Hukum di Bumi

Tidak mungkin ada suatu masalah, kemudian tidak ada seorang ulama tidak tahu jawabannya. Kondisi seperti itu mustahil dalam Islam. Dalam haditsnya, Nabi Saw jelas menyatakan, “Akan selalu ada segolongan umatku yang tegak di atas kebenaran.” (Hr Muslim).

“Harus ada,” kata Ibn Rajab al-Hanbaly “ulama yang sejalan dengan kebenaran, sehingga ia yang menjadi ulama dengan hukum masalah yang terjadi. Sedangkan ulama lainnya, masalahnya tidak jelas di matanya dan tidak mengetahui hukumnya. Umat ini tidak akan berkumpul dalam kesesatan. Pendukung kebatilan tidak akan pernah menang atas pendukung kebenaran.” (Kitab Jami’ al-Ulum wa al-Hikam: 1/690)

Jangankan masalah-masalah besar, masalah-masalah kecil saja ada penjelasannya dari Nabi Muhammad Saw.

Tegas Abu Dzar radhiyallahu menyatakan, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Thabrany dalam al-Kabir (1647); rijalnya shahih kata al-Haitsamy, “Tidaklah Rasulullah Saw meninggal, kemudian ada burung yang terbang dengan kedua sayapnya, kecuali beliau menjelaskan ilmu tentangnya kepada kami.”

Islam sudah menjalani sejarah panjang. 14 abad lebih usia yang dijalani. Selama itu, sudah ribuan bahkan jutaan masalah yang dihadapi. Dan tidak ada ceritanya, ulama tidak mengetahui hukum satu masalah pun.

Hukum Allah SWT akan selalu zhahir; kita senang maupun tidak; suka maupun benci. Sedetik pun, tidak boleh hukum Allah SWT lowong di bumi-Nya. Pasti akan ada. Ketika tidak ada lagi, kiamat artinya.***

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.