Taubah: 90)

Dengan adanya kewajiban zakat dalam harta orang kaya, maka beralihlah bagian zakat tersebut dari kepemilikannya kepada orang yang berhak memilikinya sebagaimana sudah ditentukan oleh Allah SWT. Banyak Ahli Fikih mengistinbathkan, salah satu syarat sahnya zakat adalah al-Tamlik (kepemilikan).

Makna al-Tamlik, Zakat tersebut adalah hutang di pundaknya orang kaya; hutang ini diberikannya kepada shahibnya, yaitu Allah SWT. Kemudian, Allah SWT mewakilkannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Orang yang berzakat (al-Muzakki) tidak bisa menggunakannya atau memberikannya sesuka hatinya; berupa barang atau makanan atau selainnya. Tetapi, wajib memberikan keseluruhannya kepada pemiliknya.

Para Ahlh Fikih sudah berdiskusi panjang mengenai Syarat al-Tamlik ini dalam kitab-kitab mereka. Di antara Mazhab yang longgar dalam masalah ini adalah Ahli Fikih Mazhab Hanafi, seperti al-Kasany dalam kitabnya al-Bada’i wa al-Shana’i fi Tartib al-Syara’i (2/ 39). Di antara point yang disebutkannya:

  • Pertama, Zakat mengeluarkan dan menyerahkan bagian dari Nishab kepada Allah SWT. Sang Pemilik memutuskan kepemilikan dari tangannya dan menyerahkan kepemilikannya kepada orang fakir atau kepada orang yang diwakilkan. Ia merupakan sedekah dan milik orang fakir berdasarkan ketetapan Allah SWT. Pemilik harta adalah wakil Allah SWT untuk menyerahkan kepemilikan kepada orang fakir.

Dalilnya adalah firman Allah SWT, “Apakah mereka tidah tahu, Allah SWT menerima taubat para hamba-Nya dan mengambil sedekah.” (Surat al-Taubah: 104)

Dan sabda Nabi Saw, “Sedekah ada di tangan Al-Rahman sebelum ada di telapak tangan fakir.”

Dan Allah SWT menetapkan kepemilikan tersebut dengan pemberian zakat, sebagaimana firman-Nya, “Dan tunaikanlah zakat.” (Surat al-Baqarah: 43) Memberikan itu adalah memberikan kepemilikan. Karena itulah Allah SWT menamakan zakat dengan sedekah, sebagaimana firman-Nya, “Sedekah (Zakat) itu bagi orang-orang fakir.” (Surat al-Taubah: 60) Bersedekah adalah menyerahkan kepemilikan. Artinya, sang Pemilik mengeluarkan kadar zakat kepada Allah SWT, yang mengandung kepemilikan (al-Tamlik).

  • Kedua, Ketika Zakat diserahkan kepada orang fakir, maka terputuslah kadar zakat yang dikeluarkan dari kepemilikannya dan murni menjadi hak Allah SWT. Maka, makna mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam mengeluarkan zakat adalah membatalkan kepemilikannya. Jadi, dalam hal ini bukanlah pembatalannya dengan beralihnya kepemilikan harta kepada fakir misnin, namun ia beralih kepada milik Allah SWT. Itulah hakikatnya. Pemilik harta adalah wakil Allah SWT. Hanya saja menurut Abu Hanifah, rukunnya adalah mengeluarkan bagian Nishab, baik secara makna maupun secara citra. Keduanya memiliki makna dan citra. Namun boleh selainnya berada di posisinya berdasarkan makna. (Maknanya memberikan kepada Allah SWT. Citranya memberikan kepada fakir miskin)

  • Ketiga, Citra akan batal dengan adanya izin pemilik hak, yaitu Allah SWT, sebagaimana kami jelaskan sebelumnya. Kami juga sudah menjelaskan perbedaan para Masyayikh tentang al-Sawaim, berdasarkan pendapat Abu Hanifah. Dengan begitu, menyalurkan zakat untuk kebaikan (sosial), seperti membangun Masjid, menjaga perbatasan dan sumur air minum, memperbaiki jembatan, mengafankan mayat dan menguburkannya, hukumnya tidak boleh. Sebab, pada dasarnya tidak ada al-Tamlik (kepemilikan).

  • Keempat, Begitu juga halnya jikalau zakat digunakan untuk membeli makanan, kemudian diberikan kepada para Fakir untuk makan siang dan makan malam mereka, maka tidak boleh. Sebab, tidak ada al-Tamlik (kepemilikan).

  • Kelima, Begitu juga halnya jikalau hutang mayat fakir dibayar dengan niat zakat, maka tidak sah. Sebab tidak ada al-Tamlik (kepemilikan) dari sang fakir. Ia tidak memegangnya. Jikalau hutang fakir yang masih hidup dibayarkan dengan zakat tanpa perintahnya, maka juga tidak boleh. Sebab, tidak ada kepemilikan (al-Tamlik) dari sang fakir dan tidak ada juga memegangnya. Namun jikalau diperintahkan di bab zakat, maka dibolehkan karena adanya al-Tamlik dari sang Fakir. Sebab ketika ia memerintahkannya, maka yang diperintahkan menjadi wakilnya dalam memang (al-Qabdhah), seakan-akan ia memegang zakat itu sendiri dan memindahkan kepemilikannya kepada orang yang berhutang.

Dalam Majma’ al-Anhur fi Syarh al-Abhur karya Syeikhi Zadahu (1/ 222) dijelaskan, “Zakat tidak dibayarkan untuk membangun Masjid, sebab tidak memenuhi syarat al-Tamlik (kepemilikan). Hukum yang sama berlaku untuk membangun jembatan, memperbaiki jalan, mengalirkan sungai, haji dan jihad, serta semua yang tidak ada kepemilikannya... (atau mengafankan mayit) karena tiadanya al-Tamlik (atau membayar hutang).”

Al-Zulai’i mengatakan dalam Tabyin al-Haqaiq Syarh Kanz al-Daqaiq (1/ 305), “Zakat hanya akan sempurna dengan adanya al-Tamlik (kepemilikan).”

Al-Mawardi al-Syafii berkata dalam al-Hawi al-Kabir (8/ 479), “Sedekah terhadap 8 Ashnaf dikaitkan dengan "lam" al-Tamlik; antara satu dengan lainnya dihubungkan dengan "waw" al-Tasyrik. Setiap kelompok penerima zakat yang sah memiliki, disandarkan kepada kelompok lainnya yang juga sah memiliki, maka penyandaran tadi menegaskan tetapnya kepemilikikan (Tsubut al-Milk). Sama halnya jikalau dikatakan, “Rumah ini untuk (li/ Lam al-Tamlik) untuk Zaid dan Amru.”

Ibn Quddamah al-Hanbaly berkata dalam al-Kafy fi Fiqh al-Imam Ahmad (1/ 423), “Tidak boleh dibelanjakan untuk selain mereka; membangun Masjid atau memperbaiki jalan atau mengafankan mayat. Sebab, Allah SWT mengkhususkan mereka dalam firman-Nya dengan kata-kata “Innama (hanya)”. Makna kata tersebut adalah al-Hashr (pembatasan); menetapkan yang disebutkan dan menafikan yang tidak disebut. Tidak bisa diglobalkan.”

DR. Wahbah al-Zuhaily berkata dalam al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu (3/ 1812):
“Disyaratkan kepemilikan (al-Tamlik) untuk sahnya pembayaran zakat, dengan memberikannya kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Tidak cukup dengan “pembolehan” atau memberi makan, kecuali dengan jalan al-Tamlik. Menurut Mazhab Hanafi, tidak diberikan kepada orang gila dan anak kecil yang belum remaja (Mumayyiz), kecuali ada yang mewakilkan keduanya untuk memegangnya dari kalangan orang-orang yang berhak menjadi wakilnya, seperti bapaknya atau pemegang wasiatnya atau selain keduanya. Sebab, Allah SWT berfirman, “Dan tunaikanlah zakat.” (Surat al-Baqarah: 2/ 43) Maksud tunaikanlah adalah al-Tamlik (memberikan kepemilikan). Dan Allah SWT menamakan zakat dengan sedekah dalam firman-Nya, “Sedekah hanya bagi orang-orang fakir.” Sedekah adalah al-Tamlik. Huruf Lam dalam ayat di atas Li al-Fuqara’ (bagi orang-orang fakir), sebagaimana dikatakan oleh Mazhab Syafii, adalah Lam al-Tamlik. Sama dengan mengatakan, “Harta ini li (untuk) Zaid.”

Dalam fatwa Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah, suatu hari ditanya tentang hukum mengeluarkan zakat harta (zakat Mal) untuk memperbukakan (Ifthar) orang-orang yang berpuasa, dikenal dengan nama Mawaid al-Rahman.

Jawabannya:
Memperbukakan (Ifthar) orang yang berpuasa, salah satunya Mawaid al-Rahman yang tersebar luas di Negara kita, walaupun ia fenomena mulia dan mencerahkan; fenomena yang mengandung kebaikan dan solidaritas antara kaum Muslimin, tetapi jikalau pelaksanaannya dengan mangumpulkan orang fakir dan miskin, kemudian dibiayai dengan zakat, hukumnya tidak sah. Sebab, Allah SWT sudah menentukan orang-orang yang berhak menerima zakat, sebagaimana dalam firman-Nya, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat al-Taubah: 60)

Paling utama adalah orang-orang fakir dan miskin. Mereka paling prioritas dalam hak zakat. Hukum asalnya, kebutuhan mereka harus dipenuhi, begitu juga dengan kehidupan mereka. Itulah sebabnya, Nabi Muhammad Saw mengkhususkan mereka dalam hadits pengutusan Muadz radhiyallahu anhu ke Yaman, “Jikalau mereka menaatimu dalam hal itu, maka beritahulah mereka bahwasanya Allah SWT mewajibkan mereka untuk membayarkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir.” (Muttafaq alaihi)

Ayat di atas ada ungkapan dengan "lam" yang bermakna al-Milk (kepemilikan). Karena itulah, Jumhur Ulama mensyaratkan al-Tamlik. Mereka mewajibkan adanya kepemilikan bagi orang fakir atau miskin, agar mereka bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dan mereka lebih tahu apa yang mereka butuhkan. Sebagian ulama membolehkan pembayarannya dalam bentuk “barang” ketika memang ada maslahahnya, dengan diketahui apa saja yang dibutuhkan oleh sang fakir dan bisa memenuhi kebutuhuhan-kebutuhannya...”

Zakat Dikeluarkan dari Jenisnya, Kecuali Zakat Barang Perdagangan. Ada Perbedaan Pendapat

Para Ulama beradu pendapat; apakah boleh mengeluarkan emas sebagai ganti perak, atau sebaliknya. Padahal, keduanya sama-sama Naqdan. Mereka berbeda pandangan dalam dua garis besar; tidak boleh dan boleh.

Ibn Quddamah berkata dalam al-Mughni (3/ 41) setelah menjelaskan perbedaan pendapat para ulama dan menguatkan pendapat bolehnya mengeluarkan emas untuk perak dan sebaliknya, karena adanya kesamaan (al-Isytirak) di antara keduanya:
“Berbeda dengan jenis lainnya yang ada kewajiban zakatnya; setiap jenis ada tujuan khususnya yang tidak bisa didapatkan dari jenis lainnya. Begitu juga dengan jenis-jenisnya. Hikmahnya tidak akan tercapai dengan mengeluarkan jenis yang tidak wajib. Hanya akan tercapai dengan jenis yang diwajibkan. Sampai disini, tujuan itu sudah tercapai. Harus tercukupi. Tidak ada gunanya pengkhususan sesuatu sebagai pembayaran, jikalalau jenis lainnya memiliki hikmah yang sama dengannya.

... Kemudian ia berkata, “Berdasarkan hal ini, tidak boleh mengganti jikalau menyebabkan mudharat bagi sang Fakir, seperti memberikan kepadanya sesuatu yang seharusnya tidak diberikan, sebagai ganti sesuatu yang harusnya diberikan. Sebab, jikalau tidak boleh mengeluarkan salah satu jenis sebagai ganti jenis lainnya, maka dikeluarkan bersamaan hukumnya lebih tidak boleh lagi. Jikalau ia memilih untuk memberikan dari jenisnya, kemudian sang Fakir memilih untuk mengambil jenis lainya karena mudharat yang akan menimpanya ketika mengambil jenis yang seharusnya, maka sang Pemilik (harta zakat) tidak lazim mengabulkan permintaannya. Sebab jikalau ia menunaikan jenis yang diwajibkan kepadanya, maka ia tidak dibebankan dengan selainnya.”

Bahkan, Ibn Quddamah terang-terangan menyatakan dalam al-Mughny (3/ 34) terlarangnya menyeluarkan zakat dari selain jenis harta yang ada kewajiban zakatnya, “Zakat diambil dari setiap jenis sesuai dengan kadar khusus baginya, tidak diambil dari jenis lainnya. Jikalau kita menyatakan terkait jenis-jenisnya; diambil dari setiap jenis khusus baginya, maka utamanya dihitung dari jenis-jenis yang berbeda dengan tujuan-tujuan yang berbeda. Kecuali emas dan perak; mengeluarkan salah satu dari keduanya sebagai ganti yang lainnya, ada dua riwayat pendapat.”

Membagi-bagi Makanan Kepada Fakir-Miskin di Bulan Ramadhan

Membagikan makanan untuk para fakir dan miskin di bulan Ramadhan, dibolehkan oleh sebagian Ahli Fikih, sebagaimana dikatakan oleh al-Kasany, “Begitu juga, jikalau ia membeli makanan dengan zakat, kemudian memberi makan kepada orang-orang fakir; siang dan malam, tidak memberikan makanan pokok, hukumnya tidak boleh karena tidak adanya al-Tamlik (Kitab al-Bada’i wa al-Shana’i fi Tartib al-Syara’i: 2/ 39)

Artinya, mengeluarkan zakat ke Lembaga-Lembaga Sosial dan menyalurkan sebagai Bekal Ramadhan; mencakup bahan-bahan makanan dan selainnya, dibolehkan menurut Mazhab Hanafi. Walaupun hukum asalnya mengeluarkan dari jenis yang ada kewajiban zakatnya kepada para fakir dan miskin, agar sempurna al-Tamlik. Tidak ada seorang pun yang berhak meminta pendapat sang fakir tentang apa yang diinginkannya. ***
Catatan SesudahnyaNewer Post Catatan SebelumnyaOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment