Dialog Pemikiran

 Man Laisa Ma'i fa Huwa Dhiddy; siapa yang tidak bersama saya, berarti musuh saya. Kaedah "ngawur" ini seringkali dipakai beberapa "oknum" kelompok Islam, bahkan mungkin di semua kelompok, untuk justifikasi pandangan yang dianutnya, kemudian menganulir pandangan selainnya. "Pokoknya, siapa yang ga sejalan, siapa yang kritik, berarti musuh."

Padahal, tidak selamanya begitu.

Kadangkala, orang mengkritik, menyampaikan ketidaksetujuan, untuk memberikan sudut pandang lainnya, tidak selalu berarti berada di kelompok yang kontra. Dialektika pemikiran seringkali justru mendewasakan.

 

Pangkal "penyakit" ini sama, dari dulu kala; Nepotisme Kelompok; Merasa Kelompok (Diri) saja yang benar & selainnya salah; anti kritik. Tidak salah kalau Voltaire bilang, "Nepotisme itu penyakit segala zaman."

Jikalau kita mau hidup berkelompok dengan segala dinamika dalam dialog, harus siap dengan 2 hal, dan keduanya harus ada dalam diri masing-masing personnya, yaitu Keluasaaan Wawasan dan Kematangan Jiwa.

Jikalau tidak ada keluasaan wawasan, dialog tidak akan konek. Makanya, IMam al-Syafii ga pernah kalah debat kecuali sama orang jahil. Sebab memang tidak ada konektifitas.

Kematangan jiwa berguna untuk memaastikan dialog tetap di jalurnya, tidak kemana-mana, apalagi sampai subjektif. Pikiran itu yang didialogkan, bukan aib orangnya. Jangan kaya Bu Tedjo kae. hehe.. ***

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.