Diam

“Tidak semua yang diam itu berarti tidak mampu menjawab,” kata Gabriel José de la Concordia García Márquez; seorang novelis, jurnalis, penerbit, dan aktivis politik Kolombia; dilahirkan di kota Aracataca di departemen Magdalena; tetapi hidupnya kebanyakan dijalaninya di Meksiko dan Eropa.

“Tetapi, ada orang yang diam agar tidak melukai orang lain. Ada juga yang diam karena ia sendiri sudah terluka. Jikalau ia berbicara, maka lukanya akan semakin parah. Ada juga yang menyadari, kata-kata tidak akan memberikan manfaat apapun jikalau diungkapkan. Dan ada juga yang diam ketika marah, agar tidak seorang pun menjadi korban.”

Umumnya, dalam pikiran kita, ketika mendapati seseorang diam menghadapi sebuah keadaan, ia lemah. Padahal, tidak selamanya begitu.

 

Diam itu pilihan. Bagian dari ketegasan. Diam itu kebijaksaan, menunjukkan kematangan.  Tidak mau bersikap frontal, sebab akan melahirkan korban.

Nabi pun tegas mensabdakan, “Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan Hari Akhir, maka ucapkanlah kebaikan atau diam.” Dikaitkan dengan iman. Artinya, orang yang suka berkomentar atas segala kejadian, imannya hanyalah klaim kedustaan.

Tapi, dalam beberapa kondisi diam memang tidak menjadi menjadi pilihan; memberontak menjadi jalan. Utamanya, ketika kemungkaran; kezaliman ada di depan mata. Diam ketika itu, artinya lemah; kematian; ketidakberdayaan.

Diam, di sebagian besar waktu adalah kebaikan; kekuatan; kebijaksaan. Namun di waktu tertentu bisa menjadi tanda tiadanya iman, berkebalikan dengan hadits Nabi. Di hadapan kemungkaran.***

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.