Beragama "Rasa"

“Ibadah rasanya selalu hampa, apakah ibadah saya bermasalah?” Mungkin, itu salah satu pertanyaan yang sering bergelayut d kepala kita. Padahal tidak selamanya begitu. Kenikmatan dalam beribadah (Lazzat al-‘Ibadah) adalah buah keimanan (Tsamarat al-Iman), bukan Pokok Keimanan (Asas al-Iman) dan bukan pula bukti kebenarannya (Dalil al-Shidq).

Ketika kita ingin merasakan al-Dzauq al-Imani (Rasa Keimanan) dan al-Wujd al-Diny (Rasa Beragama), pangkalnya adalah al-Mahabbah al-Imaniyah (Cinta yang tegak di atas keimanan).


Dasarnya adalah sabda Rasulullah Saw, “Tiga hal; siapa yang ada di dalam dirinya, maka ia sudah merasakan manisanya iman; Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya selain keduanya; tidak mencitai seseorang kecuali karena Allah SWT; dan ia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci jikalau dicampakkan ke dalam Neraka.”

Dasar lainnya adalah hadits riwayat al-Abbas bin Abd al-Mutthalib, “Sudah merasakan keimanan; siapa yang beriman kepada Allah SWT sebagai Rabb; Islam sebagai agama; dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.”

Tapi, menganggap ‘rasa’ adalah segalanya, seolah-olah ia pokok keimanan, sampai-sampai melakukan sesuatu yang tidak ada dasarnya dalam agama; sekali lagi demi mendapatkan ‘rasa’ adalah sebuah kesalahan.

Sahl al-Tusturi mengatakan, “Setiap ‘rasa’ yang tidak berdasarkan al-Quran dan Sunnah, ia batil. Sebab, setiap orang yang mencintai sesuatu, pasti ia akan merasakan ‘rasa’ sesuai dengan kadar cintanya.”

Makanya, beragama dengan rasa adalah pangkal kesesatan, bahkan kekufuran. Iman yang benar, tegak di atas al-Quran dan sunnah.

Ibn Taimiyah sendiri tegas menyatakan, “Pangkal kesesatan itu ada dua; mendahulukan Qiyas (logika) dari wahyu yang diturunkan Allah SWT; mengikuti hawa nafsu daripada mengikuti perintah wahyu.”***

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.